6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
in Ulas Musik
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Sumber gambar: Youtube

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?”

Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang panjang dengan sesekali mendengarkan lagu “Lalu Biru” karya Eleanor Whisper.  Sebuah lagu dari band asal Medan yang bermarkas di Jakarta — Nama band yang terasa asing di telinga saya. Band ini tidak se-terkenal .feast dengan “Tarot” nyaataupun Barasuara dengan “Terbuang Dalam Waktu” nya. Tapi setelah ia (pacar saya) membagikan lagu ini kepada saya,  feel yang dibawakan terasa setara dengan band luar negeri Cigarette After Sex.

Lagu ini menciptakan diskusi mendalam antara kami berdua, membahas cinta, ketiadaan, dan betapa dungu manusia. Kedunguan seperti apa yang manusia lakukan? ia percaya bahwa manusia memiliki sifat yang kekal yang kami sebut sebagai “keterlambatan”. Konteks keterlambatan disini ia pakai untuk menjelaskan betapa tidak pedulinya manusia dalam memikirkan waktu bersama pasangannya. Apabila kekasihnya sudah tiada dan meninggalkan diri mereka, manusia akan cenderung menyesal dan rindu tak berdaya.

Ini sesuai dengan makna dari lagunya yang merupakan spekulasi saya pribadi. Ferri Neldy (gitaris/vokal band ini) dan rekan-rekannya seolah mengajak saya untuk merebahkan badan dengan menutup mata sembari membayangkan simulasi keterpisahan dengan senyuman seorang gadis yang semakin pudar dan menghilang, meninggalkan seorang lelaki sendirian dan bergejolak memandangi bulan di langit.

Dengan alunan musik rock indie dan lirik puitis sangat membuat suasana melankolis dan berhasil mengangkat tema besar dari lagu tersebut — yaitu kerinduan.

“Bila tubuhku membiru apakah kau datang sayang”

Lirik ini menjadi point utama dari seluruh diskusi kami. Ia merasa bahwa ketika seseorang masih hidup di dunia, tak ada yang spesial. Tawa hanya sekedar tawa dan bercengkrama hanya sebatas obrolan. Bahkan beberapa hanya sekilas saja. Namun apa arti tawa dan cengkrama apabila orang itu sudah tiada? Tentu rasanya akan menjadi berbeda.

Sebenarnya, “tubuh membiru” disini memiliki konteks masing-masing. Bagi saya sendiri “tubuh membiru” memberikan makna “kesedihan dalam diri”. Warna biru identik dengan melankolis dan juga kesedihan. Sehingga sosok aku dalam lagu ini mempertanyakan, “apakah cinta dari dirimu akan datang dikala aku sedih?” Tapi ia mendefinisikan makna “tubuh biru” sebagai “tubuh yang membusuk karena ajal menjemput”. Sehingga sosok aku seolah-oalah bertanya, “Jika aku tiada, apakah dirimu akan datang?”

Perbedaan makna ini menimbulkan perdebatan di antara kami. Ia merasa bahwa hari yang kita jalani hari ini bisa menjadi hari terakhir kita bersama seseorang. Karena kematian dan hari esok adalah misteri terbesar manusia saat ini. Tapi bagi saya sendiri, menganggap hari esok bisa menjadi hari terakhir itu justru membuat kita terus memikirkan kematian itu sendiri. Dan balik lagi, kematian adalah misteri, jadi untuk apa kita terus berfokus kepada kematian itu sendiri?

Pada titik ini, saya masih skeptis atas konsep “keterlambatan manusia” yang ia bawakan. Rasanya aneh saja jika manusia dikatakan “terlambat”. Akan lebih masuk akal apabila manusia dikatakan “menyesal” tak memberikan waktu lebih kepada pasangannya. Tapi setelah saya pikir baik-baik, “terlambat” dan “menyesal” memiliki konteks yang berbeda.

