23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Purba di Sekitar Puncak Mundi, Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
August 28, 2020
in Opini
Cerita Purba di Sekitar Puncak Mundi, Nusa Penida

Pura Puncak Mundi dibangun di atas permukaan tertinggi NP, Bukit Puncak Mundi. Sumber foto: Kintamani.id

Di samping tandus, Pulau Nusa Penida (NP), Klungkung-Bali,  juga identik dengan geografi yang bersuhu cukup panas. Hampir semua wilayahnya memiliki iklim yang panas. Ya, hampir semua. Artinya, ada beberapa yang tidak panas. Salah satunya ialah Puncak Mundi. Titik tertinggi (lebih dari 500 mpl) di NP. Area ini sangat mudah dikenali dari kejauhan lewat petanda “sejumput hutan” di atasnya. Petanda yang tidak dimiliki oleh barisan bukit lain di NP. Selain tertinggi dan berhutan, Puncak Mundi juga memiliki cerita purba yang unik dan (mungkin) jarang diketahui oleh masyarakat luas.

Latar Cerita Leluhur

Anda pasti ingat dengan tokoh Dukuh Jumpungan, bukan? Nama yang sangat familiar bagi orang NP. Bahkan, mungkin juga dikenal hingga ke Bali daratan. Beliau diyakini sebagai leluhur pertama, yang mengadakan manusia di NP. Silsilah ini pernah ditulis oleh Jero Mangku Made Buda (2007) dalam bukunya yang berjudul Babad Nusa Penida. Beberapa referensi media digital juga mengungkapkan hal sama.

Konon, pada tahun Saka 50, Ida Bhatara Siwa bersama saktinya Dewi Uma turun ke bumi beserta pengikutnya yaitu Tri Purusa, Catur Lokha Pala dan Asta Gangga. Beliau turun menjelma (meraga manusia) di sebuah gunung yang bernama gunung Puncak Mundi (baca: Bukit Puncak Mundi).

Ida Bhatara Siwa menjelma seorang laki-laki (pandita) dan bergelar Dukuh Jumpungan. Sementara, Dewi Uma menjelma seorang perempuan bernama Ni Puri. Beberapa babad NP meyakini bahwa Dukuh Jumpungan dianggap sebagai manusia pertama di NP. Bahkan, eksistensi beliau juga dianggap berkaitan dengan cikal bakal nama Pulau Nusa Penida.

Dari cerita babad-babad yang pernah saya baca, nama Nusa Penida konon diambil dari frasa “manusa pandita”. Lama-kelamaan kata “manusa” menjadi Nusa dan “pandita” berubah menjadi Penida. Jadi, dari kacamata penulis babad NP, nama Nusa Penida merupakan reprensentasi dari sosok seorang pandita (orang suci) yaitu Dukuh Jumpungan.

Terkait dengan eksistensi Dukuh Jumpungan, ada pula yang mengaitkannya dengan pura Sad Kahyangan Penida. Keterkaitan ini tercantum dalam versi babad Ki Dukuh Jumpungan atau lebih dikenal dengan nama babad I Renggan. Menurut babad Ki Dukuh Jumpungan, keberadaan pura Sad Kahyangan Penida berkaitan dengan tokoh spiritual yang bernama Dukuh Jumpungan. Beliau adalah seorang brahmana dari Jambhu Dwipa (India Selatan) dan memiliki gelar Bhagawan Kanda. Beliau dipercaya sebagai titisan Sahyang Siwa guru.

Bhagawan Kanda melakukan perjalanan suci untuk mengajarkan kebenaran hingga di Hnu (Batu Belek), Nusa Gurun (maksudnya Nusa Penida). Kemudian, beliau tinggal di tepi Penida. Beliau inilah yang disinyalir mendirikan Pura Parahyangan Penida (Dalem Lingsir Segara Agung Penida). Pura ini diduga sebagai tempat pesraman dan sekaligus pemoksan dari Dukuh Jumpungan. Jadi, pura Parahyangan Penida dianggap sebagai pura tertua dan menjadi cikal bakal pura-pura lainnya di NP. Demikian yang dituturkan oleh I Wayan Tiasa, salah satu masyarakat Penida (dalam https://metrobali.com).

Dua versi eksistensi Dukuh Jumpungan tersebut mungkin memiliki kebenaran tersendiri. Versi perjalanan seorang manusia (orang suci), mungkin rasional menempati tepian pulau terlebih dahulu. Karena babad Dukuh Jumpungan menyebutkan bahwa Dukuh Jumpungan adalah seorang Bhagawan (orang suci).

