3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Purba di Sekitar Puncak Mundi, Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
August 28, 2020
in Opini
Cerita Purba di Sekitar Puncak Mundi, Nusa Penida

Pura Puncak Mundi dibangun di atas permukaan tertinggi NP, Bukit Puncak Mundi. Sumber foto: Kintamani.id

Di samping tandus, Pulau Nusa Penida (NP), Klungkung-Bali,  juga identik dengan geografi yang bersuhu cukup panas. Hampir semua wilayahnya memiliki iklim yang panas. Ya, hampir semua. Artinya, ada beberapa yang tidak panas. Salah satunya ialah Puncak Mundi. Titik tertinggi (lebih dari 500 mpl) di NP. Area ini sangat mudah dikenali dari kejauhan lewat petanda “sejumput hutan” di atasnya. Petanda yang tidak dimiliki oleh barisan bukit lain di NP. Selain tertinggi dan berhutan, Puncak Mundi juga memiliki cerita purba yang unik dan (mungkin) jarang diketahui oleh masyarakat luas.

Latar Cerita Leluhur

Anda pasti ingat dengan tokoh Dukuh Jumpungan, bukan? Nama yang sangat familiar bagi orang NP. Bahkan, mungkin juga dikenal hingga ke Bali daratan. Beliau diyakini sebagai leluhur pertama, yang mengadakan manusia di NP. Silsilah ini pernah ditulis oleh Jero Mangku Made Buda (2007) dalam bukunya yang berjudul Babad Nusa Penida. Beberapa referensi media digital juga mengungkapkan hal sama.

Konon, pada tahun Saka 50, Ida Bhatara Siwa bersama saktinya Dewi Uma turun ke bumi beserta pengikutnya yaitu Tri Purusa, Catur Lokha Pala dan Asta Gangga. Beliau turun menjelma (meraga manusia) di sebuah gunung yang bernama gunung Puncak Mundi (baca: Bukit Puncak Mundi).

Ida Bhatara Siwa menjelma seorang laki-laki (pandita) dan bergelar Dukuh Jumpungan. Sementara, Dewi Uma menjelma seorang perempuan bernama Ni Puri. Beberapa babad NP meyakini bahwa Dukuh Jumpungan dianggap sebagai manusia pertama di NP. Bahkan, eksistensi beliau juga dianggap berkaitan dengan cikal bakal nama Pulau Nusa Penida.

Dari cerita babad-babad yang pernah saya baca, nama Nusa Penida konon diambil dari frasa “manusa pandita”. Lama-kelamaan kata “manusa” menjadi Nusa dan “pandita” berubah menjadi Penida. Jadi, dari kacamata penulis babad NP, nama Nusa Penida merupakan reprensentasi dari sosok seorang pandita (orang suci) yaitu Dukuh Jumpungan.

Terkait dengan eksistensi Dukuh Jumpungan, ada pula yang mengaitkannya dengan pura Sad Kahyangan Penida. Keterkaitan ini tercantum dalam versi babad Ki Dukuh Jumpungan atau lebih dikenal dengan nama babad I Renggan. Menurut babad Ki Dukuh Jumpungan, keberadaan pura Sad Kahyangan Penida berkaitan dengan tokoh spiritual yang bernama Dukuh Jumpungan. Beliau adalah seorang brahmana dari Jambhu Dwipa (India Selatan) dan memiliki gelar Bhagawan Kanda. Beliau dipercaya sebagai titisan Sahyang Siwa guru.

Bhagawan Kanda melakukan perjalanan suci untuk mengajarkan kebenaran hingga di Hnu (Batu Belek), Nusa Gurun (maksudnya Nusa Penida). Kemudian, beliau tinggal di tepi Penida. Beliau inilah yang disinyalir mendirikan Pura Parahyangan Penida (Dalem Lingsir Segara Agung Penida). Pura ini diduga sebagai tempat pesraman dan sekaligus pemoksan dari Dukuh Jumpungan. Jadi, pura Parahyangan Penida dianggap sebagai pura tertua dan menjadi cikal bakal pura-pura lainnya di NP. Demikian yang dituturkan oleh I Wayan Tiasa, salah satu masyarakat Penida (dalam https://metrobali.com).

Dua versi eksistensi Dukuh Jumpungan tersebut mungkin memiliki kebenaran tersendiri. Versi perjalanan seorang manusia (orang suci), mungkin rasional menempati tepian pulau terlebih dahulu. Karena babad Dukuh Jumpungan menyebutkan bahwa Dukuh Jumpungan adalah seorang Bhagawan (orang suci).

