Saat kita mendengar suara bariton Harry Belafonte yang hangat menyanyikan “Banana Boat Song” hari ini, ritmenya seolah bergema dari alam bawah sadar. Lagu ini pernah menjadi hit besar pada akhir 1950-an, dan waktu telah menjadikannya bagian dari ingatan kolektif kita. Di balik nostalgia riang yang dibawanya, lagu ini sesungguhnya adalah penjelajah waktu: ia mengantar kita bukan hanya ke lantai dansa Calypso, tetapi juga ke pelabuhan Jamaika pascakolonial yang remang, tempat perahu-perahu tua bersandar dan teriakan hitungan tandan pisang menjadi penunjuk jam bagi buruh yang hanya menunggu fajar sebagai janji pembebasan.
Harry Belafonte, penyanyi Jamaika–Amerika yang kelak dijuluki “Raja Calypso”, berjasa besar memperkenalkan musik Karibia ke panggung dunia. Ia bukan hanya seorang penghibur, tetapi juga aktor, aktivis hak-hak sipil, dan pekerja kemanusiaan. Dalam kariernya, Belafonte menerima berbagai penghargaan penting, termasuk Grammy untuk album Swing Dat Hammer (1960) dan album kolaborasi An Evening with Belafonte/Makeba (1965), yang turut membuka mata dunia terhadap penderitaan warga kulit hitam Afrika Selatan di bawah apartheid.
Ia juga menjadi orang kulit hitam pertama yang memenangkan Emmy melalui acara spesial Tonight with Belafonte (1959). Sepanjang 1960-an, ia tampil dalam berbagai acara televisi bersama nama-nama besar seperti Julie Andrews, Petula Clark, Lena Horne, dan Nana Mouskouri. Ketika minatnya semakin condong ke aktivisme dan politik, produksi album barunya menurun; pada 1980-an ia hanya merilis satu album lagu baru. Namun penghargaan terus mengalir: Kennedy Center Honors (1989), National Medal of Arts (1994), dan Grammy Lifetime Achievement Award, sebelum akhirnya ia menutup karier panggungnya lewat konser terakhir pada 2003.
Namun, dari sekian banyak jejak karier itu, Belafonte akan selalu lekat dengan “Banana Boat Song (Day-O)”, lagu rakyat Jamaika yang ia bawa ke panggung global dan yang melambungkan namanya. Lagu ini bukan sekadar nyanyian pesta yang mengundang goyangan; ia adalah potret kehidupan buruh pelabuhan di masa silam, yang bekerja semalaman di bawah beban fisik yang menguras tenaga.
Keletihan itu mencekam saat lirik menyebut tentang “hide the deadly black tarantula” yang bersembunyi di balik hijau tandan pisang. Kita sadar, fajar yang dinanti bukan hanya akhir dari jam kerja, tapi akhir dari pertaruhan nyawa di bawah bayang-bayang predator yang tak terlihat.
Day-o, day-o
Daylight come and me wan’ go home
Day, me say day, me say day, me say day
Me say day, me say day-o
Daylight come and me wan’ go home
Di balik iramanya yang ceria, liriknya menyimpan kisah tentang kerja malam yang panjang dan keletihan yang menunggu matahari. Musik, di sini, bukan pelarian semata, melainkan mekanisme bertahan hidup: cara untuk menjaga semangat ketika tubuh hampir menyerah.
Belafonte menggunakan lagu ini untuk membawa musik Calypso ke pusat perhatian dunia, dan pada saat yang sama menjadikannya simbol resistensi budaya. Di tengah dominasi selera Barat pada 1950-an, ia dengan bangga mempertahankan dialek, ritme, dan cerita rakyat Karibia. Itu memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
Secara tersirat, lagu ini menghadirkan sosok tallyman, si penghitung tandan pisang, yang mewakili sistem ekonomi yang dingin dan impersonal. Seruan, “Six foot, seven foot, eight foot bunch!” bukan sekadar hitungan, melainkan upaya buruh untuk menegaskan nilai kerja mereka, agar upah dibayar, agar mereka boleh pulang. Belafonte, dengan kecerdasan seorang aktivis, sengaja menyusupkan narasi perjuangan kelas ini ke jantung budaya populer Barat, memaksa dunia merayakan martabat orang-orang yang selama ini hanya dianggap sebagai tenaga kerja murah.
Bagi banyak pendengar hari ini, lagu ini memantik nostalgia pesta tropis. Namun dalam sejarah musik, ia dapat dibaca sebagai protest song yang disamarkan, sebuah ratapan sosial yang dibungkus irama riang.
Pergantian malam ke pagi yang terus diulang di dalam lirik juga menyimpan makna filosofis: malam adalah ruang kerja keras yang tersembunyi, sementara fajar adalah harapan akan berakhirnya penderitaan. Lagu ini berhenti tepat di ambang transisi itu, di antara kelelahan yang belum usai dan janji istirahat yang hampir tiba. Teriakan “Day-O” yang bersahut-sahutan pun bukan sekadar hiasan musikal. Ia adalah pola call and response di antara para buruh, cara sederhana untuk saling menyemangati bahwa fajar sudah dekat dan beban akan segera terangkat. Dan kini, setiap kali kita ikut bersenandung, tanpa sadar kita sedang menyambung gema ketahanan manusia, menjadikan lagu ini jembatan imajinasi antara masa silam yang pahit dan masa kini yang penuh nostalgia. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