Namun, jika Dukuh Jumpungan dikaitkan dengan penjelmaan langsung dari bhatara Siwa, maka latar Puncak Mundi sebagai peristiwa historis-spiritual juga sangat rasional. Saya tidak bermaksud memperdebatkan keduanya. Jika hendak memperdebatkan kebenaran ini, mungkin ahli sejarah atau ahli “perbabadan” yang lebih kompeten membahasnya.

Saya lebih tertarik melihat bahwa kedua versi yang disebutkan tadi tidak meragukan eksistensi seorang Dukuh Jumpungan. Keduanya, memiliki perspektif yang sama soal tokoh Dukuh Jumpungan. Tokoh spiritualis (rohaniawan) dan dianggap sebagai leluhur pertama bagi orang NP. Perbedaan yang mencolok mungkin terletak pada “klaim latar” atau tempat.

Versi babad Nusa Penida pada umumnya menyebutkan bahwa aktivitas religius yang dilakukan oleh Dukuh Jumpungan pertama dan berpusat di Puncak Mundi. Buda (2007) pernah menulis bahwa ketika Ida Bhatara Siwa (menjelma Dukuh Jumpungan) dan Dewi Uma (Ni Puri) turun ke bumi (di Puncak Mundi) juga membawa pengikut meraga manusia sebanyak 150 orang (dalam https://www.gotravelaindonesia.com).

Bersama ratusan pengikutnya, Dukuh Jumpungan membangun tempat tinggal yang disebut Padukuhan di area Gunung Mundhi yang rata (sekarang lokasi tersebut bernama Dusun Rata). Persis di Puncak Mundi, dibangunlah sebuah pesraman yang dikelilingi tetamanan. Sumber airnya konon berjumlah 8, yang disebut Asta Gangga. Sumber mata ini berasal dari Siwa Lokha, yang ikut turun bersama Ida Bhatara Siwa.

Konon, pesraman Puncak Mundi juga menjadi “saksi latar” terciptanya perahu besar nan indah. Perahu ini tercipta dari kekuatan adnyana, hasil semedhi dari Dukuh Jumpungan pada tahun Saka 60. Ide pembuatan perahu dilatarbelakangi oleh Pulau NP yang dikelilingi lautan. Perahu hasil semedhi itu, lalu diturunkan dari Puncak Mundi menuju ke arah utara yakni pesisir daerah Bodong. Selanjutnya, perahu itu digunakan berlayar menikmati lautan bersama sang istri.

Pada tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Keturunan dari I Merja inilah diyakini menjadi awal sejarah terbentuknya kesekian pura yang ada di NP, yang diawali dengan didirikannya pura Puncak Mundi (http://kb.alitmd.com).

Pura Puncak Mundi dibangun persis di dataran tertinggi Pulau NP. Keunikan arsitektur pura ini terlihat dari padmasana dengan pelipit dan empat tiangnya. Hiasannya menggunakan stiliran kala dan motif sulur sebagai simbol dari Siwa Buddha .

Lokasi pura penataran agung ini terbagi menjadi tiga yaitu jaba sisi, jaba tengah dan jeroan. Uniknya, area jaba tengahnya lebih luas dan area jeroan. Bale pekemitan banyak terdapat di area jaba sisi maupun jaba tengah. Ada tiga pura utama di sini yakni Pura Beji (persembahyangan I), Pura Krangkeng (II) dan Pura Puncak Mundi (III), stana Ida Batara Lingsir (https://www.kintamani.id).

Eksistensi Pura Puncak Mundi adalah “saksi latar” dari jejak Dukuh Jumpungan. Pura ini mungkin sebagai bukti empiris (spiritual) bahwa memang pernah terjadi denyut kehidupan purba dari leluhur orang NP yaitu Dukuh Jumpungan. Kemudian, babad memperkuat fakta denyut kehidupan tersebut. Meskipun tergolong karya sastra, babad diyakini mengandung kebenaran sejarah oleh kelompok masyarakat tertentu pada zamannya. Artinya, fakta tokoh Dukuh Jumpungan yang berlatar Puncak Mundi barangkali sudah dianggap kuat dari kacamata eksistensi pura dan babad.

Latar Cerita Geografis

Selain sebagai latar babad leluhur, Puncak Mundi juga menjadi tempat cerita musabab geografi NP yang tandus. Konon, dulu NP merupakan pulau yang subur dan berlimpah air. Karena faktor tertentu, pulau ini menjadi gersang seperti dikenal sekarang. Cerita ini tidak dilengkapi dengan bukti tertulis. Ia hidup dalam sastra lisan lalu diceritakan secara turun-temurun.

