6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Nanda Gayatri | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
October 26, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Nanda Gayatri  | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri

OH, MEME, IBUKU!

Bunga rampai di atas janur dipersembahkan
Di bawah ketupat aku melihat, sebilah pisau
Perempuan-perempuan menari terbelenggu
Bergumam menghadap Bhatara

Entah apa,
Pandangan, rasa, dan jiwa saling tertaut
Semesta tak kunjung memberi jawaban
Meme, tak perlu kau paksakan kegamangan itu

Me, dewi-dewi itu sama sepertimu, dikultuskan
Mitos-mitos pelayanan beterbangan
Me, lihat! burung-burung dan pepohonan itu bebas
Sedang kita?

Me, wajah lelah itu, ku sayang
Tak perlu dupa, gumitir, bahkan pacar seribu!
Tubuhmu suci.
Tirta suci itu, Me,
Keruh kecoklatan rasa bangkai pun,
Dicipratkan mantra; ‘Atas nama Gangga!’
;melahirkan kembali berjuta kemurnian

Me, ritual leluhur yang tak kau pahami
Pun aku juga
Meme, aku ingin kamu utuh
Tanpa sajen para dewa, tanpa kain putih kuning
Tanggalkan bambu kecil pengait janur, Me
Meme, Ibuku!

Tersiksa aku, Me
Kematianmu nanti,
Ritus-ritus kuluputkan,
Jiwamu tak perlu itu,
Kan kuhangatkan tanpa asap menyan
Kukuburkan bersama sebilah pisau dalam rahim
Kau wangi, Me! Oh Meme, Ibuku!

DOA

Ada hari dimana awan kelabu
Doa-doa dijunjung
Insan berbincang soal kematian
Mendongak menunduk

Bergemuruh kilat menyambar
Indra murka, didentumkannya palu Thor
Penuh kegamangan
Riuk suara bebunyian,
Gemericik suara di angkasa
Para nabi berbincang, pendosa dibungkam

Sungguh tak adil,
Siapa yang bisa disebut pendosa?
Pelacur yang selalu mengupayakan segenggam nasi
atau iblis-iblis di istana berjubah sutra,
Meminum anggur merah penuh derita

Serakah tawa mereka,
merayakan pengasingan
Tanah-tanah diratakan
Tak lagi kudengar kidung petani,
Bahkan kicau burung

Pengadilan tak pernah adil.
Di bumi atau bahkan mungkin di akhirat.
Para penggembala disiksa, dihukum, dicabik
Hingga ajal menjemput
Tanpa kebenaran, mereka bukan pendosa.

Terkutuk! Terkutuklah engkau!
Tak perlu aku didoakan,
Aku hanya ingin kembali,
Bermesraan dengan pertiwi.

INI SORGA BUKAN?

Mawar hitam ku taburkan depan pintu sorga
Merayakan duka, di tangan kanan menenteng payung
Rasanya kulihat malaikat itu, malam gelap
Terhisap nafsu

Bayang-bayang asap menari kegirangan penuh
Santapan terlihat lezat, remahan sedap
Sebab anjing meraung sangat keras

Bayang-bayang itu mendekat,
Semakin mendekat,
Aku takut.
Dikejar,
Aku diam, terpaku.

Ditelanjangi bak Drupadi
Sialan! Tak ada Krisna di samping
Dihabisi kain menyentuh kulit.

Itu malam gelap.
Ketika tubuhku terbilah-bilah depan pintu
Waktu berdetak,
Marsinah ada di sana
1 Marsinah, kemudian 2, 3 hingga 1001

Lamat-lamat kutatap
Tubuh terbilah itu bau anyir
Darah mengalir
Dikoyak-koyak benda tumpul
Tersisa dalam perut tertusuk
Panas.

Payungku dirampas,
Malaikat biadab,
Hujan datang,
Malaikat biadab,
Payungku dirampas

Sudah mati.
Ini sorga bukan?
Teriak 1001 Marsinah.

