17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjay dan Kesantunan Berbahasa

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
September 4, 2020
in Esai
Anjay dan Kesantunan Berbahasa

Bahasa merupakan salah satu bentuk praktis sosial. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bahasa adalah bagian dari masyarakat. Di samping itu bahasa adalah sebuah proses sosial. Bahasa merupakan bagian dari masyarakat. Hal itu mengindikasikan bahwa masyarakat tidak bisa dilepaskan dari aktivitas penggunaan bahasa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fairclough (1989:23) “Language is a part of society; linguistic phenomena are social phenomena of special sort, and social phenomena are (in part) linguistic phenomena”. Fenomena kebahasaan merupakan proses sosial yang mencakup segala aktivitas kebahasaan, seperti mendengarkan, berbicara, menulis, dan  membaca serta melibatkan pemahaman terhadap konteks sosial sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai dengan baik.

Tujuan komunikasi dapat tercapai apabila peserta komunikasi dapat saling mentranmisi informasi dan dapat saling menjaga hubungan sosial. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Brown dan Yule (dalam Spencer dan Oatey (2001:2) bahwa fungsi bahasa sebagai fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Fungsi transaksional menekankan pada bagaimana informasi disampaikan dengan akurat sehingga apa yang dimaksud oleh pembicara dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara sebalikna, fungsi interaksional menekankan pada bagaimana peserta komunikasi tersebut saling menjaga hubungan sosial sehingga proses komunikasi dapat berlangsung dengan nyaman.

Pada fungsi transaksional ini peserta wicara diharapkan dapat melakukan interpretasi pada tingkatan teks dan konteks (Fairclough,1989:142). Selanjutnya dijelaskan bahwa pada interpretasi teks peserta wicara dihadapkan pada proses interpretasi surface of uttecance. Pada tahap ini peserta wicara melakukan dekode terhadap untaian bunyi yang didengar sehingga bunyi-bunyi tersebut dipahami sebagai kumpulan kata, frasa dan kalimat. Tahapan berikutnya adalah meaning utterance. Peserta wicara menentukan makna dari ujaran-ujaran tersebut dengan mengombinasikan makna dari setiap kata, informasi gramatikal, menangkap makna tersembunyi di balik kalimat-kalimat tersebut dan pada akhirnya peserta wicara dapat menangkap makna keseluruhan ujaran tersebut.

Bahasa sebagai proses sosial mencirikan bahwa segala aktivitas kebahasaan merupakan suatu proses produksi yang menghasilkan sebuah produk (teks). Menurut Fairclough (1989:24), teks tersebut merepresentasikan pengetahuan bahasa, alam, dunia sosial suatu masyarakat tertentu, bagaimana kepercayaannya, asumsinya, dan lain sebagainya.

Pernyataan tersebut mengimplikasikan bahwa untuk dapat menginterpretasikan suatu teks, yang merupakan proses sosial, seseorang diharapkan betul-betul memahami kehidupan sosial masyarakat, yang merupakan tempat diproduksinya teks tersebut. Seseorang tidak akan dapat melakukan proses interpretasi dengan mengabaikan faktor sosial yang mendukung proses produksi suatu teks. Hal itu terjadi karena pada prinsipnya proses interpretasi merupakan proses pemaknaan antara properti suatu teks dengan budaya masyarakat yang merupakan tempat teks tersebut dihasilkan. Budaya suatu masyarakat tertentu memengaruhi proses produksi suatu teks.

Kebudayaan suatu masyarakat tertentu, dimanifestasikan dalam berbagai bentuk lapisan mulai dari nilai-nilai, asumsi dasar, sistem kepercayaan, sikap, konvensi, sistem kemasyarakatan dan institusi, bentuk ritual, tingkah laku, artefak dan produk kebudayaan. Bentuk lapisan kebudayaan tersebut perlu dipahami karena pada prinsipnya sistem kebudayaan suatu masyarakat akan direalisasikan dalam bentuk tingkah laku dan bentuk lingual setiap anggota masyarakatnya. Hal inilah yang diperlukan dalam berkomunikasi. Setiap peserta wicara harus menjaga agar proses komunikasi dalam belangsung dengan baik.

Perilaku berbahasa yang baik setidaknya mengikuti etika berbahasa yang baik. Yang perlu diperhatikan dalam berbahasa adalah dengan siapa kita berbicara, dimana kita bicara, apa topik pembicaraan, ragam bahasa apa yang dipergunakan dalam bertutur. Hal ini sangat perlu diperhatikan sehingga setiap peserta wicara dapat memperhatikan kesantunan berbahasa.

