14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Silaturahmi Topeng, Teater, Ibu, dan Lain-lain #Catatan Pentas di Melaka Malaysia

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
July 3, 2019
in Khas
Silaturahmi Topeng, Teater, Ibu, dan Lain-lain #Catatan Pentas di Melaka Malaysia

Kolaborasi dengan seniman Malaysia

Tahun lalu, Oktober 2018, seorang Profesor dari Universiti Putra Malaysia menjadi salah satu pembicara kunci di seminar internasional di kampus saya. Namanya Profesor Jayakaran Munkundan. Saya mengenal beliau karena sering mengikuti konferensi internasional yang menghadirkan beliau sebagai pembicara kunci, dan juga karena setahun sebelumnya, 2017, saya menjadi pembicara juga di konferensi yang digelar beliau di Melaka.

Namun bedanya, kali ini ketika beliau ke Singaraja, kebetulan di kampus saya sedang hadir Dr. Carmencita Palermo (saya terbiasa memanggilnya Carmencita saja), seorang seniman topeng asal Italia, yang sedang mencari data dalam risetnya mengenai projek saya saat itu 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, dimana Carmencita juga selain sebagai peneliti juga terlibat dalam proses latihan beberapa kali.

Nah, pertemuan Prof. Jayakaran dan Carmencita berbuah sebuah diskusi tentang projek saya yang akan direspon dalam bentuk pertunjukan. Sebagai seorang penyelenggara konferensi yang terkenal bertangan dingin, Prof. Jayakaran langsung punya ide mementaskan projek saya sebagai bagian dari konferensi tahun ini, International Conference on Creative Teaching, Assessment and Research, di Melaka Malaysia yang baru saja berakhir kemarin, 28 Juni 2019.


Usai pementasan

Singkat cerita, sesungguhnya tak ada yang terlalu singkat dalam sebuah proses. Perkenalan saya dengan Carmencita Palermo, adalah sebuah proses panjang. Diawali dengan sebuah tulisan saya yang pernah terbit di situs ini, tentang perempuan Bali, yang berujung viral dan berujung gaduh, yang diakhiri dengan dicabutnya tulisan itu. Sejak itu Carmencita mencari saya, karya saya, dan mewawancarai saya. Pertemuan saya pertama dengannya terjadi di Taman Pujaan Bangsa Margarana, Tabanan, saya ingat saat itu saya pulang kampung, dan Carmencita bersikukuh bertemu dengan saya. Mengingat dia terbang jauh-jauh hanya untuk ketemu saya, lalu sayapun bersedia diwawancarai.

Akhirnya setelah itu, kami sering berdiskusi baik lewat pesan-pesan di email, whatsapp, maupun di darat karena Carmencita sangat tertarik dengan apapun isu mengenai perempuan Bali. Lalu di projek saya 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah saya memberitahu Carmencita bahwa ini adalah projek mendengar perempuan dan membuat perempuan bersuara melalui pendekatan teater dokumenter. Saya menjadi terharu sebab Carmencita ikut terlibat di dua produksi dari 11 produksi teater saya.


Pentas

Dia hadir memberi kesegaran baru, memberi usul, pertimbangan bahkan masukan. Saya menerimanya dengan terbuka. Sebab semua kemungkinan sepanjang bermakna, sangat penting untuk pertumbuhan teater yang saya kerjakan. Semuanya organik saja, alami dan spontan dari hati. Kembali ke soal undangan pementasan di Melaka, Malaysia, kami akhirnya diundang sebagai featured speakers bersama nama-nama besar dan para pakar dunia pendidikan Bahasa Inggris yang buku-bukunya menjadi santapan kuliah sehari-hari saya, seperti Prof. Alan Maley, Prof. Diane Larsen Freeman, Carolyn Graham dan Dr. Willy Renandya. Bagi yang penasaran siapa mereka silakan google nama mereka.

Singkat cerita, datanglah masa-masa persiapan kami berangkat. Meskipun penunjukan bahwa kami akan pentas sudah setahun lalu, namun proses menuju pentas benar-benar hanya 3 hari sebelum berangkat. Mengapa. Tentu karena kami berada di dua benua berbeda. Carmencita di Italia dan saya di Bali.  

Lalu, satu lagi tim kami adalah Ibu Dr. Made Ratminingsih, M.A., seorang senior, guru saya sekaligus kini menjadi kolega di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Karakter akademisi yang kental dan penuh struktur membuat Ibu Ratmi sedikit panik, ketika seminggu sebelum berangkat belum tampak ada persiapan. Saya sih santai karena tahu Carmencita dan kami sudah pernah berproses bersama di projek saya. Namun dengan Bu Ratmi belum pernah.



