27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 17, 2026
in Esai
Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

BARANGKALI Siwaratri bukan lagi malam yang sepenuhnya sunyi. Generasi muda merayakannya dengan berbagai macam cara baru, dan di sanalah pertanyaan tentang makna Siwaratri kembali muncul.

Hari Siwaratri merupakan hari suci umat Hindu Bali yang dimaknai sebagai malam perenungan diri. Kata Siwaratri berasal dari kata ‘Siwa’, yang melambangkan kesadaran tertinggi, dan ‘ratri’ yang berarti malam. Dengan demikian, Siwaratri bukan sekadar malam tanpa tidur, tetapi malam untuk membangkitkan kesadaran, mengendalikan diri, dan meninjau kembali kesalahan-kesalahan hidup. Makna ini bersumber dari kisah ‘Lubdaka’, sebuah cerita sederhana karangan Mpu Tanakung yang hingga kini terus diwariskan.

Lubdaka diceritakan sebagai seorang pemburu. Setiap hari ia masuk hutan untuk memburu binatang demi mempertahankan hidup. Dalam ajaran Hindu, membunuh makhluk hidup tergolong perbuatan yang membawa papa atau dosa. Lubdaka bukan orang suci, tidak memahami ajaran agama secara mendalam, dan tidak menjalankan ritual keagamaan. Ia hanyalah manusia biasa dengan banyak kekurangan.

Suatu hari, saat berburu, Lubdaka tersesat di hutan hingga malam tiba. Hutan menjadi gelap, suara binatang buas terdengar di sekelilingnya, dan rasa takut menguasai dirinya. Untuk menyelamatkan diri, ia memanjat pohon bila atau pohon maja. Karena takut dimangsa binatang buas, ia tidak berani turun dan terpaksa berjaga di atas pohon sepanjang malam.

Malam itu bertepatan dengan malam Siwaratri. Karena rasa takut dan cemas, Lubdaka tidak tidur semalaman ─ dalam ajaran Hindu disebut jagra. Agar tetap terjaga, ia memetik daun-daun pohon bila dan menjatuhkannya satu per satu ke bawah. Tanpa ia sadari, tepat di bawah pohon tersebut terdapat lingga Siwa, simbol kehadiran Dewa Siwa. Daun-daun bila yang jatuh mengenai lingga itu dianggap sebagai persembahan suci.

Sepanjang malam itu Lubdaka juga tidak makan dan minum, yang disebut upawasa atau berpuasa. Ia pun tidak berbicara sepatah kata pun, karena sendirian dan diliputi rasa takut ─ monabrata. Tanpa niat beribadah, Lubdaka justru menjalankan tiga Tapa Brata utama Siwaratri secara utuh. Karena ketulusan dan kesadarannya pada malam itu, Dewa Siwa menganugerahkan pengampunan atas dosa-dosanya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Lubdaka tidak berhenti di masa lalu. Pertanyaan pentingnya justru muncul hari ini: bagaimana makna itu dijalani oleh generasi muda yang hidup di tengah perkembangan zaman, pergaulan luas, dan dunia yang hampir tak pernah benar-benar hening.

Generasi muda masa kini hidup dalam realitas penuh tekanan, tuntutan, masalah ekonomi, serta pengaruh pergaulan yang membuat malam sering kali menjadi ruang pelarian. Ketika Siwaratri tiba, tidak semua anak muda mampu atau mau menjalankannya dengan cara ideal seperti yang diajarkan dalam kitab suci.

Sebagian memilih nongkrong di kedai kopi hingga larut malam. Mereka duduk berjam-jam, berbincang tentang kehidupan, pekerjaan, hubungan, dan kegelisahan pribadi. Dalam bentuk tertentu, ini bisa menjadi jagra modern ─ tetap terjaga sambil merenungkan hidup, meski tidak dalam suasana ritual.

Ada pula yang kumpul di warung makan malam atau rumah teman, sekadar agar tidak tertidur. Dalam sisi positif, kebersamaan ini menghadirkan rasa saling menjaga. Ada nilai sosial dan empati yang tumbuh dari kebersamaan tersebut.

Sebagian generasi muda juga tangkil ke pura bersama pasangan atau sahabat. Mereka berdoa dengan sederhana, membawa canang, lalu duduk sejenak. Doa mereka mungkin singkat dan tidak sempurna, tetapi dilakukan dengan hati yang tulus. Dalam bentuk ini, nilai Siwaratri masih menemukan ruangnya.

Namun, praktik tangkil (datang) ke pura di kalangan generasi muda juga tidak lepas dari sisi problematis. Tidak sedikit yang datang ke pura lebih karena dorongan kebutuhan sosial dan citra diri. Busana, sudut foto, dan unggahan di media sosial kerap menjadi perhatian utama, sementara doa dan perenungan justru berada di urutan kedua. Pura yang seharusnya menjadi ruang sunyi untuk menenangkan pikiran, perlahan berubah menjadi latar visual. Dalam kondisi ini, tangkil ke pura berisiko kehilangan makna spiritualnya dan bergeser menjadi sekadar aktivitas simbolik.

Perubahan cara merayakan Siwaratri juga tidak selalu berjalan searah dengan nilai pengendalian diri. Di beberapa kalangan anak muda, malam Siwaratri justru dijadikan alasan untuk minum minuman keras, berjudi, berbicara tanpa kendali, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan perenungan. Dalam konteks ini, jagra kehilangan maknanya. Terjaga semalaman tidak lagi menjadi sarana introspeksi, melainkan sekadar perpanjangan dari kebiasaan sehari-hari.

Jika Lubdaka dahulu terjaga karena takut akan kematian dan tanpa sadar menemukan kesadaran, sebagian generasi muda kini terjaga karena distraksi. Bukan hening yang dihadapi, melainkan kebisingan. Bukan rasa takut yang membangunkan kesadaran, melainkan kebiasaan yang sering dijalani tanpa arah.

Fenomena ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. Generasi muda hidup di tengah dunia yang kompleks dan penuh godaan. Tantangannya bukan hanya bagaimana merayakan Siwaratri, melainkan bagaimana memberi makna pada setiap tindakan yang dilakukan.

Nongkrong bisa menjadi ruang refleksi, bukan pelarian. Kumpul teman bisa menjadi sarana saling mengingatkan, bukan sekadar hiburan. Tangkil ke pura seharusnya menjadi perjumpaan batin, bukan sekadar dokumentasi. Jagra tidak cukup hanya terjaga secara fisik, tetapi perlu disertai kesadaran.

Lubdaka masa kini bukan sosok yang sempurna. Ia masih belajar mengendalikan diri, masih sering salah langkah, dan masih mencari arah hidup. Namun seperti Lubdaka dalam cerita, selama masih ada usaha untuk sadar, menahan diri, dan memperbaiki kesalahan, nilai Siwaratri akan tetap ada. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari SiwaratrihinduHindu BaliLubdakaMpu TanakungSiwaratriTanakung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sastra Suci Ditelanjangi dan Dipertaruhkan di Ruang Kalah-Menang

Next Post

Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Nanda Candra Rilis Single 'Setara', Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co