2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang Warisan Jero Dalang

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi

TAK ada rintih sedih di matanya. Perkabungan justru menyulap Basur menjadi orang paling bahagia. Ditambah lagi, ibu dan saudaranya menyetujui niat untuk menjual satu peti wayang peninggalan bapaknya.

Dalam rapat keluarga sore itu, Basur amat bersemangat.

“Percayalah, bila wayang itu memang satu-satunya pilihan dan harus diimani sebagai jalan keluar keluarga kita!” Basur bersabda dengan wajah berseri-seri sambil memegang kedua tangan ibunya. Memang begitulah perangai Basur, kalau urusan jual-menjual kadang melintang di garis depan.

“Kau tahu sendiri, ada ruh yang hidup di dalamnya, kalau mereka tak menghendaki, mereka akan kembali ke rumah ini, rumah pemiliknya, dengan usaha apapun orang lain mengambilnya,” ibunya mengingatkan.

“Sudahlah, wayang itu tak akan kembali. Uang hasil penjualan wayang bisa kita gunakan untuk biaya ngaben. Sisanya juga masih banyak. Semua akan dibagi rata,” katanya menggebu-gebu meyakinkan. Basur tak membenarkan bantahan ibunya.

“Tapi terlalu beresiko kalau ternyata wayang itu tak berkehendak dijual. Dan apabila sesuatu yang tak diinginkan benar terjadi, kita bisa dituduh menipu…” sergah Kompyang, adik kandung Jero Dalang.

“Ini kesempatan,” potong Basur. ”Mumpung ada pembeli dengan harga tinggi.” Basur memelas. “Sekarang coba pikir baik-baik, kondisi keuangan kita sedang tidak bagus. Agar derajat terjunjung sebagai dalang, pengabenan bapak tentu harus sedikit megah. Paling tidak, ada lembu dan naga banda. Harga dua benda itu tak murah. Percayalah. Kadang untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu yang lain.”

“Sudah, sudah, kita turuti saja kemauannya. Tapi dengan satu syarat. Kalau wayang itu kembali ke rumah kita, berarti ia tak mau dijual, dan segala resiko kau yang tanggung. bagaimana?” tanya saudaranya yang lain sambil mendelik ke arah Basur.

Basur memberi anggukan yang sekaligus menutup dengan mufakat rapat keluarga. Ia lekas bergegas meraih ponsel dan menghubungi seorang kolektor.

“Tuan tak akan kecewa. Asli. Terawat. Dijamin. Tak akan tuan temukan di lain tempat,” kata Basur pada sang kolektor.

Memang benar, wayang Jero Dalang kesohor sebagai wayang langka. Kulit bahan wayang juga tak sembarang. Jero Dalang dulu membuatnya dengan kulit sapi gading titisan suci wong samar. Sebab bahan itu pula sanggup memalang gangguan gaib yang mungkin ditujukan kepada si empunya atau wayang itu sendiri. Itulah musabab harganya sekarang terpikat mahal.

Sebenarnya usaha menjual wayang itu pernah Basur lakukan. Setelah Jero Dalang jatuh sakit, dan sanggar pedalangan ditutup, wayang itu tak dipakai lagi. Beberapa kali Basur membujuk bapaknya, dan selalu ia mendapat jawaban yang sama: “Kita lebih baik miskin, Sur, daripada harus menjual harta paling berharga keluarga.”

Saat-saat seperti itu Jero Dalang ingin sebenarnya membentak Basur dan berkata : “Anak kurang ajar! Tidakkah kau tahu, aku membesarkanmu dan menghidupi keluarga dengan wayang itu?!” Tapi Jero Dalang tak kuasa melakukan itu. Bagaimana ia sanggup membentak bila untuk bernapas saja terengah.

