“Kita tidak takut menjadi tua; kita takut tidak ada yang menua bersama kita.”
Di kota-kota besar, malam tidak pernah benar-benar sunyi, tetapi jiwa manusia semakin sepi. Modernitas mengajari kita bergerak cepat, berganti peran, dan membangun citra terus-menerus, sampai kita lupa bahwa tubuh dan hati tidak diciptakan untuk hidup dalam percepatan tanpa jeda. Dalam elegi yang tak terdengar, manusia postmodern hidup di dua dunia: yang tampak sibuk di luar, tapi kosong di dalam. Dan justru dari ruang kosong itu, ketakutan paling tua manusia mulai berbisik: bagaimana kalau nanti aku menua sendirian?
Psikologi manusia postmodern dibentuk oleh paradoks: kita begitu terhubung, tetapi tidak pernah merasa benar-benar ditemani. Fragmentasi identitas dalam era ini membuat kita berpindah-pindah persona, online, offline, profesional, personal, hingga sulit menemukan versi diri yang utuh. Kita dibanjiri validasi instan, namun kehilangan regulasi emosional yang stabil. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi mencari kedekatan, tetapi distraksi. Tidak lagi membangun relasi, tetapi mengoleksi interaksi. Semua disiapkan untuk masa kini—tidak ada yang mempersiapkan masa tua.
Kasus Jepang memperlihatkan bentuk paling ekstrem dari kegagalan sosial ini. Negara dengan 29% penduduk lansia itu mengalami fenomena psikososial bernama kodokushi, kematian dalam kesendirian. Ini bukan sekadar statistik; ini adalah potret rapuhnya jejaring sosial, berkurangnya kohesi antar-generasi, dan hilangnya fungsi keluarga sebagai ruang ko-regulasi emosional. Psikolog Jepang bahkan menggambarkan negara mereka sebagai “masyarakat yang menua dalam isolasi,” sebuah frasa yang lahir dari trauma kolektif modernitas.
Singapura, meski makmur dan terorganisir, menghadapi dilema serupa. Dengan proyeksi 1 dari 4 warganya berusia di atas 65 tahun pada 2030, muncul “loneliness paradox” — negara yang sangat terhubung secara digital, tetapi lansianya termasuk yang paling rentan mengalami kesepian emosional. Teknologi di sana hebat, tetapi ikatan sosialnya rapuh. Manusia postmodern makin terbiasa melakukan self-reliance, sehingga keintiman dianggap sebagai beban, bukan kebutuhan. Ini yang membuat banyak lansia merasa hadir secara sosial, tetapi hilang secara emosional.
Lalu Korea Selatan, dengan fertilitas 0,7, memotret trauma psikologis masyarakat hiper-kompetitif. Di negara ini, usia muda dihabiskan untuk kompetisi, usia dewasa untuk produktivitas, dan usia tua untuk kesendirian. Fenomena “godokjisa”, mati dalam isolasi bukan hanya akibat demografi, tetapi kombinasi tekanan sosial, ketidakmampuan membangun ikatan, dan budaya kerja yang menelan kedekatan manusia. Postmodernisme dalam bentuk ekstremnya: semua orang sibuk, tetapi tidak ada yang benar-benar terhubung.
Indonesia berada di jalur yang sama, hanya waktunya berbeda. Kita sedang menuju ageing society tahun 2030, dan super-ageing beberapa dekade setelahnya. Namun psikologi komunikasinya sudah memunculkan pola yang mengkhawatirkan: generasi muda cenderung menghindari percakapan emosional yang mendalam, lebih nyaman berkomunikasi lewat layar daripada tatap muka. Ini melahirkan generasi yang fasih berbicara, tetapi gagap membangun kelekatan. Ketika mereka menua, apa yang tersisa? Teknologi yang canggih, tetapi koneksi manusia yang rapuh.
Manusia postmodern hidup dalam fragmentasi dan relasi cair. Penuaan membutuhkan ikatan yang stabil, ritme yang pelan, dan kehadiran emosional. Manusia postmodern akan menghadapi penuaan yang lebih menyakitkan daripada generasi manapun sebelumnya.
Karena tubuh bisa hidup panjang, tetapi hati tidak bisa hidup tanpa kedekatan. Dan semakin cair masyarakatnya, semakin padat kesepiannya. Di balik istilah super-ageing tersembunyi pertanyaan psikologis yang jauh lebih dalam: apakah kita telah kehilangan kemampuan untuk saling merawat? Postmodernisme membuat setiap orang menjadi proyek individual. Kemandirian dipuja, ketergantungan dianggap memalukan. Padahal manusia pada hakikatnya interdependent. Lansia membutuhkan ruang sosial yang lambat dan empatik, tetapi budaya hari ini bergerak cepat dan transaksional. Konflik ini menghasilkan masyarakat yang menua dengan kelelahan emosional, bukan kedewasaan sosial.
Pada akhirnya, super-ageing bukan sekadar tentang banyaknya lansia, tetapi tentang hilangnya ruang emosional di mana orang dapat menua bersama. Kita tidak bisa melawan waktu, tetapi kita bisa memperbaiki cara kita hadir. Karena masa depan yang paling menakutkan bukanlah tubuh yang lemah, melainkan relasi yang hilang arah. Manusia tidak runtuh karena usia; manusia runtuh karena tidak ada yang menua bersamanya. [T]
Penulis: Dr. Geofakta Razali
Editor: Adnyana Ole










![Menemui Ka’bah, Perjalanan Haru Menembus Malam: Catatan Umrah [2]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/11/sihabudin.-umrah21-75x75.png)















