Surat dari Dalam Lemari
(untuk UA)
Aku menyelipkan rinduku
di antara lipatan bajumu yang belum sempat disetrika.
Kaus putih yang kau pakai tidur
masih menyimpan harum lehermu
dan sedikit gerutu semalam:
“Kenapa kamu pulang terlalu larut?”
Aku minta maaf
pada gantungan baju
yang sudah bosan melihatku memelukmu
dari balik pintu
dengan pandanganku yang tak berani bicara.
Lemari ini
adalah rumah kecil kenangan kita:
tiket bioskop di saku celana,
puisi lusuh di saku jaket,
dan kancing bajumu
yang lepas karena terlalu semangat kugenggam
malam itu.
Aku ingin menjadi kaus dalammu:
selalu dekat
meski tak selalu terlihat.
Atau celana tidurmu,
yang tahu mimpi-mimpimu lebih dulu
sebelum aku.
Tadi pagi, aku mencium sapu tanganmu
yang kau lupa cuci.
Ada noda lipstik di ujungnya.
Warnanya merah jambu.
Aku tahu itu bukan dari wanita lain.
Itu dari ciumanmu sendiri—
yang kau berikan di kaca
karena aku tak sempat pamit.
Kau bilang cinta tak butuh tempat luas,
cukup satu laci kecil
yang bisa kita isi bersama:
dengan tawa, sedikit air mata,
dan nota belanja yang tak pernah kita buang
karena mencatat tanggal-tanggal
kita pernah lapar bersama.
Aku ingin kau tahu
bahwa aku menunggumu di rumah
seperti meja rias menunggu wajahmu kembali.
Sunyi,
tapi tetap setia menatap bayangan
yang tak pernah benar-benar pergi.
Dan kalau kau tanya
kenapa aku tak pernah menuliskan puisi untukmu
di kertas yang wangi—
karena rinduku
lebih nyaman tinggal
di kaus kaki kirimu
yang selalu kau cari tiap pagi.
Pacet, 23 Juni 2025
Cerita Dari Rumah Datok
Di rumah Datok, angin tak pernah benar-benar diam
ia bersiul lewat lubang jendela tua
membawa aroma anyir kayu basah
dan sisa-sisa hujan yang belum tuntas dari kenangan
di sana aku menemukanmu duduk di lantai kayu
dengan rambut tergerai seperti hutan yang sedang merapalkan mantra.
Datok pernah berkata,
cinta yang baik adalah yang tak pernah kau mengerti sepenuhnya
seperti kopi pahit yang tetap kau teguk
walau bibirmu mengernyit tiap pagi
aku percaya itu, sejak melihatmu diam
di balik selendang putih yang pernah kau cuci
dengan air mata ibumu.
Kita duduk di serambi sore itu
kau menyusun daun-daun lontar yang gugur dari loteng langit
sementara aku menuliskan namamu
di atas debu meja
dengan ujung jari yang tak lagi percaya waktu.
Apakah kau tahu, rumah ini
pernah jadi tempat patah hati paling senyap?
di pojok kanan, di dekat peti peninggalan Datok
seorang perempuan pernah tidur berhari-hari
menunggu kekasihnya pulang dari Perang Sabil
yang tak pernah benar-benar usai.
Tapi sejak kau datang
lampu gantung di langit-langit rumah ini
tak lagi padam saat jam dua dini hari
dan suara jangkrik tak lagi terdengar seperti ratapan
mereka berubah jadi irama,
yang meninabobokkan waktu.
Kau menyalakan api di dapur
dengan batu api peninggalan zaman penjajahan
dan aku membayangkan hatiku
adalah panci tua yang kau panaskan perlahan
hingga mendidih dalam rindu
yang tak pernah kau ladeni.
Lalu kau tanya aku:
“Apakah cinta itu bisa diwariskan, seperti kain tenun Datok?”
Aku menjawab tidak
tapi kita bisa menjahit ulang yang koyak
dengan benang sabar dan jarum kenangan.
Kau tertawa
dan tawa itu seperti bayang-bayang dedaunan
yang menari-nari di dinding rumah
membuat perabotan tersipu
dan aku mulai mencemburui udara
yang selalu lebih dulu menyentuh pipimu.
Ada kisah yang tak kita ceritakan pada siapa pun
tentang malam ketika lilin mati,
dan tanganmu menyentuh tanganku
seolah mencari denyut
yang belum sempat tumbuh di tubuh masa lalu.
Kita bicara tentang Datok yang keras kepala
dan kau bilang, cinta juga keras kepala
sebab ia tetap bertahan
meski tak diberi tempat
di ruang tamu doa-doa kita.
