MASYARAKAT Hindu Bali dulu, konon beragama Tirta. Tirta adalah sebutan untuk air yang telah disucikan. Masyarakat Hindu Bali memuja dan menghormati lima unsur alam (tanah, air, api, udara, ruang kosong) yang juga ada dalam diri manusia, sebagai manifestasi Tuhan.
Esensi unsur Pertiwi sering dipuja sebagai Dewa Mahadewa, sebagai tempat, ruang dan waktu bagi semua mahluk hidup lahir, hidup dan mati.
Esensi unsur air dipuja sebagai Dewa Wisnu, yang bertugas untuk memelihara, menjaga, melindungi, dan mengelola alam dan segala isinya.
Esensi unsur api dipuja sebagai Dewa Brahma, yang berfungsi sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya.
Esensi unsur udara dipuja sebagai Dewa Iswara, yang berfungsi sebagai pelebur alam semesta dan segala isinya.
Esensi ruang kosong yang berisikan paduan semua unsur alam dipuja sebagai Dewa Ciwa, Bapa Akasa, Sang Hyang Widhi, Tuhan.
Agama mengandung pengertian a (tidak) dan gam (pergi/bergerak) jadi agama berarti sesuatu uang dijadikan pegangan agar tidak bergerak/ stabil.)
Diantara 5 unsur alam, hanya tanah dan air yang terlihat secara kasat mata, yang bisa dipegang dan dijadikan pegangan.
Api dan udara hanya bisa dirasakan, dan dipegang jika bercampur dengan tanah dan air, dan ruang kosong bisa diisi.
Beragama tirta berarti menjadikan air/tirta (air yang disucikan sebagai pegangan).
Kekuatan/senjata air adalah cakra, sebuah molekul berbentuk Heksagonal yang bagian dalamnya melingkar tak terputus.
Sifat molekul air ini akan menjadi kekuatan yang mensejahterakan, memakmurkan bila dikelola dengan bijak dan akan menjadi kekuatan yang menyengsarakan, menghancurkan bila diabaikan.
Di masa lalu, kerajaan di nusantara, termasuk Bali menyebut pemimpinnya sebagai Cakraningrat (pengelola rakyat), yang dimanesfestasikan sebagai Dewa Wisnu.
Sudah saatnya Bali dengan Desa Adat dan banjarnya, kembali pada sistem beragama tirta, agar bisa mengelola sumber daya air yang sangat berpengaruh pada alam dan manusianya secara bijak.
Saat Pura Patirtan Kesiman, sebagai stana Dewa Wisnu dan Pura Dalem Muterin Jagat Kesiman, sebagai stana Dewa Siwa, hancur diterjang air bah, semoga para pemimpin Banjar, desa, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi, bisa melihat kekeliruannya dalam memimpin. Jika pada air jernih dan tenang kita bisa melihat diri kita, maka pada air bah yang menghancurkan palemahan, pawongan sampai pahyangan, kita bisa melihat dan merasakan dosa kita (doh-jauhnya kita dari yang satu, kesatuan pikiran, kata-kata dan perbuatan) dalam memuja dan menghormati Dewa Wisnu dalam wujud dunianya sebagai air. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole


























