Gunung Agung /Kredit Foto: Sugi Lanus

 

TERDAPAT sejumlah hal-hal yang menakjubkan tentang Gunung Agung dalam lontar-lontar dan sejumlah naskah kuno Bali. Bagi yang tak paham baca lontar, hal-hal itu dijelaskan secara terang oleh peneliti lontar, Sugi Lanus, dalam diskusi “Catatan Gunung Agung dalam Lontar-Lontar Bali” yang digelar Hanacaraka Society di Pomodoro Italian Restaurant, Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar, Senin 2 Oktober 2017.

Sugi Lanus (kanan) bersama kolektor lontar asal Karangasem, Ida I Dewa Gede Catra, diskusi Hanacaraka bertajuk “Catatan Gunung Agung dalam Lontar-Lontar Bali”. /Foto: Anggara Mahendra

Mitologi: Potongan Puncak Mahameru

Gunung Agung adalah potongan dari puncak Gunung Mahameru di India. Hal ini disebutkan dalam naskah Usana Bali, yakni naskah yang dikarang di Bali. Disebutkan saat itu Pulau Bali seakan begitu ringan, seperti daun yang mengambang di tengah lautan. Untuk menenangkan Bali maka puncak Mahameru dibawa ke Bali.

“Yang paling banyak dibahas dalam lontar itu bahwa Gunung Agung ini adalah potongan dari Gunung Mahameru. Jadi satu ujungnya menjadi Gunung Agung dan satunya menjadi Batur. Itulah yang membuat Bali menjadi tenang,” kata Sugi Lanus.

Kosmologi: Caturlokaphala

Mandala Gunung di Bali adalah Caturlokaphala. Pada posisi timur terdapat Gunung Lempuyang (Kahyangan Bhatara Ghnijaya), di bagian barat terdapat Gunung Bratan (Kahyangan Bhatara Watukaru), di sisi utara ada Gunung Mangu (Kahyangan Hyang Danawa), dan di selatan terdapat Gunung Andakasa (Kahyangan Hyang Tugu).

Empat lokaphala itu adalah ‘lingga’ atau ‘titik api puja’ para pamangku dan para suci yang terpilih untuk mendoakan semesta berporos di Gunung Agung dan Gunung Batur. Jadi, Bali dikeliling oleh empat puncak kosmologi.

“Semua sangat tua. Sentralnya adalah Gunung Agung,” kata Sugi Lanus.

Catatan Peristiwa-Peristiwa

Peristiwa-peristiwa yang berkaiatan dengan Gunung Agung tercatat di tiga babad, yaitu babad gumi (versi lontar Pusdok dan salinan Kirtya 719/3.Va ), babad tusan (versi salinan Kirtya 4916/Va dan 1443.Va), dan kalawasan (versi salinan Kirtya 6476/IIIb, 3049/IIIb, 3578/IIIb, 6789/IIIb).

Disebutkan antara lain, tahun 189 Gunung Agung mulai ditegakkan. Tahun 1002 Gunung Agung mulai beraktifitas mengeluarkan letusan. Saat itu, Tukad Unda diceritakan sempat dialiri lahar Gunung Agung.

Selanjutnya pada tiga babad itu terdapat catatan peristiwa-peristiwa di Gunung Agung dan Gunung Batur, soal aktifitas letusan maupun di luar peristiwa letusan. Di antaranya tercatat pada tahun 1089, 1543, 1615, 1616, 1665, 1695, 1683, 1705, 1711, 1715, 1784, 1820, 1904, 1905.

Yang paling banyak disebut-sebut adalah peristiwa letusan tahun 1711. Dari catatan itu disebutkan tahun 1711 terjadi banjir panas atau aliran lava yang menewaskan warga Bukit, Cahutgut, Bantas, dan Kayuaya. Tidak dirinci berapa jumlah warga yang tewas.

Catatan Kawasan Rawan Bencana

Dalam sejumlah lontar juga tercatat kawasan rawan bencana (KRB). Luar biasanya, peta KRB yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM ketika status Gunung Agung meningkat jadi Awas, September 2017 ini, telah terekam sebelumnya dalam catatan-catatan lontar.

Daerah-daerah yang berbahaya saat Gunung Agung erupsi sudah disebutkan dalam lontar. Jadi, tak perlu diragukan lagi peta yang dikeluarkan PVMBG itu, karena catatan lontar sudah mengkonfirmasi bahwa apa yang dipetakan itu sudah pernah terjadi sebelumnya. (T/Istimewa)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY