6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter Gila | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 5, 2022
in Cerpen
Dokter Gila | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Rumah sakit di kabupaten kecil itu heboh. Seorang dokter, suatu malam, tidur dan bermalam di ruang pasien. Ia bercerita bersama penunggu pasien, dan sesekali ngobrol bersama pasien. Ia tidur di bangsal.  Dan besoknya, ia bangun pagi seperti biasa, sarapan nasi bungkus bersama staf rumah sakit, seperti penunggu pasien, lalu ngopi.

“Itu dokter gila!” kata seorang perawat, bukan dengan nada mengejek, justru ada kesan takjub di sela-sela suaranya,

***

“Dokter tidak perlu sampai harus tidur di ruang pasien!” kata Direktur Rumah Sakit pada malam sebelumnya.

Saat itu dokter gila itu minta izin secara baik-baik untuk tidur dan menginap di ruang pasien.

“Silakan langsung saja sampaikan apa masukan Dokter untuk manajemen?” sambung sang direktur.

Dibandingkan sebagai sebuah pertanyaan, suara Direktur Rumah Sakit itu lebih terdengar seperti memberi perintah atau larangan kepada dokter gila. 

“Masukan saya sudah sangat jelas sejak dulu. Tidak manusiawi satu ruangan bangsal dihuni oleh 16 orang pasien. Meskipun obat yang kita berikan sudah sesuai standar, secara psikologis situasi tersebut akan menghambat penyembuhan pasien. Saya yakin Pak Direktur pasti paham soal ini!” kata si dokter.

“Saya paham sekali!” Nada suara Direktur semakin tinggi dan emosional.

Seorang kepala ruangan dan wakil direktur yang berada dalam ruangan saat itu hanya diam seperti patung.

“Kita tidak bisa seideal seperti yang Anda pikirkan. Kita pun tak melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh kementrian kesehatan!”

Kali ini kedua patung mulai mengangguk-angguk, meski jelas sekali itu sekadar basi-basi dan tampak ragu-ragu, entah bagaimana sikap mereka yang sebenarnya. Si dokter gila bergeming, mungkin tersenyum geli dalam hatinya.

Pertemuan dokter gila dan sang direktur itu jelas tidak menghasilkan apa-apa. Namun sikap si dokter sudah jelas. Ia ingin tidur di ruang pasien. Untuk itu, ia tak memerlukan diskusi lagi. Ia meninggalkan ruangan yang masih diliputi suasana tegang itu.

“Terimakasih, saya sudah minta izin!” kata dokter gila itu.

Malam pada hari setelah pertemuan di ruang direktur itu ia, diizinkan atau tidak, tetap tidur di salah satu bangsal perawatan. Ia di situ hingga pagi. Dan hingga pagi ia bersama pasien yang menjalani rawat inap saat itu.

Sebelumnya, kepala ruangan menawarkan si dokter untuk tidur di salah satu ruangan kelas dua yang kebetulan kosong.

“Maaf,  Dokter. Apakah tidak lebih baik malam ini dokter tidur di ruang Lily yang kebetulan kosong?”

“Oh nggak apa-apa, Pak Yoga, izinkan saya semalam saja tidur di bangsal,” sahut si dokter. Seperti biasa suaranya datar, dan Pak Yoga, kepala bangsal itu, tidak bisa berbuat apa-apa.

Keesokan harinya ia meminjam toilet untuk mandi dan berganti pakaian. Entah bagaimana, pagi itu, suasana di ruang perawat justru menjadi cair, jauh dari ketegangan.

“Saya boleh minta tolong ya? Belikan nasi bungkus duabelas bungkus dan air mineral. Oh ya, saya biasa ngopi setelah sarapan, jadi tambah satu kopi krim ya!”

Dokter itu menyerahkan sejumlah uang kepada salah seorang staf, lalu duduk di salah satu kursi di depan meja lebar. Meja itu biasa digunakan untuk rapat perawat, dan di situ si dokter bersiap untuk sarapan sambil merapikan tas ransel setelah mandi dan berganti pakaian.

Beberapa perawat yang bertugas pagi mengikuti si dokter. Mereka duduk mengelilingi meja. Pak Yoga yang baru datang, duduk pada posisi paling dekat dengan si dokter. Beberapa di antaranya terkesima, dokter itu tepat menghitung jumlah staf duabelas orang sehingga meminta beli nasi duabelas bungkus.  Dari mana dokter gila tahu persis jumlah staf yang bertugas pagi itu?

