2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dalam Dua Bahasa

IDK Raka Kusuma by IDK Raka Kusuma
February 5, 2020
in Esai
Dalam Dua Bahasa

Foto-foto: Ist

Dalam sastra Sunda modern, Godi Suwarna, Acep Zamzam Noer dan Soni Farid Maulana adalah contoh sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Hal serupa dalam sastra Jawa modern dilakukan oleh almarhum Suparto Brata juga dilakukan oleh Iman Budi Santosa. Jamal T Suryanata melakukan hal yang sama dalam sastra Banjar. Sedangkan sastrawan Bali yang menulis dalam bahasa Bali dan Indonesia: Ketut Suwidia, Nyoman Manda, Djelantik Santha, Nyoman Tusthi Eddy, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, IBW Widiasa Keniten, Made Sugianto, Tudek Amatra, Komang Adnyana, Mas Ruscita Dewi, Putu Supartika, Ketut Aryawan Kenceng, Ida Bagus Gede Parwita.

Semua sastrawan di atas, dengan tegas bisa dikatakan: menulis dalam dua bahasa. Dua bahasa yang berbeda. Berbeda dalam menuliskan, berbeda pola kalimatnya, berbeda struktur kebahasaannya. Berbeda makna yang diisyaratkan. Walau dituliskan dengan huruf latin. Begitu pula, berbeda artinya. Baik arti konotatif, maupun arti denotative.

Disadari atau tidak, sastrawan yang menulis dalam dua bahasa telah melakukan aktivitas migrasi bahasa. Aktivitas perpindahan bahasa bukan semata dalam dalam kegiatan kebahasaan saja. Tetapi juga dalam kegiatan kreatif yang menjadikan bahasa sebagai karya sastra. Apakah puisi, cerpen, novelette, novel, esai atau kolom yang berkaitan dengan sastra. Dalam makna lain, bisa dikatakan aktivitas perpindahan bahasa ini, juga merupakan kegiatan olah bahasa. Olah bahasa yang menuntut laku kreatif yang intens. Yang bersungguh-sungguh. Jadi, bukan kegiatan perpindahan bahasa yang apa adanya atau sekadarnya.

Aktivitas migrasi bahasa ini, dalam arti luas menunjukkan: manusia ternyata mampu ada di dalam lebih dari satu bahasa. Dan mampu mengolah bahasa yang lebih dari satu tersebut menjadi sebuah wujud. Wujud yang merupakan bagian dari karya sastra. Anehnya, yang melakukan aktivitas bilingual ini, tidak mengalami keterbelahan jiwa. Walaupun aktivitas migrasi bahasa ini membelah pola pikir manusia yang melakukan. Sastrawan dalam hal ini.

Laku ini, sekaligus pula memberi gambaran: manusia ternyata memiliki kekuatan yang dahsyat. Dalam kondisi pola pikir yang berbeda, kondisi kejiwaannya tidak terbelah.

Dilihat dari sisi lain, bisa jadi, penyebab hal di atas, dilakukan dalam waktu yang berbeda. Dengan kata lain bisa disebutkan, aktivitas dua bahasa ini, aktivitas dalam momen yang berbeda. Perbedaan waktu dan perbedaan momen, jelas menyebabkan kondisi kejiwaan yang berbeda. Jelas pula, menyebabkan manusia, sastrawan dalam hal ini, secara otomatis menetapkan diri: apakah ia berada di radius bahasa lokal atau bahasa nasional. Secara otomatis juga menyiapkan diri memasuki peran sebagai sosok lokal dan sosok nasional.

Yang ditulis barusan, bisakah diberi tafsiran, bahwa manusia adalah makhluk peran yang secara otomatis sebagai pelaku dan sutradara? Sangat bisa. Mengingat, yang menetapkan peran bagi dirinya  manusia itu sendiri. Peran sesuai yang diinginkan. Diinginkan secara otomatis, sesuai dengan panggilan hatinya. Sekaligus, sesuai dengan apa yang ingin diperankan dalam peristiwa menulis dalam dua bahasa ini.

Karena otomatis terjadi, penyutradaraan yang dilakukan dalam hal menulis dalam dua bahasa ini, penyutradaraan tanpa pengarahan. Sebab, begitu memasuki peran menulis dalam salah satu dari dua lakon tersebut. Dengan sendirinya peran dilakoni. Dengan sendirinya pula penyutradaraan terjadi. Seperti dikatakan penyutradaraan yang terjadi penyutradaraan tanpa pengarahan. Karena rasa sadar peran langsung menyulut untuk memainkan peran. Peran mana, sebelum dimainkan, distimulus oleh rasa sadar bahasa. Rasa sadar bahasa, yang otomatis menjadi pegangan untuk bermain di dalam pentas.

Memerankan pelaku bilingual ini tidak memerlukan panggung luas. panggung luas untuk pentas. Tidak juga membutuhkan property yang banyak. Sebab, pentas ini, bukan pentas teater kolosal. Tetapi pentas mono aktor tanpa kata-kata yang diucapkan. Tanpa menghendaki tempat pentas yang luas.

Pentas mono aktor ini, juga tidak memerlukan property panggung. Karena itu memang tidak memang tidak memerlukan. Property yang diperlukan adalah: kursi, meja, pena dan buku. Atau, laptop, meja dan kursi. Pindah tempat atau perpindahan acting tidak diperlukan skenario tidak diperlukan, karena skenario ada dalam pelaku, Sastrawan yang menulis dalam dua bahasa, dalam hal ini.

Ekspresi yang matang dan mantap pun tidak diperlukan. Cukup ekspresi seadanya. Cukup ekspresi apa adanya. Ending drama ada. Tetapi klimaks dan anti klimaks tidak ada.

Walaupun mono aktor, secara langsung sastrawan yang menulis dalam dua bahasa memainkan tiga peran. Peran pertama sebagai sosok pelaku pertahanan bahasa. Kedua sebagai pelaku pengembang bahasa. Ke tiga sebagai pelaku pelestari bahasa.

Disebut sebagai sosok pelaku pertahanan bahasa, sastrawan yang menulis dalam dua bahasa, selain mempertahankan bahasa nasional juga mempertahankan bahasa ibunya dengan laku kreatif: mencipta karya sastra. Disebut sebagai pelaku pengembang bahasa, sastrawan yang saat menulis dalam bahasa ibunya ikut mengembangkan keberadaan bahasa tempat dia dilahirkan melalui karya sastra yang terbit dan tersebar. Sebagai pelestari bahasa, sastrawan bilingual yang menjalankan peran menulis bahasa ibu, melakukan pelestarian bahasa tempat dia dilahirkan. Bukan pelestarian saat ini saja. Melainkan sampai kelak kemudian hari. [T]

Amlapura, 2018

Tags: sastrasastra bali modernsastra daerahsastra jawasastra sunda
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Study for Live, or Live for Study?

Next Post

Tergerusnya Kesakralan Bali

IDK Raka Kusuma

IDK Raka Kusuma

Lahir di Klungkung, 21 November 1957. Menulis dalam bahasa Bali dan Indonesia

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tergerusnya Kesakralan Bali

Tergerusnya Kesakralan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co