Dunia jarang benar-benar sunyi. Ia dipenuhi suara, tuntutan, berita buruk, dan kegelisahan yang tak kunjung reda. Namun, di sela kebisingan itulah, seorang musisi menemukan celah untuk menyelipkan bisikan yang menenangkan. Melalui “Why Worry”, Mark Knopfler tidak mengajak kita melawan dunia, melainkan mengajari kita cara bernaung sejenak dari hiruk-pikuknya. Lagu ini berfungsi sebagai ruang isolasi emosional, sebuah “ruang aman” di dalam kepala yang disesaki konflik.
Mark Knopfler, sang kreator di balik Dire Straits, membentuk band tersebut pada 1977 di London, bersama adiknya David (gitar), John Illsley (bass), dan Pick Withers (drum). Meski lahir di era keemasan punk rock yang keras dan provokatif, Dire Straits justru memilih jalur yang berlawanan. Terpengaruh Bob Dylan dan J.J. Cale, mereka menghadirkan blues-rock yang lebih sederhana dan intim. Bahkan, saat manggung di pub-pub London, Mark kerap meminta volume amplifier dikecilkan agar penonton bisa menikmati musik sambil tetap bercakap-cakap tanpa berteriak.
Pilihan musikal itu membawa mereka ke puncak ketenaran. Dire Straits disebut “band rock Inggris terbaik tahun 80-an” oleh majalah Classic Rock, meraih empat Grammy, dan menjual lebih dari 100 juta rekaman di seluruh dunia. Mereka melahirkan karya-karya monumental seperti “Sultans of Swing”, “Money for Nothing”, dan “Walk of Life”.
Namun, di balik kesuksesan megah itu, Knopfler tetap setia pada seni bisikannya. Hal itu terasa paling gamblang dalam album Brothers in Arms (1985), yang mengangkat tema perang, kritik sosial, dan ketegangan global. Di tengah hiruk-pikuk tema berat itu, Knopfler memilih menutup album bukan dengan teriakan, melainkan dengan sebuah lullaby: “Why Worry”.
Liriknya sederhana, namun membawa nada transendental:
But baby, just when this world seems mean and cold / Our love comes shining red and gold / And all the rest is by the way.
Melodi gitarnya jernih dan mengalir, bagai elusan lembut yang mengusap jiwa, petikan yang tidak tergesa, tidak meledak-ledak, seolah lebih memilih berjalan pelan daripada berlari, lebih memilih menyentuh daripada menaklukkan. Lebih dalam daripada kata-kata, dentingnya menghanyutkan kita melampaui logika, masuk ke dalam getaran ketenangan yang membangun kesadaran untuk menerima hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Sebagai kontras dari kebisingan rock era 80-an, “Why Worry” hadir seperti energi penenang bagi jiwa dewasa yang menderita kecemasan modern. Di era digital yang menuntut gerak serba cepat dan tergesa, pesan kesederhanaan lagu ini justru terasa semakin menyentuh.
Pada akhirnya, “Why Worry” bukanlah bujukan rasional, melainkan sebuah pengalaman batin. Ia tidak menyuruh kita berhenti cemas, tetapi mengajak kita duduk sebentar di dalam sunyi, mendengarkan denyut dunia yang lebih pelan. Di sanalah denting gitar Knopfler menjadi bahasa universal—bahasa yang tidak menghakimi, tidak mendesak, hanya menemani.
Dalam dunia yang gemar menawarkan solusi cepat, kehadiran yang setia justru terasa semakin langka dan berharga. Barangkali di situlah letak keistimewaan Mark Knopfler: ia tidak memerangi kegelisahan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan. Sebuah sikap yang terasa seperti pilihan etis sekaligus estetis: bahwa kelembutan pun dapat menjadi bentuk keberanian. Ia tahu, pada saat tertentu, manusia tidak selalu membutuhkan jawaban, tetapi kehadiran. Dan melalui “Why Worry”, ia menghadirkan sepotong keheningan yang bisa kita pinjam, sejenak, untuk mengingat bahwa hidup tidak selalu harus dimenangkan. Kadang, cukup dijalani dengan napas yang lebih ringan dan hati yang sedikit lebih lapang. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























