Kisah Tembok dan Lantai
Adakah cerita yang mengisahkan
tembok dan lantai,
akhirnya tak sama
walau dekat bersebelah.
Di ruang, di rumah, bahkan
tempat orang bersandar, dan air ikhlas
mengalir dari matanya;
lihatlah anak di hadapan kita, kasihan.
Adakah yang tahu cerita
tembok dan lantai,
akhirnya berpisah
jarak bersebelah.
Di ruang, di rumah, bahkan
diinjak berkali-kali, dan dilihatnya
pasrah tak berdaya;
lihatlah diriku, tak bisa bersatu.
Tembok tak bisa bangga
Lantai tak pernah sengsara
Tapi mengapa harus bersedih?
Hingga tak akan bersama?
Saling tatap, berharap, dan menghilang.
Oktober, 2025
Pukul 19.25
Tik…
Tik…
Tik…
Tik…
Kamar kuning, meja
tulis sebelah lemari baju;
aku takut mulai, tapi
saling sapa, ya.
Layar ponsel, jadi resah
sedikit tak yakin;
maaf, aku terkesan jahat.
Tik…
Tik…
Tik…
Bukan saatnya,
atau hanya
ragu, mungkin?
November, 2025
Pada Bulan Oktober
Di bawah pohon
malam melewati
pantai dekat rumah
kita singgah,
dan anak seperti
bunga padma atau
kamelia tak ingin mekar
sunyi akhirnya bercerita;
aku benci bulan ini.
Oktober, 2025
Takut Pagi dan Malam
Aku terbangun, dan
matahari menyisir tubuhku
atau dirinya.
Tapi malam membuatnya
menjauh, karena gelap
seperti api.
Aku tertidur, dan
bulan bergelantungan
di atas langit, memantau
dirinya.
Tapi pagi membuatnya
ragu, karena terang
seperti abu
November, 2025
Mesin di Masa Depan
Menuju di rumah barumu;
terima kasih, bersenang-senanglah.
November, 2025
.
Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole



