Pikir Basur, bila jalan baik-baik tak berdaya, maka jalan lain patut dicoba. Ia kemudian mengendap diam-diam mencuri dan menjualnya kepada seorang kolektor asal Australia. Entah apa yang terjadi, sesampai wayang itu di Australia, Basur mendapat telepon bahwa wayang itu hilang. Dan ketika Basur mencari-cari di rumahnya, peti yang berisi puluhan wayang itu terongok di tempat semula, seperti tak pernah bergeser sedikitpun dari tempatnya. Basur heran bukan main. Kejadian itu membikin Basur berkalang kecewa dan merugi. Ia harus mengembalikan uang dari kolektor yang sebagian telah ia habiskan.

Ada dua alasan sebenarnya mengapa Basur amat semangat ingin menjual wayang milik bapaknya. Alasan pertama adalah ranum dendam yang sejak lama bersemayam di kepala Basur. Sekira di usia tujuh tahunan, meski ia nakal, Basur tumbuh menjadi anak berbakat. Di hari pertama ia mulai mencoba memainkan wayang, Basur sudah seperti dalang sungguhan.

Saat sebelum memainkan wayang Basur mengucapkan mantra untuk menyapa lelembut agar mereka tak mengganggu jalannya pertunjukan. Setelah ia mulai mengambil gunungan, mantra untuk menenangkan penonton diucapkan. Sampai pertunjukan selesai, ia juga merapal mantra ucapan terimakasih kepada seisi alam semesta karena pertunjukan telah dilancarkan.

Semua mantra yang rumit itu ia hafal dengan mudah hanya dengan kebiasaan menonton bapaknya mendalang. Jero Dalang merasa bangga kepada anakanya. Sejak itu ia kerap bertutur kepada murid-muridnya bahwa Basur benar-benar akan sanggup melampaui kemahirannya mendalang.

Di hari-hari berikutnya, Basur sering mencuri wayang-wayang itu ketika bapaknya melakukan jeda istirahat latihan mendalang. Ia memainkan sendiri dengan sembarang. Tapi diam-diam Jero Dalang mengawasinya dari jauh. Tapi suatu hari Jero Dalang tiba-tiba murka gara-gara melihat Basur menabrakkan wayang-wayang itu dengan dinding hingga lecet sebagian.

Jero Dalang lalu menghampiri dan bercerita pada Basur kecil bahwa bila wayang-wayang itu disakiti mereka akan berubah menjadi sosok jahat. Tubuhnya akan membesar, berkulit legam dan seram. Matanya besar dan menjorok keluar. Basur ingin sebenarnya tidak percaya.

Namun kenyataannya memang benar seperti itu. Semua cerita bapaknya terseret ke dalam mimpi. Dalam tidurnya, Basur sering bertemu dengan Rahwana dan seluruh konconya. Basur sering dikeroyok dan disakiti. Sampai hari ini, ia seperti tersekap dalam ruang kebencian. Jangankan untuk memainkannya, menyentuh wayang itu saja Basur enggan.

Alasan kedua adalah takdir yang menggiringnya bertemu Retni. Perempuan berwajah rekah dengan mata segar kelopak mawar, dan bila ia tersenyum, bibir tipisnya selalu membuat Basur menelan ludah. Baginya Retni adalah palung nasib. Meski alir deras, Basur akan berenang sekuat mungkin menujunya.

“Retni memang cantik, Sur. Tapi perlu banyak modal untuk mencintainya. Dia janda kembang mata duitan. Sainganmu juga semua orang kaya,” kata teman-temannya mengingatkan.

“Tapi aku terlanjur mencintainya. Sekali berani, maka perjuangan harus sampai mati!” bentak Basur.

Sampai suatu sore, Basur berkunjung ke rumah Retni. Sepulangnya ia memasang wajah murung. “Retni baru saja pergi, dijemput pacarnya.” kata ibunya.

Sejak saat itu, Basur sangat ambisi dan pantang baginya memberikan orang lain untuk mendahului mengajak Retni pergi. Basur berhasil mengandaskan hubungan Retni dengan lelaki itu hanya dalam tenggang sebulan. Entah bagaimana caranya, semua orang heran. Ia pemuda pengangguran, tapi setiap sore ia selalu punya alasan untuk mengajak Retni keluar, dan sepulang itu, Basur selalu membikin Retni kerepotan membawa belanjaan.

