6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Nova Aryani by Nova Aryani
March 19, 2025
in Ulas Pentas
“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

APA yang ada di pikiran Anda tentang angka 40? Sebuah angka menuju pertengahan 100, sebuah kadar persentase di bawah separuh, atau umur menjelang paruh baya? Pada tulisan ini saya akan membahas hal yang ketiga, umur atau usia. 

Usia 40 tentunya sudah sangat dewasa bagi seorang manusia. Sebagian besar sudah menemukan pasangan hidup, memiliki anak, bahkan cucu.

Saya pun begitu, di usia 40 ini, saya sudah menjadi seorang ibu dari dua anak. Tampaknya sudah sangat ideal ya. Tetapi sebelumnya, saat masih usia awal tiga puluhan, saya selalu merasa ada pertentangan dalam diri saya sendiri. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan, bahkan sepertinya beberapa hal yang saya pernah punya, malah menghilang.

Penyebabnya, tentu saja, status dan kehidupan sudah berbeda dari umur dua puluhan yang masih bisa bebas dan aktif untuk melakukan apa saja. Cuma saat muda, saya dihadapkan pada rutinitas kerja kantoran yang membuat beberapa hobi dan keinginan saat itu belum bisa terpenuhi. Dan hal itu bertambah pelik saat berumah tangga.

Perihal beradaptasi dengan keluarga baru menjadi ujian yang tak kunjung selesai, membuat mimpi-mimpi makin menjauh. Hidup saya terasa monoton dan berjalan lurus tanpa kelokan seru yang membuat hidup.

“Bukannya aku kurang bersyukur, aku hanya merasa terkungkung pada adat dan budaya yang membuatku ingin kembali menjadi diri sendiri.”

Kecemasan dan kegelisahan terus saya sangat rasakan hingga di akhir kepala tiga. Saya berusaha mengalihkannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan dari rumah, agar tetap tak meninggalkan tugas dan kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga.

“Maka aku mulai mencari jalan agar aku pulang pada diri. Aku tak pernah lelah mencari. Pada mimpi aku bersandar, aku bersabar.

Kemudian, mendekati usia 40, satu per satu cahaya impian mulai berpendar. Aku berdebar.”

Mimpi-mimpi saya untuk pergi ke beberapa tempat, keinginan untuk bertemu orang-orang yang saya idolakan, dan belajar hal baru yang selama ini hanya ada dalam angan, akhirnya kesampaian.

Karena saya mengikuti Mahima. Disanalah saya menuai dan menyemai mimpi-mimpi yang tadinya terasa mustahil untuk diraih.

Berawal dari acara kunjungan penulis senior dan juga Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, ke rumah Mahima, dimana saya dengan rasa rindu yang sangat besar pada dunia kepenulisan akhirnya menjalin hubungan kembali setelah lama tak berjumpa dengan sahabat saya Sonia dan suaminya Bli Ole, pendiri Komunitas Mahima.

Padahal kami masih tinggal dalam satu kota, tapi kondisi saya yang saat itu tidak memungkinkan untuk dengan bebas mengikuti kegiatan di luar ranah rumah tangga dan usaha saya.

Di sana saya begitu antusias bertemu Kang Gol A Gong, kami berfoto bersama, saya meminta tandatangannya di buku cerpen pertama saya, sampai sempat pula saya mengikuti kelas menulis onlinenya. Dari situ saya merasa ada sesuatu yang membuat saya merasa bersemangat lagi untuk memulai setiap harinya. 

Dan kemudian Sonia memberitahukan bahwa Mahima akan mengadakan lagi Singaraja Literary Festival yang akan mengundang penulis-penulis ternama. Saya seperti terpanggil untuk bergabung. Inilah yang sepertinya saya cari. 

“Aku menjadi sukarelawan di usia 40, menjadi relawan untuk bertemu para penulis yang karyanya sudah kubaca sejak usia 20”

Singaraja Literary Festival tahun ke-3 berlangsung di bulan Agustus 2024, beberapa bulan sebelum ulang tahun saya ke 40. Benar-benar cahaya impian itu berpendar memasuki usia yg menurut saya keramat ini.

