MESKI bukan terlahir sebagai muslim, Islam begitu dekat dengan kehidupan saya. Lahir dan dibesarkan di kota kecil yang terletak di ujung barat Pulau Bali, sejak kecil saya terbiasa mendengar suara adzan penanda waktu shalat. Dari pengeras suara masjid dan langgar atau musala, lantunan ayat suci Al-Quran saya rasakan begitu syahdu, meneduhkan hati.
Al-Quran seperti bait-bait puisi yang dilantunkan. Itu yang pernah saya baca dalam sebuah buku. Saya ingin tahu lebih banyak tentang itu. Kanjeng Nabi pun dikatakan juga adalah seorang penyair. Di masa lalu, syair adalah ungkapan hati yang mewujud dalam kata-kata. Tak berlebihan jika saya merasakan Al-Quran begitu puitis. Pun malam kemarin, saya mendengar lantunan Al-Quran yang saya unduh dari internet. Damai begitu terasa.
Pendekatan sastra atau puisi atas Al-Quran dan juga kitab-kitab suci lain saya rasa perlu ditengok kembali. Memaknai agama sebagai sebuah rasa, sebagai olah batin yang sering dilupakan orang. Kesadaran semacam itu tentu tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, mengikuti usia, mengikuti ingatan, mengikuti bunyi-bunyi yang sejak kecil akrab di telinga saya.
Saya tidak ingat persis kapan pertama kali benar-benar mendengar Al-Quran dengan sadar. Barangkali sejak kanak-kanak, barangkali sejak suara-suara itu sudah menjadi bagian dari udara yang saya hirup setiap hari. Di kota kecil tempat saya tumbuh, masjid tidak pernah terasa jauh. Ia hadir seperti tetangga yang tidak banyak bicara, tetapi selalu ada.
Suara itu datang dari pengeras suara yang kadang sedikit sember, kadang terlalu nyaring, kadang tenggelam oleh angin laut. Ia tidak selalu indah secara teknis. Ada hari-hari ketika bacaannya tergesa, ada malam-malam ketika nadanya goyah. Tetapi justru di situ saya merasa dekat. Ia tidak tampil sebagai sesuatu yang agung dan jauh, melainkan sebagai suara manusia yang sedang berusaha sebaik mungkin menyebut nama Tuhan-nya.
Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan dengan banyak keyakinan, saya belajar lebih dulu membedakan bunyi sebelum membedakan ajaran. Saya mengenali adzan sebelum mengenal maknanya. Saya hafal irama Tri Sandhya sebelum tahu kisah-kisah para dewa. Dunia datang kepada saya sebagai suara, bukan sebagai penjelasan.
Kadang saya berhenti bermain hanya untuk mendengarkan sebentar. Bukan karena mengerti, melainkan karena ada ketenangan aneh yang turun bersama suara itu. Sejenis jeda yang membuat sore terasa lebih panjang, lebih lapang. Ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tersimpan seperti gema yang sewaktu-waktu muncul kembali, terutama ketika malam terasa terlalu ramai oleh pikiran sendiri. Barangkali dari situlah semuanya bermula. Dari kebiasaan kecil seorang anak yang tanpa sadar belajar diam, belajar mendengar, sebelum belajar memahami.
Saya tidak mengerti bahasa Arab dengan baik. Yang saya pahami hanya potongan-potongan kecil, itu pun lebih sering lewat terjemahan. Tetapi ketika Al-Quran dibaca, ada sesuatu yang bekerja lebih dulu sebelum makna sempat disusun di kepala. Nada yang naik turun, jeda di antara ayat, panjang pendek tarikan napas, semuanya seperti sedang menulis sesuatu di udara. Bukan kalimat yang bisa saya salin, melainkan perasaan yang menetap sebentar lalu mengendap pelan.
Mungkin benar, seperti yang pernah saya baca, bahwa Al-Quran juga lahir di tengah tradisi lisan yang kuat, di dunia yang menghormati syair, irama, dan keindahan bunyi. Ia bukan hanya kumpulan perintah dan larangan, tetapi juga susunan suara yang dirawat dengan penuh hormat.