Hidangan nasi bungkus telah tersedia di atas meja, uap kopi panas pun masih mengepul, aroma kopi krim memang sangat menggugah.

“Ayo, teman-teman, sarapan dulu. Siapkan diri dulu dengan baik sebelum melayani pasien!”

Ajakan hangat dokter gila itu mengundang lebih banyak perawat untuk ikut duduk sarapan sebelum pergantian tugas. Salah seorang dari mereka tak bisa menahan diri untuk menyampaikan sesuatu yang sangat sentimentil dan emosional.

“Dokter, terimakasih telah mengajari kami banyak hal dengan cara-cara yang bagi kami tak masuk akal. Namun kami semakin meyakini, itu semua ada benarnya.”

Salah satu perawat perempuan muda yang tampak lebih gaul dan selama ini suka ceplas-ceplos ikut nimbrung.

“Tahu gak, Dok? Selama ini dokter dijuluki dokter gila, lho!”

Perawat muda itu mengucapkan kata-katanya sambil menutupi wajahnya yang bulat dengan kedua telapak tangan. Tawa seisi ruangan pecah. Ruangan jadi riuh.

“Ha ha… Mungkin tetap lebih baik menjadi dokter gila ketimbang pasien waras!” kata dokter gila itu santai.

***

Dokter itu kemudian makin terkenal dengan sebutan dokter gila. Sebutan, bukan panggilan tentu saja. Mungkin saja ia sudah tahu dirinya disebut sebagai dokter gila, namun tak akan ada yang berani memanggil atau menyapanya saat bertemu misalnya dengan sapaan, “Selamat pagi, dokter gila. Apa kabar?”

Orang gila, atau sekarang disebut dengan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), mungkin saja tidak suka disebut gila. Apalagi orang normal. Lebih-lebih, ini seorang dokter yang bekerja, salah satunya, justru untuk mengobati ODGJ.

Tetapi, meski ia mungkin tahu telah disebut dokter gila oleh orang-orang di sekitar tempatnya bekerja, di rumah sakit, sepertinya ia tak peduli. Jangan-jangan, ia memang sudah tahu, tapi hanya menanggapi dengan tersenyum dalam hati.

Jika saja ia tak terima, sekali waktu pastilah salah seorang perawat atau petugas lain di rumah sakit itu telah dipanggil ke ruangannya, untuk diajak bicara, atau dimarahi, atau untuk sekadar menanyakan hal-ikhwal sebut gila itu. Namun kenyataannya ia tak pernah memanggil siapa pun untuk urusan itu.

Seperti biasa ia datang pagi-pagi sekali. Ia melakukan tugas biasa, mengunjungi pasien di ruang perawatan. Dan seperti biasa juga, ia tak pernah menggunakan jas dokter saat bertugas. Sehari-hari ia datang ke rumah sakit memakai kemeja lengan pendek, kaos berkerah bahkan kadang hanya T-shirt dengan bawahan lebih sering celana jeans ketimbang celana kain biasa.

Sepatunya, sejak datang pertama kali ke rumah sakit tetap itu-itu saja. Belum pernah diganti. Warna sepatu yang coklat buram, lecet di sana-sini. Semua hapal merknya: Rockport.  Soal pakaian ini ia pernah ditegur pihak manajemen rumah sakit. Namun dengan enteng ia menjawab dengan pertanyaan balik, khas orang gila yang susah diatur.

“Saya ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati pasien. Bukan untuk fashion show. Coba tanya, ada nggak pasien saya yang keberatan dengan penampilan saya?”

Pihak manajemen buru-buru angkat tangan dan tak mau memperpanjang perkara ini.  

Pagi itu si dokter gila memasuki bangsal pasien penyakit infeksi didampingi seorang suster senior. Kepala ruangan sebelumnya sudah wanti-wanti, jika dokter gila yang visite, maka ia harus didampingi perawat-perawat senior. Maksudnya tentu saja agar perawat itu bisa mengimbangi kemauan dokter gila yang sulit diprediksi arahnya bicara dan tindakannya.

Dan betul saja, pagi itu, ketika masuk ruangan pasien, alih-alih memeriksa pasien, ia justru menyeret suster memeriksa kamar mandi pasien terlebih dahulu.

“Ayo, Suster, kita cek kamar mandi dulu!” ajaknya tegas.

Berpasang-pasang mata di ruangan itu pun kebingungan. Ada empat tempat tidur pasien yang  terisi penuh dengan masing-masing pasien ditunggu satu atau dua orang penunggu.

