Foto; Wayan Paing

 

DI TENGAH naik turunnya status Gunung Agung, ada beberapa hal berlainan yang ternyata sulit dibedakan. Waktu pertama kali berstatus awas dan lama baru diturunkan ke level siaga, banyak yang beranggapan ada hal-hal lain yang mendesak sehingga menghambat pengambilan keputusan.

Begitu juga sebaliknya, dari level siaga tidak kunjung dinaikkan ke level awas, membuat banyak pihak yang kemudian mempertanyakannya. Bahkan, ada yang mengaitkannya dengan politik. Ah, politik? Apa ada hubungannya ya? Tapi, kedewasaan masyarakat mulai terasah. Karakter orang Bali yang pelan namun pasti mulai ditunjukkan. Kepanikan tidak lagi melanda.

Status Gunung Agung memang sedikit membuat bingung banyak kalangan. Bukan saja masyarakat awam, para ahli pun tampaknya tak berani gegabah. Dua kali diperkirakan akan erupsi, ternyata belum terjadi seperti yang diperkirakan.

Perkiraan pertama, tanggal 23 September 2017. Pada saat itu, intensitas kegempaan yang mencapai ribuan kali menjadi alasannya.

Yang kedua, pada 28 Nopember 2017. Dengan keluarnya asap yang tebal disertai hujan abu sejak tanggal 25 Nopember 2017 malam, diiringi aktivitas kegempaan yang mulai terpantau setelah sekian lama meredup. Ditambah lagi aliran sungai bercampur abu yang diasumsikan sebagai lahar dingin; setidaknya oleh masyarakat awam,  menjadikan perkiraan akan terjadinya letusan hebat sangatlah berdasar.

Namun, kedua perkiraan tersebut belumlah terjadi sampai tanggal 29 Nopember 2017 sore.

Banyak yang memberi julukan Gunung Agung sebagai gunung “aneh”. Kalau gunung-gunung yang lain, dalam kedua kondisi tersebut 99% dikatakan pastilah meletus. Saking anehnya, sampai ada orang yang berani mengaku bisa membendung letusan Gunung Agung. Yang ini tentu saja tambah aneh. Seolah menambal bocoran keran dengan lem pipa, semuanya bisa diatasi. Pada saat seperti ini, konyol dan aneh rasanya sebanding kedudukannya.

Terlepas dari keanehan tersebut, dua kali status Gunung Agung naik ke level awas, dua kali hal yang sangat berbeda sulit dibedakan.

Saat status awas pertama kalinya, membedakan getaran gempa dengan getaran kendaraan di jalan menjadi sangat sulit dibedakan. Masyarakat di jalan Amlapura – Singaraja seperti di Desa Culik dan Kerthamandala dan sekitarnya, sangat merasakan hal itu. Betapa tidak, ketika masyarakat harus tidur di luar kamar tidurnya, bahkan membuat tenda-tenda di ladang atau sawah untuk menjauhi runtuhan bangunan saat terjadi gempa, kendaraan-kendaraan besar pengangkut pasir dari galian C masih banyak yang berseliweran. Getaran yang ditimbulkan sering dikira gempa lagi dan gempa lagi.

Pada saat Gunung Agung mulai mengalami letusan freatik, bertepatan dengan musim penghujan saat ini. Membedakan awan dan asap atau abu yang keluar dari puncak Gunung Agung menjadi kendala tersendiri. Awan yang menutupi puncak gunung sering disangka asap atau kepulan abu vulkanik.

Menyemburnya abu dari kawah Gunung Agung dengan volume yang cukup besar tanggal 26 Nopember 2017 lalu, yang hampir menutupi sebagian Gunung Agung pada bagian selatan, membuat mendung yang biasa terjadi di musim hujan disangka kabut asap.

Belum cukup sampai di situ, petir yang bergemuruh di malam hari setelah hujan turun, ikut-ikutan terlibat. Suara gemuruh petir meramaikan media sosial dengan tema, “gemuruh mulai terdengar dari puncak Gunung Agung.”

Tapi sangat beruntunglah masyarakat Karangasem dan Bali pada umumnya. Di tengah sulitnya membedakan hal-hal tersebut di atas, pembelajaran alam dari kejadian sebelumnya sudah menumbuhkan pemahaman yang mendalam bagi masyarakat. Gema kepanikan yang sebelumnya terjadi, menurun secara drastis. Selain mempercayakan kepada pihak yang memang berwenang. Ada pola pikir yang mulai tertanam: asap, abu, bahkan lahar sekalipun bisa dilihat dan dihindari. Yang ditakutkan sekarang adalah yang tidak terlihat: gempa.

Dengan pemikiran seperti itu, masyarakat lebih bijak dalam mengambil keputusan. Walaupun sudah diguyur abu dan diganggu bau belerang yang menyengat, mereka tidak lagi mau lari dengan penuh kepanikan. “Tenang dan tetap waspada!” mulai mereka terapkan.

Dan bencana sering disebut selalu membawa berkah. Walau bukan material, berkah pengalaman dan kematangan berpikir nampak mulai menaungi masyarakat di Karangasem. Semoga. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY