- Lima puisi ini saya buat setelah menonton film berjudul The Reader (2008)
Remah Roti di Lantai Kamar Mandi
perempuan itu duduk di tepi bak
menunduk seperti hendak memungut dosa
tapi yang jatuh hanya air
dan suara anak lelaki yang tak tahu
harus ke mana menaruh matanya
ia mengulangi dua hal dalam satu sore
mandi dan membaca
mandi dan membaca
mandi dan membaca
hingga tubuh dan fiksi menjadi bahan pelajaran baru
yang tidak tercetak di kurikulum sekolah hukum
tidak ada yang bilang
bahwa sabun pun bisa menjadi bagian dari alfabet
jika digosokkan dengan benar
Karanganyar, 2025
Jam Tangan yang Tak Pernah Dibuka
di pengadilan ia menjawab
dengan jarak pandang dua meter dari dirinya sendiri
hukum berjalan di luar tubuh
tapi suara perempuan itu
masih menempel di naskah anak laki-laki
yang kini sudah botak dan bersetelan abu-abu
jam tangannya berdetak lebih pelan setiap ia menyebut nama hanna
seperti tahu bahwa waktu bukan soal bergerak
melainkan bagaimana satu nama
bisa membuat detik merasa berdosa
pada akhirnya semua hanya ingin tahu
siapa yang membuka pintu gereja duluan
bukan siapa yang membakarnya
Karanganyar, 2025
Cat Kuku Warna Tulang
ia mengeja dengan jari
bukan karena ingin anggun
tapi karena huruf terasa seperti jeruji
yang bisa dibuka dari dalam
surat pertama dibaca seperti nyanyian gereja
surat kedua dibaca seperti perintah militer
surat ketiga dibaca seperti doa anak-anak
yang tak tahu Tuhan sedang cuti
cat kukunya mengelupas seiring halaman yang terbaca
tak ada yang mencatat bahwa keindahan bisa hancur oleh bunyi alfabet
dan kadang, oleh cinta yang telat dipelajari
Karanganyar, 2025
Kursi Penjara Terbuat dari Paragraf
seluruh sel itu penuh buku
tapi tidak satu pun berkisah tentang
bagaimana rasanya mengingat dengan tubuh
bukan dengan otak
dia tak bisa mengucapkan maaf
karena tak pernah membacanya dalam kamus
maaf bukan kata kerja katanya
lebih mirip jendela
yang terbuka hanya kalau angin bersedia
ia duduk di kursi yang gemetar tiap kali kata
auschwitz disebut
seperti kursi itu pun ingin mengubah cerita
tapi tak tahu di mana harus menyisipkan adil
Karanganyar, 2025
Tangga ke Lantai Dua Bukan Menuju Surga
anak itu kembali ke rumah tua
tangga masih berderit
seperti suara sepatu yang enggan meninggalkan sejarah
di kamar mandi
cermin masih menggantung miring
seperti tahu bahwa wajah manusia
tak pernah bisa lurus di hadapan masa lalu
ia berdiri di lantai dua
membuka buku
dan membiarkan suara hanna
keluar dari pita rekaman
seperti mantra
yang lebih buruk dari doa
karena tak meminta ampun
hanya ingin dikenang
Karanganyar, 2025
.
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole



























