Sampah itu bermacam-macam bentuk dan jenisnya, kualitas dan kuantitasnya. Ada sampah kering, basah, dan semi kering. Sampah bisa berasal dari pohon, binatang dan manusia.
Dalam menjalani kehidupannya manusia selalu menciptakan sampah bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya. Ada sampah yang tercipta dari kebutuhan hidup manusia yang bersifat primer (makan, minum), sekunder (beraktifitas, berumah, beragama, berkumpul, berpergian dll) dan tersier (kemewahan, gengsi dll).
Di Bali
Di Bali yang katanya masyarakatnya beragama Hindu, menjalankan kehidupannya berlandaskan Tri Hita Karana (keharmonisan tiga unsur penyebab keharmonisan yaitu: hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Tuhan.)
Yang dimaksud dengan alam adalah binatang pohon, tanah, air, api, udara, dan ruang dan gabungan atau variasi diantaranya:laut gunung, sungai, batu.
Manusia mempergunakan alam dan unsur alam dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya (primer, sekunder dan tersier). Alam dan unsur alam adalah sesuatu yang ada dan akan selalu ada, dimanfaatkan atau disia-siakan oleh manusia.
Pemanfaat dan penyia-nyiaan alam dan unsur alam sangat tergantung manusia dan kemanusiaannya.
Penyia-nyiaan
Sampah adalah bagian dari alam yang dianggap tidak berguna, sehingga disia-siakan. Penyia-nyiaan sampah biasanya dilakukan oleh orang yang tidak bisa menempatkan sampah, unsur alam pada tempatnya, pada alamnya. Penyia-nyiaan pada sampah tanpa disadari akan membuat seseorang terbiasa menyia-nyiakan unsur alam, dan alam itu sendiri. Penyia-nyiaan pada alam yang dibiasakan akan menjadikan seseorang terbiasa menyia-nyiakan orang lain.
Kebiasaan menyia-nyiakan orang lain, akan membuat seseorang tanpa sadar juga menyia-nyiakan dirinya sendiri, dan potensi kemanusiaannya. Sehingga akan membuatnya “campah” tak punya rasa hormat/ tak menghargai apapun dan siapapun. Seseorang yang tidak punya rasa hormat/menghargai alam, orang lain dan diri akan gelisah, untuk menutupi gelisah di hati, biasanya ia akan menghibur diri dengan memberi penghargaan/kehormatan pada yang bersifat spiritual, Tuhan secara berlebihan.
“Campah”
Penyampahan diri sebagai manusia, dari tingkatan pimpinan tertinggi Bali sampai terendah di keluarga, akan menciptakan sampah-sampah dan campah-campah baru yang terpelihara terjaga dan berkelanjutan, sehingga perlu penghargaan diri dalam pikiran, kata-kata dan perbuatan, yang terjaga, terpelihara dan berkelanjutan dimulai dari diri sendiri, keluarga, banjar, desa, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi.
Sampah dan campah dimulai dari diri, manusia yang tak menghargai kemanusiaannya, pendidikan semestinya juga dimulai dari pimpinan tertinggi Bali sampai terendah agar tak menularkan sampah dan kecampahannya pada lingkungan dan orang lain. Karena sampah memang benda mati dan dan ‘campah” itu sikap manusia yang mematikan kemanusiaannya.
Jadi agar tak gelisah dan merasa serba salah, dan sibuk berkilah mari kembali pada diri, pada suara hati, akui kesalahan sebagai bagian dari ketidaksempurnaan. Kembali hargai diri, sebagai manusia Bali yang punya hati, yang memuja Hyang Widi, agar tak “campah” dan menjadi sampah. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole


























