ELSEVIER, sang raksasa penjaga gerbang pengetahuan global, membuat kebijakan: penggunaan kecerdasan buatan generatif dalam persiapan manuskrip harus tetap berpijak pada kontrol dan pengawasan manusia. Intinya, otak manusia lebih penting dari AI (Artificial Intelligence). Sebagai institusi yang mengelola lebih dari 2.500 jurnal legendaris seperti The Lancet dan Cell, Elsevier menetapkan standar etika bagi peradaban modern.
Kecerdasan buatan harus diakui mampu meningkatkan efisiensi riset. Mesin ini mampu menyintesis literatur hingga mengidentifikasi celah penelitian. Meski begitu, mesin AI tetap tidak akan pernah bisa menggantikan pemikiran kritis, dan evaluasi manusia. Bagaimana pun juga, penulis tetap harus bertanggung jawab atas akurasi, integritas, dan keaslian karya. Kebijakan ini hadir untuk menjaga agar detak jantung intelektual tetap berdenyut di tengah kepungan algoritma.
Berbasis jutaan data, AI kini bersemayam sebagai kekuatan baru. Mesin ini bukan sekadar alat. AI ialah bayangan yang mampu merangkai kata dan memetakan sunyi di antara celah literatur. Namun, di tengah efisiensi yang menggoda ini, muncul sebuah tanya: di manakah letak kedaulatan manusia ketika mesin mulai ikut merangkai narasi? Sebagai kurator besar bagi ingatan kolektif sains, Elsevier menyadari bahwa orisinalitas bukan sekadar absennya plagiarisme, melainkan kehadiran “jiwa” sang peneliti.
AI Tools, dalam kacamata ini, diposisikan sebagai “asisten,” bukan “arsitek.” AI hanyalah lensa yang membantu kita melihat galaksi data yang terlalu jauh untuk dijangkau mata telanjang. AI mampu mengorganisasi struktur dan memperhalus bahasa. Namun, lensa tetaplah benda mati. Tanpa mata manusia yang menatap melaluinya, bayangan yang tertangkap tidak akan pernah menjadi visi. Ada jurang estetika dan etis yang dalam antara “menghasilkan teks” dan “menciptakan makna.” Peneliti ialah seorang nakhoda, AI ialah arus. Arus dapat membawa kapal melaju lebih cepat, tetapi hanya nakhoda yang tahu ke mana arah pulang.
Di dunia akademik, orisinalitas ialah mata uang yang sakral. Ketika AI ikut campur dalam menyusun kalimat, sebuah kontrak sosial antara penulis dan pembaca terancam retak. Maka, transparansi menjadi jembatan. Elsevier mewajibkan adanya pernyataan pengungkapan (disclosure statement). Ini bentuk kejujuran intelektual. Kita harus berani berkata: “Di titik ini, mesin membantu saya.” Tanpa transparansi, sains akan kehilangan ruhnya sebagai pencarian kebenaran yang jujur.
Satu garis tegas ditarik: AI bukan penulis. AI tidak bisa menjadi co-author. Kepengarangan (authorship) menuntut kemampuan untuk bertanggung jawab secara moral dan hukum. Mesin tidak bisa masuk ke dalam ruang sidang etika. Mesin AI tidak bisa merasakan kegelisahan atas data yang salah. Mesin ini juga tidak bisa memberikan persetujuan final atas sebuah karya. Kepengarangan ialah tindakan kemanusiaan yang melibatkan intuisi, pengalaman hidup, dan keberanian untuk berdiri di belakang argumen.
Lebih ketat lagi, penggunaan AI generatif dilarang untuk penciptaan atau pengubahan gambar ilmiah. Dalam sains, gambar merupakan bukti objektif. Gambar bukan persoalan estetika. AI punya kebiasaan mempercantik kenyataan atau menambahkan fitur yang sebenarnya tidak ada. Ada upaya halusinasi visual yang berbahaya. Gambar harus tetap menjadi representasi jujur dari realitas. Gambar sains bukanlah simulakra yang diciptakan oleh kode.
Kini, kita sedang berdiri di ambang fajar baru dalam sejarah pengetahuan. Elsevier, dengan sejarah panjangnya yang merujuk pada tradisi cetak abad ke-16 hingga infrastruktur digital, tengah menjaga api Prometheus agar tetap menyala di tangan manusia. AI menawarkan kecepatan yang belum pernah terbayangkan, namun AI juga membawa risiko pengikisan kedaulatan intelek.
Sebuah karya ilmiah bukan sekadar tumpukan informasi. Karya ini ialah jejak pergulatan batin manusia dengan ketidaktahuan. AI boleh saja menyediakan tinta digital, namun napas yang menghidupkan kata-kata itu harus tetap berasal dari pikiran kita. Kita tidak boleh membiarkan hantu dalam mesin menuliskan sejarah kita. [T]
Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole


























