MENJELANG Hari Raya Galungan, aroma persiapan sudah mulai tercium di setiap sudut desa. Di halaman rumah, di balai banjar, di jalan-jalan yang mulai dihiasi penjor. Bagi umat Hindu di Bali, Galungan bukan sekadar hari kemenangan Dharma melawan Adharma, tetapi juga momentum kebersamaan yang hidup melalui berbagai tradisi. Salah satunya adalah Mepatung, tradisi yang tidak hanya berbicara tentang daging babi, melainkan juga tentang rasa, kebersamaan, dan gotong royong yang menjiwai kehidupan masyarakat Bali.
Dalam praktiknya, Mepatung dilakukan dengan cara beberapa keluarga/sekaa (kelompok) bergabung membeli seekor babi untuk disembelih bersama. Dagingnya kemudian dibagi sesuai bagian, untuk keperluan proses persiapan bahan upakara dan sajian Galungan. Melalui cara ini, beban biaya bisa diringankan, dan yang lebih penting, semangat kebersamaan tumbuh alami di antara warga. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, semua bersatu dalam satu tujuan yaitu menyiapkan Yadnya dengan tulus ikhlas dan gembira.
Suasana Mepatung biasanya penuh tawa. Sejak pagi, para Bapak sudah sibuk menyiapkan peralatan, sementara para Ibu menyiapkan bumbu dapur dan sarana upacara. Anak-anak berlarian di sekitar halaman, menikmati riuhnya persiapan Galungan. Dalam setiap tumpah darah babi itu, terselip makna pengorbanan, bahwa sesuatu yang hidup harus rela dikorbankan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuta dan Manusia. Mepatung bukan sekadar urusan dapur, tapi ritual sosial yang mempererat persaudaraan.
Namun, seperti banyak tradisi lain yang bergulat dengan perubahan zaman, Mepatung kini mulai menghadapi pergeseran. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan baru, penyembelihan babi dilakukan lebih awal, bahkan sudah ramai sejak hari Senin (Penyajaan), padahal secara tradisi, Penampahan dilakukan pada hari Selasa Pon Dungulan.

Entah karena alasan praktis banyak yang bekerja di luar desa, sibuk dengan rutinitas modern, atau ingin “beres lebih cepat” kita jadi terbiasa mendahului. Hari Senin yang seharusnya masih menjadi Penyajaan Galungan (hari penyucian diri menjelang kemenangan Dharma), kini berubah menjadi hari nampah babi yang riuh. Suara tawa, pedagang bumbu, dan aroma darah babi bercampur yang seharusnya digunakan untuk penyucian.
Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, saya berbincang dengan Pak Nyoman, salah satu masyarakat yang sejak lama terlibat dalam tradisi Mepatung. Menurutnya, perubahan waktu ini bukan muncul tanpa sebab.“Sekarang banyak orang yang kerja di luar desa, ada yang di kota, ada yang merantau dan ada yang pulangnya malam. Kalau nunggu hari Penampahan, takutnya mereka tidak sempat. Jadi mau tidak mau Mepatung dimajukan sehari agar semua bisa ikut,” ujar Pak Nyoman.
Bagi Pak Nyoman, memajukan hari bukan berarti mengurangi rasa hormat pada tradisi.
“Yang penting niatnya tetap sama. Waktu boleh berubah sedikit, tapi rasa dan kebersamaan jangan hilang. Galungan tetap Galungan,” tutupnya.
Fenomena ini tampak sepele di permukaan, tetapi menyimpan tanda bahwa makna waktu suci mulai terabaikan. Pergeseran hari bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kesadaran spiritual. Dalam ajaran Tattwa, waktu memiliki makna sakral. Ada tahapan yang tidak sekadar kronologis, tapi simbolis. Hari Penyajaan dimaksudkan untuk menyucikan diri dan lingkungan sebelum memasuki hari Penampahan, saat manusia menaklukkan sifat-sifat Adharma dalam diri. Ketika waktu ini dilompati, maka simbol perjuangan spiritual itu ikut tereduksi.
Tidak hanya Tradisi Mepatung yang mengalami pergeseran makna. Tradisi Mepenjor pun kini tampak melaju lebih cepat dari waktunya. Seharusnya, Penjor dipasang setelah nampah, pada hari Penampahan, sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma merupakan lambang kejayaan dan kesuburan bumi setelah melalui proses pengorbanan dan penyucian. Namun kini, jauh sebelum hari itu, jalan-jalan sudah ramai oleh penjor yang berdiri megah. Bahkan seminggu sebelum Galungan, bambu-bambu sudah menunduk anggun di tepi jalan, lengkap dengan sampian, tamiang, dan plawa.
Indah memang dipandang, apalagi di sore hari ketika matahari menyorot ujung janur yang melambai. Tetapi di balik keindahan itu, ada tanda tanya kecil yang mungkin patut kita renungkan. apakah penjor itu berdiri karena semangat Dharma, atau karena ingin “beres lebih cepat” karena kesibukan? Penjor yang seharusnya simbol kemenangan setelah perjuangan, kini berdiri lebih dulu bahkan sebelum perjuangan itu dimulai. Kita mungkin sedang terburu-buru menyambut kemenangan, tanpa benar-benar melewati prosesnya.
Tentu, tidak ada yang sepenuhnya salah dalam perubahan itu. Zaman memang berubah. Hidup semakin sibuk, waktu semakin terbatas. Tidak semua orang bisa berada di rumah pada hari Penampahan. Ada yang harus berangkat kerja, ada yang jauh dari kampung halaman. Namun yang perlu diingat, setiap pergeseran punya konsekuensi makna. Ketika kita mendahului, bukan hanya hari yang berubah, tapi juga rasa yang terkikis. Lambat laun, tradisi yang dahulu penuh makna spiritual bisa berubah menjadi formalitas belaka.
Mepatung dan Mepenjor sejatinya adalah dua simbol penting dalam perayaan Galungan. Yang satu berbicara tentang kerja sama dan pengorbanan, yang satu lagi tentang kemenangan dan keindahan hasilnya. Jika keduanya dilakukan dengan kesadaran penuh, maka Galungan menjadi perayaan spiritual yang utuh dari penyucian, pengorbanan, hingga kemenangan. Tapi jika salah satunya tergesa-gesa, maka keseimbangan itu pun terganggu.
Mungkin sudah saatnya kita kembali menata niat dalam tradisi. Mepatung bisa tetap dijalankan, Penjor bisa tetap berdiri indah, tetapi biarlah semuanya berlangsung dalam keselarasan waktu dan makna Galungan. Karena di balik hiruk pikuk sembelih babi, keriuhan menegakkan penjor, dan sibuknya dapur, ada pesan yang lebih dalam bahwa kemenangan Dharma bukan hanya diperingati, tapi dijalani dengan kesadaran, ketertiban, dan saling menghormati. Sebab sejatinya, Galungan bukan hanya datang di kalender, tapi di hati yang sudah menang melawan tergesa-gesa dan kelalaian diri sendiri. [T]
Penulis: Kadek Agus Yoga Dwipranata
Editor: Adnyana Ole


