Sebagai seseorang yang hidup dari kata-kata, dari kalimat yang sering kali goyah dan ragu, saya merasa dekat dengan cara kitab suci itu memperlakukan bahasa. Tidak tergesa. Tidak asal. Setiap bunyi seolah dipilih dengan sabar. Di situlah, barangkali, hubungan saya dengan Al-Quran bermula. Bukan dari keyakinan teologis, melainkan dari kekaguman yang sangat manusiawi terhadap bunyi yang indah.
Saya paling sering mendengarnya di malam hari. Ketika kota sudah mengecil menjadi suara kipas angin dan dengung listrik yang letih. Ketika pesan-pesan di ponsel mulai sepi dan pikiran tidak lagi punya tempat untuk berlari. Saya berbaring, membiarkan layar ponsel redup, dan suara itu mengisi ruang yang biasanya dipenuhi kegelisahan kecil. Tentang hari yang tidak selalu ramah. Tentang pekerjaan yang kadang terasa seperti jalan panjang tanpa penunjuk arah. Tentang tubuh yang menua tanpa pernah benar-benar diajak berunding.
Lantunan ayat itu tidak menjawab apa pun secara langsung. Ia tidak menyodorkan solusi. Tidak menawarkan jalan keluar yang praktis. Ia hanya hadir, seperti seseorang yang duduk di samping kita tanpa banyak bicara. Anehnya, justru di situ saya merasa ditemani.
Tidak sebagai pemeluk. Tidak sebagai bagian dari barisan apa pun. Hanya sebagai manusia yang kebetulan sedang mendengar. Malam membuat segalanya terasa lebih jujur. Bunyi tidak bisa berpura-pura. Ia terdengar apa adanya. Getarannya sampai ke dada tanpa perlu izin.Dan saya membiarkan diri saya tinggal di situ sejenak, di antara gelap dan terang layar ponsel, di antara suara yang datang dari jauh dan tubuh yang masih terjaga.
Namun kedekatan itu tidak selalu terasa sederhana. Ada saat-saat ketika saya bertanya pada diri sendiri, apakah wajar mencintai sesuatu yang bukan bagian dari identitas saya. Apakah mendengar Al-Quran hanya sebagai bunyi adalah bentuk pengkhianatan yang halus, baik terhadap keyakinan orang lain maupun terhadap diri sendiri.
Saya tidak ingin menjadi turis spiritual, datang sebentar, menikmati keindahan, lalu pergi tanpa tanggung jawab. Saya juga tidak ingin sok memahami sesuatu yang saya tahu tidak sepenuhnya saya hidupi. Di situ kegelisahan kecil itu tumbuh. Saya belajar menjaga jarak yang sopan. Menikmati tanpa mengklaim. Mendengar tanpa merasa berhak berbicara terlalu jauh.
Barangkali posisi saya memang selalu di pinggir, di kursi penonton yang tidak pernah naik ke panggung. Tetapi dari sana, saya justru bisa melihat dengan lebih jernih, bahwa iman, dalam bentuk apa pun, selalu berangkat dari kerentanan manusia. Dan kerentanan itu, anehnya, terasa sangat akrab.
Di kota kecil tempat saya tumbuh, bunyi bukan sekadar suara. Ia adalah penanda waktu, penanda hidup, penanda bahwa manusia sedang saling mengabari keberadaannya. Pagi dibuka oleh adzan subuh yang memantul dari tembok-tembok rumah. Siang diisi oleh deru sepeda motor dan teriakan anak-anak pulang sekolah. Sore ditutup oleh lantunan Tri Sandhya dari pura yang diputar perlahan, seperti mengingatkan bahwa matahari tak pernah benar-benar menunggu siapa pun.
Bunyi-bunyi itu hidup berdampingan tanpa pernah merasa perlu saling mengalahkan. Masjid dan pura berdiri tidak jauh. Kadang suaranya tumpang tindih, kadang saling menyahut, kadang bergantian mengisi udara. Saya tumbuh di antara itu semua, belajar mengenali irama tanpa harus memberi nama pada keyakinan orang lain.
Mungkin karena itulah, hingga hari ini, saya lebih mudah percaya pada bunyi daripada pada penjelasan panjang tentang iman. Bunyi tidak menuntut persetujuan. Ia hanya datang, menyentuh, lalu pergi. Seperti hujan yang tidak pernah bertanya kepada atap rumah siapa ia akan jatuh.
