6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 17, 2026
in Esai
Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

BARANGKALI Siwaratri bukan lagi malam yang sepenuhnya sunyi. Generasi muda merayakannya dengan berbagai macam cara baru, dan di sanalah pertanyaan tentang makna Siwaratri kembali muncul.

Hari Siwaratri merupakan hari suci umat Hindu Bali yang dimaknai sebagai malam perenungan diri. Kata Siwaratri berasal dari kata ‘Siwa’, yang melambangkan kesadaran tertinggi, dan ‘ratri’ yang berarti malam. Dengan demikian, Siwaratri bukan sekadar malam tanpa tidur, tetapi malam untuk membangkitkan kesadaran, mengendalikan diri, dan meninjau kembali kesalahan-kesalahan hidup. Makna ini bersumber dari kisah ‘Lubdaka’, sebuah cerita sederhana karangan Mpu Tanakung yang hingga kini terus diwariskan.

Lubdaka diceritakan sebagai seorang pemburu. Setiap hari ia masuk hutan untuk memburu binatang demi mempertahankan hidup. Dalam ajaran Hindu, membunuh makhluk hidup tergolong perbuatan yang membawa papa atau dosa. Lubdaka bukan orang suci, tidak memahami ajaran agama secara mendalam, dan tidak menjalankan ritual keagamaan. Ia hanyalah manusia biasa dengan banyak kekurangan.

Suatu hari, saat berburu, Lubdaka tersesat di hutan hingga malam tiba. Hutan menjadi gelap, suara binatang buas terdengar di sekelilingnya, dan rasa takut menguasai dirinya. Untuk menyelamatkan diri, ia memanjat pohon bila atau pohon maja. Karena takut dimangsa binatang buas, ia tidak berani turun dan terpaksa berjaga di atas pohon sepanjang malam.

Malam itu bertepatan dengan malam Siwaratri. Karena rasa takut dan cemas, Lubdaka tidak tidur semalaman ─ dalam ajaran Hindu disebut jagra. Agar tetap terjaga, ia memetik daun-daun pohon bila dan menjatuhkannya satu per satu ke bawah. Tanpa ia sadari, tepat di bawah pohon tersebut terdapat lingga Siwa, simbol kehadiran Dewa Siwa. Daun-daun bila yang jatuh mengenai lingga itu dianggap sebagai persembahan suci.

Sepanjang malam itu Lubdaka juga tidak makan dan minum, yang disebut upawasa atau berpuasa. Ia pun tidak berbicara sepatah kata pun, karena sendirian dan diliputi rasa takut ─ monabrata. Tanpa niat beribadah, Lubdaka justru menjalankan tiga Tapa Brata utama Siwaratri secara utuh. Karena ketulusan dan kesadarannya pada malam itu, Dewa Siwa menganugerahkan pengampunan atas dosa-dosanya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Lubdaka tidak berhenti di masa lalu. Pertanyaan pentingnya justru muncul hari ini: bagaimana makna itu dijalani oleh generasi muda yang hidup di tengah perkembangan zaman, pergaulan luas, dan dunia yang hampir tak pernah benar-benar hening.

Generasi muda masa kini hidup dalam realitas penuh tekanan, tuntutan, masalah ekonomi, serta pengaruh pergaulan yang membuat malam sering kali menjadi ruang pelarian. Ketika Siwaratri tiba, tidak semua anak muda mampu atau mau menjalankannya dengan cara ideal seperti yang diajarkan dalam kitab suci.

Sebagian memilih nongkrong di kedai kopi hingga larut malam. Mereka duduk berjam-jam, berbincang tentang kehidupan, pekerjaan, hubungan, dan kegelisahan pribadi. Dalam bentuk tertentu, ini bisa menjadi jagra modern ─ tetap terjaga sambil merenungkan hidup, meski tidak dalam suasana ritual.

Ada pula yang kumpul di warung makan malam atau rumah teman, sekadar agar tidak tertidur. Dalam sisi positif, kebersamaan ini menghadirkan rasa saling menjaga. Ada nilai sosial dan empati yang tumbuh dari kebersamaan tersebut.

Sebagian generasi muda juga tangkil ke pura bersama pasangan atau sahabat. Mereka berdoa dengan sederhana, membawa canang, lalu duduk sejenak. Doa mereka mungkin singkat dan tidak sempurna, tetapi dilakukan dengan hati yang tulus. Dalam bentuk ini, nilai Siwaratri masih menemukan ruangnya.

Namun, praktik tangkil (datang) ke pura di kalangan generasi muda juga tidak lepas dari sisi problematis. Tidak sedikit yang datang ke pura lebih karena dorongan kebutuhan sosial dan citra diri. Busana, sudut foto, dan unggahan di media sosial kerap menjadi perhatian utama, sementara doa dan perenungan justru berada di urutan kedua. Pura yang seharusnya menjadi ruang sunyi untuk menenangkan pikiran, perlahan berubah menjadi latar visual. Dalam kondisi ini, tangkil ke pura berisiko kehilangan makna spiritualnya dan bergeser menjadi sekadar aktivitas simbolik.

Perubahan cara merayakan Siwaratri juga tidak selalu berjalan searah dengan nilai pengendalian diri. Di beberapa kalangan anak muda, malam Siwaratri justru dijadikan alasan untuk minum minuman keras, berjudi, berbicara tanpa kendali, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan perenungan. Dalam konteks ini, jagra kehilangan maknanya. Terjaga semalaman tidak lagi menjadi sarana introspeksi, melainkan sekadar perpanjangan dari kebiasaan sehari-hari.

Jika Lubdaka dahulu terjaga karena takut akan kematian dan tanpa sadar menemukan kesadaran, sebagian generasi muda kini terjaga karena distraksi. Bukan hening yang dihadapi, melainkan kebisingan. Bukan rasa takut yang membangunkan kesadaran, melainkan kebiasaan yang sering dijalani tanpa arah.

Fenomena ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. Generasi muda hidup di tengah dunia yang kompleks dan penuh godaan. Tantangannya bukan hanya bagaimana merayakan Siwaratri, melainkan bagaimana memberi makna pada setiap tindakan yang dilakukan.

Nongkrong bisa menjadi ruang refleksi, bukan pelarian. Kumpul teman bisa menjadi sarana saling mengingatkan, bukan sekadar hiburan. Tangkil ke pura seharusnya menjadi perjumpaan batin, bukan sekadar dokumentasi. Jagra tidak cukup hanya terjaga secara fisik, tetapi perlu disertai kesadaran.

Lubdaka masa kini bukan sosok yang sempurna. Ia masih belajar mengendalikan diri, masih sering salah langkah, dan masih mencari arah hidup. Namun seperti Lubdaka dalam cerita, selama masih ada usaha untuk sadar, menahan diri, dan memperbaiki kesalahan, nilai Siwaratri akan tetap ada. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari SiwaratrihinduHindu BaliLubdakaMpu TanakungSiwaratriTanakung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sastra Suci Ditelanjangi dan Dipertaruhkan di Ruang Kalah-Menang

Next Post

Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Nanda Candra Rilis Single 'Setara', Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co