15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 17, 2026
in Esai
Lubdaka dan Siwaratri Masa Kini

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

BARANGKALI Siwaratri bukan lagi malam yang sepenuhnya sunyi. Generasi muda merayakannya dengan berbagai macam cara baru, dan di sanalah pertanyaan tentang makna Siwaratri kembali muncul.

Hari Siwaratri merupakan hari suci umat Hindu Bali yang dimaknai sebagai malam perenungan diri. Kata Siwaratri berasal dari kata ‘Siwa’, yang melambangkan kesadaran tertinggi, dan ‘ratri’ yang berarti malam. Dengan demikian, Siwaratri bukan sekadar malam tanpa tidur, tetapi malam untuk membangkitkan kesadaran, mengendalikan diri, dan meninjau kembali kesalahan-kesalahan hidup. Makna ini bersumber dari kisah ‘Lubdaka’, sebuah cerita sederhana karangan Mpu Tanakung yang hingga kini terus diwariskan.

Lubdaka diceritakan sebagai seorang pemburu. Setiap hari ia masuk hutan untuk memburu binatang demi mempertahankan hidup. Dalam ajaran Hindu, membunuh makhluk hidup tergolong perbuatan yang membawa papa atau dosa. Lubdaka bukan orang suci, tidak memahami ajaran agama secara mendalam, dan tidak menjalankan ritual keagamaan. Ia hanyalah manusia biasa dengan banyak kekurangan.

Suatu hari, saat berburu, Lubdaka tersesat di hutan hingga malam tiba. Hutan menjadi gelap, suara binatang buas terdengar di sekelilingnya, dan rasa takut menguasai dirinya. Untuk menyelamatkan diri, ia memanjat pohon bila atau pohon maja. Karena takut dimangsa binatang buas, ia tidak berani turun dan terpaksa berjaga di atas pohon sepanjang malam.

Malam itu bertepatan dengan malam Siwaratri. Karena rasa takut dan cemas, Lubdaka tidak tidur semalaman ─ dalam ajaran Hindu disebut jagra. Agar tetap terjaga, ia memetik daun-daun pohon bila dan menjatuhkannya satu per satu ke bawah. Tanpa ia sadari, tepat di bawah pohon tersebut terdapat lingga Siwa, simbol kehadiran Dewa Siwa. Daun-daun bila yang jatuh mengenai lingga itu dianggap sebagai persembahan suci.

Sepanjang malam itu Lubdaka juga tidak makan dan minum, yang disebut upawasa atau berpuasa. Ia pun tidak berbicara sepatah kata pun, karena sendirian dan diliputi rasa takut ─ monabrata. Tanpa niat beribadah, Lubdaka justru menjalankan tiga Tapa Brata utama Siwaratri secara utuh. Karena ketulusan dan kesadarannya pada malam itu, Dewa Siwa menganugerahkan pengampunan atas dosa-dosanya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Lubdaka tidak berhenti di masa lalu. Pertanyaan pentingnya justru muncul hari ini: bagaimana makna itu dijalani oleh generasi muda yang hidup di tengah perkembangan zaman, pergaulan luas, dan dunia yang hampir tak pernah benar-benar hening.

Generasi muda masa kini hidup dalam realitas penuh tekanan, tuntutan, masalah ekonomi, serta pengaruh pergaulan yang membuat malam sering kali menjadi ruang pelarian. Ketika Siwaratri tiba, tidak semua anak muda mampu atau mau menjalankannya dengan cara ideal seperti yang diajarkan dalam kitab suci.

Sebagian memilih nongkrong di kedai kopi hingga larut malam. Mereka duduk berjam-jam, berbincang tentang kehidupan, pekerjaan, hubungan, dan kegelisahan pribadi. Dalam bentuk tertentu, ini bisa menjadi jagra modern ─ tetap terjaga sambil merenungkan hidup, meski tidak dalam suasana ritual.

Ada pula yang kumpul di warung makan malam atau rumah teman, sekadar agar tidak tertidur. Dalam sisi positif, kebersamaan ini menghadirkan rasa saling menjaga. Ada nilai sosial dan empati yang tumbuh dari kebersamaan tersebut.

Sebagian generasi muda juga tangkil ke pura bersama pasangan atau sahabat. Mereka berdoa dengan sederhana, membawa canang, lalu duduk sejenak. Doa mereka mungkin singkat dan tidak sempurna, tetapi dilakukan dengan hati yang tulus. Dalam bentuk ini, nilai Siwaratri masih menemukan ruangnya.

Namun, praktik tangkil (datang) ke pura di kalangan generasi muda juga tidak lepas dari sisi problematis. Tidak sedikit yang datang ke pura lebih karena dorongan kebutuhan sosial dan citra diri. Busana, sudut foto, dan unggahan di media sosial kerap menjadi perhatian utama, sementara doa dan perenungan justru berada di urutan kedua. Pura yang seharusnya menjadi ruang sunyi untuk menenangkan pikiran, perlahan berubah menjadi latar visual. Dalam kondisi ini, tangkil ke pura berisiko kehilangan makna spiritualnya dan bergeser menjadi sekadar aktivitas simbolik.

Perubahan cara merayakan Siwaratri juga tidak selalu berjalan searah dengan nilai pengendalian diri. Di beberapa kalangan anak muda, malam Siwaratri justru dijadikan alasan untuk minum minuman keras, berjudi, berbicara tanpa kendali, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan perenungan. Dalam konteks ini, jagra kehilangan maknanya. Terjaga semalaman tidak lagi menjadi sarana introspeksi, melainkan sekadar perpanjangan dari kebiasaan sehari-hari.

Jika Lubdaka dahulu terjaga karena takut akan kematian dan tanpa sadar menemukan kesadaran, sebagian generasi muda kini terjaga karena distraksi. Bukan hening yang dihadapi, melainkan kebisingan. Bukan rasa takut yang membangunkan kesadaran, melainkan kebiasaan yang sering dijalani tanpa arah.

Fenomena ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. Generasi muda hidup di tengah dunia yang kompleks dan penuh godaan. Tantangannya bukan hanya bagaimana merayakan Siwaratri, melainkan bagaimana memberi makna pada setiap tindakan yang dilakukan.

Nongkrong bisa menjadi ruang refleksi, bukan pelarian. Kumpul teman bisa menjadi sarana saling mengingatkan, bukan sekadar hiburan. Tangkil ke pura seharusnya menjadi perjumpaan batin, bukan sekadar dokumentasi. Jagra tidak cukup hanya terjaga secara fisik, tetapi perlu disertai kesadaran.

Lubdaka masa kini bukan sosok yang sempurna. Ia masih belajar mengendalikan diri, masih sering salah langkah, dan masih mencari arah hidup. Namun seperti Lubdaka dalam cerita, selama masih ada usaha untuk sadar, menahan diri, dan memperbaiki kesalahan, nilai Siwaratri akan tetap ada. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari SiwaratrihinduHindu BaliLubdakaMpu TanakungSiwaratriTanakung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sastra Suci Ditelanjangi dan Dipertaruhkan di Ruang Kalah-Menang

Next Post

Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Nanda Candra Rilis Single ‘Setara’, Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Nanda Candra Rilis Single 'Setara', Lagu tentang Keberanian Memilih Diri Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co