6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyӗpi dan Api

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 9, 2020
in Esai
Nyӗpi dan Api

Ilustrasi Manik Sukadana [diolah dari sumber pixabay.com]

Rujukan Sastra

Enjangnya anyӗpi mati gӗni, tan wӗnang anambut gawe, salwirnya, agӗni-agӗni kunang saparani genahnya, kalinganya, sang wruh ing tatwa jñana Samadhi, glarakna yoga Samadhi [Sundarigama. 9].

[besoknya Anyepi mati api, tidak boleh melakukan kerja, di antaranya, berapi- api di segala tempatnya, demikian katanya, orang yang paham dalam hakikat pengetahuan pembebasan samadi, akan menggelar yoga samadi].

_____

Teks Sundarigama jelas menyebut Anyӗpi untuk mengistilahkan Nyӗpi. Kedua kata tersebut tidak berbeda artinya, yaitu melakukan sesuatu untuk mencapai sepi. Yang dilakukan adalah tidak boleh bekerja [tan wӗnang anambut gawe]. Bekerja dalam konteks ini diartikan sebagai ‘berapi di segala tempatnya’ [agӗni-agӗni kunang saparani genahnya]. Maksudnya, tidak boleh ada api dimana-mana. Api apakah yangdimaksud? Ada beberapa jenis-jenis api yang dicatat dalam berbagai pustaka. Jenis- jenis api itu sebagai berikut.

Teks Agastia Parwa menyebut tiga jenis api yaitu Suci, Pawamana dan Pawaka. Ketiganya adalah sumber api, disebut Sang Hyang Agni Rahasya. Suci adalah sumber api dari matahari. Pawamana, sumber api dalam air. Pawaka, sumber api dari tanah[2].

Teks       Sarasamuccaya            juga     menyebutkan   tiga      jenis     api            berdasarkan pemakaiannya: Ahawanya Agni, Grhaspati Agni dan Citta Agni. Ahawanya Agni adalah api  yang  digunakan untuk  memasak  makanan.  Grhaspati  Agni adalah api saksi dalam upacara perkawinan. Citta Agni adalah api saat pembakaran jenasah.[3] Selain  keenam  nama-nama  api  di  atas,  ada  lagi  beberapa  nama  api  yang disebutkan dalam teks Candrāgni. Nama-nama api itu adalah sebagai berikut.

Api di Pande Besi, Puwaka namanya. Api di Pande Mas, Siki namanya. Apinya Bhatara Brahma, Tanda namanya. Api dari Apuyengan, Adana namanya. Api dari Adang, Trinirama namanya. Api yang tiga, Bhujol namanya. Api dari Wanteran, Ana namanya. Api dari lampu rumah, Usti namanya. Api dari upacara homa, Jata namanya. Api dalam panggangan, Weda namanya. Ketika api dalam pembakaran korban, Uti namanya. Api dari pembakaran orang meninggal, Daha namanya. Api yang berada di Sanggar, dan api pada saat pembakaran padi, Lena namanya. Api di dalam tubuh, Puhika namanya. Api yang muncul dari daging, Iga namanya. Api dari orang yang menaiki bukit, Uningan namanya. Api dalam lampu wayang, di antaranya bernama, Sapwawa, Srengen.[4].

Api di dalam rumah, Wesa Nala namanya. Api di hutan, Jaga Setra namanya. Api perahu, Bada Nala namanya. Api dalam hati, rahitangsa, namanya. Api dalam Alaya, Bahni namanya. Api dalam Kamasan, dahana, namanya. Api dalam Palancungan, Anitangsa namanya. Api dalam Rendalindung, hredanala namanya. Api dalam nelayan, Sanda Nala namanya. Api dalam pembakaran, dan dalam kunda, Dusa Nala namanya. Api dalam Pangembutan Angguba Manjar Sirna, memanaskan air, Pakanala namanya. Api di tempat penjagalan, dan dapur, Kusya Danu namanya. Api pada Padupan, Kresna Atma namanya. Api dalam membuat senjata, Tanu Patwa namanya. Api dalam Paleman, Piraksana namanya. Api dalam lampu, Rekanda namanya. Api dalam lampu suar, Bhama Nala namanya. Api di Tumangan, Aywana namanya. Api dalam batu, Karnala namanya. Api saat membakar di rumah, Pawaka namanya. Api di dapur, [?], namanya. Api dari Surya Kanta, Rukma Nala namanya. Api di Dengen, Srikinala namanya. Api dari kesaktian, Brajaja Nala namanya. Sebabnya api dari kayu, diusahakan oleh manusia itulah disebut api, maka lenyap segala bentuk. Benar-benar disebut Praja Nala[5].