Saya adalah generasi yang masih beruntung mendapat estafet cerita itu dari kakek Kamasan (ayah dari ibu saya). Kakek menjadi pewaris cerita dari buyut saya. Warisan cerita lisan itu diceritakan oleh Kakek Kamasan ketika saya kecil hingga masuk sekolah dasar (tahun 80-an).

Pada setiap kesempatan, Kakek Kamasan bercerita kepada cucu-cucunya. Saya masuk di dalamnya. Beliau merupakan sumber literasi hidup bagi saya. Salah satu cerita yang paling sering diceritakan ialah soal musabab pulau NP yang tandus. Meskipun berulang-ulang, saya tidak pernah bosan mendengarkannya.

Menurut kakek saya, dulu pulau NP merupakan pulau yang subur. Sawah-sawah  membentang luas. Terus, air dari mana? Dari Puncak Mundi. Dengan muka ekspresif, Kakek Kamasan menceritakan bahwa Puncak Mundi memiliki sumber mata yang sangat deras. Sumber mata air inilah yang mengisi semua sungai yang ada di NP.

Tidak ada cerita kekeringan. Padi tumbuh subur di sawah-sawah petani. Biji buahnya lebat-lebat. Panen selalu melimpah. Intinya, kehidupan para petani di NP zaman itu sangat makmur.

Sayang, cerita kemakmuran itu tidak berlangsung lama. Berakhir di luar dugaan. Cerita bermula dari seorang ibu hamil besar, yang mandi di sekitar mata air Puncak Mundi. Orang-orang sudah memperingatkan dengan keras. Namun, ibu hamil itu tetap nekat menceburkan diri, sambil mencuci pakaian.

Bersamaan dengan kejadian itu, mendadak sumber mata air berhenti mengalir. Orang-orang yang menyaksikan menjadi kaget. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa—kecuali menerima kenyataan pahit itu dengan lapang dada. Sumber mata air di Puncak Mundi lenyap entah kemana. Imbasnya, sungai-sungai mendadak kering kerontang. Para petani kehilangan air. Sawah-sawah menjadi kering. Lama-kelamaan, sawah-sawah hilang digantikan oleh ladang-ladang yang tandus hingga sekarang.

Ada pula versi lain yang mengaitkan dengan keris raja Nusa. Versi ini pernah saya dengar dari seorang teman. Namun, sifatnya seperti potongan cerita. Konon, dulu raja Nusa pernah mengalami amarah yang tak terkendali. Sumbernya berasal dari beberapa bawahan raja yang berkhianat (membelot) kepada raja Bali daratan, entah berkaitan dengan kasus apa. Kurang jelas. Mungkin berkaitan dengan politik.

Ketika diketahui oleh raja Nusa, maka marahlah sang raja. Kemudian, raja Nusa menancapkan sebilah keris sakti entah di titik mana. Banyak orang menduga-duga, keris itu ditancapkan di Puncak Mundi. Kekuatan keris sakti itulah konon yang menyebabkan Pulau NP meranggas (baca: kering, tandus) seperti sekarang.

 Latar Cerita Peperangan Besar

Tidak hanya menjadi latar leluhur dan geografis, Puncak Mundi juga menjadi latar peperangan besar (dahsyat). Konon, dulu pernah berkuasa seorang raja di Nusa. Sebut saja raja Nusa. Di samping bijaksana, raja Nusa juga dikenal sakti mandraguna. Kesaktiannya, terdengar hingga ke Bali daratan. Salah satunya ke telinga raja Karangasem.

Karena itu, raja Karangasem berniat untuk menantang raja Nusa. Ia ingin raja Nusa tunduk di bawah kekuasaannya. Berkali-kali, raja Karangasem mengirim utusan meminta raja Nusa untuk menyerah. Namun, selalu ditolak oleh raja Nusa. Pernah pula, raja Karangasem mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh raja Nusa. Akan tetapi, tak satu pun yang berhasil membunuh raja Nusa.

Karena gagal, berangkatlah raja Karangasem ke Pulau NP bersama panglima dan beberapa prajuritnya. Ia menantang raja Nusa untuk perang tanding secara terbuka. Tantangan ini diterima oleh raja Nusa. Keduanya, sepakat memilih tempat perang tanding di Puncak Mundi.

