23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dalam Dua Bahasa

IDK Raka Kusuma by IDK Raka Kusuma
February 5, 2020
in Esai
Dalam Dua Bahasa

Foto-foto: Ist

Dalam sastra Sunda modern, Godi Suwarna, Acep Zamzam Noer dan Soni Farid Maulana adalah contoh sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Hal serupa dalam sastra Jawa modern dilakukan oleh almarhum Suparto Brata juga dilakukan oleh Iman Budi Santosa. Jamal T Suryanata melakukan hal yang sama dalam sastra Banjar. Sedangkan sastrawan Bali yang menulis dalam bahasa Bali dan Indonesia: Ketut Suwidia, Nyoman Manda, Djelantik Santha, Nyoman Tusthi Eddy, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, IBW Widiasa Keniten, Made Sugianto, Tudek Amatra, Komang Adnyana, Mas Ruscita Dewi, Putu Supartika, Ketut Aryawan Kenceng, Ida Bagus Gede Parwita.

Semua sastrawan di atas, dengan tegas bisa dikatakan: menulis dalam dua bahasa. Dua bahasa yang berbeda. Berbeda dalam menuliskan, berbeda pola kalimatnya, berbeda struktur kebahasaannya. Berbeda makna yang diisyaratkan. Walau dituliskan dengan huruf latin. Begitu pula, berbeda artinya. Baik arti konotatif, maupun arti denotative.

Disadari atau tidak, sastrawan yang menulis dalam dua bahasa telah melakukan aktivitas migrasi bahasa. Aktivitas perpindahan bahasa bukan semata dalam dalam kegiatan kebahasaan saja. Tetapi juga dalam kegiatan kreatif yang menjadikan bahasa sebagai karya sastra. Apakah puisi, cerpen, novelette, novel, esai atau kolom yang berkaitan dengan sastra. Dalam makna lain, bisa dikatakan aktivitas perpindahan bahasa ini, juga merupakan kegiatan olah bahasa. Olah bahasa yang menuntut laku kreatif yang intens. Yang bersungguh-sungguh. Jadi, bukan kegiatan perpindahan bahasa yang apa adanya atau sekadarnya.

Aktivitas migrasi bahasa ini, dalam arti luas menunjukkan: manusia ternyata mampu ada di dalam lebih dari satu bahasa. Dan mampu mengolah bahasa yang lebih dari satu tersebut menjadi sebuah wujud. Wujud yang merupakan bagian dari karya sastra. Anehnya, yang melakukan aktivitas bilingual ini, tidak mengalami keterbelahan jiwa. Walaupun aktivitas migrasi bahasa ini membelah pola pikir manusia yang melakukan. Sastrawan dalam hal ini.

Laku ini, sekaligus pula memberi gambaran: manusia ternyata memiliki kekuatan yang dahsyat. Dalam kondisi pola pikir yang berbeda, kondisi kejiwaannya tidak terbelah.

Dilihat dari sisi lain, bisa jadi, penyebab hal di atas, dilakukan dalam waktu yang berbeda. Dengan kata lain bisa disebutkan, aktivitas dua bahasa ini, aktivitas dalam momen yang berbeda. Perbedaan waktu dan perbedaan momen, jelas menyebabkan kondisi kejiwaan yang berbeda. Jelas pula, menyebabkan manusia, sastrawan dalam hal ini, secara otomatis menetapkan diri: apakah ia berada di radius bahasa lokal atau bahasa nasional. Secara otomatis juga menyiapkan diri memasuki peran sebagai sosok lokal dan sosok nasional.

Yang ditulis barusan, bisakah diberi tafsiran, bahwa manusia adalah makhluk peran yang secara otomatis sebagai pelaku dan sutradara? Sangat bisa. Mengingat, yang menetapkan peran bagi dirinya  manusia itu sendiri. Peran sesuai yang diinginkan. Diinginkan secara otomatis, sesuai dengan panggilan hatinya. Sekaligus, sesuai dengan apa yang ingin diperankan dalam peristiwa menulis dalam dua bahasa ini.

Karena otomatis terjadi, penyutradaraan yang dilakukan dalam hal menulis dalam dua bahasa ini, penyutradaraan tanpa pengarahan. Sebab, begitu memasuki peran menulis dalam salah satu dari dua lakon tersebut. Dengan sendirinya peran dilakoni. Dengan sendirinya pula penyutradaraan terjadi. Seperti dikatakan penyutradaraan yang terjadi penyutradaraan tanpa pengarahan. Karena rasa sadar peran langsung menyulut untuk memainkan peran. Peran mana, sebelum dimainkan, distimulus oleh rasa sadar bahasa. Rasa sadar bahasa, yang otomatis menjadi pegangan untuk bermain di dalam pentas.

Memerankan pelaku bilingual ini tidak memerlukan panggung luas. panggung luas untuk pentas. Tidak juga membutuhkan property yang banyak. Sebab, pentas ini, bukan pentas teater kolosal. Tetapi pentas mono aktor tanpa kata-kata yang diucapkan. Tanpa menghendaki tempat pentas yang luas.

Pentas mono aktor ini, juga tidak memerlukan property panggung. Karena itu memang tidak memang tidak memerlukan. Property yang diperlukan adalah: kursi, meja, pena dan buku. Atau, laptop, meja dan kursi. Pindah tempat atau perpindahan acting tidak diperlukan skenario tidak diperlukan, karena skenario ada dalam pelaku, Sastrawan yang menulis dalam dua bahasa, dalam hal ini.

Ekspresi yang matang dan mantap pun tidak diperlukan. Cukup ekspresi seadanya. Cukup ekspresi apa adanya. Ending drama ada. Tetapi klimaks dan anti klimaks tidak ada.

Walaupun mono aktor, secara langsung sastrawan yang menulis dalam dua bahasa memainkan tiga peran. Peran pertama sebagai sosok pelaku pertahanan bahasa. Kedua sebagai pelaku pengembang bahasa. Ke tiga sebagai pelaku pelestari bahasa.

Disebut sebagai sosok pelaku pertahanan bahasa, sastrawan yang menulis dalam dua bahasa, selain mempertahankan bahasa nasional juga mempertahankan bahasa ibunya dengan laku kreatif: mencipta karya sastra. Disebut sebagai pelaku pengembang bahasa, sastrawan yang saat menulis dalam bahasa ibunya ikut mengembangkan keberadaan bahasa tempat dia dilahirkan melalui karya sastra yang terbit dan tersebar. Sebagai pelestari bahasa, sastrawan bilingual yang menjalankan peran menulis bahasa ibu, melakukan pelestarian bahasa tempat dia dilahirkan. Bukan pelestarian saat ini saja. Melainkan sampai kelak kemudian hari. [T]

Amlapura, 2018

Tags: sastrasastra bali modernsastra daerahsastra jawasastra sunda
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Study for Live, or Live for Study?

Next Post

Tergerusnya Kesakralan Bali

IDK Raka Kusuma

IDK Raka Kusuma

Lahir di Klungkung, 21 November 1957. Menulis dalam bahasa Bali dan Indonesia

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Tergerusnya Kesakralan Bali

Tergerusnya Kesakralan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co