APOLOGI
lewat analogi: kenapa tidak?
eufemisme mengamplas ide
sebelum melabelinya “fakta”
paham komoditas dipersuasi
tetapi, mari lupakan sejenak
kita tak (lagi) perlu berniaga
di hadapan laut berbadai ini
setiap kapal urung bergerak
memperkarakan gelas retak
atau air yang tak terbendung
apa perlunya melampiaskan
jika bantingan ialah nonsens
sama halnya radiasi matahari
tak mungkin dianulir payung
kecuali kau di bawah bayang
yang sengaja kaubentangkan
EDUKASI
posesif “kita” pada yang belum ada
empat-lima buku menjadi panduan
gaji kecil tak menjamin playground
tapi laporan neraca menuntut revisi
prototype negara abad mendatang
cuma sebutir item dalam proposal
realisasi tinggal tuas putus lengan
beban stagnan tak tersentuh kuasa
biji-biji sempoa terhimpit regresi
globe terjungkal dari penyangga
cakrawala tersekat dinding kelas
dan torso statis sebagai figuran
UNIT
keterbagian pada prosedur ini
dilakukan atas nama kesatuan
& terdistribusinya otoritarian
Parmenides, apa pendapatmu?
KONSENTRIS
dikotomi pada tiap desain
sundial, klepsidra, analog
diselesaikan suatu konsep
pusat sebagai determinan
mengasumsikan “menjadi”
mungkin aquifer atap gua
poros jatuh setiap tetesan
mengerucut sebagai pilar
lebih dinamis dari adhesi
sentripetal dalam adukan
melarutkan biru & kuning
jadi sehijau jarum konifer
Zeno, mari representasikan
paradox dari langkah kaki
sebagai persegi 1/2, 1/4, 1/8, …
disusun secara melingkar
lalu ajukan pada Fibonacci
spiral begini tak lain invers
bahwa segala hal expansif
tentu kembali kepada Satu
PUZZLE BANACH-TARSKI
entitas ini kembar identik
tapi bukan self-similiarity
bakal “mereka” dari 1 dia
profase minus metafase
operasi bagi pembelahan
melampaui skalar-vektor
kartografi dari irisan bola
hegemoni atas hal diskrit
struktur statis nirvolume
selalu dalam tanda kutip
berlakukah simetri ketika
materi sekedar pantulan?
membayangkan perluasan
duplikat ganda dari dermis
serta epidermis preseden
ada: ia gol di gawang idea
PRAKTIK
seleksi terjalin erat dengan reduksi
bukan hipotesis—ini sudah hukum
maka gading dicoret dari ciri khas
dan gajah terbebas dari perburuan
krisis pascaeliminasi diberlakukan
menuntut alternatif atas faktor X
begitulah adaptasi dimulai dari 0
selera mundur dari apel ke rumput
resistensi minus kebutuhan primer
mengatur ulang skala ketercapaian
kriteria menguji variabel dependen
sebagai stuntman pengalih adegan
SUBLATIF
skeptis soal “mendamaikan”
benar-benar faktor inheren
bahwa motif begini lahiriah
semidorman dalam perilaku
tapi jikalau: tanpa rangsangan
katakanlah, sebagai perantara
siapakah menentukan konvensi
membawa respon ke kausalitas
linearitas panah-panah bijektif
nirekuivalen dengan ide Hegel
kecuali kuantitasnya diiterasi
sebagai pola triadik Sierpiński
MANAJEMEN
melakukan inventarisasi atas
suara-suara yang adalah “id”
semakin dekat semakin jelas
semakin jauh semakin samar
semua efek Doppler ini hadir
di sepanjang lintasan posesif
antara daging serta konsumsi
dalam jarak relatif pengamat
betapa desah, erang, & diam
dianggap aset primordial diri
serta bagaimana kualitasnya
diukur konteks implementasi
erang bernomor 17 impulsif
frekuensinya sekira 1200 Hz
desah bernomor 45 sensitif
intoleran terhadap sentuhan
seluruh mekanisme ini alami
tergantung cuma pada umpan
jika respon terpantau extrem
refleks pun segera dikekang
diam diklasifikasi menjadi 2
aktif, bila id menentang ego
pasif, bila superego represif
menekan id ke fase dorman
peniadaan satu aspek dari id
secara biologis, pun spiritual
tentulah mustahil & nonsens
pada katalog ditulis ambang
kala hari berganti, data baru
tiba: denting piring, produk
instan, textur daging: semua
jadi kode pemicu liur anjing
maka bila jadi kautawarkan
sensualitas dari ideologimu
lewat retorika manis otoriter
kujawab: aku bukan ternak
sama seperti Hamid Jabbar
sepakat kemiskinan = aset
tapi ditulis di kolom pasiva
progres mengorbit liabilitas
keluar dari katalog sistemik
semata sebagai item nirlaba
lonceng Pavlov makin jauh
tinggal ε saat aku menuju Σ
.
Penulis: Karst Mawardi
Editor: Adnyana Ole



