 

KERETA MALAM

Di stasiun kuperhatikan,
manusia berlalu-lalang
Penuh keriuhan,
sedang aku tenggelam

Menatap nanar pada sepatu-sepatu usang,
membanting tulang
Menukar pohon tua untuk hidup dalam sangkar
Tak pernah dinikmati

Di kereta ini, aku merasa kecil
Gelisah,
pada sebuah fakta, bahwa;
tak akan kita lihat lagi padi-padi menguning merunduk
Bak bulan tertutup polusi berkabut

Di setiap stasiun, yang tak berkepentingan berhamburan
Tak perlu menunggu pemberhentian terakhir
Optimisme semakin memuncak setiap fajar,
Untuk sebutir pil beras penuh ilusi
Dimasukkan ke dalam perut tanpa ruh

Pukul dua belas malam, gemilang angkuh lampu kota menemani
Tergantikan cahaya terang Ilahi,
Belum sempat tersambar Sang Yama
Terengah-engah aku turun,
Keluar menghadapi jiwa-jiwa kelaparan
Bapa tersenyum,
“Cantik”, katanya.
Menghibur perubahan dalam jeruji kebisingan
Sepi memudar,
Mendoakan gadis kecilnya,
Semoga sehat selalu.

RUMAHKU

Fermentasi lontar + kopi dingin sisa perdebatan
Asap kretek, perut kosong
Menghangatkan setiap rongga dalam tubuh
Di bawah pohon mangga, pun menghadap pohon durian

Perempuan bernyanyi santai, satunya bekerja keras memelihara
Menghasilkan susu sapi, terperah
Berpayungkan romantisme pembaruan
Mengalunkan nada kecemerlangan
Lelaki bertelanjang dada mengupayakan ketidakmungkinan

Bangun pagi tanpa arah,
Pulang tanpa harap
Melingkar kembali membentuk persekutuan kecil
Buku-buku kemakmuran serupa pajangan
Membentang menggaungkan pesimisme, pun bahasa kawan

Tetap di sini, merangkul
Meluapkan uap sisa kabut semalam
Tetes-tetesnya diusap oleh tangan kecil
Direnggut perpisahan

Pabila reinkarnasi betulan ada,
Ingin ku kecap penderitaan bersama,
sekali lagi.
Ditempatkan di tengah lingkar kecil
Mengharap hidup berjalan lambat

Untukku, untukmu, untuk kita semua.
Dihadapan botol-botol kosong
dan cangkir bekas ribuan mayat hidup.
Serupa bunga matahari tertanam dalam plastik bekas pembawa penderitaan.
Mari kita upayakan lagi, omong kosong berkepanjangan.
Di dalam sepetak ruang, di luar kebun harapan.
Tumbuh, tumbuhlah liar serupa gulma.
Di hadapan pohon pisang serba guna.

.

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Next Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

by Wayan Esa Bhaskara
February 21, 2026
0
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Hikayat Begadang satu peringatan, bayangkanada tangga menuju surga, dan aku siap-siap menaridi bawahnya, malam kliwon baru saja usai tak ada...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

by Chusmeru
February 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Aku Tanpa-Mu Ramadan hari iniSama seperti saat lalu ya RabbMenghitung pinta yang tak habis di sela doaMenagih nyata yang tak...

Read moreDetails

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

by I Wayan Kuntara
February 15, 2026
0
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Aku Benci Politik aku benci politikdatang dengan senyum licikmanis kata-kata penuh retoriknamun di baliknya tersimpan taktik aku benci politikJanji-janji menggema...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

by Made Bryan Mahararta
February 14, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

Sepintas Kita pernah berjumpa meski sesaatdari pagi yang masih terasa beratsampai langit semakin gemerlapdan lampu jalan redup perlahan, padam Ku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

by Maria Utami
February 13, 2026
0
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Pengakuan Si Pahit dari Sumatra Aku tidak punya waktu untuk urusan asmaradi ketinggian yang manja.Lahir dari tanah Lampung yang keras...

Read moreDetails

Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

by Karst Mawardi
February 8, 2026
0
Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

AKTUAL preseden dan prediksijadi 2 sisi koin logammereka lemparkan itubukan buat ditangkap peristiwa jadi gentingtatkala koin mendaratmemaksa kita berpikirmelulu soal...

Read moreDetails
Next Post
Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co