Ada genteng yang pecah di atas kamar kita
dan tiap hujan datang
aku berharap rintik-rintik itu
menuliskan puisi di tubuhmu
seperti yang tak pernah sempat aku tulis
dengan bibirku.
Kau tidur dengan selimut tipis
dan aku menjadi angin
yang menghangatkanmu dengan cerita-cerita
tentang kota yang tak jadi kita tinggalkan
karena rumah ini terlalu penuh oleh doa Datok.
Aku mencintaimu,
seperti suara petikan siter yang diputar
dari radio tua di sudut ruang
suaranya serak, tapi jujur
dan tak pernah bosan meski diputar ulang-ulang.
Kau bertanya,
jika suatu hari rumah ini roboh
kemana cinta akan pindah?
Aku bilang: ke dadamu
yang sudah lama jadi halaman depan
dari seluruh perasaanku.
Kita menanam pohon jambu di pekarangan
dan aku memberinya nama dari huruf awalmu
kau tersenyum,
katamu, cinta adalah benih
yang cukup disirami kesetiaan dan sedikit lelucon
agar tidak tumbuh jadi beban.
Malam-malam di rumah Datok
adalah puisi tanpa bait
hanya deru napas, bisik tikar, dan bayang lampu
yang saling menyapa
tanpa kata-kata
seperti cinta yang tak perlu dijelaskan.
Kau mengajarkanku
bahwa pulang bukan soal arah mata angin
tapi tentang siapa yang menyambut
dan untuk siapa kau sempatkan diam
meski hanya lima menit
di beranda waktu.
Datok sudah lama pergi
tapi rumah ini tak pernah merasa sepi
sebab suaramu
lebih abadi dari suara lonceng masjid
dan lebih lirih dari doa
yang pernah ditulis di tembok kamar belakang.
Di rumah ini
aku tak butuh cermin
sebab matamu sudah cukup
untuk membuatku mengenali siapa aku
dan siapa aku di hadapanmu.
Jika suatu hari kisah ini dibacakan ulang
oleh cucu kita yang belum lahir
biarkan ia tahu
bahwa rumah Datok pernah menjadi
satu-satunya tempat
di mana cinta tak pernah kehabisan musim.
Pacet, 23 Juni 2025
Jika Aku Menjadi Hujan
(untuk UA)
Jika aku menjadi hujan,
aku tak akan minta izin untuk jatuh
pada tubuhmu yang sedang berdiri menunggu senja.
Aku akan menjelma getar di helai rambutmu,
diam di jemarimu,
dan pelan-pelan menyelinap ke matamu
untuk mencuci rindu yang tak sempat kausampaikan.
Aku tak ingin menjadi badai,
cukup gerimis yang sabar mengetuk
sampai kamu bersedia membuka jendela.
Aku tidak ingin kau tahu aku datang,
aku hanya ingin kamu merasa basah
di titik paling sunyi dalam dada.
Pacet, 23 Juni 2025
Aku Ingin Mencintaimu dengan Tenang
Aku ingin mencintaimu dengan tenang
seperti laut mencintai karang,
tak pernah bertanya kenapa harus tetap tinggal.
Aku ingin mencintaimu
dengan cahaya matahari pukul lima pagi,
yang menyusup ke sela daun
tanpa mengganggu tidur burung-burung.
Aku ingin mencintaimu seperti waktu—
datang, lewat,
tapi tak pernah bisa ditolak.
Tak usah kau jawab.
Biarkan cinta ini tumbuh di luar pengetahuanmu,
di taman yang hanya aku tahu pintunya.
Pacet, 23 Juni 2025
Di Antara Dua Payung
Kita pernah berjalan beriringan
dengan dua payung berbeda.
Langit menangis
tapi kita tetap berpura-pura tertawa.
Aku ingin kau tahu:
yang kuyakini bukan atap dari kain itu,
tapi kemungkinan tanganmu
menyentuhku tanpa sengaja.
Payung itu terlalu lebar untuk kita yang takut dekat,
dan terlalu rapuh untuk kita yang pura-pura kuat.
Maka aku memilih basah,
daripada harus kehilangan
tatap matamu
yang pernah berlindung padaku.
Pacet, 23 Juni 2025
Surat yang Tak Pernah Sampai
Aku menulis surat dengan tinta kesunyian
di atas kertas yang ditiupkan dari napasku sendiri.
Tak ada alamat.
Tak ada nama.
Aku hanya ingin kamu tahu,
ada rindu yang terlalu sabar menunggu,
bahkan ketika pintu tak pernah dibuka.
Kau tak perlu membalas.
Cukup dengarkan:
di dalam setiap kalimat,
ada langkahmu yang berjalan kembali.
