6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Iyut Fitra by Iyut Fitra
December 5, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Iyut Fitra | hari tua sebuah kelewang

Salah satu karya pada pameran seni rupa di Undiksha Singaraja, Januari 2020

hari tua sebuah kelewang

kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama
bekas darah di tubuhnya mengering. bahkan ada yang mengeras dan hitam
ia ingin membasuhnya. berharap diri kembali menjadi sediakala
kilat dan berkilau. bersih tak berlunau
tersangkut di dinding. tidak terlibat sengketa dan huru-hara
satu-satunya rindu yang kurawat adalah tentang kedamaian, gumamnya
pada air yang mengalir
tapi sungai di hadapannya tertawa. sinis dan tidak percaya

dengan perih ia ungkit ingatan itu. bila hari telah beranjak malam
rombongan menuju parak-parak tepi sungai. atau sumur di ladang tebu
perintah dengan bermacam isyarat. sergah dalam ragam bahasa
saat itu ia tak sendiri
celurit, parang, badik (dan mungkin pelor) juga telah menunggu
merih-merih pasrah tiada berdaya. merih-merih menanti ajal tiba
lalu di sepanjang sungai mayat-mayat tanpa kepala mengambang
sebagian dengan paras tersenyum. selebihnya mungkin mengumbar dendam
kemudian dari jauh terlihat api berkobar. seolah menyempurnakan sebuah pesta

begitu setiap malam. pada bulan-bulan kelam
ia pergi dan kembali dini hari
kadang tak sempat menyelesaikan airmata
karena mayat-mayat yang mengambang tanpa kepala adalah saudara
atau tetangga
sudah lama aku ingin melupakan. tapi bayangan-bayangan terus mengejar,
isaknya pada hari-hari tersisa yang tak lagi bermakna

kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama

mesin ketik

dalam sebuah gudang. di antara kardus-kardus, mainan rusak,
baju usang, dan tumpukan kertas. ia tertimbun kesunyian
melawan dingin dan jaring laba-laba. lama ia tak lagi berketak-ketik
teronggok bagai bangkai-bangkai tak berkutik
telah aku antarkan ribuan kata. bahkan bertimbun-timbun kata
bila arti tak sampai mengapa aku yang dipenjara? ucapnya satu ketika
bersamaan dengan huruf-huruf yang berloncatan. menggelembung di udara
menjelma kias. membentuk sayap-sayap
lalu menerbangkan barisan kalimat menuju bahasa

bahasa yang kemudian menjulur ke jalan-jalan. membangun poster
dan slogan-slogan. adalah kelahiran yang tak pernah ia harapkan
ia ingat satu ketika. sebelum perayaan perpisahan dengan selembar kertas
mereka pernah bersepakat pada sebuah pepatah
lalu menulisnya bersama; yang baik-baik dipegang mati,
yang buruk-buruk dibuang jauh
kata yang dicetak miring itu melambai-lambai sepanjang angkasa
menidurkan umur demi umur. mendewasakan ribuan para pejalan

tapi semenjak ia terkurung di gudang itu. semuanya menjadi liar
huruf-huruf, kata, kalimat, bahasa yang membentuk pepatah
semua berpanjatan menuju dinding-dinding
memeluk apartemen, gedung, kantor-kantor pemerintah, lalu bersekongkol
untuk menumpahkan darah dan airmata

mesin ketik itu memangil-manggil kertas
ia ingin menuliskan sesuatu: anak harimau bila sudah besar pun
tetaplah harimau

jalan tan malaka

entah sejak bila aku diberi nama tan malaka, kata plang nama jalan itu
dari simpang bunian ia bayangkan sebuah perjalanan panjang ke pandam gadang
pada satu kalender ketika tabungan demi tabungan diiurkan
maka sungai yang dilintasi akan bersaksi
batu-batu siap sebagai penarung. duri sikejut terhampar kembang kuncup
ditujulah bukittingi setelah kereta meninggalkan stasiun suliki
lalu sepanjang itu buku-buku berceceran
sepanjang itu pula berbagai ilmu dilipatkan
kamar kos. trotoar menuju kampus
hari-hari yang panjang. noni-noni bermantel dingin melintas riang
pertempuran dan kemerdekaan
sampai pada lagu-lagu orang diburu. aku hanya mendengar kisah itu

lalu mengapa namaku tan malaka, bukankah itu sebuah nama yang angkuh?
tanya plang nama jalan itu, kepada sejarah yang berbaris
sejarah yang kadang dicurigai juga. warnanya barangkali merah
di sebelahnya kandang oto gagak hitam dan sinar riau menyimpan gelak
melihat beban yang dipikul plang itu
kadang ada yang lewat seraya bermata sabak
kadang ada sekedar berfoto lalu menulis entah apa
kadang ada yang bermata sabak itu berfoto sambil hormat sembunyi-sembunyi
mengenang atau berbasa-basi

mestikah namamu ellias fuentes, estahislau rivera, alisio rivera
sebagaimana cerita-cerita revolusi itu
atau ilyas husein, ong song lee, tan ming sion, hasan gozali?
tanya sebuah spanduk usang yang terbentang membelah jalan
satu talinya lepas tergujai-gujai. huruf yang tertera pun sudah tergerajai
serupa nama-nama asing yang ia sebut dengan terbata

plang jalan itu bergeming
menatap jauh sejauh pandang ke pandam gadang
sebuah rumah tua, kolam, dan surau. tak ada buku-buku itu di sana
selain barisan lengang di antara tebing dan lembah
seolah segala sesuatu tak pernah ada
oto dan onda lalu begitu saja. meninggalkan bising dan desing
kenangan bunyi peluru

