2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyoal Attitude Wisatawan di Nusa Penida: Dari Drama Komplain, Abai, Bengkung, Hingga Isu Moratorium

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
October 19, 2019
in Opini
Menyoal Attitude Wisatawan di Nusa Penida: Dari Drama Komplain, Abai, Bengkung, Hingga Isu Moratorium

Foto dari Google

Hampir semua pelaku pariwisata pernah mengalami komplain dari customernya (tamu/wisatawan). Biasanya, para tamu komplain karena merasa dirugikan atau mendapat servis yang kurang optimal. Hal ini wajar saja, asalkan sesuai dengan kenyataan. Namun, apa jadinya jika komplain sengaja diciptakan oleh tamu (tertentu) lalu menimpa Anda?

Kasus inilah yang kerapkali dialami oleh pelaku pariwisata di Pulau Nusa Penida. Di penghujung tagihan (akan Check out), ada wisatawan (asing) tiba-tiba melontarkan amarahnya karena kehilangan uang di kamar penginapan. Lalu, si tamu menyemprotkan amarahnya kepada karyawan penginapan (villa) hingga kepada pemiliknya (owner). Ia menuduh lingkungan penginapan tidak aman, dihuni orang-orang dengan attitude yang kurang baik, hingga berkesimpulan penginapan tersebut tidak layak untuk dioperasikan lagi.

Tidak cukup sampai di sini, ia juga mencoba menarik perhatian tamu lain dengan cara meningkatkan akting marahnya secara profesional. Ekspresi muka, kata-kata yang dilontarkan, dan gesture tubuhnya meyakinkan bahwa si tamu benar-benar telah menjadi korban kemalingan.

Kondisi ini membuat karyawan dan owner villa tertegun. Bengong harus berbuat apa, kecuali cuma tertunduk lesu, sambil mendengarkan, menonton akting si tamu dan sesekali melontarkan kata maaf. Namun, kata-kata maaf tidak memiliki kekuatan karena tidak dapat meredakan amarah si tamu. Situasi inilah yang dimanfaatkan oleh si tamu untuk memenuhi akal bulusnya, yakni misi gratis.

Bermodalkan akting dan pressure, si tamu tidak perlu berkeringat untuk membayar sepeser pun. Padahal, kasus kehilangan merupakan murni rekayasa. Rekayasa komplain untuk mendapatkan penginapan gratis, makan gratis, mandi gratis dan bersantai gratis. Selain minta gratisan, ada pula tamu memaksa (minta) ganti rugi berupa uang kepada pihak penginapan.

Walaupun tidak banyak, tipekal tamu-tamu model ini nyata adanya. Model attitude tamu yang tak terpuji. Tipekal yang mengedepankan cara-cara culas (menipu, berbohong), berlagak preman, dan aji mumpung.

Menurut Denham ada tiga tipe pelanggan yang melakukan komplain. Pertama, active complainers, yang memahami haknya, asertif, percaya diri, dan tahu persis cara menyampaikan komplain. Mereka cenderung menginformasikan dan mencari solusi atas setiap komplain yang mereka rasakan, sehingga kita berpeluang melakukan perbaikan dan memuaskan mereka. Kedua, inactive complainers, yang lebih suka menyampaikan keluhan kepada orang lain daripada langsung kepada perusahaan yang bersangkutan. Namun, cenderung langsung berganti pemasok dan tidak pernah kembali lagi ke perusahaan yang mengecewakan mereka. Ketiga, hyperactive complainers,  yang selalu komplain terhadap apa pun (chronic complainers), yang kadang kala berlaku kasar dan agresif. Mereka hampir tidak mungkin dipuaskan karena tujuan komplainnya lebih dilatarbelakangi keinginan untuk mencari untung (https://hosteko.com/blog/tipe-tipe-pelanggan-yang-komplain).

Terkait mencari untung, ada pula tamu (wisatawan) yang bermain dengan ancaman “senjata”review buruk. Mereka menawar (memaksa) harga penginapan dengan sangat murah (di bawah harga standar). Kalau tidak dipenuhi, maka mereka mengancam akan membuat review yang buruk terhadap penginapan tersebut. Ancaman review buruk ini cukup ampuh membuat pemilik penginapan menjadi takut dan khawatir. Terbukti, beberapa penginapan sudah cukup banyak menjadi korban dari si tamu.

Perilaku-perilaku aji mumpung dari si tamu patut diwaspadai, disikapi, dan dicarikan solusinya oleh pelaku pariwisata. Kalau tidak, sangat mungkin akan dijadikan inspirasi oleh tamu yang berattitude kurang baik untuk berlibur di Nusa Penida. Tamu-tamu model seperti ini bukannya mendatangkan keuntungan, tetapi malah membuat para pelaku pariwisata menjadi buntung.

