6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersiksa dalam Kereta | Anggit Rizkianto

Anggit Rizkianto by Anggit Rizkianto
April 26, 2025
in Cerpen
Yang Tersiksa dalam Kereta  |  Anggit Rizkianto

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

HUJAN lebat bagai tirai putih yang menyelimuti stasiun. Senja baru saja turun ketika Naya menginjakkan kakinya di aspal yang becek. Sepatunya ia biarkan basah begitu turun dari taksi daring. Dengan tergopoh-gopoh ia pun bergegas menuju pintu masuk stasiun. Beruntung tak banyak barang yang dibawanya, hanya tas ransel dan koper kecil yang ia seret dengan semena-mena. Hal itu cukup memudahkannya saat hendak memasuki peron.

Hujan makin lebat. Rinai-rinainya memukul-mukul atap baja stasiun tanpa ampun. Naya hanya mendengar suara ribut ketika menyeberangi rel menuju kereta yang hendak berangkat. Stasiun sepi. Tak banyak orang yang menaiki kereta. Dan bau pesing langsung menyergap rongga hidung saat kakinya menginjak bordes.

Susah payah Naya mencoba membuka pintu gerbong. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menggeser pintu itu tapi tetap saja gagal.

“Saya bantu, Mbak.”

Seorang lelaki tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, dan langsung menggeser pintu. Pintu terbuka. Gerbong kereta yang sepi langsung terbentang di hadapan keduanya. Naya mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu, dan berjalan pelan menuju nomor kursi yang tertera pada tiket. Koper diletakkannya pada rak bagasi sebelum ia duduk di sebelah jendela kaca. Naya duduk menghadap arah yang berlawanan dengan arah jalannya kereta.

Laki-laki yang tadi membantunya kini berjalan ke arahnya. Sebuah topi hitam terpacak di kepala laki-laki itu. Tubuhnya kurus tinggi. Jaket kanvas yang basah karena hujan membungkus tubuh itu. Sedangkan tas ransel berwarna kelabu yang juga basah tercangklong erat di pundaknya. Dan laki-laki itu duduk di hadapan Naya. Tatapannya tajam. Namun, ketika Naya membalas tatapan itu, mata si laki-laki justru melihat ke arah jendela, menembus tempias-tempias hujan yang membasahi kaca dan kegelapan yang mulai datang. Dalam temaram Naya melihat rahangnya yang tegas. Serta jakun pada leher yang bergerak naik turun.

***

Satu jam sebelumnya, Gustam baru saja mengadali dua orang polsuska yang mengejarnya. Ia yang baru saja menggarong satu unit komputer jinjing dan ponsel pintar milik seorang penumpang kereta eksekutif berhasil lolos dari kejaran dengan menerobos pagar pembatas rel di area stasiun.

Gustam sudah sangat menguasai wilayah stasiun ini. Maka, dengan sangat licin ia mengelabui petugas. Ia berlari memasuki gang-gang sempit di seberang stasiun. Gerimis yang mulai turun tak dipedulikannya. Yang tidak disadari petugas adalah bahwa Gustam justru berbalik arah melewati gang lain. Ia kembali memasuki area stasiun, dan membeli tiket kereta kelas ekonomi.

“Polisi tolol,” gumamnya ketika memasuki peron.

Ia lalu duduk dengan santainya sembari menunggu kedatangan kereta. Perasaannya tenang, tapi tidak dengan langit di atas sana. Awan sudah begitu kelam menggumpal. Rinai-rinai hujan segera meluncur cepat, memukul-mukul atap baja stasiun tanpa ampun.

Gustam baru saja mulai mengisap rokok yang kedua ketika kereta ekonomi dari timur tiba. Rokok itu buru-buru digilasnya dengan sepatu. Baru juga ia bangkit dari kursi dan hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba perempuan bertubuh kecil itu melintas di hadapannya. Kerudung berwarna mustard menutup rapat rambut si perempuan hingga ke dada. Langkahnya terburu-buru. Koper kecilnya diseret dengan semena-mena.

Tak ada firasat atau gairah apa pun pada diri Gustam, tapi perempuan itu mengingatkannya pada perempuan yang pernah dicintainya. Maka si perempuan pun menyeretnya bagai magnet. Senyuman melalui mata dengan jelas tertangkap olehnya ketika ia membantunya membuka pintu gerbong. Ia hanya menangkap senyum melalui mata karena wajah perempuan itu tertutup masker hitam. Mata yang meneduhkan, batinnya.

Kini Gustam duduk berhadap-hadapan dengan perempuan itu setelah mencocokkan nomor kursi dengan yang tertera pada tiketnya. Ia mencoba mencuri-curi pandang. Tapi ia tak kuasa menghadapi tatapan perempuan itu ketika menatapnya. Ia gugup. Perempuan bertubuh kecil ini, dengan tatapan matanya yang teduh, mengapa begitu berkuasa atas dirinya yang seorang penjahat. Gustam hanya dapat menyimpan tanya dalam hati.

“Turun mana, Mas?” tanya perempuan itu.

“Eh… Lempuyangan,” jawab Gustam gelagapan.

