3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Silaturahmi Topeng, Teater, Ibu, dan Lain-lain #Catatan Pentas di Melaka Malaysia

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
July 3, 2019
in Khas
Silaturahmi Topeng, Teater, Ibu, dan Lain-lain #Catatan Pentas di Melaka Malaysia

Kolaborasi dengan seniman Malaysia

Tahun lalu, Oktober 2018, seorang Profesor dari Universiti Putra Malaysia menjadi salah satu pembicara kunci di seminar internasional di kampus saya. Namanya Profesor Jayakaran Munkundan. Saya mengenal beliau karena sering mengikuti konferensi internasional yang menghadirkan beliau sebagai pembicara kunci, dan juga karena setahun sebelumnya, 2017, saya menjadi pembicara juga di konferensi yang digelar beliau di Melaka.

Namun bedanya, kali ini ketika beliau ke Singaraja, kebetulan di kampus saya sedang hadir Dr. Carmencita Palermo (saya terbiasa memanggilnya Carmencita saja), seorang seniman topeng asal Italia, yang sedang mencari data dalam risetnya mengenai projek saya saat itu 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, dimana Carmencita juga selain sebagai peneliti juga terlibat dalam proses latihan beberapa kali.

Nah, pertemuan Prof. Jayakaran dan Carmencita berbuah sebuah diskusi tentang projek saya yang akan direspon dalam bentuk pertunjukan. Sebagai seorang penyelenggara konferensi yang terkenal bertangan dingin, Prof. Jayakaran langsung punya ide mementaskan projek saya sebagai bagian dari konferensi tahun ini, International Conference on Creative Teaching, Assessment and Research, di Melaka Malaysia yang baru saja berakhir kemarin, 28 Juni 2019.


Usai pementasan

Singkat cerita, sesungguhnya tak ada yang terlalu singkat dalam sebuah proses. Perkenalan saya dengan Carmencita Palermo, adalah sebuah proses panjang. Diawali dengan sebuah tulisan saya yang pernah terbit di situs ini, tentang perempuan Bali, yang berujung viral dan berujung gaduh, yang diakhiri dengan dicabutnya tulisan itu. Sejak itu Carmencita mencari saya, karya saya, dan mewawancarai saya. Pertemuan saya pertama dengannya terjadi di Taman Pujaan Bangsa Margarana, Tabanan, saya ingat saat itu saya pulang kampung, dan Carmencita bersikukuh bertemu dengan saya. Mengingat dia terbang jauh-jauh hanya untuk ketemu saya, lalu sayapun bersedia diwawancarai.

Akhirnya setelah itu, kami sering berdiskusi baik lewat pesan-pesan di email, whatsapp, maupun di darat karena Carmencita sangat tertarik dengan apapun isu mengenai perempuan Bali. Lalu di projek saya 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah saya memberitahu Carmencita bahwa ini adalah projek mendengar perempuan dan membuat perempuan bersuara melalui pendekatan teater dokumenter. Saya menjadi terharu sebab Carmencita ikut terlibat di dua produksi dari 11 produksi teater saya.


Pentas

Dia hadir memberi kesegaran baru, memberi usul, pertimbangan bahkan masukan. Saya menerimanya dengan terbuka. Sebab semua kemungkinan sepanjang bermakna, sangat penting untuk pertumbuhan teater yang saya kerjakan. Semuanya organik saja, alami dan spontan dari hati. Kembali ke soal undangan pementasan di Melaka, Malaysia, kami akhirnya diundang sebagai featured speakers bersama nama-nama besar dan para pakar dunia pendidikan Bahasa Inggris yang buku-bukunya menjadi santapan kuliah sehari-hari saya, seperti Prof. Alan Maley, Prof. Diane Larsen Freeman, Carolyn Graham dan Dr. Willy Renandya. Bagi yang penasaran siapa mereka silakan google nama mereka.

Singkat cerita, datanglah masa-masa persiapan kami berangkat. Meskipun penunjukan bahwa kami akan pentas sudah setahun lalu, namun proses menuju pentas benar-benar hanya 3 hari sebelum berangkat. Mengapa. Tentu karena kami berada di dua benua berbeda. Carmencita di Italia dan saya di Bali.  

Lalu, satu lagi tim kami adalah Ibu Dr. Made Ratminingsih, M.A., seorang senior, guru saya sekaligus kini menjadi kolega di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Karakter akademisi yang kental dan penuh struktur membuat Ibu Ratmi sedikit panik, ketika seminggu sebelum berangkat belum tampak ada persiapan. Saya sih santai karena tahu Carmencita dan kami sudah pernah berproses bersama di projek saya. Namun dengan Bu Ratmi belum pernah.



