Bencana alam dapat dianggap sebagai tanda bahwa alam sedang “sakit” atau tidak Harmonis. Hal itu dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem, sehingga alam menjadi tidak seimbang.
Kedua, perubahan iklim global dapat menyebabkan cuaca ekstrem, seperti badai, banjir, dan kekeringan, yang dapat menyebabkan bencana alam.
Ketiga, alam memiliki kebijaksanaannya “Keseimbangan ekosistem*: dan jika keseimbangan ini terganggu, dapat menyebabkan bencana alam.
Perlu diingat bahwa alam memiliki kemampuan untuk memulihkan diri sendiri jika diberikan kesempatan. Bencana alam dapat dianggap sebagai peringatan bagi kita untuk lebih peduli dengan alam dan melakukan tindakan yang lebih baik untuk menjaga keseimbangan ekosistem tersebut.
Dalam konteks alam kecil (Buana Alit) yaitu badan kita, tentunya bencana alam sama dengan bencana badan kita (tubuh yang sakit).
Tubuh kita memiliki mekanisme yang kompleks untuk tetap terjaga harmonis (sehat) sama dengan alam semesta, Ada sistem saraf, sistem endokrin , sistem imun, sistem sirkulasi dan sistem pencernaan. Semua diatur sedemikian kompleks dan sempurnanya.
Disamping sistem-sistem tersebut, ada juga sebuah mekanisme untuk menjaga agar tubuh tetap harmonis seperti mekanisme homeostasis. Mekanisme ini mengatur keseimbangan internal tubuh, seperti suhu, pH, dan konsentrasi elektrolit.
Ada juga mekanisme dari neurotransmiter, di mana neurotransmiter adalah zat kimia yang mengatur komunikasi antara neuron dan mengatur berbagai proses tubuh, seperti mood, tidur, dan nafsu makan.
Dan mekanisme hormonal, di mana hormon adalah zat kimia yang mengatur berbagai proses tubuh, seperti pertumbuhan, reproduksi, dan metabolisme.
Dengan mekanisme yang kompleks ini, tubuh kita dapat menjaga harmonisasi dan keseimbangan, sehingga kita dapat menjalani kehidupan dengan baik dan sehat. Apabila salah satu mekanisme itu mengalami gangguan maka tubuh akan sakit.
Alam semesta pun demikian sudah diatur begitu sempurna oleh sebuah sistem dan mekanisme yang kompleks untuk tetap baik.
Dalam Filosofi Hindu Tri Hita Karana sudah ditekankan bahwa tiga penyebab kebahagiaan adalah harmonis dengan Tuhan, harmonis dengan alam dan harmonis terhadap sesama.
Implementasi Tri Hita Karana dalam diri kita untuk bahagia adalah harmonis terhadap Jiwatman (Tuhan didalam diri ), harmonis terhadap badan kita (alam semesta), dan harmonis terhadap pikiran (pikiran = manah=manu= manusianya).
Kerusakan atau sakitnya tubuh kita dominan karena faktor pikiran dan itu sama artinya kerusakan atau sakitnya alam semesta dominan disebabkan oleh faktor manusianya.
Seperti saat ini bencana banjir bandang di Aceh, Sumut dan Sumbar harus diakui itu dominan penyebabnya adalah faktor manusianya. Kalau diibaratkan bumi ini adalah ibu kita yang disebut Ibu Pertiwi, maka banjir bandang yang melanda Sumatera Utara, Aceh dan Sumatra Barat adalah bahwa alam di sana sedang sakit.
Rasa sakit yang teramat sakit ini yang membuat alam itu (Ibu Pertiwi) menangis sejadi-jadinya. Tangisan Ibu Pertiwi terjadi karena ia tersakiti–tersakiti oleh anak-anaknya sendiri yang selama ini dilahirkan dan dihidupi oleh Ibu Pertiwi .
Saatnya kita sebagai anak-anaknya merenung, melihat ke dalam, apa yang sudah kita berikan kepada Ibu kita yang sudah memberikan segalanya buat hidup kita?
Mari jaga dan kasihi Ibu pertiwi yang sudah memberi kehidupan, seperti menjaga, merawat dan mengasihi Ibu kita yang melahirkan kita, niscaya disana kebahagiaan akan kita dapatkan. [T]
Penulis: Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
Editor: Adnyana Ole


























