HAMPIR sebulan lamanya kami menggarap “Buah Tangan dari Utara”. Tidak jauh berbeda dengan karya-karya sebelumnya, proses ini diawali dengan observasi ke lapangan, terutama ke kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Celukan Bawang, Gerokgak, Buleleng. Karena pentas ini adalah sebuah upaya merepresentasikan peristiwa yang terjadi antara warga dan pengelola PLTU di Celukan Bawang, Buleleng

Pengamatan dilakukan oleh beberapa tim Teater Kalangan bersama rekan dari LBH Bali. Data-data yang diperoleh menjadi materi utama dalam penggarapan ini. Dari sana, seluruh tim produksi dilibatkan untuk sama-sama merangkai peristiwa.

Pertama-tama dengan mengamati keseharian masing-masing dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa dikembangkan menjadi sebuah wacana maupun adegan. Misalnya, salah satu aktor yang sering bersentuhan dengan dunia tumbuhan dan bunga, mengamati karakteristik bunga itu seperti apa, lalu data-data itu dapat dijadikan acuan untuk menggambarkan karakter tokoh ataupun inspirasi untuk gerakan.

Sutradara tidak egois dalam mengarahkan para aktor karena kami diberi kesempatan untuk berkontribusi menyumbangkan ide bersama-sama sehingga makin banyak ada pertimbangan yang memperkaya kamus kami.

Seperti biasa, sebelum terjun mencoba adegan, proses latihan selalu diawali dengan menggodok fisik. Pemanasan kami lakukan dengan bergerak merespons bunyi, musik, maupun benda dan ruang yang ada di sekitar kami. Bunyi, benda-benda, dan ruang sekitar itu kami jadikan partitur atau panduan untuk bergerak.

Tahap ini cukup menguras tenaga, karena selain “memanaskan” diri, kami juga dituntut untuk menyamakan frekuensi satu sama lain, agar mencapai kesetaraan energi sehingga tidak terjadi ketimpangan ketika berada di atas panggung. Dan energi itu harus dijaga hingga hari pertunjukan tiba.

Kami hanya memiliki 3-4 jam sehari untuk latihan efektif, karena kami harus menyesuaikan dengan kewajiban pribadi dan tuntutan pekerjaan yang dijalani. Alhasil, latihan yang selalu dimulai malam hari itu terasa padat, karena tidak hanya aktor dan sutradara yang punya kepentingan untuk menghafal dialog dan adegan, tetapi juga unsur-unsur pendukung hadirnya peristiwa di panggung itu harus dipikirkan juga oleh tim artistik, lampu, maupun musik.

Proses latihan juga selalu ada dinamikanya. Kendala latihan hadir dari berbagai alasan. Bisa jadi karena tugas kuliah yang menuntut perhatian lebih, kewajiban di tempat kerja yang tidak mengijinkan pulang lebih awal, hingga kondisi fisik tim produksi yang menurun satu persatu.

Sesekali, kami ambil libur dan beristirahat. Tetapi, tetap tidak bisa lepas begitu saja, karena ada hal lain di luar latihan yang juga harus dikerjakan, misalnya memastikan undangan dan distribusinya, dan juga koordinasi dengan panitia serta pengelola venue.

Selama kondisi fisik masih belum memungkinkan untuk bergerak berat, kami lebih memfokuskan pada latihan dialog dan pendalaman karakter tokoh. Ini juga menjadi salah satu tantangan karena peristiwa yang diangkat, berlatar belakang Buleleng. Sementara, sebagian besar dari kami, tidak berasal dari sana.

Dalam penyampaian makna, dialog yang dihadirkan tidak mengalir deras dari awal hingga akhir pementasan—yang kami sepakati sebagai peristiwa. Kami tetap menghadirkan simbol-simbol yang terselip melalui gestur dan visual.

Pada akhirnya, kami berharap “Buah Tangan dari Utara” bisa merepresentasikan peristiwa yang terjadi antara warga dengan pengelola PLTU Celukan Bawang, Buleleng. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY