24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paradoks Politik dan Etnisitas dalam Novel Plitik Karya Nanoq da Kansas

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
March 30, 2019
in Ulasan
Paradoks Politik dan Etnisitas dalam Novel Plitik Karya Nanoq da Kansas

Istimewa

dan kita mencitai tanah air ini apa adanya, Ais

….

kita akan menanam sesuatu di sini

entah bunga atau duka

…..

jangan menangis, cintaku padamu akan senantiasa hidup

seperti cinta kita pada tanah air ini

yang sepenuhnya adalah ibadah

seluruhnya adalah karunia

(Surat Kepada Aistyaningnum IV-Nanoq da Kansas)

Siapakah yang menanam duka di tanah air ini? Seberapa besar cinta kita pada nusantara? Mungkinkah sebesar mencintai kekasih hati? Saya rasa tidak banyak orang memiliki rasa cinta tanah air setulus dan sedalam Nanoq da Kansas. Namun, rasa nasionalismenya kini diuji dengan paradoks politik dan isu-isu etnisitas.

Isu-isu yang awalnya dipergunjingkan di Rompyok Kopi, kemudian diunggah di media sosial, nampaknya masih belum tuntas. Siapakah yang menanam duka di tanah air ini sehingga membuat Nanoq da Kansas geram?  Saya pikir, semua itu bisa diketahui setelah membaca karya terbarunya yakni Novel Plitik terbitan Bali Katih Publishing, cetakan Maret 2019.

Novel Plitik ini hadir seperti serangan fajar. Di tengah ’didihan’ emosi rakyat terhadap hoax, saling sindir, saling perang status, maka Novel Plitik menjadi ‘pelepas dahaga’. Paradoks-paradoks yang hadir sangat ringan dan jenaka. Siapa pun bisa memahami novel ini. Permasalahan yang disuguhkan dekat dengan masyarakat. Diksi yang digunakan pun mudah dipahami. Jadi, dari dagang es serut, pelajar, wartawan, hingga caleg pun disarankan untuk membaca Plitik.

Kisah Plitik yang berawal dari percakapan Kakek dan cucunya. Tokoh Kakek merupakan tokoh politik yang disegani. Alur pun berjalan dengan pergunjingan yang terjadi dengan Dagang Es Serut. Tokoh itu menjadi pematik berkembangnya cerita yakni pada saat dagang tersebut ketahuan memiliki stiker salah satu capres dan berlanjut sampai insiden penabrakan. 

Paradoks Politik

Di dalam Plitik, cara Nanoq da Kansas meluapkan kemarahannya sangat unik. Dia dengan lembut mengkontraskan kebijakan pemerintah dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hal itu digambarkan dengan kelatahan pejabat untuk berkunjung ke pengusaha tempe tahu. Alih-alih berjanji memperbaiki nasib pengusaha tempe, pejabat tersebut malah meresmikan toko burger.

Raykat jelata makan tempe tahu, para petinggi mendadak berkunjung ke pasar memborong tempe tahu seraya berjanji memperbaiki nasib pengusaha tempe tahu.

….

“Generasi petinggi sekarang lucu. Beliau ke sini baru sekali. Baru sekali juga disuguhi sepotong ubi rebus, sepincuk nasi jangung dengan lauk tempe sama tahu, histerisnya sudah macam begitu. Padahal tadi sebelum ke sini beliau baru saja meresmikan cabang toko burger di kota kecamatan. Kemarin sudah meresmikan makanan sejenis itu juga di kabupaten. Hahah!” (hal. 72)

Paragraf tersebut mengandung kontradiksi peristiwa sehingga menimbulkan paradoks. Premis yang dipaparkan yakni “memperbaiki nasib pengusaha lokal”. Hal itu tentu bertolak belakang dengan sikap “peresmian toko burger” yang justru memicu lesunya perekonomian usaha kecil.

Permasalahan serupa juga ada pada saat wartawan majalah sekolah mencoba ikut-ikutan meliput. Di tengah perjuangan untuk mendapatkan informasi, wartawan sekolah itu justru tersendat biaya cetak majalah.

“Saya kan Cuma wartawan majalah sekolah, Pak. Lagipula majalah sekolah kita edisi ini belum pasti terbit. Saya diberi tahu Ketua OSIS dana cetaknya belum ada. Mau memungut uang urunan dari siswa, OSIS tidak berani. Tidak ada ijin dari Komite Sekolah, nanti dituduh melakukan pungli.” (Hal. 9)

Kebijakan-kebijakan yang akan melumpuhkan intuisi kritis siswa ini, sungguh disayangkan. Peran dan fungsi kepala sekolah saat ini merupakan jabatan politis yang tidak mementingkan almamater, malahan tunduk pada politik kekuasaan bukan politik pendidikan.

Salah satu tokoh yang mewakili paradoks ini yakni dagang es serut yang dituduh mendukung salah satu partai hingga dia dilaporkan ke Bawaslu.

“Itu stiker salah satu capres!” Seru salah seorang yang meneropong.

“Dagang es itu partisan.”

“Padahal dagang es harusnya netral. Dia milik semua golongan. Dia harus menghindar dari keberpihakan politik.”

“Laporkan saja ke Bawaslu!” (hal. 7)

…

“Ini seru. Gara-gara memasang stiker salah satu capres di gerobaknya, seorang dagang es serut keliling dibunuh di tengah jalan. Mari kita bikin hoax! Tolong viralkan ya….!”

Dagang Es Serut Keliling itu akhirnya ditangkap. Di depan para wartawan dia mengakui kematiannya bukan karena ditabrak, tetapi sepenuhnya adalah karena persoalan asmara.” (hal. 41)

Dagang Es Serut Keliling yang ditabrak itu dijadikan kambing hitam, mencari pembelaan di mana saja tidak membuahkan hasil. Akhirnya mengalah adalah jalan keluarnya. Saat masalah kecil seperti ini mampu ditangani kurang dari 48 jam.