Sehingga terjadilah ketegangan sebelum keberangkatan. Kami seniman terbiasa spontan dan sangat mengandalkan intuisi dan mood, sedangkan Bu Ratmi lebih mengedepankan struktur. Kami berkomunikasi intens, dua hari latihan. Menjelang keberangkatan, mulai ada titik terang dalam konsep pertunjukan kami. Konsep sederhanya begini, Carmencita menari, saya menyanyi, Bu Ratmi menabuh. Ada pula konsep melibatkan audiens dan kami tentu belum bisa mencobakannya di Bali. Karena konsep pelibatan audiens harus live dan spontan. Dan tentulah kenyataannya tidak sesederhana itu.

Akhirnya beginilah pertunjukan itu dibuka. Dengan kidung yang saya nyanyikan.

Sang Hyang Candra tarantaka

Pinaka dipa

Mamadhangi ri kala wengi

Perlahan sekali Carmencita masuk, bernafas, membuka kain penutup topengnya dan perlahan sekali membuka tarian.

Lalu lanjut

Sang Hyang Surya

Sedeng prabhasa maka dipa

Mamadhangi ri bumi mandala

Demikian lah. Setelah kidung mengalir, lalu saya membaca puisi.

Bagian demi bagian mengalir. Yang menarik adalah bagian intermezzo dimana saya melibatkan audiens membaca bagian naskah 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, satu naskah diwakili satu kalimat saja. Ini pekerjaan sulit dari perspektif saya sebagai penulis naskah dimana satu naskah besar harus diperas jadi satu kalimat saja. Akhirnya ada 11 kalimat dari 11 naskah. Salah duanya adalah; “He almost killed me, I almost killed him; We divorced.”; “I build houses, but I don’t have my own.”

Kalimat ini kami bagikan sebelum pementasan dan kami cobakan audiens mengucapkannya. Saya beri kode kapan saat mereka harus membaca lembut, keras, bersama, dan berhenti. Spontan seperti mengajari orang bernyanyi. Saya merasa ini bagian teruniknya. Semua penonton menjadi bagian dari pertunjukan. Mereka kami titipi ‘suara’ 11 Ibu yang mereka ‘suarakan’.

Bagian kedua saya isi puisi saya “Tonight is not Fine”. Puisi ini direspon oleh Carmencita dengan gerak ritmis dan begitupun tabuh Bu Ratmi, sangat dinamis.  

Bagian ketiga saya isi kidung Wargasari Ida Ratu dan  puisi saya “Let Her Go”. Akhirnya ditutup manis  dengan nyanyian dan tarian janger. Prof. Jayakaran kami undang menari dan menimbulkan gelak tawa audiens.

Link beberapa video ada disini :

https://www.instagram.com/p/BzctoXuhkpK/?igshid=1h747483yq5zf

Keseluruhan pentas memakan waktu kira-kira 35-40 menit. Lalu diskusi. Nah pada diskusi inilah ada sekitar 10 pertanyaan dari audiens yang merespons pentas kami dari segi isu feminisme, isu budaya, dan isu terkait lainnya.

Jika tidak dihentikan, pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir deras. Akhirnya diskusi resmi ditutup namun diskusi non resmi terus berlangsung. Beberapa peserta yang hadir dan bertahan masih menunggu kami untuk diajak ngobrol. Di antaranya adalah Prof. Jayakaran, Prof. Diane Larsen Freeman, Prof. Ghouse, Dr. Lee Su Kim, Rosnan Rahman, dan Shujata. Juga ada peserta konferensi dari Malaysia, beberapa dari India, dari Iran, dan beberapa dari Indonesia.

Namun yang terjadi kemudian setelah diskusi dan hampir semua peserta sudah meninggalkan ruangan adalah kolaborasi spontan yang terjadi antara kami; saya, Carmencita, dan Bu Ratmi dengan dua seniman Malaysia yaitu Prof. Ghouse, dan Rosnan Rahman. Prof. Ghouse ahli seni pertunjukan dan Rosnan Rahman adalah penari pakyong dari Kelantan. Pertunjukan spontan yang terjadi adalah saya menyanyi kidung Bali, Rosnan menyanyi lagu tradisional Kelantan, Carmencita menari topeng, Prof. Ghouse memainkan rebab, Bu Ratmi menabuh kendang.

Spontanitas ini dapat dilihat di link:

https://www.instagram.com/tv/BzSxz2nAi_h/?igshid=1848hg1r7dyu6

Demikianlah yang terjadi.

Kemungkinan lain dari pementasan ini adalah adanya tali silaturahmi budaya yang lebih kental, dimana batas-batas akademik jadi lebur, dan persahabatan terjalin lebih rileks dan alami. Hal ini kemudian menjadi sebuah oleh-oleh batin yang melekat dalam memori melebihi memori lainnya.   [T]

Tags: MalaysiaTeatertopeng
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Don Quixote di Semarang

Next Post

Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails
Next Post
Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co