3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kematian, Kajang dan Jiwa

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
May 27, 2019
in Esai
Kematian, Kajang dan Jiwa

Mas Ruscitadewi

Kematian mungkin menakutkan bagi sebagian besar orang, tapi bagi tidak bagi yang lain. Terutama bagi orang-orang yang telah sangat memahami roh. Konon bagi orang yang seperti itu kematian tak ubahnya seperti pindah rumah, meninggalkan rumah lama untuk kemudian tinggal di rumah yang baru.


Kalau benar kematian tak ubahnya pindah rumahnya jiwa ke rumah jiwa yang baru, maka tentu saja rumah baru ini diharapkan lebih baik, lebih menyenangkan dan membahagiakan. Selain itu, seperti layaknya orang yang pindah rumah, semestinya dilakukan dengan penuh semangat dan rasa bahagia. Tapi, rasa-rasanya sangat jarang di jaman ini, kita menyaksikan bahkan mendengar semangat dan kesumbringahan seseorang yang akan mati.

Yang sering kita lihat, dengar dan tahu bahwa kebanyakan orang seperti tidak nyaman untuk menuju kematian. Banyak yang menunda dengan berbagai cara dan alasan dan bila perlu menolaknya. Ya banyak yang tetap ingin menjadikan dunia nyata ini sebagai rumah bagi jiwanya. Keinginan ini tidak salah, karena kita sebagai manusia memang tidak banyak yang memahami bagaimana caranya untuk memindahkan jiwa dari rumah ini ke rumah yang lain.

Selain itu, kitapun banyak yang tidak tahu dan tidak mengenali jiwa yang ada dalam diri sendiri. Saking tidak kenalnya, bahkan ada diantara kita yang merasa bangga saat ada jiwa-jiwa lain yang bertamu, bahkan kita dengan senang hati mengundangnya untuk hadir.

Di rumah jiwa kita, dalam badan yang hidup dalam alam yang sering disebut bumi, kita juga hidup bersama dengan orang-orang berpengetahuan dan suci, yang konon sangat paham hal ikwal tentang jiwa. Di Bali, orang-orang suci ini dipercaya mempunyai kemampuan untuk mengantarkan  jiwa si mati agar sampai ke rumahnya yang baru, atau paling tidak mengantarkan jiwa si mati agar tak tersesat di jalan. 

Terkait dengan kematian dan jiwa, saya jadi ingat cerita seorang teman yang kebetulan dianugrahi penglihatan menembus alam yang lain. Dalam penglihatannya, ketika neneknya meninggal, jiwa si nenek konon berkumpul di sebuah tempat yang serupa pura  lengkap dengan tempat seperti pasraman dengan stratifikasi sosial yang jelas.

Selain melakukan pekerjaan biasa seperti saat hidup di dunia, jiwa-jiwa si mati tersebut juga diberikan pelajaran tentang aksara bali. Makin menguasai aksara Bali, konon makin tinggilah kelas dan status yang bersangkutan. Sampai di sini saya protes, merasa cemburu dengan teman-teman yang tamatan sastra Bali dan Jawa Kuna dan penekun lontar yang tentu saja lebih menguasai aksara Bali. Tentu saja protes saya tidak ditanggapi teman saya yang bisa melihat, tapi hati dan pikiran sayalah yang dengan aktif mencari jawaban-jawabannya.

Akhirnya untuk sementara saya merasa menemukan hubungan kelas dengan penguasaan aksara Bali terkait dengan penggunaan kajang pada saat upacara pengabenan. Mungkin kajang yang bertuliskan aksara Bali itu berfungsi sebagai kunci energi sebuah ruang tertentu di alam sana. Peningkatan kemampuan dalam aksara Bali, mungkin secara otomatis mengubah struktur kunci energi, yang terhubungan dengan kelas ruang tertentu.

Sampai di sana saya merasa sungguh kagum kepada penemu teknik sistem kajang, dengan jenis aksara Bali tertentu mampu menuntun jiwa ke sebuah tempat agar tak liar dan bergentayangan. Tapi pertanyaannya adalah bagaimana jika seseorang yang mati itu ingin ke tempat lain, ke tempat yang tanpa sekat dan tanpa kelas?  Bisakah kajang itu mengantarnya ke tujuan?

Sepertinya tidak. Seperti layaknya sebuah perusahan deplover yang menjual villa, maka kunci yang diberikan hanya berlaku untuk ruang-ruang villa milik perusahan itu, yang disesuaikan dengan harga yang dibayar oleh pembeli. Dan sebagai pembeli, ia hanya berhak atas villa sesuai dengan aturan pengembang.

Dan pembeli tetaplah pembeli, pemilik hanya satu villa, termasuk juga keluarga dan keturunannya, sedangkan pengembang akan tetap menjadi pengembang, juga keluarga dan keturunannya. Siklus itu akan tetap berulang dan berulang, kecuali ada pembeli yang sangat kaya dan cerdas sehingga dengan penuh perjuangan akhirnya bisa menjadi pengembang.

Kenapa kajang yang bertuliskan aksara tertentu, bisa menuntun atau mempengaruhi jiwa? Adakah cara membebaskan jiwa dari kajang, dari aksara dan dari pesona para pengembang?  

Jawabnya karena kajang, adalah aksara, yang juga adalah bentuk, yang ditemukan oleh kecerdasan pikiran, dipelihara oleh tradisi. Bentuk dan kecerdasan pikiran adalah kualitas atau lapis 4 dalam proses penciptaan. Dalam patanjali rajayoga dijelaskan tentang proses penciptaan dunia, yang pada prinsifnya menjelaskan tentang lapis-lapis kemurnian dalam penciptaan.

Yang paling prinsip dan murni adalah ratri atau kegelapan kosmik, tempat brahma dan atman berstana bersama yang disebut herdya yang ada di ulu hati, pada kedalaman jiwa. Lapis kedua ditempati oleh nafas, lapis ketiga yang merupakan pengembangan dari nafas dari sesuatu yang hidup adalah indria, yang menciptakan sentuhan, bentuk, warna, cahaya, suara, dan bau.

Dari bentuk tercipta aksara, dari suara tercipta mantra. Kajang adalah turunan dari kemurnian bentuk dan suara, maka yang bisa dipakai untuk menerobos kepekatan sebuah energi adalah energi yang setara, sehingga bisa membentuk perusahan deplover baru, atau dengan energi yang lebih murni darinya, bisa energi lapis 3 atau syukur-syukur lapia 2 atau 1.

Usaha ini tentu saja bisa dilakukan bagi orang-orang yang ingin bebas mencari rumah baru bagi jiwanya. Rumah-rumah baru yang membebaskan, bukan yang mengantarkan pada siklus dan berulang dan berulang lagi.  [T]

Tags: aksarafilsafathindukematian
Share297TweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Kesejahteraan Tanpa Desa di Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Next Post

Keep Being You. Be Authentic.

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Keep Being You. Be Authentic.

Keep Being You. Be Authentic.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co