“Oh, sama, saya juga,” kata perempuan itu.

***

Kereta bergerak ke arah barat daya. Suara deru lokomotif menembus jendela-jendela kaca. Suara roda baja yang menggilas rel memecah sepi. Seorang laki-laki tua kini duduk di sebelah Gustam, sehingga pria itu beringsut ke kanan, lekat ke jendela. Naya juga bertanya kepada laki-laki tua itu akan turun di mana. “Klaten, Mbak” jawabnya.

Sembari meletakkan barang bawaannya di bawah kursi, laki-laki tua itu balas bertanya kepada Naya akan turun di mana. Naya menjawab, dan keduanya pun terlibat obrolan basa-basi tentang cuaca, Kota Yogyakarta, dan hidup kaum papa yang penuh derita. Sementara Gustam hanya mendengar saja sambil sesekali menyunggingkan senyum kaku. Selang beberapa menit, laki-laki tua itu mengertak-ngertakkan badannya. Mungkin ia begitu lelah. Ia pun tertidur.

Suasana kembali sepi. Gustam masih mengedarkan pandangan ke arah jendela, menembus kegelapan dan cahaya yang berkelebatan. Namun sesekali ia melirik perempuan di hadapannya. Dan kini perempuan itu duduk tegak dan bersedekap. Ia salat.

Untuk sesaat Naya tenggelam dalam kekhusyukan. Sedekapnya yang lembut mengisyaratkan bahwa ibadah itu ia lakukan dengan kesungguhan hati. Seolah ia telah memasrahkan seluruh hidupnya. Tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tak peduli lagi dengan baik buruknya dunia. Dan tak peduli lagi dengan bahaya yang mengancam. Matanya yang teduh memandang ke bawah. Asma-asma Tuhan ia ucapkan dengan lirih di balik masker.

Untuk kesekian kali Gustam melihat lagi sorot mata Naya yang teduh, dan bulu matanya yang lentik. Namun, hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba saja pria itu merinding. Ia bergidik. Ia merasa ada yang melumat-lumat jiwanya. Apakah perempuan yang di hadapannya itu sedang menghukumnya?

Gustam merasa dirinya kotor. Sungguh kotor. Ia juga merasa kalah. Kebinatangan dalam dirinya seolah tak ada artinya lagi. Kini, di dalam hati ia melontarkan sumpah serapah kepada diri sendiri. Tapi, meski begitu, ia tetap tak bisa mencegah datangnya pikiran yang menyuarakan pembelaan; bahwa kesuraman nasib yang menderanya bukanlah semata-mata salahnya. Ia teringat lagi hari-hari berat di masa lalu, yang membuatnya memutuskan menjadi binatang.

Gustam masih sangat ingat perasaannya tatkala sindiran demi sindiran datang dari mulut mertuanya lantaran ia hanya berdagang ayam krispi yang jarang laku. Ketika itu ia sudah sepuluh bulan dipecat dari perusahaannya, dan tanpa pesangon. Di sisi lain ia telah memiliki dua anak usia balita. Keduanya perlu susu yang harganya mencekik. Juga makanan, pakaian, dan perawatan dokter jika si anak menderita sakit.

“Sampean kan sudah punya banyak pengalaman, masa sih ndak bisa cari kerja lain?”

Kini kata-kata istrinya semakin membuatnya meradang, seperti cambuk yang mendera batinnya. Deraan itu makin menjadi-jadi ketika tanpa meminta izin kepadanya, si istri memutuskan kembali bekerja di kantor lamanya. Karena Gustam tidak cakap mengurus balita, maka kedua anaknya yang masih mungil diurus mertuanya. Gustam makin merasa dirinya kecil dan terkucilkan.

Hari demi hari ia habiskan dengan melamun di sebelah gerobak ayam krispinya di tepi jalan. Cuaca panas, deru kendaraan, dan debu-debu yang berterbangan kian membuatnya gerah dan sesak. Dan di penghujung hari, bukan untung yang didapat, tapi kerugian tak terkira karena saking tak adanya yang membeli dagangannya.

Hingga tibalah malam itu, malam yang menjadi titik tolak keputusannya menjadi binatang.

“Bener katanya ibuk, sampean itu memang ndak bisa diandalkan.”

Kata-kata istrinya itu meremukkan martabatnya sebagai suami dan laki-laki. Malam itu Gustam ke luar rumah. Hari demi demi hari ia lalui dengan berpindah-pindah. Dari rumah seorang teman ke rumah teman lain; dari rumah seorang kenalan ke kenalan lain. Panggilan telepon dari istrinya tak ia pedulikan. Ia mencoba menyelamatkan harga diri yang masih tersisa. Hingga ketidakjelasan nasib itu membawanya pada pertemuan dengan kelompok gali. Gustam langsung hilang akal, dan segera ia menjadi pencoleng.

Gustam dan seorang gali beraksi di kawasan ring road yang sepi dan minim penerangan. Mereka membegal siapa saja yang menurut mereka lemah. Gustam rupanya punya insting kuat dalam menilai apakah seseorang itu punya kemampuan membela diri ataukah tidak dari caranya berkendara. Bermodalkan insting itulah ia pun dengan mudah menggasak barang apa pun dari korbannya: uang, ponsel pintar, perhiasan, jam tangan, dan sepeda motor.

