6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Panduan Nyepi ala Cangak

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 5, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sebelum internet dimatikan karena harus Nyepi, ada baiknya saya memberikan panduan untuk menyepi kepada khalayak luas maupun sempit.

Saya akan berusaha menghindari penjelasan berulang-ulang tentang empat janji diri beramai-ramai saat nyepi. Untuk sekadar mengingatkan, keempat itu adalah tidak pergi, tidak makan, tidak bekerja, tidak menyalakan api. Begitulah hasil hapal-hapalannya. Namanya saja hapalan, maka jangan heran jika nanti bisa terlupakan dengan sengaja.

Jangan lupa, kalau Nyepi itu adalah tahun baru. Namanya tahun baru Saka. Karena tahun baru, maka banyak yang merayakan. Merayakan tahun baru Saka dengan Nyepi.

Menurut seorang pakar, ada yang tidak nyambung antara kata merayakan dan Nyepi. Sebab keduanya mewakili ide yang berbeda. Perayaan baginya, mewakili ide tentang kemeriahan dan ramai-ramai. Sedangkan Nyepi tidak begitu. Nyepi adalah situasi yang disengaja untuk menjadi sepi. Gitu lho.

Memang akan ada banyak pengamat agama, budaya, yang melejit memberikan tafsir begini dan begitu tentang Nyepi. Ada yang bilang, bahwa menyepi berarti meng-Nol-kan kembali seluruh jagat setelah setahun bergerak. Tapi jagat mana yang berhenti bergerak? Kan Bumi yang konon bulat ini menurut para sekelompok ahli – saya sebut sekelompok, sebab ada ahli-ahli lain yang berpendapat bumi ini datar—terus berputar pada sumbunya sambil mengelilingi matahari.

Mungkin maksudnya adalah menghentikan sehari aktifitas penghuni Bumi. Penghuni Bumi memang begitu kesukaannya, selalu dicarinya penyebab dari luar dirinya atas segala jenis kejadian. Penghuni Bumi itu pun hanya satu pulau kecil. Karena merasa kecil, maka banyaklah yang sangat amat bangga dengan tradisinya itu. Meski kecil, sumbangannya terhadap dunia yang sangat besar itu tidak kalah besarnya.

Begitulah Nyepi dalam kepala kebanyakan orang. Selalu memikir-mikirkan Nyepi, malah kepalanya sendiri tidak sepi-sepi. Maka, ada juga yang berkata, kalau nyepi itu adalah waktunya introspeksi diri. Introspeksi diri ini, dibumbui dengan istilah mulat sarira. Padahal artinya tidak ruwet seperti kelihatannya. Arti mulat sarira adalah melihat tubuh. Sesederhana itu. Apanya yang ruwet dari melihat tubuh? Tidak ada yang ruwet. Cukup ambil cermin lalu lihat-lihatlah tubuh sendiri. Jangan bercermin dengan cermin buram.

Tidak kurang banyak yang ngomong, kalau Nyepi adalah cara menghargai alam semesta. Jadi polusi udara dan suara bisa dipersedikit karena Nyepi. Begitu konon menurut mereka yang terpelajar di bidangnya. Pokoknya, semua untuk kebaikan alam.

Yang paling mencengangkan di antara segala tafsir Nyepi, adalah bahwa Nyepi itu tidak melulu tentang alam semesta tapi juga tubuh. Nyepi jagat dan nyepi diri! Demikian tafsir lain yang mengejutkan dan juga mengharukan. Mendengarnya saja, pasti akan membuat haru biru menderu-deru. Air mata meleleh dibuatnya karena memikirkan tentang pandangan leluhur yang tidak kalah luhurnya.

Filsuf tidak akan melewatkan kesempatan Nyepi ini untuk merenung. Yang direnungkannya adalah nyepi atau kesepian. Kedua kata itu sama-sama dibangun oleh kata sepi, tapi maknanya tidak sama.

Nyepi berarti tindakan yang disengaja untuk menjadi sepi, sedangkan kesepian barangkali tidak. Mana ada orang sengaja membuat dirinya kesepian. Kesepian itu adalah hadiah dari pura-pura. Tidak kurang tidak lebih.

Agar tidak kesepian, berhentilah pura-pura. Nyepi menjadi momentum yang selalu dicari dan dinanti. Hanya saat nyepi, para pemburunya tidak dihantui pertanyaan-pertanyaan begini dan begitu oleh yang tidak suka memburu sepi. Jika ada yang bertanya tentang mengapa begini mengapa begitu, maka jawabannya sudah tersedia. Ya, karena Nyepi. Nyepi jagat dan nyepi diri. Begitu jawabannya.

Agar sukses, Nyepi diri bisa diawali dengan persiapan-persiapan. Persiapan itu haruslah matang, supaya didapatnya Sepi itu, bukan malah kesepian. Ada juga yang tidak tahu bagaimana caranya menyongsong Nyepi. Maka dalam tulisan ini akan saya berikan metode Nyepi ala Cangak, beginilah caranya.