Namun, jika Dukuh Jumpungan dikaitkan dengan penjelmaan langsung dari bhatara Siwa, maka latar Puncak Mundi sebagai peristiwa historis-spiritual juga sangat rasional. Saya tidak bermaksud memperdebatkan keduanya. Jika hendak memperdebatkan kebenaran ini, mungkin ahli sejarah atau ahli “perbabadan” yang lebih kompeten membahasnya.

Saya lebih tertarik melihat bahwa kedua versi yang disebutkan tadi tidak meragukan eksistensi seorang Dukuh Jumpungan. Keduanya, memiliki perspektif yang sama soal tokoh Dukuh Jumpungan. Tokoh spiritualis (rohaniawan) dan dianggap sebagai leluhur pertama bagi orang NP. Perbedaan yang mencolok mungkin terletak pada “klaim latar” atau tempat.

Versi babad Nusa Penida pada umumnya menyebutkan bahwa aktivitas religius yang dilakukan oleh Dukuh Jumpungan pertama dan berpusat di Puncak Mundi. Buda (2007) pernah menulis bahwa ketika Ida Bhatara Siwa (menjelma Dukuh Jumpungan) dan Dewi Uma (Ni Puri) turun ke bumi (di Puncak Mundi) juga membawa pengikut meraga manusia sebanyak 150 orang (dalam https://www.gotravelaindonesia.com).

Bersama ratusan pengikutnya, Dukuh Jumpungan membangun tempat tinggal yang disebut Padukuhan di area Gunung Mundhi yang rata (sekarang lokasi tersebut bernama Dusun Rata). Persis di Puncak Mundi, dibangunlah sebuah pesraman yang dikelilingi tetamanan. Sumber airnya konon berjumlah 8, yang disebut Asta Gangga. Sumber mata ini berasal dari Siwa Lokha, yang ikut turun bersama Ida Bhatara Siwa.

Konon, pesraman Puncak Mundi juga menjadi “saksi latar” terciptanya perahu besar nan indah. Perahu ini tercipta dari kekuatan adnyana, hasil semedhi dari Dukuh Jumpungan pada tahun Saka 60. Ide pembuatan perahu dilatarbelakangi oleh Pulau NP yang dikelilingi lautan. Perahu hasil semedhi itu, lalu diturunkan dari Puncak Mundi menuju ke arah utara yakni pesisir daerah Bodong. Selanjutnya, perahu itu digunakan berlayar menikmati lautan bersama sang istri.

Pada tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Keturunan dari I Merja inilah diyakini menjadi awal sejarah terbentuknya kesekian pura yang ada di NP, yang diawali dengan didirikannya pura Puncak Mundi (http://kb.alitmd.com).

Pura Puncak Mundi dibangun persis di dataran tertinggi Pulau NP. Keunikan arsitektur pura ini terlihat dari padmasana dengan pelipit dan empat tiangnya. Hiasannya menggunakan stiliran kala dan motif sulur sebagai simbol dari Siwa Buddha .

Lokasi pura penataran agung ini terbagi menjadi tiga yaitu jaba sisi, jaba tengah dan jeroan. Uniknya, area jaba tengahnya lebih luas dan area jeroan. Bale pekemitan banyak terdapat di area jaba sisi maupun jaba tengah. Ada tiga pura utama di sini yakni Pura Beji (persembahyangan I), Pura Krangkeng (II) dan Pura Puncak Mundi (III), stana Ida Batara Lingsir (https://www.kintamani.id).

Eksistensi Pura Puncak Mundi adalah “saksi latar” dari jejak Dukuh Jumpungan. Pura ini mungkin sebagai bukti empiris (spiritual) bahwa memang pernah terjadi denyut kehidupan purba dari leluhur orang NP yaitu Dukuh Jumpungan. Kemudian, babad memperkuat fakta denyut kehidupan tersebut. Meskipun tergolong karya sastra, babad diyakini mengandung kebenaran sejarah oleh kelompok masyarakat tertentu pada zamannya. Artinya, fakta tokoh Dukuh Jumpungan yang berlatar Puncak Mundi barangkali sudah dianggap kuat dari kacamata eksistensi pura dan babad.

Latar Cerita Geografis

Selain sebagai latar babad leluhur, Puncak Mundi juga menjadi tempat cerita musabab geografi NP yang tandus. Konon, dulu NP merupakan pulau yang subur dan berlimpah air. Karena faktor tertentu, pulau ini menjadi gersang seperti dikenal sekarang. Cerita ini tidak dilengkapi dengan bukti tertulis. Ia hidup dalam sastra lisan lalu diceritakan secara turun-temurun.

