31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjay dan Kesantunan Berbahasa

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
September 4, 2020
in Esai
Anjay dan Kesantunan Berbahasa

Bahasa merupakan salah satu bentuk praktis sosial. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bahasa adalah bagian dari masyarakat. Di samping itu bahasa adalah sebuah proses sosial. Bahasa merupakan bagian dari masyarakat. Hal itu mengindikasikan bahwa masyarakat tidak bisa dilepaskan dari aktivitas penggunaan bahasa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fairclough (1989:23) “Language is a part of society; linguistic phenomena are social phenomena of special sort, and social phenomena are (in part) linguistic phenomena”. Fenomena kebahasaan merupakan proses sosial yang mencakup segala aktivitas kebahasaan, seperti mendengarkan, berbicara, menulis, dan  membaca serta melibatkan pemahaman terhadap konteks sosial sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai dengan baik.

Tujuan komunikasi dapat tercapai apabila peserta komunikasi dapat saling mentranmisi informasi dan dapat saling menjaga hubungan sosial. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Brown dan Yule (dalam Spencer dan Oatey (2001:2) bahwa fungsi bahasa sebagai fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Fungsi transaksional menekankan pada bagaimana informasi disampaikan dengan akurat sehingga apa yang dimaksud oleh pembicara dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara sebalikna, fungsi interaksional menekankan pada bagaimana peserta komunikasi tersebut saling menjaga hubungan sosial sehingga proses komunikasi dapat berlangsung dengan nyaman.

Pada fungsi transaksional ini peserta wicara diharapkan dapat melakukan interpretasi pada tingkatan teks dan konteks (Fairclough,1989:142). Selanjutnya dijelaskan bahwa pada interpretasi teks peserta wicara dihadapkan pada proses interpretasi surface of uttecance. Pada tahap ini peserta wicara melakukan dekode terhadap untaian bunyi yang didengar sehingga bunyi-bunyi tersebut dipahami sebagai kumpulan kata, frasa dan kalimat. Tahapan berikutnya adalah meaning utterance. Peserta wicara menentukan makna dari ujaran-ujaran tersebut dengan mengombinasikan makna dari setiap kata, informasi gramatikal, menangkap makna tersembunyi di balik kalimat-kalimat tersebut dan pada akhirnya peserta wicara dapat menangkap makna keseluruhan ujaran tersebut.

Bahasa sebagai proses sosial mencirikan bahwa segala aktivitas kebahasaan merupakan suatu proses produksi yang menghasilkan sebuah produk (teks). Menurut Fairclough (1989:24), teks tersebut merepresentasikan pengetahuan bahasa, alam, dunia sosial suatu masyarakat tertentu, bagaimana kepercayaannya, asumsinya, dan lain sebagainya.

Pernyataan tersebut mengimplikasikan bahwa untuk dapat menginterpretasikan suatu teks, yang merupakan proses sosial, seseorang diharapkan betul-betul memahami kehidupan sosial masyarakat, yang merupakan tempat diproduksinya teks tersebut. Seseorang tidak akan dapat melakukan proses interpretasi dengan mengabaikan faktor sosial yang mendukung proses produksi suatu teks. Hal itu terjadi karena pada prinsipnya proses interpretasi merupakan proses pemaknaan antara properti suatu teks dengan budaya masyarakat yang merupakan tempat teks tersebut dihasilkan. Budaya suatu masyarakat tertentu memengaruhi proses produksi suatu teks.

Kebudayaan suatu masyarakat tertentu, dimanifestasikan dalam berbagai bentuk lapisan mulai dari nilai-nilai, asumsi dasar, sistem kepercayaan, sikap, konvensi, sistem kemasyarakatan dan institusi, bentuk ritual, tingkah laku, artefak dan produk kebudayaan. Bentuk lapisan kebudayaan tersebut perlu dipahami karena pada prinsipnya sistem kebudayaan suatu masyarakat akan direalisasikan dalam bentuk tingkah laku dan bentuk lingual setiap anggota masyarakatnya. Hal inilah yang diperlukan dalam berkomunikasi. Setiap peserta wicara harus menjaga agar proses komunikasi dalam belangsung dengan baik.

Perilaku berbahasa yang baik setidaknya mengikuti etika berbahasa yang baik. Yang perlu diperhatikan dalam berbahasa adalah dengan siapa kita berbicara, dimana kita bicara, apa topik pembicaraan, ragam bahasa apa yang dipergunakan dalam bertutur. Hal ini sangat perlu diperhatikan sehingga setiap peserta wicara dapat memperhatikan kesantunan berbahasa.