Di malam-malam tertentu, ketika kota kecil itu sudah jauh dalam ingatan, saya masih bisa mendengarnya kembali. Adzan yang samar, bacaan Al-Quran yang mengalun pelan, suara serangga, dan kadang langkah orang lewat yang tergesa. Semua bercampur menjadi semacam musik yang tidak pernah direkam secara resmi, tetapi menetap paling lama di kepala.
Saya kira, di situlah agama menemukan bentuknya yang paling sederhana dan paling manusiawi. Bukan pada spanduk besar, bukan pada perdebatan di televisi, bukan pada angka-angka statistik. Melainkan pada bunyi yang menemani seseorang pulang ke dirinya sendiri.
Al-Quran, dalam pengalaman saya, adalah salah satu bunyi itu. Ia tidak pernah memaksa saya untuk menjadi apa pun. Ia hanya singgah, seperti angin malam yang lewat di sela jendela, meninggalkan rasa sejuk yang pelan-pelan mengendap di dada.
Pada akhirnya, saya tidak pernah benar-benar tahu harus meletakkan pengalaman mendengar Al-Quran ini di rak yang mana dalam hidup saya. Ia bukan pelajaran agama. Ia bukan pula petunjuk untuk berpindah keyakinan. Ia lebih mirip sebuah kebiasaan kecil yang tumbuh diam-diam, seperti tanaman liar di sela retakan beton, tidak dirawat, tetapi juga tidak mati.
Saya mendengarkannya tanpa niat menjadi siapa pun. Tanpa rencana. Tanpa ambisi spiritual yang besar. Hanya sebagai seseorang yang, pada malam-malam tertentu, membutuhkan suara lain selain pikirannya sendiri. Barangkali itulah cara saya beriman pada sesuatu yang lebih luas dari sekadar nama-nama. Dengan mendengar. Dengan membiarkan bunyi bekerja di dalam dada, tanpa buru-buru menafsirkannya.
Saya tahu, di luar sana, agama sering tampil dalam wajah yang keras, penuh klaim, penuh garis batas. Tetapi di kamar sempit saya, dengan lampu redup dan layar ponsel yang hampir mati, Al-Quran datang dalam wujud yang lain. Sebagai suara yang pelan. Sebagai jeda. Sebagai istirahat. Saya tidak membawa suara itu ke mana-mana. Saya tidak menjadikannya identitas. Saya hanya membiarkannya tinggal sebentar, lalu pergi.
Seperti tamu malam yang sopan. Datang tanpa mengetuk terlalu keras. Pergi tanpa meninggalkan kewajiban apa pun. Dan mungkin, di zaman ketika semua orang ingin terdengar, memilih untuk mendengar adalah bentuk keberanian yang paling sederhana.
Saya menulis bagian ini bukan untuk menambah pembenaran, melainkan untuk memperpanjang jeda. Kadang tulisan memang tidak selalu ingin sampai ke tujuan. Ia hanya ingin berjalan sedikit lebih lama, menyusuri sisa-sisa pertanyaan yang belum menemukan bangku untuk duduk.
Dalam hidup yang semakin ramai oleh pendapat, oleh keharusan memilih posisi, oleh kewajiban menunjukkan keberpihakan, mendengar sering dianggap sebagai sikap yang setengah-setengah. Tidak cukup tegas. Tidak cukup berani. Padahal bagi saya, mendengar justru menuntut keberanian yang lain. Keberanian untuk tidak segera menguasai. Keberanian untuk tidak mengubah segala hal menjadi milik sendiri.
Saya belajar itu perlahan, dari banyak peristiwa kecil. Dari percakapan dengan orang-orang yang tidak saya pahami sepenuhnya. Dari pertemuan singkat di terminal, di ruang tunggu rumah sakit, di sudut warung kopi yang lampunya selalu temaram. Dari cara ibu angkat saya dulu mendengarkan cerita tetangga tanpa pernah merasa perlu memberi nasihat. Dari wajah-wajah yang tidak meminta diselamatkan, hanya ingin didengarkan.