Saya adalah generasi yang masih beruntung mendapat estafet cerita itu dari kakek Kamasan (ayah dari ibu saya). Kakek menjadi pewaris cerita dari buyut saya. Warisan cerita lisan itu diceritakan oleh Kakek Kamasan ketika saya kecil hingga masuk sekolah dasar (tahun 80-an).

Pada setiap kesempatan, Kakek Kamasan bercerita kepada cucu-cucunya. Saya masuk di dalamnya. Beliau merupakan sumber literasi hidup bagi saya. Salah satu cerita yang paling sering diceritakan ialah soal musabab pulau NP yang tandus. Meskipun berulang-ulang, saya tidak pernah bosan mendengarkannya.

Menurut kakek saya, dulu pulau NP merupakan pulau yang subur. Sawah-sawah  membentang luas. Terus, air dari mana? Dari Puncak Mundi. Dengan muka ekspresif, Kakek Kamasan menceritakan bahwa Puncak Mundi memiliki sumber mata yang sangat deras. Sumber mata air inilah yang mengisi semua sungai yang ada di NP.

Tidak ada cerita kekeringan. Padi tumbuh subur di sawah-sawah petani. Biji buahnya lebat-lebat. Panen selalu melimpah. Intinya, kehidupan para petani di NP zaman itu sangat makmur.

Sayang, cerita kemakmuran itu tidak berlangsung lama. Berakhir di luar dugaan. Cerita bermula dari seorang ibu hamil besar, yang mandi di sekitar mata air Puncak Mundi. Orang-orang sudah memperingatkan dengan keras. Namun, ibu hamil itu tetap nekat menceburkan diri, sambil mencuci pakaian.

Bersamaan dengan kejadian itu, mendadak sumber mata air berhenti mengalir. Orang-orang yang menyaksikan menjadi kaget. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa—kecuali menerima kenyataan pahit itu dengan lapang dada. Sumber mata air di Puncak Mundi lenyap entah kemana. Imbasnya, sungai-sungai mendadak kering kerontang. Para petani kehilangan air. Sawah-sawah menjadi kering. Lama-kelamaan, sawah-sawah hilang digantikan oleh ladang-ladang yang tandus hingga sekarang.

Ada pula versi lain yang mengaitkan dengan keris raja Nusa. Versi ini pernah saya dengar dari seorang teman. Namun, sifatnya seperti potongan cerita. Konon, dulu raja Nusa pernah mengalami amarah yang tak terkendali. Sumbernya berasal dari beberapa bawahan raja yang berkhianat (membelot) kepada raja Bali daratan, entah berkaitan dengan kasus apa. Kurang jelas. Mungkin berkaitan dengan politik.

Ketika diketahui oleh raja Nusa, maka marahlah sang raja. Kemudian, raja Nusa menancapkan sebilah keris sakti entah di titik mana. Banyak orang menduga-duga, keris itu ditancapkan di Puncak Mundi. Kekuatan keris sakti itulah konon yang menyebabkan Pulau NP meranggas (baca: kering, tandus) seperti sekarang.

 Latar Cerita Peperangan Besar

Tidak hanya menjadi latar leluhur dan geografis, Puncak Mundi juga menjadi latar peperangan besar (dahsyat). Konon, dulu pernah berkuasa seorang raja di Nusa. Sebut saja raja Nusa. Di samping bijaksana, raja Nusa juga dikenal sakti mandraguna. Kesaktiannya, terdengar hingga ke Bali daratan. Salah satunya ke telinga raja Karangasem.

Karena itu, raja Karangasem berniat untuk menantang raja Nusa. Ia ingin raja Nusa tunduk di bawah kekuasaannya. Berkali-kali, raja Karangasem mengirim utusan meminta raja Nusa untuk menyerah. Namun, selalu ditolak oleh raja Nusa. Pernah pula, raja Karangasem mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh raja Nusa. Akan tetapi, tak satu pun yang berhasil membunuh raja Nusa.

Karena gagal, berangkatlah raja Karangasem ke Pulau NP bersama panglima dan beberapa prajuritnya. Ia menantang raja Nusa untuk perang tanding secara terbuka. Tantangan ini diterima oleh raja Nusa. Keduanya, sepakat memilih tempat perang tanding di Puncak Mundi.

