6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bermain di Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP menjelang tahun baru, manusia di seluruh dunia melakukan satu hal yang sama yaitu  berpura-pura optimis. Kita tahu sama tahu lah,  dunia tidak otomatis membaik hanya karena kalender berganti, tapi saya, anda, dan kita semua tetap menuliskan resolusi. Kita tahu krisis iklim belum selesai, perang belum reda, bencana datang silih berganti, tapi kita tetap berkata dengan yakin, “Semoga tahun depan lebih baik.” Menjadi semacam ritual. Apakah itu aneh? Tentu tidak, para pembaca yang budiman.  Dalam hemat saya justru di situlah letak kemanusiaan kita.

Secara psikologis, tahun baru adalah ritual kolektif untuk berdamai dengan ketidakpastian. Tahun baru sebenarnya bukan titik awal yang objektif, melainkan suatu jeda simbolik yang disepakati bersama. Karena begini, waktu, seperti kata sosiolog Norbert Elias, tidaklah pernah netral. Waktu  adalah konstruksi sosial yang membantu manusia mengatur harapan dan juga sekaligus kecemasannya. Tahun baru, dengan segala resolusinya yang diam-diam harus kita akui akhirnya sering gagal, adalah cara manusia berkata bahwa  hidup boleh berantakan, tapi kami belum menyerah.

Di Indonesia kita tercinta, makna tahun baru bahkan lebih kompleks. Tahun baru jarang dimaknai sebagai pesta individual semata, karena lebih sering dirayakan dengan kumpul keluarga dan kolega. Bakar jagung, kumpul di pusat keramaian, dan obrolan ringan yang ujungnya wajib tidur setelah lewat jam dua belas. Memang tidak selalu meriah, tidak selalu spektakuler,  tapi hangat dan intim.

Dan tahun ini, ada pergeseran simbolik yang menarik.  Karena sudah ada larangan dari Kapolri maka  pesta kembang api tidak diperbolehkan. Salutnya di banyak daerah kemudian diganti dengan  penggalangan dana untuk saudara-saudara kita di Sumatra yang terdampak bencana. Jadi untuk tahun baru kali ini bukan sekadar soal teknis acara, tapi  perubahan cara kita memahami perayaan karena situasi. 

Ketika Hidup Disadari sebagai Permainan Serius

Kembang api adalah simbol modernitas yang klasik, ada cahaya terang, suara keras, indah sebentar, lalu lenyap. Memang memuaskan mata, tapi jarang menyentuh nurani. Apalagi kalau pas ledakan kembang apinya kita lebih sibuk bikin video daripada melihatnya langsung. Nah, penggalangan dana, sebaliknya, tidak menawarkan tontonan. Ia sunyi dan senyap saja, tidak instagramable, tapi sarat makna. Dalam psikologi sosial, tindakan seperti ini disebut prosocial behavior, perilaku yang mengarah pada kepedulian terhadap orang lain.

Riset menunjukkan bahwa membantu sesama justru meningkatkan kesejahteraan mental, mengurangi kecemasan eksistensial, dan memberi rasa makna yang lebih tahan lama dibanding kesenangan instan.  Dengan kata lain, empati adalah perayaan yang lebih tahan lama daripada euforia.  Dan di sinilah kemudian perayaan tahun baru kali ini mulai menarik dibaca dari perspektif yang jarang dibicarakan, yaitu Homo Ludens.

Johan Huizinga, sejarawan dan filsuf budaya, menyebut manusia sebagai Homo Ludens, makhluk yang bermain. Tapi bermain di sini bukan main-main. Main-main artinya tidak serius, sebaliknya bermain adalah aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran, aturan, dan keterlibatan penuh, meskipun hasilnya tidak pasti. Dalam bermain, manusia menyadari bahwa ada kemungkinan kalah, ada aturan yang membatasi, ada risiko gagal, namun bagaimanapun juga tetap bermain dengan sungguh-sungguh.

Tahun baru, jika dilihat dari kacamata ini, adalah arena bermain sosial. Dengan serius, penuh kesadaran dan tidak main-main. Kita tahu resolusi sering tidak tercapai. Kita tahu nasib tidak langsung membaik. Kita juga tahu krisis tidak berhenti di tanggal 31 Desember. Namun kita tetap ikut “bermain” dengan menyusun harapan, membuat janji, berkumpul, berbagi, dan berdoa. Mengapa demikian? Karena saya yakin bahwa manusia dewasa bukan yang menolak absurditas hidup, tapi yang mampu hidup di dalamnya, seperti kata Albert Camus, “perlawanan terhadap absurditas bukan dengan menyerah, tapi dengan hidup sepenuhnya.”