Ada banyak jenis api jika merujuk pada tiga teks yang telah disebutkan yaitu Agastia Parwa, Sarasamuccaya dan Candrāgni. Jika teks Sundarigama mengatakan bahwa tidak boleh ada api, bisa dikatakan semua jenis api yang disebutkan oleh tiga teks tadi adalah api yang dimaksud. Tapi bagaimana caranya meniadakan api Suci yang bersumber dari matahari? Atau bagaimana meniadakan api Pawamana yang bersumber dari Air? Begitu pula Pawaka yang bersumber dari tanah?

Ketiga sumber api ini tidak mungkin ditiadakan begitu saja sebab ketiganya tidak dikendalikan oleh manusia tapi hukum alam [Rta]. Tetapi tiga jenis api sesuai pemanfaatannya bisa ditiadakan. Ahawa Agni bisa ditiadakan dengan cara tidak memasak. Grhaspati Agni dengan tidak melakukan upacara perkawinan. Sedangkan Citta Agni ditiadakan dengan tidak melakukan upacara pembakaran jenasah.

Sampai pada titik itu, ada jenis-jenis api yang bisa dikendalikan oleh manusia dan ada yang tidak. Tentang pengendalian api, pada suatu bagian dari teks Yama Purwa Tattwa ada cerita tentang Ida Pedanda Sakti Ender yang mampu mengendalikan matahari. Kemampuan seperti itu, bisa disebut sebagai kemampuan mengendalikan api. Jadi Anyӗpi dimaksudkan untuk mengendalikan api. Mati Gӗni berarti meniadakan api yang dalam batas tertentu bisa dikendalikan oleh manusia. Dengan demikian, jelaslah mengapa sehari setelah Nyӗpi disebut Ngӗmbak Gӗni. Ngӗmbak berasal dari kata ӗmbak yang berarti buka. Ngӗmbak adalah bentukan kata kerja yang berarti membuka. Ngӗmbak Gӗni berarti membuka api atau membuka lebar-lebar jalannya api.

Perhitungan Wariga

Tahun ini [2020], Nyӗpi dilakukan pada tanggal 25 Maret. Penetapan ini didasarkan atas perhitungan Purnama-Tilӗm. Umumnya, Nyӗpi dilakukan sehari setelah Tilӗm pada bulan Caitra [IX]. Dengan demikian, Nyӗpi didapat dengan menghitung peredaran bulan mengelilingi bumi. Perhitungan yang didasarkan pada peredaran dan posisi bulan disebut Candra Pramana.

Agastia[6] [2005: 36] menyebut bahwa tahun baru Saka ditetapkan pertama kali pada tanggal 22 Maret 79 oleh raja Kaniska. Penetapan ini dilakukan karena sehari sebelumnya terjadi gerhana matahari total[7]. Gerhana matahari terjadi karena Matahari, Bumi dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Perhitungan yang dilakukan dengan mengamati posisi matahari disebut Surya Pramana. Agastia juga menjelaskan, gerhana matahari terjadi pada saat Tilӗm. Sedangkan gerhana Bulan terjadi saat Purnama.

Berdasarkan data dari laman langitselatan.com[8], beberapa perkiraan tanggal gerhana bulan dan matahari dapat dilihat. Ada beberapa kali gerhana bulan dan matahari yang akan terjadi di tahun 2020 ini. Perkiraan tanggal dan jenis gerhananya adalah 11 Januari [Bulan Penumbra], 6 Juni [Bulan Penumbra], 21 Juni [Matahari Cincin], 5 Juli [Bulan Penumbra], 30 November [Bulan Penumbra], 14 Desember [Matahari Total]. Dari data tersebut, bisa dibandingkan dengan kalender yang umum digunakan di Bali sebagai berikut.