Perang terbuka ini disaksikan oleh rakyat Nusa. Sebuah perang berkelas. Karena kedua raja ini dikatakan memiliki kesaktian yang berimbang. Perang tidak hanya menggunakan senjata fisik, tetapi juga diwarnai dengan gempuran-gempuran menggunakan tenaga dalam.

Suatu ketika, ada serangan tenaga dalam yang meleset. Tidak mengenai kedua raja tersebut, tetapi menghantam Puncak Bukit Mundi. Hantaman inilah yang menyebabkan ujung Puncak Mundi terlepas, lalu menggelinding ke bawah pulau hingga berhenti di Pantai Penida. Karena itulah, sekarang berdiri bongkahan batu besar di tengah laut Penida, dekat Pantai Penida (Crystal Bay). Batu berbentuk jineng ini dipercaya berkaitan dengan penggalan (potongan) Puncak Mundi.

Cerita perang besar lainnya masih berkaitan dengan raja Karangasem. Dahulu kala, pernah terjadi  perang besar dan terbuka antara raja Nusa dengan raja Karangasem. Tempatnya di Puncak Mundi. Namun, tidak detail diceritakan faktor penyebabnya. Kemungkinan berkaitan dengan kasus penaklukan.

Karena kedua belah pihak sama-sama sakti, maka sulit menentukan pemenangnya. Dalam kondisi seperti ini, raja Nusa memilih mengalah dengan catatan (syarat). Ia mengaku kalah, tetapi semua mata air di Puncak Mundi dipindahkan ke bawah Pulau NP. Itulah sebabnya, kini semua sumber mata air di Pulau NP berada di bawah tebing, dekat laut.

Begitulah, cerita-cerita purba yang pernah terjadi di Puncak Mundi. Sebagai sebuah karya sastra, tentu cerita-cerita tersebut tidak lepas dari unsur entertain dan terutama unsur edukasi (pesan moral). Pasti ada maksud-maksud (pesan moral) tertentu yang hendak disampaikan. Sayang, pesan moral itu mungkin agak sulit dipahami karena dibungkus dalam kode etik kesastraan. Agak sulit, tetapi selalu menarik untuk dinterpretasi sesuai konteks zamannya.

Secara global, saya menangkap cerita-cerita berlatar Puncak Mundi di atas, sebagai semacam pergulatan identitas. Ada indikasi orang-orang NP membangun citranya sejak lama. Pencitraan ini seolah-olah menjadi “benteng diri” atas serangan citra negatif dari dunia luar (misalnya, dari Bali daratan). Saya menduga, “gempuran cap premitif dan terisolir” sudah lama menyerang masyarakat NP.

Untuk mengantisipasi stereotip negatif itu, maka orang NP membangun citra diri, mulai dari cerita leluhur yakni Dukuh Jumpungan (seorang pandita). Ketokohan Dukuh Jumpungan diangkat untuk menunjukkan bahwa derajat masyarakat NP tidak boleh diremehkan. Bukankah pandita (brahmana) menjadi simbolik posisi sosial yang tinggi dalam masyarakat Bali (dikaitkan dengan kasta)?

Sementara itu, cerita kesuburan geografis merupakan bentuk sikap orang NP melawan kemiskinan dan ketertinggalan. Karena kegersangan dulu mungkin diidentikan dengan kelaparan (kemiskinan). Lewat cerita-cerita tentang kesuburan, orang NP sesungguhnya hendak menolak/ melawan kemiskinan.

Kemudian, perang yang membenturkan raja Nusa dan Karangasem bisa jadi semacam sikap bahwa SDM orang NP sejak dulu memang kompetitif, andal, dan tangguh. Mereka mampu bersaing dengan dunia luar. Cerita perang ini mungkin semacam motivasi dan sekaligus alarm bahwa masyarakat NP memiliki kesaktian (skill, kecerdasan, ilmu, dll) yang tidak kalah dengan masyarakat luar.

Selanjutnya, pemilihan Puncak Mundi sebagai latar membuat cerita menjadi terasa istimewa. Cerita tidak hanya menarik untuk didengar, tetapi menjadikan penikmat (orang NP) seolah-olah melihat sebuah panggung alam yang tinggi. Bisa jadi panggung yang tinggi itu membuat orang NP untuk selalu eling menatap ketinggian (masa mendatang) sebagai pertarungan untuk mencapai puncak diri (kesataraan derajat dan harga diri). [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19: Jawaban dari Pertanyaan-pertanyaan yang Sering Muncul di Tengah Masyarakat

Next Post

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co