Pertama, makan dan minumlah secukupnya. Makan secukupnya ini dilakukan sebelum matahari terbit setelah melakukan tawur kasanga. Setelah semua ogoh-ogoh diarak oleh yang suka minum arak, siap-siapkan diri untuk menyongsong sepi. Jangan makan dan minum berlebihan, tidak lucu jika sedang serius menyepi tiba-tiba perut sakit dan kepala pusing.

Kedua, mandilah yang bersih. Ini gunanya agar bau badan tidak menyebar kemana-mana. Jadi ini bisa bermanfaat bagi diri sendiri, tidak akan diganggu oleh bau badan. Selain itu, badan bisa lebih segar karena selama sehari penuh akan didiamkan. Jangan lupa pakai deodorant. Siapa tahu, nanti datang bidadari untuk memberikan anugerah.

Ketiga, kuncilah kamar rapat-rapat. Fungsinya adalah untuk meminimalisir gangguan dari yang ingin mengganggu atau tidak sengaja mengganggu. Ini juga berguna untuk menciptakan suasana yang hening. Jadi proses Nyepi bisa aman terkendali.

Keempat, berikan pesan kepada yang lain bahwa akan mabrata. Point yang keempat ini sangatlah penting, agar jangan digedor-gedor. Mana bagus saat diam mengolah nafas tiba-tiba jadi sesak karena kaget pintu digedor.

Kelima, matikan segala jenis alat komunikasi. Sebelum melakukan ini, bagi yang punya pacar, silahkan kabari terlebih dahulu pacarnya. Agar tidak timbul kecurigaan setelahnya. Jadi Nyepi pun bisa lebih khusuk. Bagi yang tidak punya pacar, point kelima ini bisa menjadi solusi untuk tidak narsis. Contohnya foto selfie saat Nyepi.

Keenam, jangan taruh makanan atau pun minuman di kamar. Ini akan sangat membantu, sebab meminimalisir keinginan untuk melanggar. Karena segala jenis pelanggaran umumnya dilakukan karena ada kesempatan.

Ketujuh, sediakan alas duduk yang nyaman. Kalau bisa jangan di kasur, sebab kasur itu godaan paling hakiki. Kan saat Nyepi tidak boleh tidur. Namanya majagra.

Kedelapan, siapkan diri untuk ngembak geni. Point kedelapan ini, sangat penting untuk diperhatikan. Karena menyelesaikan sama pentingnya dengan memulai dan menjalani. Menyelesaikan Nyepi jangan buru-buru. Pelan-pelan saja. Kalau ingin mulai makan, minumlah terlebih dahulu. Akan sangat baik jika yang diminum adalah yang manis-manis. Gunanya untuk membiasakan kembali fungsi tubuh dengan makanan serta minuman. Itu gunanya yang manismanis, asal yang manis-manis itu bukan kenangan, apalagi sama mantan. Jangan!

Delapan langkah itu saja sepertinya cukup. Itu berdasarkan pada permenungan ala Cangak. Maka akan sangat penting untuk diperhatikan satu persatu. Kalau bisa, jangan dilanggar. Nanti kena kartu merah.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?

Oh iya, Nyepi berbeda dengan Galungan. Jadi tidak ada yang namanya manis Nyepi, karena perhitungan waktu keduanya berbeda. Setelah Nyepi bernama ngembak geni, artinya membuka api. Sedangkan setelah Galungan disebut Manis Galungan karena perhitungannya adalah lima hari dimulai dari Umanis, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Begitu seterusnya kembali ke Umanis. Galungan terjadi tepat pada Kliwon, makanya sehari setelah Galungan adalah hari Umanis. Ini juga penting diingat, jangan lupa. Ok?

Sekian dulu panduan Nyepi ini, sebab saya pun harus menyiapkan segala sesuatunya. Terutama menyiapkan badan agar siap diajak diam. Apalagi kaki Cangak saya yang mungil ini berisi tahi lalat. Konon bagi yang kakinya begitu, pastilah tidak suka diam. Inginnya hanya jalan-jalan saja.

Memang beberapa hari ini, kaki Cangak saya sudah gatal untuk jalan-jalan, apalagi setelah melihat kondisi penghuni telaga yang menyedihkan seperti ini. Hati Cangak saya yang lembut ini merasa terenyuh. Sungguh sangat ingin saya membantu mengentaskan penderitaan semua makhluk.

Lalu apa yang bisa kita dapatkan dari Nyepi? Nah, itu tergantung cara menjalani. Kalau saya pribadi, yang saya dapat adalah sebuah rumus. Rumusnya adalah “penghargaan diam, sama menariknya dengan penghargaan gerak”. Itu saja. [T]B

Tags: baliHari Raya Nyepihindupanduanrenungantips
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Malasti, Dari Tepi Air ke Hening

Next Post

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co