Suster senior hanya bisa menuruti namun refleks bertanya, “Maaf, Dokter ke toilet untuk apa?”

“Sudah. Ikut saja saya sebentar!” Suaranya diikuti gerakan kepala ke arah kamar mandi.

Suster pun bergerak mengikuti langkah si dokter.

“Nah, itu, coba Suster lihat, ada genangan di washtafel. Itu, apa lagi di bawah, pasti bekas muntahan. Tolong panggil dulu bagian sarana dan petugas cleaning service untuk membereskan. Setelah itu baru saya mau memeriksa pasien!” kata si dokter.  

Intonasi kata-kata dokter gila itu datar. Pandang matanya terus menyisir dengan teliti seluruh keadaan di kamar mandi. Kejadian itu terasa begitu cepat dan singkat, namun dirasakan begitu berbobot oleh suster senior yang mendampinginya. Seakan-akan keadaan kamar mandi yang demikian itu sudah diketahui oleh dokter gila sejak dari rumahnya.

Pada dasarnya, dokter gila tidak pernah marah. Namun hal-hal tak biasa yang dilakukannya memang mudah ditafsirkan sebagai kemarahan.

“Oh ya, baik, Dokter, akan saya hubungi bagian sarana dan petugas kebersihannya sekarang!” Suster senior mengalah. 

Dalam perjalanan ke nurse station, dokter gila itu menjelaskan teori penyakit infeksi yang ditentukan oleh faktor kuman, tubuh pasien dan lingkungan. Kamar mandi pasien adalah salah satu aspek lingkungan yang sangat penting.

Ia menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi di ruang perawat untuk lalu meneruskan ceritanya. “Jika keadaannya buruk seperti itu, mana mungkin pasien bisa cepat sembuh. Jangan-jangan, antara pasien nanti dapat saling menulari penyakit atau kepada para penunggunya. Syukur-syukur Anda nggak ikut tertular. Muntahan atau sisa air kencing maupun feses merupakan media penularan kuman penyakit. Genangan air sudah tentu bisa menjadi sarang jentik nyamuk demam berdarah!”                

Beberapa perawat dan petugas yang kebetulan ada di ruangan itu terpaksa ikut menyimak kuliah pagi yang tak dijadwalkan itu. Tentu saja para perawat dan petugas lain mendengar sembari tetap mengerjakan tugas mereka masing-masing. Suara pesawat televisi yang sedari tadi membahana menyampaikan berita gosip seakan tenggelam oleh suara dokter gila yang padat dan tak putus-putus.

Ada yang buru-buru menutup kembali nasi bungkusnya, padahal baru dimakan setengahnya. Untunglah suster senior tiba-tiba muncul dengan berita baik. Kamar mandi pasien sudah beres dan pasien sudah menunggu untuk diperiksa. Sang dokter gila pun beranjak menuju ruangan pasien.

***

Cerita itu belum seberapa. Dokter gila pernah datang pagi-pagi ke bagian dapur rumah sakit atau instalasi gizi. Ia minta seporsi makan yang biasa diberikan kepada pasien.

“Maaf, Dok. Kalau Dokter belum sarapan pagi, biar saya minta CS-nya untuk membelikan nasi bungkus!?”

Kepala dapur memohon dalam keadaan bingung.

“Oh, nggak usah repot, Bu Lisa, izinkan saya minta seporsi makanan yang pagi ini akan dibagikan kepada pasien untuk sarapan pagi. Boleh, ya, Bu?” balas dokter gila itu sembari tersenyum.

Tanpa berani berdebat lebih panjang, Bu Lisa langsung mengambilkan satu paket sarapan pagi yang biasa ia berikan untuj pasien. Paket sarapan itu diberikan kepada dokter gila. Si dokter menolak makan di ruang kepala dapur, maka Bu Lisa mengantarkannya ke ruang administrasi.

Setelah mengucapkan terimakasih, ia duduk santai, bersandar di salah satu kursi di ruang administrasi instalasi gizi. Ia menikmati hidangan makan yang sebetulnya disiapkan untuk pasien-pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu saja ini membuat semua staf dapur yang bertugas saat itu menjadi kikuk dengan tingkah laku dokter gila itu.

Bahkan ada juru masak yang tak mau beranjak dari dapur dan masih menunggu panci di atas kompor, padahal air dalam panci sudah mendidih sejak tadi.  Ini lantaran juru masak itu enggan bertatap muka dengan si dokter gila yang lagi asyik melahap makanan pasien.