Sehingga terjadilah ketegangan sebelum keberangkatan. Kami seniman terbiasa spontan dan sangat mengandalkan intuisi dan mood, sedangkan Bu Ratmi lebih mengedepankan struktur. Kami berkomunikasi intens, dua hari latihan. Menjelang keberangkatan, mulai ada titik terang dalam konsep pertunjukan kami. Konsep sederhanya begini, Carmencita menari, saya menyanyi, Bu Ratmi menabuh. Ada pula konsep melibatkan audiens dan kami tentu belum bisa mencobakannya di Bali. Karena konsep pelibatan audiens harus live dan spontan. Dan tentulah kenyataannya tidak sesederhana itu.

Akhirnya beginilah pertunjukan itu dibuka. Dengan kidung yang saya nyanyikan.

Sang Hyang Candra tarantaka

Pinaka dipa

Mamadhangi ri kala wengi

Perlahan sekali Carmencita masuk, bernafas, membuka kain penutup topengnya dan perlahan sekali membuka tarian.

Lalu lanjut

Sang Hyang Surya

Sedeng prabhasa maka dipa

Mamadhangi ri bumi mandala

Demikian lah. Setelah kidung mengalir, lalu saya membaca puisi.

Bagian demi bagian mengalir. Yang menarik adalah bagian intermezzo dimana saya melibatkan audiens membaca bagian naskah 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, satu naskah diwakili satu kalimat saja. Ini pekerjaan sulit dari perspektif saya sebagai penulis naskah dimana satu naskah besar harus diperas jadi satu kalimat saja. Akhirnya ada 11 kalimat dari 11 naskah. Salah duanya adalah; “He almost killed me, I almost killed him; We divorced.”; “I build houses, but I don’t have my own.”

Kalimat ini kami bagikan sebelum pementasan dan kami cobakan audiens mengucapkannya. Saya beri kode kapan saat mereka harus membaca lembut, keras, bersama, dan berhenti. Spontan seperti mengajari orang bernyanyi. Saya merasa ini bagian teruniknya. Semua penonton menjadi bagian dari pertunjukan. Mereka kami titipi ‘suara’ 11 Ibu yang mereka ‘suarakan’.

Bagian kedua saya isi puisi saya “Tonight is not Fine”. Puisi ini direspon oleh Carmencita dengan gerak ritmis dan begitupun tabuh Bu Ratmi, sangat dinamis.  

Bagian ketiga saya isi kidung Wargasari Ida Ratu dan  puisi saya “Let Her Go”. Akhirnya ditutup manis  dengan nyanyian dan tarian janger. Prof. Jayakaran kami undang menari dan menimbulkan gelak tawa audiens.

Link beberapa video ada disini :

https://www.instagram.com/p/BzctoXuhkpK/?igshid=1h747483yq5zf

Keseluruhan pentas memakan waktu kira-kira 35-40 menit. Lalu diskusi. Nah pada diskusi inilah ada sekitar 10 pertanyaan dari audiens yang merespons pentas kami dari segi isu feminisme, isu budaya, dan isu terkait lainnya.

Jika tidak dihentikan, pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir deras. Akhirnya diskusi resmi ditutup namun diskusi non resmi terus berlangsung. Beberapa peserta yang hadir dan bertahan masih menunggu kami untuk diajak ngobrol. Di antaranya adalah Prof. Jayakaran, Prof. Diane Larsen Freeman, Prof. Ghouse, Dr. Lee Su Kim, Rosnan Rahman, dan Shujata. Juga ada peserta konferensi dari Malaysia, beberapa dari India, dari Iran, dan beberapa dari Indonesia.

Namun yang terjadi kemudian setelah diskusi dan hampir semua peserta sudah meninggalkan ruangan adalah kolaborasi spontan yang terjadi antara kami; saya, Carmencita, dan Bu Ratmi dengan dua seniman Malaysia yaitu Prof. Ghouse, dan Rosnan Rahman. Prof. Ghouse ahli seni pertunjukan dan Rosnan Rahman adalah penari pakyong dari Kelantan. Pertunjukan spontan yang terjadi adalah saya menyanyi kidung Bali, Rosnan menyanyi lagu tradisional Kelantan, Carmencita menari topeng, Prof. Ghouse memainkan rebab, Bu Ratmi menabuh kendang.

Spontanitas ini dapat dilihat di link:

https://www.instagram.com/tv/BzSxz2nAi_h/?igshid=1848hg1r7dyu6

Demikianlah yang terjadi.

Kemungkinan lain dari pementasan ini adalah adanya tali silaturahmi budaya yang lebih kental, dimana batas-batas akademik jadi lebur, dan persahabatan terjalin lebih rileks dan alami. Hal ini kemudian menjadi sebuah oleh-oleh batin yang melekat dalam memori melebihi memori lainnya.   [T]

Tags: MalaysiaTeatertopeng
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Don Quixote di Semarang

Next Post

Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co