Terlambat memiliki konteks waktu dan peristiwa, sehingga sifatnya adalah objektif. Seperti contoh ketika kita terlambat pergi ke sekolah, konteks yang dibawakan adalah sebuah momen. Sehingga terlambat bekerja seperti sebuah kamera yang menangkap sebuah gambar dan menyimpannya pada kartu memori kita. Sisi lain, menyesal adalah respon emosional, maka akan bersifat sangat subjektif. Memori dari foto yang kita lihat akan menimbulkan reaksi batin di dalam kita — kira-kira seperti itu rasa menyesal bekerja.

Dengan memahami konteks tersebut, saya dan ia akhirnya sama-sama sepakat bahwa manusia sendiri memiliki sifat “keterlambatan” dalam menentukan momentum mereka. Tapi dalam benak saya muncul pertanyaan baru.

“Jika Sudah Tahu Bahwa Kematian akan Datang, Mengapa Manusia Tetap Tak Peduli?”

Sebuah hal yang tak masuk di logika saya ketika saya sadar betapa apatisnya manusia dalam menjalani hidup mereka, apalagi dalam konteks kebersamaan.

Coba pikir, siapa juga yang akan peduli dan terus menerus bertanya “Apakah besok aku mati?” atau “Apakah besok dirinya akan meninggalkanku?” pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bisa saja dipikirkan. Tapi apakah manusia akan terus menerus memikirkannya? Kalau saya sendiri, tentu akan lelah! Memikirkan kematian setiap hari atau memikirkan pacar saya akan meninggalkan saya suatu hari nanti di setiap malam rasanya tidak relevan, karena saya yakin itu tidak akan terjadi (dalam waktu dekat).

Apa yang saya alami ternyata juga dialami oleh pacar saya dan juga 80 persen populasi manusia di dunia ini. Kadang kala kita melihat banyak kasus pasangan yang berpisah karena tidak cocok atau ajal menjemput, tapi rasanya itu tidak akan terjadi di hidup kita.

Kondisi ini disebut sebagai Optimism Bias, sebuah fenomena dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemungkinan yang positif dan meremehkan kemungkinan dengan hasil negatif. Dan ini normal secara neurologis,  otak manusia cenderung responsif pada informasi positif agar kita tak terus cemas memikirkan 1000 skenario perpisahan dengan pasangan kita.

Sebenarnya Optimism Bias tidak hanya bekerja pada konteks hubungan, tapi kehidupan manusia itu sendiri. Misalkan sifat apatis masyarakat atas sampah dan bencana di sekitar mereka. Justru menimbulkan sifat apatis dalam diri mereka. Bukan karena mereka jahat, tapi karena respon alami otak untuk membuat kita tidak cemas atas masa depan mereka. Akhirnya manusia malah terlihat seperti “nyaman di keamanan yang palsu” dan tak sadar hal mengerikan akan tiba di depan mereka.

Tapi kita tak bisa menyalahkan manusia sepenuhnya! Otak memang dirancang untuk memproses kemungkinan dan realitas secara berbeda. Kematian bersifat abstrak bagi otak, tapi ketiadaan fisik dari seseorang yang selalu berada di samping diri kita akan terasa lebih menghantam.

Di mana dikau (yang tercinta)
Yang tercinta
Apakah sang malam mendengarkan kata yang kuucap

Lirik ini membuat saya mempertanyakan sebuah arti “ucapan adalah doa”. Orang dulu selalu bilang bahwa berhati-hati lah bercakap, jaga mulut dan omongan. Karena ucapan akan menjadi kenyataan. Tapi yang terjadi adalah ucapan itu bukan yang memuat menjadi kenyataan. Tapi buah pikiran lah yang berperan besar.

Keterlambatan manusia hadir dari pemikiran bahwa waktu yang mereka miliki masih panjang. Optimisme membuat mereka meremehkan waktu, dan dari sini mereka tidak bisa memanfaatkan waktu untuk diri mereka, sesama manusia, maupun alam semesta itu sendiri. Dalam konteks lirik di atas, dirimu tetap ku cari, sosok ku cintai yang selalu ku ucapkan yang padahal sosokmu sudah tak ada.

