Kita hidup dalam getaran yang tak kunjung reda. Seperti layar ponsel yang terus menerus bergetar, kerap membawa kabar tak sedap. Dunia kita adalah sebuah bola yang gelisah, berputar dalam orbit kecemasan. Dari cuaca yang memberontak di langit, harga barang yang naik turun bagai permainan bandul, hingga kabar perang yang tiba-tiba terselip di antara iklan sabun. Ketidakpastian bukan lagi tamu, ia sudah menjadi penghuni tetap ruang tamu hidup kita. Menyusun rencana di atas tanah yang terus bergerak, bak membangun istana pasir tepat di tepi ombak yang tak terduga.
Di tengah gemuruh globalisasi ini, ada kegaduhan yang lebih sunyi, lebih pribadi. Suara hati yang bertanya, “Arah mana yang harus dituju?” di persimpangan jalan. Bisik-bisik takut akan kesehatan yang rentan saat tubuh mengirim sinyal aneh. Kecemasan akan kehilangan, akan tertinggal, akan tidak cukup. Kita semua, dengan berbagai tingkat kepiawaian, menjadi pemain akrobat di atas kawat tipis yang membentang di atas jurang “bagaimana jika”.
Beberapa filsuf ternyata bukan sosok asing di pesta kegelisahan kita hari ini. Albert Camus, dengan gagasannya tentang absurditas, mungkin akan menepuk punggung kita dan berkata, “Lihatlah, dunia ini memang tidak pernah berjanji untuk masuk akal.” Pencarian makna kita, menurutnya, bagai Sisyphus yang mendorong batu ke atas bukit hanya untuk melihatnya menggelinding turun lagi. Tapi di situlah letak kebebasan dan pemberontakannya, yaitu kita bisa memilih untuk tersenyum di tengah kesia-siaan yang tak terelakkan.
Sementara Kierkegaard, bapak eksistensialisme, mungkin akan duduk dan berbicara tentang “kecemasan sebagai pusingnya kebebasan”. Kegelisahan itu, katanya, adalah tanda bahwa kita bebas untuk memilih, bahwa kita bertanggung jawab atas penciptaan diri kita sendiri. Kecemasan bukan musuh, melainkan teman seperjalanan yang cerewet menandakan bahwa kita hidup, bahwa kita memiliki kemungkinan.
Lalu, datanglah momen tahun baru. Sebuah garis imajiner di pasir waktu. Secarik resolusi yang kita tulis, seringkali, adalah upaya kecil dan manusiawi untuk menjinakkan ketidakpastian itu. Ia adalah mantra yang kita ucapkan untuk memberi ilusi kendali. Kita berjanji pada tubuh, pada pikiran, pada kebiasaan, seolah dengan mengatur ulang bagian-bagian kecil diri ini, kita bisa mengatur ombak besar yang menerpa.
Tapi mungkin, resolusi yang paling tajam bukanlah daftar pencapaian yang kaku, melainkan perubahan orientasi batin. Bukan tentang mengunci masa depan dalam peti rencana, tapi tentang memperkuat kapal agar kita bisa berlayar di laut yang bergejolak. Resolusi untuk menjadi lebih lentur, bukan lebih keras. Untuk berlatih menerima bahwa tidak semua jawaban hadir tepat waktu, bahwa kekacauan adalah bagian dari sketsa besar. Untuk mengalihkan fokus dari mengendalikan arus, menjadi belajar menari di dalamnya.
Artinya kita semestinya lebih sering belajar dan mengasah kepekaan, merasakan tanah, menatap wajah tanpa sela, mendengarkan sunyi. Atau resolusi untuk melatih belas kasih, terutama pada diri sendiri, saat rencana berantakan. Mungkin juga tekad untuk menemukan keindahan dalam hal-hal yang tetap, yang sederhana dan konsisten, seperti ritme napas, siklus matahari terbit, rasa kopi di pagi hari. Di dunia yang gelisah, ketenangan bisa menjadi bentuk pemberontakan yang paling elegan.
Akhirnya, hidup di dunia yang gelisah adalah mengakui bahwa kita adalah bagian dari gelombang itu sendiri. Kita tidak akan pernah sepenuhnya tenang, karena hidup adalah gerak. Seperti kata Herakleitus, “Kita tidak bisa memasuki sungai yang sama dua kali.” Segalanya berubah, dan kita pun ikut berubah di dalamnya. Resolusi tahun baru yang paling jujur mungkin hanya satu, setidaknya untuk hadir lebih utuh dalam ketidakpastian itu sendiri. Untuk tetap bertanya, tetap mencoba, tetap rentan, dan tetap berjalan meski lampu sorot hanya menyinari dua langkah ke depan.
Maka, biarkan dunia bergetar. Biarkan tahun baru datang tanpa janji pasti. Di tengah semua kegelisahan itu, kita masih bisa memilih untuk menanam satu benih kelembutan, merajut satu jaring hubungan yang hangat, atau sekadar duduk diam dan menyadari bahwa napas kita, yang masuk dan keluar dengan setia, adalah ritme paling pasti yang kita miliki. Di situlah, di tengah pusaran, kita menemukan titik tumpu yang tenang, kemampuan kita untuk terus bernapas, berharap, dan melangkah satu hari, satu napas, pada satu waktu.
Selamat menyambut tahun baru 2026. [T]
Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Adnyana Ole


