sungguh berat menyandang namamu, tan, kata plang itu

jam kuning gading

mengapa kau berjalan terlalu lamban, tanya jarum panjang
pada jarum pendek. suatu masa ketika hujan dan angin kencang
pintu-pintu ditutup. suara sirene
dari jendela wabah terus mengintip. tak sekalipun berkedip
jam itu berwarna kuning gading. sejak kapan jarum panjang dan jarum pendek
berumah di situ, tak ada yang tahu
aku justru merasa lebih cepat dari langkahmu. dari setiap hela napas
kita begitu saja menjadi tua dan saling menunggu
tidakkah kaulihat di udara setiap hari pesan-pesan keberangkatan berterbangan
tak menanti detak-detik kita
entah berapa lama sudah keinginan terkepung
loteng, lukisan hitam putih di dinding, karpet lembab,
dan sebuah gitar usang yang terbengkalai. semua menatap atau berharap
karena gerak kita adalah usia

sekali waktu aku ingin berhenti, gumam jarum pendek
tetapi matahari selalu terbit
semuanya tiba-tiba bergegas entah ke mana. adakah menuju abadi
atau hanya sekedar hidup yang pura-pura

sekali waktu aku ingin kita jalan bersisian, balas jarum panjang
bersama-sama membantah waktu yang memaksa
agar memberi kita jeda untuk berdoa

dan pada suatu waktu rindu mereka pun bertemu
jarum pendek dan jarum panjang itu berpelukan. berhimpitan
mereka bercerita tentang rasa cemas, hujan, dan angin kencang
tentang sirene dan wabah yang terus mengintip
tunggu aku, tunggu aku, teriak jarum pendek ketika jarum panjang
kembali meninggalkan
tapi sesungguhnya mereka sama-sama menuju kematian

sebuah buku pada hari pembakaran

bersama tumpukan yang lain ia telah diculik terang-terangan
kejadian yang berulang. barangkali telah beralaf-alaf lamanya
tembakan artileri. bom yang merubuhkan gedung-gedung
atau luas lapang tempat pembakaran. bagai kesunyian yang tersimpan
dalam brangkas dingin. di antara rak-rak yang bersedih
malam itu di sela gugu burung hantu. sebuah tempat penyelesaian
ia menekur. tanpa rasa takluk dan tunduk
mendekap kata-kata dan alinea. gambar-gambar maupun sketsa
dingin berangin-angin
di depannya hantu berseragam kekuasaan, senjata laras panjang, bahkan panser
berbaris tanpa perkabungan

lembar-lembar yang gempal. halaman ingatan yang dituduh merecoki
membuka liang-liang sejarah. gua rahasia yang menyibak aib dunia
kucatatkan semua. kusimpan sebagaimana mereka menggilai kasih sayang
jika hari ini harus bertekuk
menerima akibat dari huruf-huruf. bukankah penghancuran buku serupa menutup
payung langit. unta-unta akan berjalan di dalam kelam
katanya menatap cakrawala
ia tak berdoa. tapi ia merasa bahagia

bunga api menari-nari di angkasa
kertas-kertas menghitam juga menari
tarian yang kemudian membentuk lubang-lubang aneh
lubang di kepala-kepala yang kosong
di bumi yang kosong

pada hari yang barangkali tak perlu dicatat. seketika ia ingat kota-kota
tempat aksara demi aksara menjadi abu. menjadi beku
pelan-pelan membunuh segala masa lalu

_____

KLIK PUISI-PUISI LAINNYA

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS | Jatuh Cinta, Sesungguhnya Sunyi
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra

Next Post

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Iyut Fitra

Iyut Fitra

Lahir di Payakumbuh 16 Februari. Karya-karyanya dalam bentuk puisi dan cerpen telah diterbitkan di berbagai media. Ia mendapatkan Anugerah Sastra dari Balai Bahasa Padang tahun 2009 sebagai pegiat yang telah berjasa membina dunia sastra dan penulisan kreatif di Sumatra Barat. Kini aktif di Komunitas Seni INTRO Payakumbuh.

Related Posts

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

by Wayan Esa Bhaskara
February 21, 2026
0
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Hikayat Begadang satu peringatan, bayangkanada tangga menuju surga, dan aku siap-siap menaridi bawahnya, malam kliwon baru saja usai tak ada...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

by Chusmeru
February 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Aku Tanpa-Mu Ramadan hari iniSama seperti saat lalu ya RabbMenghitung pinta yang tak habis di sela doaMenagih nyata yang tak...

Read moreDetails

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

by I Wayan Kuntara
February 15, 2026
0
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Aku Benci Politik aku benci politikdatang dengan senyum licikmanis kata-kata penuh retoriknamun di baliknya tersimpan taktik aku benci politikJanji-janji menggema...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

by Made Bryan Mahararta
February 14, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

Sepintas Kita pernah berjumpa meski sesaatdari pagi yang masih terasa beratsampai langit semakin gemerlapdan lampu jalan redup perlahan, padam Ku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

by Maria Utami
February 13, 2026
0
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Pengakuan Si Pahit dari Sumatra Aku tidak punya waktu untuk urusan asmaradi ketinggian yang manja.Lahir dari tanah Lampung yang keras...

Read moreDetails

Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

by Karst Mawardi
February 8, 2026
0
Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

AKTUAL preseden dan prediksijadi 2 sisi koin logammereka lemparkan itubukan buat ditangkap peristiwa jadi gentingtatkala koin mendaratmemaksa kita berpikirmelulu soal...

Read moreDetails
Next Post
Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Cinta yang Tak Menua | Cerpen Yahya Umar

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co