Barangkali, mendengar Al-Quran di malam hari adalah kelanjutan dari kebiasaan itu. Sebuah latihan untuk tidak tergesa menilai. Untuk tidak buru-buru menutup pintu hanya karena saya merasa tidak diundang masuk sepenuhnya.
Agama, dalam banyak pengalaman manusia, sering berubah menjadi bangunan yang tinggi, dengan pintu-pintu berat dan jendela sempit. Tidak semua orang berani mendekat, tidak semua orang diizinkan masuk. Tetapi bunyi, suara, getaran, tidak mengenal arsitektur semacam itu. Ia menyusup melalui celah sekecil apa pun. Ia melompati pagar tanpa harus merusaknya.
Di situlah saya menemukan bentuk lain dari kebersamaan. Bukan kebersamaan dalam satu barisan, melainkan kebersamaan sebagai sesama pendengar. Sesama makhluk yang sama-sama rapuh di hadapan malam, sama-sama membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, entah itu disebut Tuhan, semesta, atau sekadar ketenangan.
Saya tidak tahu apakah pengalaman ini penting bagi orang lain. Mungkin tidak. Ia terlalu kecil untuk dijadikan teori. Terlalu pribadi untuk dijadikan pedoman. Tetapi bagi saya, ia cukup untuk menjadi penanda bahwa hidup tidak selalu harus dijalani dengan suara keras.
Ada hari-hari ketika saya lelah menjadi wartawan, menjadi penulis, menjadi seseorang yang dituntut terus berbicara. Ada hari-hari ketika kata-kata terasa seperti barang dagangan yang harus segera ditukar dengan perhatian. Di titik-titik seperti itu, mendengar menjadi semacam pulang yang sederhana.
Saya mematikan lampu. Membiarkan kamar tenggelam dalam warna putih yang telah memudar. Lalu suara itu datang, pelan, tidak mendesak, tidak memanggil nama saya. Dan justru karena tidak memanggil, saya merasa lebih bebas untuk tinggal sebentar.
Mungkin inilah yang selama ini saya cari dari banyak buku, dari puisi, dari perjalanan yang sering berakhir sebagai catatan kaki. Sebuah pengalaman religius tanpa upacara. Sebuah perjumpaan tanpa kewajiban untuk mengikatkan diri seumur hidup.
Saya tidak ingin mengidealkan posisi ini. Ia juga penuh keraguan. Kadang saya takut terlalu nyaman berada di pinggir, takut menggunakan jarak sebagai alasan untuk tidak terlibat sepenuhnya dengan dunia. Tetapi setidaknya, saya jujur pada cara saya merasa. Bahwa ada keindahan yang cukup dinikmati dari jauh. Bahwa ada doa yang cukup didengar tanpa harus diucapkan. Bahwa ada kitab suci yang bisa kita hormati tanpa harus kita miliki.
Dalam dunia yang gemar mengubah segala sesuatu menjadi identitas, pilihan untuk tetap menjadi pendengar mungkin terdengar ganjil. Tetapi saya tidak menemukan posisi lain yang lebih sesuai dengan tubuh dan batin saya saat ini.
Saya adalah seseorang yang tumbuh di antara bunyi-bunyi, di antara keyakinan-keyakinan, di antara definisi-definisi yang sering saling bertabrakan. Jika ada yang tetap utuh dari semua itu, barangkali hanya kemampuan untuk duduk diam dan membiarkan sesuatu bekerja di dalam diri tanpa harus segera diberi nama. Dan jika suatu hari nanti saya berhenti mendengarkan Al-Quran, saya kira tidak ada yang perlu disesali. Pengalaman ini tidak menuntut kesetiaan. Ia hanya menawarkan kemungkinan.
Kemungkinan bahwa manusia bisa saling mendekat tanpa harus saling memiliki. Kemungkinan bahwa damai tidak selalu lahir dari kesamaan, melainkan dari kesediaan untuk membuka telinga dan menurunkan suara sendiri. Saya menutup tulisan ini seperti saya menutup malam-malam itu. Tanpa kesimpulan besar. Tanpa pernyataan iman. Hanya dengan rasa cukup.[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


