Kita semua musti sanggup melakukan itu semua demi masa depan yang lebih manusiawi. Perlu kita yakinkan bahwa itu semua bukan ilusi. Itu pilihan etis kita sebagai manusia. Seperti dikatakan psikolog Viktor Frankl, manusia akan bisa bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun jika ia menemukan makna. Dan sang makna itu sering kali kita temukan bukan dari adanya kepastian, tapi dari sikap kita terhadap ketidakpastian.

Bermain dan Kekuatan Anti-Linear

Satu hal penting dari bermain adalah sifatnya yang tidak linear. Dalam bermain, tidak ada satu jalan pasti menuju kemenangan. Ada improvisasi, percobaan, bahkan kegagalan yang justru membuka kemungkinan baru. Kesadaran ini penting, karena krisis modern yang kita alami sekarang seperti bencana iklim, pandemi, konflik sosial, semua itu adalah masalah non-linear. Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi tunggal atau logika sebab-akibat yang rapi. Teori kompleksitas dalam ilmu sosial menunjukkan bahwa dunia bekerja melalui jejaring hubungan yang rumit, sering tak terduga.

Manusia yang hanya mengandalkan rasionalitas kaku saya yakin seringkali akan gagap menghadapi dunia semacam ini. Sebaliknya, manusia yang mampu “bermain”, akan lebihadaptif. Ia akan berani mencoba, tidak lumpuh oleh perasaan takut gagal, dan terbuka pada solusi dari arah yang tak disangka-sangka seperti misal percaya pada surprise semesta atau butterfly effect, mungkin.  Semua kemampuan ini terkait dengan yang dalam psikologi disebut divergent thinking,  suatu kemampuan untuk menghasilkan banyak kemungkinan, dan bukan hanya satu jawaban benar. Terkait dengan ini, bermain merupakan lahan yang subur bagi cara berpikir semacam ini.

Bermain Bukan Lari dari Realitas

Di titik ini, perlu diluruskan satu kesalahpahaman yang mungkin muncul bahwa  bermain bukan berarti lari dari kenyataan. Bermain justru mengakui realitas apa adanya bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.  Dalam bermain, manusia tidak menuntut kepastian absolut. Ia menerima batasan-batasan yang ada, tapi tetap mencari ruang kebebasan di dalamnya. Seperti anak-anak yang bisa bermain di tengah keterbatasan, masyarakat yang mampu bermain di tengah krisis sering kali justru lebih tahan banting. Nah, logikanya jadi nyambung kan, saudara?

Jadi tindakan-tindakan semacam penggalangan dana di tengah bencana, solidaritas spontan, kreativitas warga ketika negara lambat, semua itu adalah bentuk bermain sosial. Dan secara psikologis, ini adalah tanda resiliensi. Masyarakat yang kehilangan kemampuan bermain biasanya menunjukkan gejala sebaliknya,  suka mengeluh, gampang putus asa, cepat marah, dan alergi pada ketidakpastian.

Bermain, Serius, Optimis, dan Beradab

Jadi penting untuk memahami bahwa menghadapi tahun baru dengan bermain, justru menjadikannya serius, optimis, dan beradab.  Disebut serius karena dalam bermain menuntut keterlibatan penuh, bukan sikap asal-asalan.  Optimis bukan karena yakin menang, tapi karena berani terus bermain sesuai peran masing-masing.  Disebut beradab karena bermain mengajarkan aturan, empati, dan penghormatan pada sesama pemain.  Di dunia yang terlalu tegang, terlalu sinis, dan terlalu yakin pada satu kebenaran, kemampuan bermain justru menjadi tindakan  yang radikal dan bentuk kemampuan yang paling mendasar.

Tahun baru kali ini, pada akhirnya, bukan soal angka yang berganti. Ia adalah cermin cara kita memaknai hidup. Apakah kita memilih menyerah pada krisis, atau tetap bermain dengan harapan, etika, dan kepedulian.  Dan mungkin, di zaman kita yang serba tidak pasti ini, manusia yang paling waras bukan yang paling yakin dirinya benar, tapi yang masih mampu bermain sesuai perannya secara bersama-sama.

Kita semua musti menyadari kita punya peran masing-masing, harus menjalankannya dengan amanah dan sungguh-sungguh, seraya menyadari bahwa kita punya tanggung jawab memelihara kehidupan. Mari bergotong-royong sesuai peran dan kemampuan kita masing-masing, dan semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana bisa segera membaik kondisinya. Selamat menyongsong tahun baru 2026. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kembang apitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bikin Resolusi Kok Nunggu Tahun Baru?

Next Post

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? ---Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co