Belakangan, barulah diketahui bagaimana uang-uang itu sampai ke tangan Basur. Sejak Basur jatuh cinta pada Retni, ia jarang pulang. Hidupnya terambung-ambung dan sesak teka-teki. Pernah suatu ketika ia tiba-tiba datang dan meminjam motor salah satu murid di sanggar bapaknya, dan sampai sekarang tak pernah jelas juntrung nasib motor itu.

Sekiranya sudah dua kali Basur berlaku serupa. Esoknya, Jero Dalang selalu menambah utang untuk mengganti rugi motor yang dibawa Basur kabur. Tak hanya itu, ketika Basur terpojok bangkrut, tidak memiliki uang serupiah pun, ia terpaksa pada suatu malam mengendap-endap mencuri induk ayam milik ibunya yang sedang bertelur. Dengan menempelkan sabut kelapa yang digosok bawang di dekat kepalanya, maka mata ayam itu perih dan tak akan berkeok kala didekap. Basur dengan segera kemudian membawa induk ayam beserta telur-telurnya untuk dijual di pasar.

Berbilang bulan kemudian, tabungan bapaknya habis untuk membayar utang. Hampir setiap hari, ada saja yang mengadu perihal utang-utang Basur. Jero Dalang terpatah berkoar mengutuk perangai Basur dan menyumpahi hidupnya. Setiap kali Jero Dalang bertemu Basur, selalu ia merasa bersalah. Karenanyalah Basur tak paham bahwa ia adalah satu-satunya keturunan lelaki yang harus mengadu untung-malang hidup dengan waris ilmu dalang.

Tapi hari ini hidup Basur bergegas kembali meraih titik terang. Ambisinya untuk meminang Retni akan terwujud.  Basur benar-benar tak ingin menuai kegagalan lagi. Sore setelah rapat keluarga diputuskan, Basur mendatangi orang pintar, dan menanyakan perihal wayang itu pernah tak mau dijual dan kembali lagi ke rumahnya. “Peninggalan bapakmu bukan wayang biasa. Mestinya tak boleh dijual,” kata orang pintar itu. Ia kemudian berbisik di telinga Basur. Entah apa yang mereka bicarakan.

Sepulangnya, Basur bersiul gembira. Ia langsung menyelinap ke ruang penyimpanan wayang. Basur berdiri ngangkang di atas peti. Mulutnya komat-kamit, tempo-tempo ia membuka peti, kemudian membuka retsleting sebelum ia selorotkan celanaya ke bawah. Sambil mengencingi wayang, Basur membayangkan bagaimana sebentar lagi akan memiliki banyak uang dan menikahi Retni. Dengan langkah tenang dan riap cahaya gembira di wajahnya, hatinya mantap melangkah kemudian menuju kamar. Di atas dipan ia baringkan tubuh.

Menatap langit-langit kamar sambil menyisir rambutnya dengan jemari. Ia ingat petunjuk yang diberikan orang pintar itu perihal ritual selanjutnya, bahwa pada detik matanya mengatup dan memasuki wilayah tidur, ia harus mengucapkan mantra untuk memalang ruh-ruh wayang yang mungkin hadir dalam mimpinya untuk menuntut balas perlakuan kasarnya. Menunggu saat-saat seperti itu adalah siksa. Basur kembali memijat dahinya sendiri tanpa sadar saraf-saraf matanya kian melemas.

Dan akhirnya ia harus mengakui bahwa Tuhan selalu punya siasat untuk mematahkan rencana manusia. Matanya benar-benar terasa berat. Malam itu, tanpa sempat menjalankan petunjuk, Basur langsung tertidur. Nyenyak sekali. (T)

Tags: Cerpen
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Arnata Pakangraras# Bertamu ke Perbatasan, Senja Oleng di Teras

Next Post

Memangnya Politikus Saja yang Suka Rebutan Kursi? Mahasiswa juga…

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Memangnya Politikus Saja yang Suka Rebutan Kursi? Mahasiswa juga…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co