Lukisan karya: Kabul Ketut Suasana

.
KUBUTAMBAHAN

Kau dengar nelayan itu tak pernah lagi kembali
Ia menjelma bintang
Yang jatuh sesubuh ini. Para leluhur masih
Sebisu arca
Tak ada yang sanggup mengusiknya
Sedang kita tak mungkin menunggu
Seperti samudera yang kehilangan warna
Dalam tulusnya penyerahan
Dan benteng-benteng yang melindungi kita
Telah menjadi masa silam

Tanah ini tak boleh menyandera kita
Kapal-kapal telah tiba
Dan kanak-kanak akan memiliki lautan
Seluas yang mereka minta
Aku memenuhi janjiku
Untuk bangkit dari tebaran koral
Di sepanjang pantai itu
Karena kita adalah satria
Dengan punggung karang
Dengan sepasang sayap yang menawar haus
di kejauhan
Di atas bumi dan laut
Ketika keduanya menjelma sepasang naga perkasa
Dan garis pantai telah memisahkan mereka

Kau dengar itu
Dan kau tau tak seorang pun dapat menyamai dirinya
Dengan apa saja yang ada di atas mereka
Juga tidak dengan embun yang menyerap hari-hari
Karena kita ada pada lintasan semua itu
Seperti angin yang menghempaskan diri pada daun-daun kaktus
Yang penuh duri
Sementara para leluhur masih sebisu arca
Bertahan sebagai benteng
Dari masa silam yang tak pernah benar-benar kita miliki
Kecuali rasa memiliki itu
Yang membuat kita tetap hidup
Dengan rasa kasmaran dan penasaran
Kepada waktu

TAK JADI HUJAN DI SINGARAJA

Aku tau kau tak ingin pulang
tanpa hujan
Burung-burung sudah jauh. Peluit kapal
terdengar senja di daratan
Oktober penuh teka teki. Bunga bunga mekar
tak ingin membagi wangi
Aku terluka. Tanah hitam purbanimu mengerjarku
bagai akar akar anggur penuh doa
; mungkin sebentang layar. layar? bukan!
hanya angin puyuh
seribu tangan batu yang sunyi tiba-tiba meronta
ingin tumbuh!
tiang tiang patah
kendi kendi penuh dongeng berjatuhan
di pucuk pucuk tanah
bagai serpihan kaca benggala
lapar dagingku tak puas mengunyahnya

Saat itulah aku ingin melupakan
segala yang pernah kuketuk di tubuhmu
; desa desa menuju malam. menuju lampu!
kutu kutu tanpa pohon
mengendap di dasar senyap impianku;
buah-buahan yang tak pernah matang
gugusan arca dan aroma cengkeh di bukit
adalah ombak yang ingin tidur
di hamparan pasir penuh bulan

Engkau ingin menyepuhnya untukku. Untukku?
Jangan, Kekasih! Biarkan saja begitu.
Bukankah engkau ingin menjadi hujan
yang tak pernah turun
di altar cemas musim tanamku?
Cuaca begitu liar
Dan di bawah bintang jatuh
doa doa hanyalah gumpalan angin garam
yang gampang terbakar

Padam bersama waktu
Kembang kembang api di laut
adalah tangan lembut bidadari yang ingin kau sentuh
dengan hati kanak-kanakmu

2003

PANTAI LINGGA

Agar-agar langit
Agar-agar langit
Tunjukkan kapan dingin
menjadi tulang
Pantai terlalu licin
untuk kutempuh sendirian
Kadangkadang dengan angin
Kadangkadang saja bergembira
Kadangkadang
kurasakan laut ini
tengah membuang dirinya
Menghempaskan aku
ke dalam sujud
yang tak ada batasnya

1995

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY