Laut yang Berhenti Bergemuruh
Siapa yang mampu memahami laut
hatinya
yang kini berhenti bergemuruh
sepasang elang telah terbang jauh
menata lautnya sendiri
di kehampaan
Ia rindu kepak uzur itu
sepasang elang laut
mengibas-ibaskan sayap dari terik yang menyengat
berlarianlah kaki-kaki mungil di tepian
berkubang pasir pantai
Minggu pagi, saat ia pulang dari rantauan
ditataplah ingatan ruang tengah
matanya lurus pada gurat jingga lukisan itu
senja ujung laut yang ditinggalkan pengunjungnya
Kini ia telah menjelma menjadi laut
untuk anak-anak
kapal-kapal pernah berlayar di kedalaman
singgah sebentar lalu berlayar kembali
mengelana ke laut yang baru
Siapa yang mampu memahami kedalaman hati
Seorang ayah yang ditinggalkan anak-anaknya
serupa laut ia berhenti bergemuruh
Kelak ia pun menjadi elang laut
yang diburu waktu
kepak-kepak hilang di balik awan
kehampaan
Pengampunan Ibu
Saat aku terkapar
mengerang dengan luka yang bernanah
tiba-tiba saja, melintas bayang wajahmu, Ibu
wajah ibu, berkerut karena luka yang akut
lemah lusuh oleh suntuk yang takberingsut
semasa hidupmu
saban hari kucaci langkahmu
yang ringkih melayaniku
setiap waktu kumaki petuahmu
yang coba menyadarkanku
Kini, kematianku begitu dekat, Ibu.
malaikat pencabut nyawa telah berdiri di pintu tubuh
mengetuk-ngetuk inti diri
membawa pedang, berkilat-kilat
sembari bertanya tentang dosa yang kutabur.
Ibu, sepeninggalmu, aku adalah yowana yang mabuk
karena rupa kuanggap sempurna
semua yang buruk raga
kuumpati sebagai makhluk yang harus binasa
Kuyakini, raja diraja yang lahir dari rahim kesempurnaan
bersemayam di diriku
akulah yang maha luas dengan kuasa takberbatas
Pengetahuanku dalam hingga ceruk-ceruk ilmu terdalam
kekuatanku takberbalas
semua yang coba langgar haluan harus kutumpas
nyanyi suci, mantram dewa-dewi sengaja kutertawai
kuasa yang tunggal coba kulangkahi
Kini, ketika tubuh telah ringkih
dan napas hanya sepengap harap
baru kurasa petuah ibu adalah mata
menuju senja yang sejuk di depan sana
Oh……..
angin berdesir pelan, ibu
berdengung suara-suara yang takkukenal
(beriringan, mereka tercebur dalam air yang bergelembung panas
mungkin danau belerang, atau panci raksasa yang sengaja disiapkan untuk manusia-manusia sepertiku)
Aku mulai panas, ibu
Kudengar jerit yang menjadi-jadi di kejauhan
panas menyergap seperti terpanggang dalam lautan api
Pedang yang berkilat itu
kini berubah menjadi cambuk api
mencambuki tubuhku, bertubi-tubi hingga melepuh kulit gersangku.
Ampun, ibu….
aku telah abai dengan petuahmu
kini, jadilah mata atas jiwaku
agar lapang menuju yang satu
aku siap.
Perbincangan Menjelang Senja
“Apa yang harus kutuju
setelah kematian, Ratu
surga atau neraka?” tanyaku pada seorang peranda yang baru selesai muput senja itu.
“Kau takmesti menuju apa-apa, Ning
bukan surga , apalagi neraka
sebab dua kata itu takbisa kau kira
adakah rupanya
Ada yang berkata tentang persinggahan tempat yang suci berlabuh sementara
Ada yang bercerita tentang dunia yang abadi tempat segalanya menjadi kekal takterperi
Ada pula yang menduga
surga adalah ruang keberkahan tempat segala nikmat tersaji nyata”
“Yang pasti
kematianlah jembatan paling sempurna
antara kau badan kasar dengan cerita yang ingin kau duga
tentang di mana surga dan bagai mana rupa neraka”
“Kematian takmesti diperbincangkan, Ning.
sebab kau masih selimuti tubuhmu dengan berlapis-lapis ingin duniawi”
“Apalagi memperbincangkan surga !
sungguh takpatut kau jadikan harapan
semasih jiwamu tennggelam
dikungkung oleh tujuh warna kelam
yang saban hari kau susupkan dalam tubuhmu
mengalir menjadi darah
tulang belulang dan daging-daging pada lemak gumpalmu itu.”
“Ning, surga takbisa kau pikirkan
semasih kau biarkan pikirmu mengelana
menimang daya upaya untuk menjadi kaya hingga yang lain terpedaya”
“Surga tabu kau sebut-sebut
sebab pada mulutmu meluncur berjuta lintah
menggerogoti hati dan cinta manusia
hingga bertebaranlah caci maki
bau pesing kebohongan”
“Surga taklayak kau harapkan
semasih lampah lakumu terseok dari jalan dharma
dan di tanganmu tergenggam pedang berlumur darah
sehabis memenggali setiap kepala kebenaran
serta kakimu terus kau langkahkan pada palung dosa terdalam”
“Ning, cukupkan saja
alihkan saja percakapan kita pada yang lain
tentang dirimu, mungkin.
pada pikir, ucap, dan tingkah
terus kau asah agar anut agama
karena pengendalian pada yang tiga itulah
cahaya menuju yang maha suci akan terarah”
.
Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Made Adnyana Ole



























