8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjay dan Kesantunan Berbahasa

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
September 4, 2020
in Esai
Anjay dan Kesantunan Berbahasa

Bahasa merupakan salah satu bentuk praktis sosial. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bahasa adalah bagian dari masyarakat. Di samping itu bahasa adalah sebuah proses sosial. Bahasa merupakan bagian dari masyarakat. Hal itu mengindikasikan bahwa masyarakat tidak bisa dilepaskan dari aktivitas penggunaan bahasa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fairclough (1989:23) “Language is a part of society; linguistic phenomena are social phenomena of special sort, and social phenomena are (in part) linguistic phenomena”. Fenomena kebahasaan merupakan proses sosial yang mencakup segala aktivitas kebahasaan, seperti mendengarkan, berbicara, menulis, dan  membaca serta melibatkan pemahaman terhadap konteks sosial sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai dengan baik.

Tujuan komunikasi dapat tercapai apabila peserta komunikasi dapat saling mentranmisi informasi dan dapat saling menjaga hubungan sosial. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Brown dan Yule (dalam Spencer dan Oatey (2001:2) bahwa fungsi bahasa sebagai fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Fungsi transaksional menekankan pada bagaimana informasi disampaikan dengan akurat sehingga apa yang dimaksud oleh pembicara dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara sebalikna, fungsi interaksional menekankan pada bagaimana peserta komunikasi tersebut saling menjaga hubungan sosial sehingga proses komunikasi dapat berlangsung dengan nyaman.

Pada fungsi transaksional ini peserta wicara diharapkan dapat melakukan interpretasi pada tingkatan teks dan konteks (Fairclough,1989:142). Selanjutnya dijelaskan bahwa pada interpretasi teks peserta wicara dihadapkan pada proses interpretasi surface of uttecance. Pada tahap ini peserta wicara melakukan dekode terhadap untaian bunyi yang didengar sehingga bunyi-bunyi tersebut dipahami sebagai kumpulan kata, frasa dan kalimat. Tahapan berikutnya adalah meaning utterance. Peserta wicara menentukan makna dari ujaran-ujaran tersebut dengan mengombinasikan makna dari setiap kata, informasi gramatikal, menangkap makna tersembunyi di balik kalimat-kalimat tersebut dan pada akhirnya peserta wicara dapat menangkap makna keseluruhan ujaran tersebut.

Bahasa sebagai proses sosial mencirikan bahwa segala aktivitas kebahasaan merupakan suatu proses produksi yang menghasilkan sebuah produk (teks). Menurut Fairclough (1989:24), teks tersebut merepresentasikan pengetahuan bahasa, alam, dunia sosial suatu masyarakat tertentu, bagaimana kepercayaannya, asumsinya, dan lain sebagainya.

Pernyataan tersebut mengimplikasikan bahwa untuk dapat menginterpretasikan suatu teks, yang merupakan proses sosial, seseorang diharapkan betul-betul memahami kehidupan sosial masyarakat, yang merupakan tempat diproduksinya teks tersebut. Seseorang tidak akan dapat melakukan proses interpretasi dengan mengabaikan faktor sosial yang mendukung proses produksi suatu teks. Hal itu terjadi karena pada prinsipnya proses interpretasi merupakan proses pemaknaan antara properti suatu teks dengan budaya masyarakat yang merupakan tempat teks tersebut dihasilkan. Budaya suatu masyarakat tertentu memengaruhi proses produksi suatu teks.

Kebudayaan suatu masyarakat tertentu, dimanifestasikan dalam berbagai bentuk lapisan mulai dari nilai-nilai, asumsi dasar, sistem kepercayaan, sikap, konvensi, sistem kemasyarakatan dan institusi, bentuk ritual, tingkah laku, artefak dan produk kebudayaan. Bentuk lapisan kebudayaan tersebut perlu dipahami karena pada prinsipnya sistem kebudayaan suatu masyarakat akan direalisasikan dalam bentuk tingkah laku dan bentuk lingual setiap anggota masyarakatnya. Hal inilah yang diperlukan dalam berkomunikasi. Setiap peserta wicara harus menjaga agar proses komunikasi dalam belangsung dengan baik.

Perilaku berbahasa yang baik setidaknya mengikuti etika berbahasa yang baik. Yang perlu diperhatikan dalam berbahasa adalah dengan siapa kita berbicara, dimana kita bicara, apa topik pembicaraan, ragam bahasa apa yang dipergunakan dalam bertutur. Hal ini sangat perlu diperhatikan sehingga setiap peserta wicara dapat memperhatikan kesantunan berbahasa.