Dengan dukungan suami dan kerjasama yang baik dari anak-anak saya, acara Festival itu bisa saya nikmati dengan bahagia. Bukan hanya bertemu para penulis terkenal, bahkan para sineas, artis dan aktivis yang sebelumnya hanya saya lihat di media sosialnya, akhirnya bisa saya temui secara langsung. Marlowe Bandem, Saras Dewi, Ayu Laksmi, dan yang senator kesayangan Bali, Niluh Djelantik.

Di momen itu, untuk pertama kalinya Mbok Niluh memeluk dan bicara langsung pada saya. Banyak air mata haru yang tumpah karena akhirnya saya menemukan ruang tempat saya kembali pulang pada diri saya. 

  • BACA JUGA:
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Tidak cuma sampai di situ. Setelah acara festival berakhir, saya membantu Sonia merampungkan laporan pertanggungjawaban yang membuat saya kembali belajar tentang aturan administrasi dan perpajakan. Ilmu baru lagi untuk otak kepala 4 saya. Dan masih ada kabar gembira lagi.

Pasca festival yang membuat saya menjadi akrab dengan penulis idola saya, Dee Lestari, beberapa hari menjelang hari ulang tahun saya di bulan November, masuklah sebuah chat dari  Dee yang benar-benar membuat saya berteriak histeris.

Dee menawarkan saya untuk ikut Kelas Kaizen, kelas menulis onlinenya yang sangat terkenal itu dengan cuma-cuma alias gratis. Dan hal itu menjadi kado ulang tahun yang terindah buat saya. 

Mahima masih memberi kejutan lagi bagi saya. Memasuki tahun yang baru, di Januari 2025, komunitas kami ini mendapat undangan dari Tsinghua South East Asia University untuk mengikuti seminar dan kuliah umum mengenai Music and Brain, dari Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi saat ini.

Sonia mengajak saya untuk mengikuti seminar bersamanya dan ternyata hadir juga Giring Ganesha ang Wakil Menteri Kebudayaan, serta Yovie Widianto yang menjadi Staf Khusus Kepresidenan Bidang Ekonomi Kreatif. 

“Betapa duniaku kini menjadi begitu luas, dan aku merasa bebas. Aku menuai dan menyemai mimpi demi mimpi, yang sebelumnya terasa mustahil untuk ‘ku raih”

Di ulang tahun ke 17 Mahima, Sonia mendapuk saya untuk bermonolog dengan naskah yang beliau buat setelah mengenal saya sebagai kawannya, dan tahu betul apa yang ingin saya sampaikan. Saya sangat terharu, bangga dan bahagia menjadi perempuan ke-12 dari program Monolog 100 perempuan yang sedang dikerjakan oleh Mahima.  Dan tentu saja hal yang dijadikan inti dari naskah monolog saya adalah yang sudah saya tuliskan di atas tadi. Bagaimana hidup saya baru dimulai di umur 40.

“Aku mulai sadar, hidupku baru dimulai saat ini, di angka 40 ini. Yes, my life really begin at 40”

Terima kasih Mahima. Saya sangat bahagia bisa menjadi bagian dari Komunitas Sastra luar biasa ini. Dan bahagia juga, karena akhirnya saya telah menemukan jati diri saya di rumah ini. Teruslah berkarya serta mencipta euforia-euforia sastra di Singaraja tercinta kita.

“Mahima kini menjadi rumahku, menjadi diriku, dan menjadi berarti.”

  • Catatan : Tulisan yang dicetak miring dan bertanda kutip adalah bagian dari naskah monolog karya Kadek Sonia Piscayanti yang ditampilkan oleh Ni Luh Nova Aryani pada tanggal 14 Maret 2025 di Rumah Komunitas Mahima pada acara Mahima March March March.

Penulis: Nova Aryani
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025MonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals

Next Post

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Nova Aryani

Nova Aryani

Seorang mompreneur yang hobi membaca. Memiliki 2 orang anak dan usaha jualan online serta draft-draft naskah di laptop yang ia anggap anak-anaknya juga. Mengunjungi perpustakaan dan toko buku adalah kegemarannya. Dapat bertemu dengan penulis-penulis besar adalah impiannya. Selain membaca, Nova juga menulis cerpen untuk menyalurkan isi kepalanya. Saat ini baru satu buku kumpulan cerpen yang berhasil ditulisnya di sela-sela menjalankan usahanya. Untuk lebih mengenalnya, silakan follow medsos FB dan IG nova.aryani

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co