Paradoks lainnya yakni pada diskusi yang dilaksnakan LSM di Kafe, tempat minum kopi.  Diskusi yang cukup serius mengenai Sejarah Kelam dan Kekerasan Politik’ 65.

Dalam diskusi yang mirip diskusi itu—karena para peserta undangan sibuk main gawai dan tidak punya ide apapun untuk bertanya-, para narasumber menceritakan tentang dirinya ditangkap.

….

Pertunjukan monolog selesai.

Maksudnya, diskusi ditutup.

Semua orang menarik nafas panjang kaena merasa lega.

Hadirin yang berasal dari kalangan mahasiswa nampaknya tidak benar-benar meresapi diskusi tersebut. Tidak benar-benar ingin memahami situasi politik 1965. Politik yang tidak menarik bagi kaum melenial. Bagi Nanoq da Kansas, mengontraskan dua sisi hal ini benar-benar pilu. Hingga ia menyelipkan puisi dari Wiji Thukul yang berjudul Peringatan.

Etnisitas Jembrana sampai Ras Mongoloid

Keresahan Nanoq da Kansas kemudian berlanjut hingga menyinggung persoalan etnisitas. Sejalan dengan Katrin Bandel, bahwa etnistias yang dimaksud dalam karya sastra yakni adanya pengaruh “warna lokal” yang menjadi persoalan. Bagi mereka pun, persoalan yang mereka hadapi didasari pertentangan antartradisi etnis dengan kepentingan pribadi.

Nanoq da Kansas memaparkan gelisahannya terhadap persoalan di kota kecilnya, Jembrana. Pada catatan lepasnya yang menjadi bagian dari novel ini mengungkapkan bahwa orang-orang lokal Jembrana sebenarnya memiliki ciri khas dan karakter kepemimpinan.

Jadi, Jembrana konon terbentuk dari embrio-embrio buangan!

Maka, Jembrana berkembang dengan masyarakat yang yatim piatu secara kebudayaan!

…

Itulah sebabnya kemudian, di Jembrana lahir sebuah kesenian gambelan bernama Jegog.

Persoalan etnisitas ini seolah-olah ditangkis dengan lahirnya kesenian baru yang mengabaikan “nada-nada feodal”.

Dengan kompleksitas prosesi alamiah, baik dari sisi manusia, lingkungan, sosial, politik hingga spiritualitas yang sedemikian rupa, maka jadilah Jembrana sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia.

Tidak saja pada tataran membela etnisitas Jembrana, Nanoq juga menulis tentang berbagai ras yang memenuhi Indonesia. Mulai dari ras Papua Melanezoid, ras Negroid, ras Weddoid, dan ras Mongoloid.

Ya tentu sajalah kami bangsa yang rasis. Karena kami memang sebuah bangsa besar yang terdiri dari berbagai ras. (hal. 108)

Selain empat kelompok ras itu, di antara kami juga terdapat kelompok ras keturunan, antara lain kelompok keturunan Tionghoa, Arab, dan India.

Setelah terdiri dari ras-ras itu, secara biologis alamiah kami juga terbentuk menjadi lebih dari 300 kelompok etnis dan 1340 suku, dengan 652 bahasa daerah. (hal. 109)

Kritik pedas seperti itu nampak tajam diungkapkan Nanoq dalam rangka menentang kebijakan pemerintah bahwa pakaian nasional harus bercorak batik yang sangat Jawa sentris. Yang menarik adalah cara Nanoq da Kansas menilai politik tersebut, cara dia memposisikan diri terhadap situasi politik sehingga menjadi sindiran sekaligus kritikan. Kritikan yang menyengat itu diwakilih oleh dialog-dialog antartokoh.

Penggambaran tokoh dan latar peristiwa nampaknya tidak dideskripsikan lebih detail dan tidak menjadi fokus utama dalam novel ini. Karakter tokoh dan deskripsi suasana justru terlihat pada dialog-dialog antartokoh. Sungguh menarik bila novel ini nantinya dialih wahanakan menjadi naskah drama.

Latar belakang Nanoq yang terjun dalam dunia teater dan puisi nampaknya belum bisa terlepas dalam novel ini. Nanoq lebih banyak menyuguhkan dialog dibandingkan pendeskripsian tokoh. Selain itu, Nanoq juga menyelipkan puisi-puisinya dan puisi W.S Rendra, Wiji Thukul di beberapa bagian cerita.

Novel Plitik hadir untuk siapa saja yang butuh penyegaran menjelang pemilu. Selain itu, Plitik mampu merefleksikan permasalahan sosial, budaya, dan politik dengan ringan dan jenaka.  Saya rasa, novel ini juga menggetarkan rasa cinta tanah air. Berbeda ras dan golongan, bukanlah penghalang. Kita bahagia dalam perbedaan. Plitik sangat disarankan bagi siapa saja yang ingin melek politik kemudian bisa dijadikan bahan tertawa bersama.

Bukankah Tuhan akan memberikan kita umur panjang bila kita selalu tertawa? [T]

Tags: BukuceritanovelPolitik
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Arnata Pakangraras # Reinkarnasi Api

Next Post

Kartun Anak-Anak Asuhan Oom Pasikom – Catatan Pameran “Kartun Ber(b)isik” di Bentara Budaya Bali

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kartun Anak-Anak Asuhan Oom Pasikom – Catatan Pameran “Kartun Ber(b)isik” di Bentara Budaya Bali

Kartun Anak-Anak Asuhan Oom Pasikom – Catatan Pameran “Kartun Ber(b)isik” di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co