Akhir-akhir ini masalah kesantunan berbahasa menjadi perhatian masyarakat. Pro dan kontra pemakaian kata anjay yang bermakna anjing. Kata anjing sering digunakan untuk mengumpat. Umpatan ini tentu dapat dimaknai berdasar konteks pemakaiannya. Bagaimana relasi antara petutur dan penutur. Apabila orang yang sedang bercakap-cakap merupakan teman akrab, pemakaian ungkapan kata anjing bermakna tidak kasar. Hal itu menunjukkan hubungan kedekatan antara petutur dan penutur.

Perubahan bentuk dari anjing menjadi anjay sebenarnya untuk menghilangkan makna kasar apabila kata tersebut dipakai sebagai umpatan. Komponen makna dari kata anjing telah berubah  setelah menjadi anjay (- kasar). Politikus, pengamat, dan ahli hukum yang sering menyelenggarakan diskusi di televisi tidak lepas dari penggunaan kata-kata yang dapat membuat lawan bicara terancam mukanya. Contohnya pemakaian kata dungu. Rezim pemerintah dikatakan dungu. Dungu /du·ngu/  berarti sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodo ( KBBI).Pemakaian kata ini tentu dapat dikatakan sebagai hinaan apalagi yang disebut dungu adalah seorang presiden.

Kaum intelektual yang seharusnya memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan mengedepankan prinsip kesantunan malah sebaliknya mempertotonkan kekerasan verbal dalam berdialog. Politisi, pengamat politik, dan ahli hukum tunjukkan kemampuan berkomunikasi yang harmonis sehingga hasil yang didiskusikan bermakna dan dapat dijadikan saran bagi pemerintah dalam menata perekonomian bangsa di tengah pandemi covid 19.

Tentu kita masih ingat gaya pemakaian bahasa mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Gaya bicara Ahok memang blak-blakan dan terkadang terdengar “kasar”. Gaya berbahasa Ahok menimbulkan pro dan kontra. Yang pro menilai gaya bicara Ahok biasa saja tidak ada yang kasar. Hal itu merupakan gaya bicaranya yang sudah pasti berbeda dengan gaya bicara orang lain. Yang kontra menyatakan bahwa pejabat publik tidak sepatutnya bebicara “kasar”. Mengumpat di depan publik dengan melontarkan kata maling, lu, gue, tabok. Pernyataan Ahok yang paling menuai kritikan karena membawa bahasa “toilet” saat diwawancarai secara langsung sebuah stasiun televisi swasta. Masyarakat yang kontra terhadap gaya berbicara Ahok mengkhawatirkan bahwa gaya berbicara pejabat (kasar)  akan ditiru oleh para remaja. Mereka akan menganggap berbicara kasar adalah sah-sah saja. Alasan tersebut dapat dibenarkan. Yang perlu diperhatikan adalah pemakaian bahasa pada tataran formal mensyaratkan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Hal tersebut mensyaratkan kepada peserta wicara untuk menggunakan bahasa yang santun dalam berkomunikasi.

 Kasar tidaknya penggunaan bahasa sangat dipengaruhi oleh tata nilai, budaya tempat berlangsungnya proses komunikasi. Seseorang yang menggunakan kata-kata kasar dalam berkomunikasi dengan teman akrabnya tidak dapat dinilai bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa yang kasar. Oleh karena faktor kedekatan antara peserta wicara tersebut, sehingga penggunaan bahasa yang dinilai kasar justru tidak dirasakan kasar karena jarak sosial antara peserta wicara begitu dekat. Konteks situasi pembicaran sangat menentukan apakah bahasa yang dipergunakan dalam berkomunikasi tergolong “kasar” atau tidak.

Jika diamati, misalnya dalam acara debat atau talk show, yang diselenggarakan oleh stasiun TV, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh antar  narasumber dan antara narasumber dengan peserta yang hadir dalam acara debat. Pelanggaran tersebut berupa ejekan yang sering dilakukan oleh narasumber yang satu terhadap narasumber yang lain. Ejekan tersebut dilakukan, disadari atau tidak, untuk menunjukkan bahwa narasumber tersebut lebih menguasai tentang topik pembicaraan yang sedang diperdebatkan. Saling ejek yang dipertontonkan di televisi dapat membawa dampak negatif pada masyarakat (remaja).  Hal ini tentu melanggar kesantunan dalam berbahasa.

Bahasa sebagai produk masyarakat dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan, pasti mempunyai kaidah kesantunan (Sumarsono, 2009:152). Dalam kajian sosiolinguistik dikenal beberapa ragam bahasa dalam satu bahasa dan salah satu dari ragam tersebut dipandang sebagai ragam hormat. Masyarakat dapat memilih ragam tersebut disesuaikan dengan konteks situasi di mana proses komunikasi  itu terjadi.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino]: MFW 6, Tetap Berkarya dengan Inovasi di Tengah Pandemi

Next Post

Perjalanan Menuju “Ubud Royal Weekend” 5 September 2020

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Perjalanan Menuju “Ubud Royal Weekend" 5 September 2020

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co