Belum habis keheranan Bu Lisa dan juru masak, dokter gila tiba-tiba membagikan nasi bungkus kepada Bu Lisa dan semua juru masak yang bertugas saat itu. Maka terjadilah peristiwa unik. Dokter gila makan nasi pasien, sementara juru masak makan nasi bungkus pemberian si dokter. Juru masak makan, sementara hatinya terus bertanya-tanya. Apa maksud si dokter gila itu?

Nasi bungkus yang dibawa dokter gila adalah salah satu nasi bungkus terkenal yang selalu menjadi pilihan sehari-hari warga kota  sejak dulu. Tentu karena harganya sangat terjangkau dan  rasanya sangat enak dengan porsi yang pas. Siapapun menikmatinya, dijamin tak akan pernah menyisakannya. Dengan begitu, staf dan juru masak di bagian dapur rumah sakit diharapkan paham apa yang ingin disampaikan dokter gila itu. Ia memang tak bicara secara langsung, namun maksudnya begitu jelas dan gamblang.

Raciklah makanan yang lebih enak untuk dinikmati oleh orang-orang sakit. Itu tak selalu memerlukan biaya yang besar. Yang penting adalah kepekaan sebagai pelayan masyarakat. Orang sakit butuh nutrisi yang baik, artinya ia perlu hidangan yang menggugah selera dan rasanya nikmat, sehingga makanan dilahap habis dan tidak tersisa dengan sia-sia.

***

Rumah sakit heboh lagi. Dokter gila menghilang.

Dokter gila itu bernama lengkap dr Satyagraha SpPD. Ia seorang ahli penyakit dalam atau internist. Orang-orang di rumah sakit tak banyak mengetahui kehidupan pribadinya. Sepertinya orang sudah cukup mengenalnya sebabagai dokter gila meskipun ia bukan seorang dokter ahli jiwa atau psikiater. Kini rumah sakit tempatnya bekerja menjadi rumah sakit favorit di masyarakat. Alasannya bukan karena ada dokter gila di situ, namun karena sikap kegilaan si dokter itu terjadilah banyak perubahan di rumah sakit, salah satunya kebijakan yang lebih mementingkan pasien. Ruangan yang lebih layak, makanan pasien yang lebih enak, kebersihan ruangan dan lingkungan yang lebih baik seta asri. Banyak lagi alasan kenapa rumah sakit itu menjadi pilihan warga untuk berobat. Manajemen rumah sakit pun telah menambah berbagai sarana medis yang lebih canggih, yang dibutuhkan pasien.

Tapi, sejak sebulan ini dokter gila menghilang. Ia tak pernah kelihatan di rumah sakit. Perawat, petugas kebersihan, petugas medis lain, tukang taman, kehilangan dan kebingungan. Apalagi banyak pasien meminta agar mereka dirawat oleh dokter gila.

“Dokter Satya, sudah minta izin kepada direktur untuk tidak memperpanjang kontrak kerjanya di RS kita.” Itu berita yang dibawa Pak Yoga.

Pak Yoga duduk di sisi meja yang biasa digunakan untuk rapat dan makan nasi bungkus bersama dokter gila. Ia  di kelilingi oleh rekan-rekan dan beberapa orang dokter.

Ia bercerita dengan nasa sedih. Suaranya lirih dan semua yang hadir menahan napas mendengarkannya dengan khidmat.

“Bukan karena beliau tidak betah di sini. Itu karena anak semata wayangnya harus menjalani pengobatan ke luar negeri!”

Suasana hening. Tak ada yang bertanya.

“Anak beliau harus mendapatkan tindakan medis canggih yang kita belum miliki di Indonesia. Karena dirasa pengobatannya akan memakan waktu yang cukup lama, beliau merasa lebih baik sementara waktu memutuskan kontraknya agar beliau bisa fokus mendampingi anandanya. Dokter Satya menitipkan salam untuk kita semua, mohon didoakan untuk kesembuhan anandanya!” kata Pak Yoga. Suaranya makin parau.

Semua yang mendengar, tanpa sadar, meneteskan air mata. Air mata doa. Air mata rindu. [T]

______

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Sepuluh Tahun Setelah Si Kerudung Merah Membunuh Seekor Serigala | Cerpen Surya Gemilang
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mas Ruscitadewi | Hari Itu Kau Habiskan Cerita

Next Post

Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Kuliah Kritik SBM Prof. Darma Putra; Gagallah Seorang Kritikus Sastra Jika Tak Mampu Seperti Peniup Seruling

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co