Kapan Terakhir Kali Ayah Berkunjung?
Yah, o ayah, dari bulan oktober seperti desember
memilih surga setelah tak hadir menyantap lauk;
sejak kapan pintu tertutup ketika sesaji beras
ditelan, dibuang, beranak, dan beradu suara.
“kapan terakhir kali kau benar-benar berkunjung?”
Yah, o ayah, dari kisah kartun bahkan jenaka
mungkin takkan lucu lagi ceritamu di rumah;
sekali saja pisahkan diriku dan dirimu
agar dewi pertiwi tak melarakan garis darah keluarga.
“kapan terakhir kali kau benar-benar berkunjung?”
untuk apa menceritakan bunga yang tumbuh
lalu aromanya bangkai di jadikan parfum tubuh;
biasakanlah berpura-pura subur di rumput
setelah disiram, dimandikan, ditinggalkan.
untuk apa merawat bunga yang tumbuh
lalu aromanya bangkai dipianakan di taman;
biasakanlah serbuk menggelantung di tubuh
harum dan dicemari bertahun-tahun.
Desember, 2025
Karena Keluarga
Karena keluarga mataku menatap laut
seperti cerita nenek di pelabuhan sepuluh tahun lalu
antara dua orang yang menumbuk air kemarin malam,
tapi tak pernah benar-benar hancur sebab pasti lebur.
Karena keluarga rasa takut tenggelam di laut muncul
setelah bergantian melihat hiu kemarin malam
antara dua orang yang menanam teritip di mata,
tapi tak pernah melekat dan menggembara sebab tak berguna.
Karena keluarga tubuhku tersisir ombak laut
sedikit manis dan hangat lalu diberi buih nafas agar hidup
sementara dua hiu menyusuri rumah terumbu karang dan koral,
tapi tak pernah bertamu sebab tak perlu.
November, 2025
Itu Karena Matahari Buta
Itu karena matahari buta rasa tenggelam,
di seberang rumah anak kedua
timbunan daun busuk
sembilan tahun lalu
menara babel dari kumpulan tinja,
hampir tak beraroma pagi, siang, sore
sebab matahari tak pernah peduli hari;
siapa kau yang atur tidurku, takut pada matahari
tapi ingin ditimpa beratus-ratus cahaya
lalu diulangi lagi sampai peluhmu jadi getih
dimintai tolong untuk berhenti.
Itu karena matahari buta rasa kasihan,
metamorfosa manusia
seperti ampas dimainkan angin
dibasuh bulan, diberi wejangan malam
tapi matahari tak suka diusik malam
sebab manusia ditidurkan lebih awal;
apa gunanya kau berbisik pada matahari,
diberi seringai dan mataku lebih pedih
dan ouroboros jadi siklus fana
lalu mati dimakan berjuta ribu petaka.
Desember, 2025
Laut
Setidaknya laut mengiringi tamasya keluargaku,
tak ada lagi ikan-ikan yang membawa kabar
karena tak tahu perjalanan abu di laut
atau ombak yang memandu manusia lebih jauh
sampai dipertemukan matahari di ujung jalan;
jangan takut bila dijemput laut
lebih kurang tanganmu, wajahmu, tubuhmu diukir usia
maka tak perlu khawatir pada samudra.
Setidaknya kakek akhirnya disambut laut
lalu kuceburkan dirinya bersama dengan keluarga
dan awan hanya ingin menulis gemuruh
tapi untuk apa berteriak seperti awan di hari terakhirnya
setelah bersikeras ingin memukul langit di ujung tanggal hidupnya.
Desember, 2025
Banyuning
Tak ada yang pernah membuatku takut untuk bercerita
di desa tempat reinkarnasi tulang, atman, dan darahku
sedikit merah dari ayah dan ibu
diwarnakan antara rasa kecewa orang tuamu
lebih buruk dari lahirnya jerapah tanah savana
di bungkus ungkapan layaknya umpatan;
kau cabik-cabik darahku jadi merah
sedangkan dirimu tak berwarna apapun
lalu kau mengeluh karena tak diberi nama
lantaran ingin memakan keluarga.
caci saja musim panas di rumahku
caci saja musim panas di rumahmu
mari maafkan racun di piringku
mari maafkan racun di piringmu
Aku tak pernah tahu cara bercerita
saat nenek tertidur di ranjang bersimbah lelah
rayakan jatuhnya darah di desa naraka
lebih baik tak dirayu masuk dalam sel telur
kemudian berkembang,
bertahan di rahim seorang wanita;
dari mana saja dirimu?
ketika semuanya sisa belatung dan bunga
lihatlah angin timur laut, matahari tak ingin berpamitan
bahkan setelah dibujuk nelayan ingin mencari ikan.
Desember, 2025
.
Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole



