Gustam pun tak ragu melukai korbannya jika mencoba melawan. Ia bahkan pernah menebas tangan seorang perempuan dengan golok hingga putus, karena si perempuan mati-matian mempertahankan arloji di pergelangan tangannya. Jerit kesakitan dan tangisan perempuan itu kadang menghantui Gustam ketika ia tenggelam dalam lelap malam.

Hingga akhirnya polisi pun menggelar patroli skala besar. Hampir setiap malam petugas menyisir dan mengitari ring road dan ruas-ruas jalan di pinggir kota. Gustam dan gerombolan gali awas dan waspada. Mereka kemudian sepakat berhenti membegal dan berpencar untuk sementara waktu. Gustam pun berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Hidupnya tak menetap, namun sesekali ia masih menyempatkan pulang ke rumah. Dan berbekal pengalaman kejahatan bersama para gali, ia pun menjadi pencoleng di banyak tempat; di terminal-terminal, di bus-bus antarkota, di stasiun, dan di kereta api.

***

Setelah mengucap dua kali salam tanda berakhirnya salat, Naya merogoh-rogoh tas ranselnya yang diletakkan di bawah kursi. Ada panggilan masuk di ponselnya. Detik itu juga Gustam tersadar dari lamunannya.

“Halo, Mas Bagas,” kata Naya sambil melambai-lambaikan tangan di depan layar ponsel. “Baru bangun, ya?” katanya lagi.

Menyadari bahwa dirinya sedang berbicara lewat panggilan video, Naya lantas melepas masker. Gustam kembali mencuri-curi pandang. Cantik sekali, batin pria itu.

“Halo, Mas Bagas, halo…” kata Naya lagi, masih dengan melambai-lambaikan tangan.

“Bunda… Bunda…”

Terdengar suara dari seberang sana. Itu suara bocah laki-laki yang dipanggil “Mas Bagas” oleh Naya. Dan si ibu tak henti-hentinya tersenyum lebar dengan mata berbinar menatap si bocah melalui layar.

“Sudah sampai mana, Nduk?”

Kini terdengar suara lain, seorang perempuan.

“Sampai Caruban, Bu”, sahut Naya.

Kini Naya terlibat obrolan macam-macam dengan perempuan itu. Sementara Gustam merasa resah. Ada gejolak dalam diri yang tak bisa ia jelaskan. Detik demi detik gejolak itu makin mendesak-desak dalam relung hatinya. Ia ingin melawan, tapi tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia hanya bisa pasrah. Dilihatnya laki-laki tua yang duduk di sebelahnya yang masih tertidur pulas. Lalu diliriknya Naya yang masih menebar senyum di depan layar ponsel. Perempuan itu memantik nalurinya sebagai pria, tetapi juga menyiksa nuraninya sebagai manusia. Suatu kontradiksi yang tak bisa ia mengerti.

“Yo wis, hati-hati, ya, Nduk,” pungkas perempuan di seberang tadi mengakhiri obrolan.

“Iya, Bu,” sahut Naya. “Mas Bagas sama Mbah Uti dulu, ya,” katanya lagi, “Bunda kerja dulu. Jangan nakal lho, ya.”

Gustam makin tak tahan. Batinnya kian tersiksa. Dan di tengah-tengah perasaannya yang bergemuruh, laju kereta tiba-tiba melambat, lalu berhenti. Stasiun Madiun.

Gustam beranjak dari kursinya dan segera menuju pintu keluar. Naya hanya memandangi pria itu. Matanya bahkan tak bisa lepas dari punggung si pria yang sedang berjalan ke arah pintu. Namun, Gustam sama sekali tak menyangka kalau ada dua polsuska yang sedang berjaga ketika ia sampai di bordes. Sial bagi Gustam karena dua polsuska itu mengenali wajahnya. Tapi, kali ini ia benar-benar pasrah. Sedikit pun tak ada dorongan untuk melawan. Ia pun langsung diborgol dan digelandang.

Naya yang berada di dalam kereta masih sempat melihat Gustam yang kini telah menjadi pesakitan. Melalui jendela kaca yang diselimuti tempias hujan, Naya menatap mata pria itu, yang kini tidak lagi menghindari tatapannya. Gustam sendiri tak tahu dari mana ia mendapat keberanian menatap mata Naya. Yang ia tahu, tatapan mata itu akan selalu lekat di ingatannya; tatapan mata dari seorang perempuan yang bahkan ia tak akan pernah tahu siapa namanya. [T]

Penulis: Anggit Rizkianto
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Mengenang Kekasih

Next Post

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

Anggit Rizkianto

Anggit Rizkianto

Penulis fiksi dan nonfiksi. Lahir di Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kini tinggal di Surabaya dan bekerja sebagai dosen. Buku terbarunya berjudul Pelayaran Terakhir: Kolase Kisah dari Bumi Timah hingga Jawa (Mekar Cipta Lestari, 2024).

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co