Perang terbuka ini disaksikan oleh rakyat Nusa. Sebuah perang berkelas. Karena kedua raja ini dikatakan memiliki kesaktian yang berimbang. Perang tidak hanya menggunakan senjata fisik, tetapi juga diwarnai dengan gempuran-gempuran menggunakan tenaga dalam.

Suatu ketika, ada serangan tenaga dalam yang meleset. Tidak mengenai kedua raja tersebut, tetapi menghantam Puncak Bukit Mundi. Hantaman inilah yang menyebabkan ujung Puncak Mundi terlepas, lalu menggelinding ke bawah pulau hingga berhenti di Pantai Penida. Karena itulah, sekarang berdiri bongkahan batu besar di tengah laut Penida, dekat Pantai Penida (Crystal Bay). Batu berbentuk jineng ini dipercaya berkaitan dengan penggalan (potongan) Puncak Mundi.

Cerita perang besar lainnya masih berkaitan dengan raja Karangasem. Dahulu kala, pernah terjadi  perang besar dan terbuka antara raja Nusa dengan raja Karangasem. Tempatnya di Puncak Mundi. Namun, tidak detail diceritakan faktor penyebabnya. Kemungkinan berkaitan dengan kasus penaklukan.

Karena kedua belah pihak sama-sama sakti, maka sulit menentukan pemenangnya. Dalam kondisi seperti ini, raja Nusa memilih mengalah dengan catatan (syarat). Ia mengaku kalah, tetapi semua mata air di Puncak Mundi dipindahkan ke bawah Pulau NP. Itulah sebabnya, kini semua sumber mata air di Pulau NP berada di bawah tebing, dekat laut.

Begitulah, cerita-cerita purba yang pernah terjadi di Puncak Mundi. Sebagai sebuah karya sastra, tentu cerita-cerita tersebut tidak lepas dari unsur entertain dan terutama unsur edukasi (pesan moral). Pasti ada maksud-maksud (pesan moral) tertentu yang hendak disampaikan. Sayang, pesan moral itu mungkin agak sulit dipahami karena dibungkus dalam kode etik kesastraan. Agak sulit, tetapi selalu menarik untuk dinterpretasi sesuai konteks zamannya.

Secara global, saya menangkap cerita-cerita berlatar Puncak Mundi di atas, sebagai semacam pergulatan identitas. Ada indikasi orang-orang NP membangun citranya sejak lama. Pencitraan ini seolah-olah menjadi “benteng diri” atas serangan citra negatif dari dunia luar (misalnya, dari Bali daratan). Saya menduga, “gempuran cap premitif dan terisolir” sudah lama menyerang masyarakat NP.

Untuk mengantisipasi stereotip negatif itu, maka orang NP membangun citra diri, mulai dari cerita leluhur yakni Dukuh Jumpungan (seorang pandita). Ketokohan Dukuh Jumpungan diangkat untuk menunjukkan bahwa derajat masyarakat NP tidak boleh diremehkan. Bukankah pandita (brahmana) menjadi simbolik posisi sosial yang tinggi dalam masyarakat Bali (dikaitkan dengan kasta)?

Sementara itu, cerita kesuburan geografis merupakan bentuk sikap orang NP melawan kemiskinan dan ketertinggalan. Karena kegersangan dulu mungkin diidentikan dengan kelaparan (kemiskinan). Lewat cerita-cerita tentang kesuburan, orang NP sesungguhnya hendak menolak/ melawan kemiskinan.

Kemudian, perang yang membenturkan raja Nusa dan Karangasem bisa jadi semacam sikap bahwa SDM orang NP sejak dulu memang kompetitif, andal, dan tangguh. Mereka mampu bersaing dengan dunia luar. Cerita perang ini mungkin semacam motivasi dan sekaligus alarm bahwa masyarakat NP memiliki kesaktian (skill, kecerdasan, ilmu, dll) yang tidak kalah dengan masyarakat luar.

Selanjutnya, pemilihan Puncak Mundi sebagai latar membuat cerita menjadi terasa istimewa. Cerita tidak hanya menarik untuk didengar, tetapi menjadikan penikmat (orang NP) seolah-olah melihat sebuah panggung alam yang tinggi. Bisa jadi panggung yang tinggi itu membuat orang NP untuk selalu eling menatap ketinggian (masa mendatang) sebagai pertarungan untuk mencapai puncak diri (kesataraan derajat dan harga diri). [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19: Jawaban dari Pertanyaan-pertanyaan yang Sering Muncul di Tengah Masyarakat

Next Post

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails
Next Post
[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co