6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama Sukreni Wang Sistri Listuayu: Bahasa Bali, Populer, Modern, dan Kadar Tradisional

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
March 2, 2019
in Ulasan
Drama Sukreni Wang Sistri Listuayu: Bahasa Bali, Populer, Modern, dan Kadar Tradisional

Pementasan drama musikal Sukreni Wang Sistri Listuayu oleh Kelompok Sekali Pentas di Gedung Ksirarnawa Taman BUdaya Denpasar, Kamis, 28 Februari 2019. (Foto; Adi Ngurah)

Pementasan Sukreni Wang Sistri Listuayu merupakan sebuah kelahiran drama musikal Bali yang modern. Optimisme Kelompok Sekali Pentas untuk menampilkan pementasan yang berkualitas, patut diapresiasi. Usaha-usaha yang berawal dari penggarapan naskah, pemilihan pemain, komposisi gerak, rancangan kostum, serta gebrakan musik yang mengigit tidak terlepas dari peran sutradara.

Sutradara—I Wayan Sumahardika dan penata musik—Herry Windi Anggara, sangat sadar tentang kebutuhan penonton yang ingin tercebur dalam humor-humor tradisional, namun masih kental dengan unsur teatrikal. Maka mereka memutuskan pementasan ini sebagai teater populer.

Keputusasaan terhadap teater nampaknya mampu ditangkis usai menyaksikan pementasan Sukreni pada Kamis, 28 Februari 2019 di Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar. Proses ini tentu berawal dari penjelajahan makna filosofis teks lama Sukreni Gadis Bali karya A.A. Pandji Tisna, yang berhasil disadur ke dalam naskah drama modern berbahasa Bali.

Alih wahana ini tidak bisa terjadi secara instan tanpa kemampuan kognitif yang efektif dari penyadur naskah. Dari segi pemilihan teks ini, sudah terlihat kejelian sutradara untuk membangkitkan kembali cerita-cerita yang hampir dilupakan. Apakah kisah ini masih relevan di zaman melinial kini? Saya pikir itu tergantung pada strategi komposisinya.

Dari segi penggarapan naskahnya, menurut Darma Putra ada beberapa kata dalam bahasa Bali yang terasa kaku dan kurang natural (Baca: Sukreni, Jegeg Megledag). Sejalan dengan hal tersebut, nampaknya proses alih wahana dari novel ke naskah drama juga terhalang sor singgih bahasa. Beberapa adegan terasa kurang menyatu dengan rasa base Bali. Di sini terlihat bahwa Kelompok Sekali Pentas masih perlu lagi berlatih menggunakan bahasa Bali yang baik dan benar.

Meski begitu, kekurangan perbendaharaan kata ini dtutupi oleh banyolan-banyolan sehari-hari yang tidak mementingkan tata bahasa Bali. Mereka juga cerdas dalam meniru aksen lokal sehingga menutupi kekauan dialog tersebut.

Pemain-pemain yang terlibat dalam pementasan ini juga cukup mempuni. Wirama, Wirasa, Wiraga yang menjadi dasar dari pembentukan karakter berhasil dikuasai. Usaha-usaha itu cukup terlihat seperti tokoh Men Negara diperankan dengan gesit dan legit oleh Kiky. Hemat saya, Kiky dengan sadar memanfaatkan postur tubuhnya untuk mengusai panggung.

Selain itu, irama dialog yang lebih sering meninggi bukanlah hal sulit baginya. Namun dalam wirasa, kedalaman merasakan peristiwa masih belum terlihat pada garis-garis wajahnya. Lain lagi dengan Ni Negari yakni Desi Nurani. Peran ini nampaknya tidak terlalu sulit untuknya yang sudah sering berada dipanggung. Namun, kekuatannya bisa-bisa menutupi potensi aktor-aktor lain. Syukurlah peran I Gusti Made Tusan oleh Indra Mpol tidak tertutupi. Indra mampu membuat ritme dan emosi di panggung terjaga.

Foto: Adi Ngurah

Pemain-pemain menarik lainnya seperti adegan anak-anak SD ini cukup menarik. Memang terasa kurang mendidik, namun ini juga bisa dijadikan bahan edukasi dalam melihat kemungkinan-kemungkinan negatif dari masa pubertas. Kelenturan anak-anak ini bergoyang dan berdialog cukup mengundang tawa. Gerak-gerik spontan yang tertata juga membuat penoton tertawa pada saatnya.

Gelak tawa penonton ini tentu sudah dihitung, diperkirakan, direncanakan oleh penata gerak. Gerakan yang melesat dan kompak, tarian yang panas dan cadas juga mengundang tepuk tangan penonton. Para penonton seperti menyaksikan Broadway atau Bollywood versi Bali. Mereka diajak, digiring, dan dijerumuskan ke dalam keriuhan panggung.

