HARI Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 6 September 2025, seyogianya bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Hindu. Ia adalah momen sakral untuk meneguhkan diri, mereinkarnasi perilaku baik, dan menghidupkan kembali karma yang suci dalam kehidupan kita. Kitab-kitab suci, lontar, dan ilmu pengetahuan yang dihaturkan bunga, canang, serta puja bukan benda mati yang hanya dipuja secara simbolik. Ia adalah sumber cahaya yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam kegelapan perilaku.
Saraswati, sebagai personifikasi ilmu pengetahuan suci, mengingatkan kita bahwa belajar bukan sekadar menghafal. Belajar adalah upaya menapaki jejak karma baik. Hal ini penting agar pengetahuan yang kita serap menjadi suluh bagi kehidupan. Lalu, apa gunanya hidup, bila kita gagal mewarisi perilaku yang baik dan suci, baik sebagai umat, sebagai anak bangsa, apalagi sebagai generasi muda yang kelak mewarisi negeri ini?
Pertanyaan itu semakin terasa relevan ketika kita menyaksikan hiruk pikuk demokrasi belakangan ini. Di berbagai daerah, di ibu kota, di panggung politik nasional, kita kerap melihat perilaku yang “melewati batas kewajaran”. Demokrasi seolah hanya pesta suara, bukan lagi perayaan adab. Padahal, Hindu telah sejak lama mengajarkan Tatwamasi—“aku adalah engkau, engkau adalah aku”—sebuah pengingat bahwa manusia adalah cermin satu sama lain.
Dalam hukum alam, kita mengenal aksi dan reaksi, stimulus dan respons. Namun, apakah setiap reaksi harus berupa kemarahan, hujatan, atau arogansi? Tidak. Semua semestinya tetap dalam koridor kemanusiaan yang menjunjung adab. Adab itu bersumber dari ajaran leluhur, yang diwariskan sejak berabad-abad sebagai kompas moral. Di sinilah kita perlu kearifan untuk menyelami makna sesungguhnya dari perayaan Saraswati, yakni membasuh diri, menenangkan pikiran, dan membaharui tekad untuk menjaga keluhuran budi.
Saraswati tidak hanya mengajarkan kita menulis dengan aksara, tetapi juga menulis perilaku dengan tinta kebaikan. Tidak hanya membaca kitab, tetapi juga membaca kehidupan dengan hati yang terang. Di tengah gempita efek demokrasi yang kadang kebablasan, mari kita jadikan Saraswati sebagai titik balik, bahwa ilmu pengetahuan sejati bukan hanya alat untuk cerdas, melainkan juga jalan untuk beradab. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah pedang tanpa sarung; ia bisa melukai siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang
Enam bulan lalu, dalam perayaan Saraswati sebelumnya, saya menulis bahwa Saraswati bukanlah sekadar mantenin buku—baik cetak maupun elektronik. Saraswati adalah harinya Sang Hyang Aji Sastra, hari ketika kita diajak kembali merenungi hakikat sastra sebagai pencerahan hidup. Ilmu pengetahuan yang sejatinya dipancarkan secara adil, merata, dan tanpa putus waktu, semestinya memberi keleluasaan bagi manusia untuk terus belajar sepanjang hayat.
Di sini, kita kembali pada hakikat sastra. Ada sastra tulis dan ada sastra lisan. Sastra tulis memang lahir belakangan, tetapi jauh sebelum itu manusia sudah ditempa oleh sastra lisan—kisah-kisah yang dituturkan dari mulut ke telinga, dari kakek-nenek ke cucu-cicit. Cerita rakyat, mitologi, petuah leluhur, semua itu adalah suluh pengetahuan yang menyinari jalan hidup. Sastra lisan tidak sekadar hiburan; ia sarat nilai moral, spiritual, dan etika sosial. Dari sinilah lahir leluhur Bali yang unggul, yang meninggalkan peradaban luhur hingga kini.
Kini menucul pertanyaan: mengapa kita, generasi hari ini, sering gagal memaknainya? Mengapa nilai-nilai luhur itu terkadang berhenti sekadar cerita, tidak menjelma perilaku? Inilah pentingnya introspeksi. Hari Saraswati seharusnya bukan hanya upacara simbolik, melainkan momen perenungan untuk mereinkarnasi kembali karma baik leluhur, agar Bali tidak sekadar bangga dengan warisan budaya, tetapi mampu menghidupinya di tengah tantangan zaman.
Saraswati mengingatkan kita, bahwa pengetahuan tidak boleh menjauh dari kehidupan. Ia harus hadir dalam demokrasi, dalam politik, dalam pendidikan, bahkan dalam keseharian paling sederhana sekalipun. Di tengah derasnya arus zaman, kita memerlukan Tatwamasi—aku adalah engkau, engkau adalah aku—sebagai landasan moral. Dengan begitu, perayaan Saraswati bukan hanya tentang menghaturkan sesajen pada buku dan lontar, tetapi tentang bagaimana kita menjaga adab, memperbaiki perilaku, dan mewariskan karma baik pada generasi berikutnya.

Melestarikan Tradisi/Foto Dok.: SMKN 1 Kintamani
Hari Saraswati adalah panggilan. Sebuah panggilan untuk kembali pada inti: bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah cahaya yang menuntun, bukan bara yang membakar. Maka, Saraswati bukan hanya perayaan seremonial, melainkan sebuah pengingat keras: bahwa ilmu tanpa adab hanyalah ilusi, dan adab tanpa ilmu hanyalah kebodohan. Keduanya harus menyatu, agar cahaya pengetahuan benar-benar mampu menuntun kita menuju kehidupan yang lebih suci dan beradab.
Sebagaimana ajaran Rsi Markandeya yang tercatat dalam Markandeya Purana bahwa “Pengetahuan adalah air suci; ia membersihkan kegelapan hati dan memberi kesuburan pada budi.” Tanpa pengetahuan yang benar, manusia akan terjerumus pada kegelapan batin dan kehilangan arah moral. Oleh karena itu, Hari Saraswati mestinya menjadi titik balik untuk menyalakan cahaya pengetahuan agar karma baik terus bersemi dalam kehidupan. (Markandeya Purana, terjemahan dan kisah dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul).
Sejalan dengan itu, Ir. Soekarno dalam pidatonya yang dihimpun dalam Di Bawah Bendera Revolusi (1959) pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang beradab, bukan semata-mata bangsa yang besar bangunannya. Pembangunan tanpa adab hanyalah meninggikan tembok peradaban tanpa fondasi yang kokoh.” Pesan Bung Karno ini terasa sangat relevan di tengah euforia demokrasi hari ini, ketika perilaku politik seringkali melampaui batas kewajaran.
Maka dari itu, Hari Saraswati bukan hanya perayaan simbolik terhadap buku, lontar, atau literasi pengetahuan. Lebih jauh merupakan momentum moral ketika kita mewarisi laku bijak leluhur, menghidupkan kembali ajaran adab, serta mereinkarnasi karma baik agar Bali – dan bangsa Indonesia – tetap tumbuh dengan cahaya ilmu yang suci. [T]


