Akhir-akhir ini masalah kesantunan berbahasa menjadi perhatian masyarakat. Pro dan kontra pemakaian kata anjay yang bermakna anjing. Kata anjing sering digunakan untuk mengumpat. Umpatan ini tentu dapat dimaknai berdasar konteks pemakaiannya. Bagaimana relasi antara petutur dan penutur. Apabila orang yang sedang bercakap-cakap merupakan teman akrab, pemakaian ungkapan kata anjing bermakna tidak kasar. Hal itu menunjukkan hubungan kedekatan antara petutur dan penutur.

Perubahan bentuk dari anjing menjadi anjay sebenarnya untuk menghilangkan makna kasar apabila kata tersebut dipakai sebagai umpatan. Komponen makna dari kata anjing telah berubah  setelah menjadi anjay (- kasar). Politikus, pengamat, dan ahli hukum yang sering menyelenggarakan diskusi di televisi tidak lepas dari penggunaan kata-kata yang dapat membuat lawan bicara terancam mukanya. Contohnya pemakaian kata dungu. Rezim pemerintah dikatakan dungu. Dungu /du·ngu/  berarti sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodo ( KBBI).Pemakaian kata ini tentu dapat dikatakan sebagai hinaan apalagi yang disebut dungu adalah seorang presiden.

Kaum intelektual yang seharusnya memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan mengedepankan prinsip kesantunan malah sebaliknya mempertotonkan kekerasan verbal dalam berdialog. Politisi, pengamat politik, dan ahli hukum tunjukkan kemampuan berkomunikasi yang harmonis sehingga hasil yang didiskusikan bermakna dan dapat dijadikan saran bagi pemerintah dalam menata perekonomian bangsa di tengah pandemi covid 19.

Tentu kita masih ingat gaya pemakaian bahasa mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Gaya bicara Ahok memang blak-blakan dan terkadang terdengar “kasar”. Gaya berbahasa Ahok menimbulkan pro dan kontra. Yang pro menilai gaya bicara Ahok biasa saja tidak ada yang kasar. Hal itu merupakan gaya bicaranya yang sudah pasti berbeda dengan gaya bicara orang lain. Yang kontra menyatakan bahwa pejabat publik tidak sepatutnya bebicara “kasar”. Mengumpat di depan publik dengan melontarkan kata maling, lu, gue, tabok. Pernyataan Ahok yang paling menuai kritikan karena membawa bahasa “toilet” saat diwawancarai secara langsung sebuah stasiun televisi swasta. Masyarakat yang kontra terhadap gaya berbicara Ahok mengkhawatirkan bahwa gaya berbicara pejabat (kasar)  akan ditiru oleh para remaja. Mereka akan menganggap berbicara kasar adalah sah-sah saja. Alasan tersebut dapat dibenarkan. Yang perlu diperhatikan adalah pemakaian bahasa pada tataran formal mensyaratkan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Hal tersebut mensyaratkan kepada peserta wicara untuk menggunakan bahasa yang santun dalam berkomunikasi.

 Kasar tidaknya penggunaan bahasa sangat dipengaruhi oleh tata nilai, budaya tempat berlangsungnya proses komunikasi. Seseorang yang menggunakan kata-kata kasar dalam berkomunikasi dengan teman akrabnya tidak dapat dinilai bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa yang kasar. Oleh karena faktor kedekatan antara peserta wicara tersebut, sehingga penggunaan bahasa yang dinilai kasar justru tidak dirasakan kasar karena jarak sosial antara peserta wicara begitu dekat. Konteks situasi pembicaran sangat menentukan apakah bahasa yang dipergunakan dalam berkomunikasi tergolong “kasar” atau tidak.

Jika diamati, misalnya dalam acara debat atau talk show, yang diselenggarakan oleh stasiun TV, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh antar  narasumber dan antara narasumber dengan peserta yang hadir dalam acara debat. Pelanggaran tersebut berupa ejekan yang sering dilakukan oleh narasumber yang satu terhadap narasumber yang lain. Ejekan tersebut dilakukan, disadari atau tidak, untuk menunjukkan bahwa narasumber tersebut lebih menguasai tentang topik pembicaraan yang sedang diperdebatkan. Saling ejek yang dipertontonkan di televisi dapat membawa dampak negatif pada masyarakat (remaja).  Hal ini tentu melanggar kesantunan dalam berbahasa.

Bahasa sebagai produk masyarakat dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan, pasti mempunyai kaidah kesantunan (Sumarsono, 2009:152). Dalam kajian sosiolinguistik dikenal beberapa ragam bahasa dalam satu bahasa dan salah satu dari ragam tersebut dipandang sebagai ragam hormat. Masyarakat dapat memilih ragam tersebut disesuaikan dengan konteks situasi di mana proses komunikasi  itu terjadi.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino]: MFW 6, Tetap Berkarya dengan Inovasi di Tengah Pandemi

Next Post

Perjalanan Menuju “Ubud Royal Weekend” 5 September 2020

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Perjalanan Menuju “Ubud Royal Weekend" 5 September 2020

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co