Akhir-akhir ini masalah kesantunan berbahasa menjadi perhatian masyarakat. Pro dan kontra pemakaian kata anjay yang bermakna anjing. Kata anjing sering digunakan untuk mengumpat. Umpatan ini tentu dapat dimaknai berdasar konteks pemakaiannya. Bagaimana relasi antara petutur dan penutur. Apabila orang yang sedang bercakap-cakap merupakan teman akrab, pemakaian ungkapan kata anjing bermakna tidak kasar. Hal itu menunjukkan hubungan kedekatan antara petutur dan penutur.

Perubahan bentuk dari anjing menjadi anjay sebenarnya untuk menghilangkan makna kasar apabila kata tersebut dipakai sebagai umpatan. Komponen makna dari kata anjing telah berubah  setelah menjadi anjay (- kasar). Politikus, pengamat, dan ahli hukum yang sering menyelenggarakan diskusi di televisi tidak lepas dari penggunaan kata-kata yang dapat membuat lawan bicara terancam mukanya. Contohnya pemakaian kata dungu. Rezim pemerintah dikatakan dungu. Dungu /du·ngu/  berarti sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodo ( KBBI).Pemakaian kata ini tentu dapat dikatakan sebagai hinaan apalagi yang disebut dungu adalah seorang presiden.

Kaum intelektual yang seharusnya memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan mengedepankan prinsip kesantunan malah sebaliknya mempertotonkan kekerasan verbal dalam berdialog. Politisi, pengamat politik, dan ahli hukum tunjukkan kemampuan berkomunikasi yang harmonis sehingga hasil yang didiskusikan bermakna dan dapat dijadikan saran bagi pemerintah dalam menata perekonomian bangsa di tengah pandemi covid 19.

Tentu kita masih ingat gaya pemakaian bahasa mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Gaya bicara Ahok memang blak-blakan dan terkadang terdengar “kasar”. Gaya berbahasa Ahok menimbulkan pro dan kontra. Yang pro menilai gaya bicara Ahok biasa saja tidak ada yang kasar. Hal itu merupakan gaya bicaranya yang sudah pasti berbeda dengan gaya bicara orang lain. Yang kontra menyatakan bahwa pejabat publik tidak sepatutnya bebicara “kasar”. Mengumpat di depan publik dengan melontarkan kata maling, lu, gue, tabok. Pernyataan Ahok yang paling menuai kritikan karena membawa bahasa “toilet” saat diwawancarai secara langsung sebuah stasiun televisi swasta. Masyarakat yang kontra terhadap gaya berbicara Ahok mengkhawatirkan bahwa gaya berbicara pejabat (kasar)  akan ditiru oleh para remaja. Mereka akan menganggap berbicara kasar adalah sah-sah saja. Alasan tersebut dapat dibenarkan. Yang perlu diperhatikan adalah pemakaian bahasa pada tataran formal mensyaratkan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Hal tersebut mensyaratkan kepada peserta wicara untuk menggunakan bahasa yang santun dalam berkomunikasi.

 Kasar tidaknya penggunaan bahasa sangat dipengaruhi oleh tata nilai, budaya tempat berlangsungnya proses komunikasi. Seseorang yang menggunakan kata-kata kasar dalam berkomunikasi dengan teman akrabnya tidak dapat dinilai bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa yang kasar. Oleh karena faktor kedekatan antara peserta wicara tersebut, sehingga penggunaan bahasa yang dinilai kasar justru tidak dirasakan kasar karena jarak sosial antara peserta wicara begitu dekat. Konteks situasi pembicaran sangat menentukan apakah bahasa yang dipergunakan dalam berkomunikasi tergolong “kasar” atau tidak.

Jika diamati, misalnya dalam acara debat atau talk show, yang diselenggarakan oleh stasiun TV, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh antar  narasumber dan antara narasumber dengan peserta yang hadir dalam acara debat. Pelanggaran tersebut berupa ejekan yang sering dilakukan oleh narasumber yang satu terhadap narasumber yang lain. Ejekan tersebut dilakukan, disadari atau tidak, untuk menunjukkan bahwa narasumber tersebut lebih menguasai tentang topik pembicaraan yang sedang diperdebatkan. Saling ejek yang dipertontonkan di televisi dapat membawa dampak negatif pada masyarakat (remaja).  Hal ini tentu melanggar kesantunan dalam berbahasa.

Bahasa sebagai produk masyarakat dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan, pasti mempunyai kaidah kesantunan (Sumarsono, 2009:152). Dalam kajian sosiolinguistik dikenal beberapa ragam bahasa dalam satu bahasa dan salah satu dari ragam tersebut dipandang sebagai ragam hormat. Masyarakat dapat memilih ragam tersebut disesuaikan dengan konteks situasi di mana proses komunikasi  itu terjadi.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino]: MFW 6, Tetap Berkarya dengan Inovasi di Tengah Pandemi

Next Post

Perjalanan Menuju “Ubud Royal Weekend” 5 September 2020

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Perjalanan Menuju “Ubud Royal Weekend" 5 September 2020

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co