Pacet, 23 Juni 2025
Pada Hari yang Tak Bernama
Pada hari yang tak bernama,
kau akan menyeduh teh dan tak mengerti
kenapa harumnya mengingatkanmu pada seseorang
yang pernah bicara lewat diam.
Kau akan membuka buku lama
dan menemukan secarik catatan
berisi bait tak selesai.
Itu aku.
Yang selalu lupa menulis akhir dari cinta.
Kau tak akan menangis,
tapi dadamu akan sedikit lebih sempit,
seperti pagi yang terlalu penuh kabut.
Pacet, 23 Juni 2025
Langit yang Tak Sempat Kita Namai
Kita pernah menatap langit dan hampir memberi nama.
Tapi waktu memanggil kita terlalu cepat.
Kau menoleh,
aku diam.
Langit itu kini menjadi milik sore
dan angin yang membawa daun gugur.
Aku masih menyebutnya: langitmu,
meski warnanya telah pudar
dan tak satu pun burung kembali dari arah yang sama.
Kalau langit bisa lupa,
aku tidak.
Aku menyimpannya
di sela helaan napas yang kau tinggalkan.
Pacet, 23 Juni 2025
Namamu Masih Tertulis di Udara
Aku tak lagi menyebut namamu
tapi udara masih mengucapkannya
setiap kali aku bernapas terlalu dalam.
Namamu menyelinap ke dalam hujan,
menetap di bawah payung orang lain,
dan kembali padaku saat aku sendirian.
Aku tidak mengusirmu.
Aku hanya memberi waktu
agar rinduku tumbuh menjadi puisi
yang tak perlu lagi menyebutmu dengan sedih.
Pacet, 23 Juni 2025
Seperti Kopi yang Tak Pernah Dingin
Kamu adalah pahit
yang selalu kucari tiap pagi,
meski aku tahu lidahku tak pernah terbiasa.
Kamu adalah aroma
yang tinggal lebih lama dari percakapan.
Bahkan ketika gelas telah kosong,
rasa itu masih mengendap di dasar harap.
Aku menyeruputmu dengan takut
seperti seseorang membaca surat warisan
yang ia tahu isinya akan mengubah segalanya.
Dan tetap, aku memilih minum sampai habis
meski yang tersisa hanya detak jantung
dan kenangan.
Pacet, 23 Juni 2025
Balasan dari Cangkir yang Kau Letakkan Pelan
Aku adalah getir
yang kau nikmati dengan alasan tak masuk akal.
Kau bilang: cinta tak harus manis—
cukup hangat, cukup jujur,
cukup hadir di pagi buta
saat dunia masih malas membuka mata.
Aku tahu
kau takut menyeruputku sepenuhnya,
seperti takut mencintai tanpa syarat.
Tapi bukankah cinta selalu seperti itu:
goyah, tapi diminum juga?
Kau menyentuh cangkirku dengan dua tangan
seperti memegang rahasia yang tidak ingin tumpah.
Aku diam,
sebab hangatku memang tak bisa menjawab.
Ketika kau pergi
aku tetap menunggu di atas meja
di antara remah roti dan sisa dialog yang tak selesai.
Harumku menetap,
tapi rasaku mulai berubah:
dingin, seperti jarak
yang kau simpan di kerah kemejamu.
Jika suatu saat kau kembali,
aku mungkin sudah basi.
Tapi bukankah cinta
bisa kita panaskan kembali,
meski tidak akan pernah sama?
Pacet, 23 Juni 2025
(dari seseorang yang kau minum tanpa benar-benar tenggelam)
Kamu Tak Pernah Tahu
Kamu tak pernah tahu
bahwa aku menyebut namamu
dalam doa paling rahasia,
yang bahkan langit pun terlalu malu untuk menjawab.
Kamu tak pernah tahu
bahwa aku pernah berdiri
di depan pintumu
tanpa mengetuk,
karena takut kau benar-benar membukanya.
Cinta, katamu, harus lantang.
Tapi aku percaya cinta yang baik
adalah yang tetap bertahan
meski hanya dalam bisik paling lirih.
Pacet, 23 Juni 2025
Dan Aku Tetap di Sini
Dan aku tetap di sini,
di bangku paling sunyi
dalam hatiku sendiri.
Bukan karena menunggu,
tapi karena tidak ada arah
yang lebih layak dari namamu.
Kau telah lama pergi,
tapi aku masih menata kata
seperti meja makan yang tak pernah dibereskan.
Aku tak pernah berharap kau kembali,
aku hanya ingin
kamu tahu:
tempatmu belum pernah diganti.
Pacet 23 Juni 2025
Penulis: Muhammad Farhan Azizi
Editor: Adnyana Ole
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain



