Perbandingan Tanggal Gerhana dan Purnama-Tilӗm Th. 2020

Dilihat dari perbandingan di atas, memang benar tiap-tiap gerhana bulan tepat atau mendekati Purnama, sedangkan gerhana matahari tepat atau mendekati Tilӗm.

Berdasarkan pada Candra dan Surya Pramana itulah bisa ditentukan hari Nyӗpi sebagaimana dilakukan oleh raja Kaniska.

Permasalahan terjadi pada tahun 2020 ini, sebab hari Nyӗpi tidak secara tepat dilakukan pada Pananggal 1 bulan Caitra. Menurut perhitungan wariga, Nyepi kali ini jatuh pada pananggal ping 2 bulan Caitra. Hal itu disebabkan oleh pangunya ratri yang jatuh pada Buda Kliwon Pahang. Peristiwa ngunya ratri tersebut dalam perhitungan wariga juga diistilahkan sebagai Pangalantaka Pangalihan. Pangalihan pada Buda Kliwon Pahang ini disebut Panca Pahang[11]. Akibat pengalihan ini, maka Tilem 15 menjadi Pananggal 1, disebut Sasih Anglaywan. Perhitungan seterusnya pun dipengaruhi, yakni pananggal ping 10 menjadi ping 11, sedangkan panglong ping 5 menjadi ping 6.

Pangalantaka Pangalihan sesungguhnya pernah dilakukan Eka Sungsang ke Paing yang dipakai sejak Pasalin Rah Saka 1921. Pangalihan tersebut dibahas di Pura Besakih pada tanggal 25 Juli 1998 oleh para sulinggih. Pangalihan ini ditetapkan sampai pada Baligya Marebu Bumi pada tilem Caitra tahun Saka 2000 [2079 Masehi][12]. Perhitungan ini memang rumit untuk dipelajari, namun bukan berarti bisa dikesampingkan          begitu  saja.     Terutama         perihal Pangalantaka   Pangalihan sebagaimana ditunjukkan dalam kasus di atas. Perhitungan wariga inilah yang juga mesti didalami oleh para penempuh studi agama di jalur formal akademis maupun jalur formal spiritualis. [T]

Keterangan:

[1] Ditulis untuk kalangan Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia, Bangli. Diskusi diadakan tanggal 7 Maret 2020, di Sekretariat PC KMHDI Bangli.

[2] lih. IBM Dharma Palguna [2008:44], Leksikon Hindu

[3] idem

[4] lih. I Gde Agus Darma Putra [https://www.academia.edu/41186268/Candr%C8%83gni]

[5] idem

[6] IBG Agastia, [2005] Nyepi, Surya dan Sunya

[7] bandingkan dengan Pendit [1984]. Menurut Pendit, Kanishka menobatkan era “Saka-kala” sebagai tangal dan tahun penanggalan resmi kerajaannya, sejak pertama kali ia naik tahta mahkota kerajaan dinasti Kushana. Hal itu dilakukan demi menyatakan rasa hormat dan simpatinya pada rakyat taklukannya yang sebagian besar mayoritas suku bangsa Saka.

[8] https://langitselatan.com/2020/01/02/sekilas-peristiwa-langit-tahun-2020/

[9] Panglong adalah paruh terang, dimulai sehari setelah purnama

[10] Pananggal adalah paruh gelap, dimulai sehari setelah tilӗm

[11] lihat Wariga Dewasa Praktis oleh Ida Bagus Putu Bangli [2012]

[12] Agastia [2008], Panca Bali Krama, Padma Mandala dan Sad Kahyangan.

Tags: Hari Raya Nyepi
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Puja Astawa: Jangan Terpaku Ingin jadi PNS, Youtuber itu Peluang Besar

Next Post

32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co