Semua hal itu tentu merupakan penemuan teknik baru (meski tidak benar-benar baru). Sejalan dengan Benny Yohanes, penemuan baru dalam konteks ekspresi artistik juga penting. Tentu sutradara sudah paham dengan penawaran teknik baru tersebut. Penawaran itu memberi perluasan perspektif bagi penikmat seni dalam memahami pementasan.

Perluasan perspektif yang ditawarkan Sumahardika yakni pertama tidak ada panggung tunggal, kedua peran pemusik dan pemain yang saling berinteraksi, dan ketiga penggunaan musik disko elektro yang tidak biasa dalam pementasan berbahasa Bali. Kualitasnya timbul seperti menonton teater kontemporer kelas Dobly Teater atau TMII. Meski begitu penonton masih merasakan sentuhan tradisional. Seperti menonton drama gong di banjar yang tidak membatasi interaksi penonton dengan pemain atau pemain dengan pemusik.

Bobot artistik yang tak kalah penting tentu penggrapan musik yang dinamis tanpa mengesampingkan kebutuhan teks. Dialog-dialog yang dilagukan menjadi segar oleh penataan musik yang seimbang. Terepas dari permasalahan teknis seperti mic yang lepas, posisi mic yang tidak pas, atau teknik penggunaan mic yang tidak tepat, pemain tetap menjaga suasana pemantasan.

Hal teknis tersebut ditutupi dengan musik dan juga penyanyi di bagian musik. Saat mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan, penonton seperti ada didalamnya karena dialog yang dipilih untuk dinyanyikan masih familiar. Berbagai teknik musik juga disajikan, namun kurangnya penggunaan unsur-unsur tradisional seperti terasa kehilangan ruh dan jiwa drama Bali tersebut.

Musik dan gerakan yang ritmis ini didukung pula oleh rancangan kostum pemain. Kostum-kostum yang digunakan sudah dipirkan dengan matang. Warna-warna yang dipilih tidak sembarang. Seperti warna merah menyala, orange, hijau muda, biru muda, kuning terang adalah warna yang mengundang selera.

Penonton tergugah untuk terus mengikuti alur cerita berkat kostum ini. Bila ditelisik dari latar belakang cerita Sukreni Gadis Bali, tentu belum ada penggunaan warna-warna terang seperti itu. Design rok dan baju crop-top juga belum ada. Meski begitu, gebrakan kostum ini akan menjadi jembatan waktu antara lampau dan masa kini. Jembatan latar tempat juga terlihat dari penggunaan properti yang efektif. Perubahan latar warung menjadi kamar atau rumah bisa diubah dengan hanya mebalikan property tersebut.

Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa penemuan teknik baru ini berpotensi menciptakan genre baru dalam ranah teater. Landasan konseptual yang matang ini tentu lahir berkat tempaan berpuluh-puluh pementsan, berlembar-lembar referensi, dan bertahun-tahun mengutak atik komposisi yang tepat. Bangunan pertunjukan seperti ini menemukan strukturnya tidak saja dalam dramatiknya namun musikalitas dan kandungan lokalitas juga kental terasa.

Pertanggung jawaban moral kepada penonton juga terampaikan. Penonton tidak saja diberikan parodi-parodi melainkan penonton diajak mengkritisi pristiwa sosial tentang pemerkosaan. Apakah ini berhenti hanya sampai pada riuh tawa penonton? Tentu tidak. Memanfaatkan konteks wacana sosial tentang pemerkosaan saat ini akan membuat penonton mulai berpikir. Di balik tepuk tangan penonton tentu ada pertanyaan tentang keadilan bagi perempuan, tentu ada percikan ide tentang anti kekerasan. Proses berpikir itu akan melahirkan budaya berpikir kritis sebagai oleh-oleh usai menonton pementasan.

Budaya berpikir kritis dan kreatif secara kolektif ini adalah proses yang harus dilalui oleh Kelompok Sekali Pentas. Tentu tidak mudah mengharmoniskan puluhan egoisme. Sejalan dengan pesatnya teknologi, pemikiran akan makin mempuni.

Kita pun sebagai pegiat seni makin diuji. Ujian-ujian itu akan dibuktikan dengan kematangan emosi, system berpikir yang cadas, hasrat mencoba hal baru, dan mental yang tangguh. Namun dengan demikian pula hasil optimal mampu diraih. Keberhasilan sutradara, penata musik, pemain, dan kru diharapkan tidak berhenti sampai pencapaian ektrinsik. Perlu penggalian kedalaman diri agar benar-benar mampu menghidupkan jiwa berkesenian secara kolaboratif. [T]

Tags: Bahasa BaliDramadrama gongmusikTeater
Share145TweetSendShareSend
Previous Post

Sukreni, Jegeg Magledag!

Next Post

Acceptance

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Acceptance

Acceptance

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co