7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 17, 2026
in Esai
Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

BARANGKALI Siwaratri bukan lagi malam yang sepenuhnya sunyi. Generasi muda merayakannya dengan berbagai macam cara baru, dan di sanalah pertanyaan tentang makna Siwaratri kembali muncul.

Hari Siwaratri merupakan hari suci umat Hindu Bali yang dimaknai sebagai malam perenungan diri. Kata Siwaratri berasal dari kata ‘Siwa’, yang melambangkan kesadaran tertinggi, dan ‘ratri’ yang berarti malam. Dengan demikian, Siwaratri bukan sekadar malam tanpa tidur, tetapi malam untuk membangkitkan kesadaran, mengendalikan diri, dan meninjau kembali kesalahan-kesalahan hidup. Makna ini bersumber dari kisah ‘Lubdaka’, sebuah cerita sederhana karangan Mpu Tanakung yang hingga kini terus diwariskan.

Lubdaka diceritakan sebagai seorang pemburu. Setiap hari ia masuk hutan untuk memburu binatang demi mempertahankan hidup. Dalam ajaran Hindu, membunuh makhluk hidup tergolong perbuatan yang membawa papa atau dosa. Lubdaka bukan orang suci, tidak memahami ajaran agama secara mendalam, dan tidak menjalankan ritual keagamaan. Ia hanyalah manusia biasa dengan banyak kekurangan.

Suatu hari, saat berburu, Lubdaka tersesat di hutan hingga malam tiba. Hutan menjadi gelap, suara binatang buas terdengar di sekelilingnya, dan rasa takut menguasai dirinya. Untuk menyelamatkan diri, ia memanjat pohon bila atau pohon maja. Karena takut dimangsa binatang buas, ia tidak berani turun dan terpaksa berjaga di atas pohon sepanjang malam.

Malam itu bertepatan dengan malam Siwaratri. Karena rasa takut dan cemas, Lubdaka tidak tidur semalaman ─ dalam ajaran Hindu disebut jagra. Agar tetap terjaga, ia memetik daun-daun pohon bila dan menjatuhkannya satu per satu ke bawah. Tanpa ia sadari, tepat di bawah pohon tersebut terdapat lingga Siwa, simbol kehadiran Dewa Siwa. Daun-daun bila yang jatuh mengenai lingga itu dianggap sebagai persembahan suci.

Sepanjang malam itu Lubdaka juga tidak makan dan minum, yang disebut upawasa atau berpuasa. Ia pun tidak berbicara sepatah kata pun, karena sendirian dan diliputi rasa takut ─ monabrata. Tanpa niat beribadah, Lubdaka justru menjalankan tiga Tapa Brata utama Siwaratri secara utuh. Karena ketulusan dan kesadarannya pada malam itu, Dewa Siwa menganugerahkan pengampunan atas dosa-dosanya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Lubdaka tidak berhenti di masa lalu. Pertanyaan pentingnya justru muncul hari ini: bagaimana makna itu dijalani oleh generasi muda yang hidup di tengah perkembangan zaman, pergaulan luas, dan dunia yang hampir tak pernah benar-benar hening.

Generasi muda masa kini hidup dalam realitas penuh tekanan, tuntutan, masalah ekonomi, serta pengaruh pergaulan yang membuat malam sering kali menjadi ruang pelarian. Ketika Siwaratri tiba, tidak semua anak muda mampu atau mau menjalankannya dengan cara ideal seperti yang diajarkan dalam kitab suci.

Sebagian memilih nongkrong di kedai kopi hingga larut malam. Mereka duduk berjam-jam, berbincang tentang kehidupan, pekerjaan, hubungan, dan kegelisahan pribadi. Dalam bentuk tertentu, ini bisa menjadi jagra modern ─ tetap terjaga sambil merenungkan hidup, meski tidak dalam suasana ritual.

Ada pula yang kumpul di warung makan malam atau rumah teman, sekadar agar tidak tertidur. Dalam sisi positif, kebersamaan ini menghadirkan rasa saling menjaga. Ada nilai sosial dan empati yang tumbuh dari kebersamaan tersebut.

Sebagian generasi muda juga tangkil ke pura bersama pasangan atau sahabat. Mereka berdoa dengan sederhana, membawa canang, lalu duduk sejenak. Doa mereka mungkin singkat dan tidak sempurna, tetapi dilakukan dengan hati yang tulus. Dalam bentuk ini, nilai Siwaratri masih menemukan ruangnya.

Namun, praktik tangkil (datang) ke pura di kalangan generasi muda juga tidak lepas dari sisi problematis. Tidak sedikit yang datang ke pura lebih karena dorongan kebutuhan sosial dan citra diri. Busana, sudut foto, dan unggahan di media sosial kerap menjadi perhatian utama, sementara doa dan perenungan justru berada di urutan kedua. Pura yang seharusnya menjadi ruang sunyi untuk menenangkan pikiran, perlahan berubah menjadi latar visual. Dalam kondisi ini, tangkil ke pura berisiko kehilangan makna spiritualnya dan bergeser menjadi sekadar aktivitas simbolik.

Perubahan cara merayakan Siwaratri juga tidak selalu berjalan searah dengan nilai pengendalian diri. Di beberapa kalangan anak muda, malam Siwaratri justru dijadikan alasan untuk minum minuman keras, berjudi, berbicara tanpa kendali, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan perenungan. Dalam konteks ini, jagra kehilangan maknanya. Terjaga semalaman tidak lagi menjadi sarana introspeksi, melainkan sekadar perpanjangan dari kebiasaan sehari-hari.

Jika Lubdaka dahulu terjaga karena takut akan kematian dan tanpa sadar menemukan kesadaran, sebagian generasi muda kini terjaga karena distraksi. Bukan hening yang dihadapi, melainkan kebisingan. Bukan rasa takut yang membangunkan kesadaran, melainkan kebiasaan yang sering dijalani tanpa arah.

Fenomena ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. Generasi muda hidup di tengah dunia yang kompleks dan penuh godaan. Tantangannya bukan hanya bagaimana merayakan Siwaratri, melainkan bagaimana memberi makna pada setiap tindakan yang dilakukan.

Nongkrong bisa menjadi ruang refleksi, bukan pelarian. Kumpul teman bisa menjadi sarana saling mengingatkan, bukan sekadar hiburan. Tangkil ke pura seharusnya menjadi perjumpaan batin, bukan sekadar dokumentasi. Jagra tidak cukup hanya terjaga secara fisik, tetapi perlu disertai kesadaran.

Lubdaka masa kini bukan sosok yang sempurna. Ia masih belajar mengendalikan diri, masih sering salah langkah, dan masih mencari arah hidup. Namun seperti Lubdaka dalam cerita, selama masih ada usaha untuk sadar, menahan diri, dan memperbaiki kesalahan, nilai Siwaratri akan tetap ada. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari SiwaratrihinduHindu BaliLubdakaMpu TanakungSiwaratriTanakung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sastra Suci Ditelanjangi dan Dipertaruhkan di Ruang Kalah-Menang

Next Post

Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Nanda Candra Rilis Single 'Setara', Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co