Pada akhirnya, “Lalu Biru” bukan hanya tentang kehilangan seseorang. Lagu ini seperti cermin yang memantulkan wajah manusia ketika waktu telah lewat dan kesempatan telah hilang.

Diskusi saya dan pacar saya mungkin tidak menemukan jawaban pasti tentang kematian atau tentang mengapa manusia kerap meremehkan waktu. Namun satu hal yang kami pahami: keterlambatan bukan selalu soal tidak tahu, melainkan soal merasa masih punya waktu.

Optimism bias membuat manusia mampu berharap, tetapi juga membuatnya lengah. Kita hidup dengan keyakinan bahwa esok masih tersedia, bahwa orang yang kita cintai akan tetap ada di samping kita. Sampai suatu hari, waktu menjawab dengan caranya sendiri.

Barangkali manusia tidak sepenuhnya salah. Kita tidak bisa hidup dengan terus-menerus membayangkan kehilangan. Kita juga tidak mungkin mencintai dengan dihantui ketakutan setiap detik. Namun mungkin yang bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.

Mungkin lagu ini tidak meminta kita untuk takut akan kematian. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak menunggu sesuatu menjadi “biru” sebelum kita menyadari nilainya.

Karena pada akhirnya, yang paling sunyi bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kata-kata yang diucapkan ketika pendengarnya sudah tiada. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

Tags: laguulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Next Post

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails

Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 18, 2026
0
Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

"Yang paling dalam tidak pernah berisik, ia tahu kapan harus berbunyi, dan kapan memberi jeda" * SAYA pertama kali memegang...

Read moreDetails

Desperado:  Tentang Kesendirian dan Keberanian Mencintai

by Ahmad Sihabudin
February 16, 2026
0
Desperado:  Tentang Kesendirian dan Keberanian Mencintai

DALAM hidup setiap manusia adalah seorang desperado. Pengembara  yang menempuh jalan panjang antara keinginan untuk bebas dan kebutuhan untuk dicintai....

Read moreDetails

‘Chet Baker’: Keindahan yang Diekstraksi dari Rasa Sakit

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 13, 2026
0
‘Chet Baker’: Keindahan yang Diekstraksi dari Rasa Sakit

“Look for the Silver Lining” lahir dari kegelapan, merayap seperti bisikan yang mengubah cara kita mendengar kesedihan. Chet Baker tidak...

Read moreDetails

‘All I Am’: Balada yang Lahir dari Kursi Roda

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 8, 2026
0
‘All I Am’: Balada yang Lahir dari Kursi Roda

Bayangkan sebuah suara yang lahir dari tubuh yang tak lagi bisa bergerak, namun justru bergerak paling jauh, menembus dinding waktu,...

Read moreDetails

‘Another Day’: Balada Puitis Dream Theater

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 5, 2026
0
‘Another Day’: Balada Puitis Dream Theater

Ada lagu yang tidak untuk mengguncang, melainkan berbicara tenang menemani kita. 'Another Day' adalah bisikan pelan di tengah hiruk-pikuk album Images...

Read moreDetails

‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

by Nyoman Sukaya Sukawati
January 31, 2026
0
‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

"Leaving on a Jet Plane” karya John Denver bukan sekadar lagu tentang bandara dan koper yang ditutup rapat. Ia adalah...

Read moreDetails

Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

by Nyoman Sukaya Sukawati
January 29, 2026
0
Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

Dunia jarang benar-benar sunyi. Ia dipenuhi suara, tuntutan, berita buruk, dan kegelisahan yang tak kunjung reda. Namun, di sela kebisingan...

Read moreDetails

‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

by Nyoman Sukaya Sukawati
January 26, 2026
0
‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Saat kita mendengar suara bariton Harry Belafonte yang hangat menyanyikan “Banana Boat Song” hari ini, ritmenya seolah bergema dari alam...

Read moreDetails
Next Post
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

'Basur' Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co