Belum lagi, perilaku-perilaku buruk tamu yang lainnya, misalnya dalam hal menyewa transportasi (roda dua). Kasus ini paling rentan dan paling banyak dijumpai di Nusa Penida. Si tamu menyewa sepeda motor, tetapi kurang bertanggung jawab. Jika motor dianggap kurang nyaman, mengalami kerusakan, maka mereka tidak segan-segan untuk meninggalkan begitu saja. Entah memarkir sembarangan di pinggir jalan atau dibuang di tegalan/ ladang atau jurang. Pun jika motor mengalami kerusakan (lecet) akibat dijatuhkan si penyewa, maka tidak ada istilah ganti rugi. Semua dibebani kepada pemilik atau pihak yang menyewakan.

Attitude, Kecelakaan, dan Moratorium

Kasus-kasus kecelakaan yang menimpa beberapa tamu di Nusa Penida juga tidak lepas dari attitude tamu yang kurang baik. Kasus kecelakaan dalam diving misalnya. Beberapa tamu yang tenggelam dalam aktivitas diving, banyak dipicu oleh attitude  negatif tersebut. Pada umumnya, mereka tidak mematuhi regulasi dan imbauan dari pemandunya. Si tamu sering bengkung, hanya mengikuti keinginannya sendiri.

Begitu juga dengan kasus selfie yang berujung maut di beberapa objek wisata di Nusa Penida (seperti di Devil Tears-Lembongan, Pantai Angel Billabong-Nusa Penida, Tebing Dream Beach-Lembongan, dll.). Semua bermula dari attitude kurang baik dari si tamu. Padahal, larangan-larangan dan regulasi di areal objek sudah ada baik secara tertulis maupun lisan. Kemudian, dipertegas lagi oleh pemandu wisata. Toh, pelanggaran-pelanggaran tetap saja terjadi pada mereka (tamu) yang memiliki perilaku kurang baik.

Selain faktor attitude, kekurangkesiapan pemda setempat juga menjadi pemicu lainnya. Selama ini, belum ada tim juru selamat khusus dari pemda Klungkung untuk mengantisipasi kasus kecelakaan di lokasi objek wisata. Nihilnya “tim juru selamat khusus” ini, membuat kecelakaan tamu di lokasi wisata menjadi semakin riskan.

Jika tidak segera dicarikan solusinya, maka ke depan akan mengancam kelangsungan eksistensi industri pariwisata di Nusa Penida. Tumpukan-tumpukan kasus kecelakaan ini nantinya akan menganggu kenyamanan tamu berwisata ke Nusa Penida. Padahal, kenyaman merupakan faktor utama yang menentukan nyawa industri pariwisata. Karena itu, tidak salah jika Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali kemarin sempat mengancam isu moratorium. Sesungguhnya, isu moratorium tersebut merupakan rambu-rambu bahwa keselamatan tamu di Nusa Penida harus terjamin.

Namun demikian, harus disadari bahwa jaminan keselamatan tidak boleh hanya dibebankan kepada pihak eksternal (pemerintah, insfrastruktur, dan lain sebagainya). Pada beberapa kasus kecelakaan tamu, yang berujung maut di Pulau Nusa Penida, justru dominan bersumber dari faktor internal yakni attitude si tamu. Si tamu lebih mengutamakan syahwat kesenangannya, lalu mengindahkan regulasi yang ada.

Kasus attitude  tamu ini merupakan persoalan serius. Persoalan yang harus diatasi untuk meminimalisir kasus kecelakaan di objek wisata. Karena itulah, pentingnya mengedepankan sikap kooperatif antara pihak wisatawan dengan pihak yang berwenang (pemandu, penanggung jawab). Sebisa mungkin, para pemandu melakukan pendekatan (kompromi, briefing) dengan wisatawan yang bengkung, sambil memantaunya dengan cermat. Jika terjadi pelanggaran, pemandu jangan segan-segan untuk mengingatkan. Bahkan bila diperlukan, pemandu dapat bertindak tegas terhadap wisatawan tersebut.

Komproni-kompromi terhadap para wisatawan yang ber-attitude kurang baik itu, sangat urgen. Sikap kompromi ini tidak hanya bermanfaat untuk menyelamatkan diri wisatawan, tetapi juga bermanfaat untuk menyelamatkan nasib pelaku pariwisata, dan terutama kelangsungan industri pariwisata di Nusa Penida. Dari sikap komproni inilah, kita berharap cerita kecelakaan wisatawan di Nusa Penida kian dapat diminilisir, sehingga mimpi buruk moratorium (dari sang eksukutor HPI Bali) tak lagi menjadi hantu jalanan. [T]

Tags: baliNusa PenidaPariwisataTuris
Share134TweetSendShareSend
Previous Post

Pelukis Dudik Ariawan Merespon Puisi Sutan Takdir Alisyahbana

Next Post

Sulitkah Membaca Lontar? – Catatan Harian Sugi Lanus

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Sulitkah Membaca Lontar? – Catatan Harian Sugi Lanus

Sulitkah Membaca Lontar? - Catatan Harian Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co