Foto: Ari Antoni

DI dalam kehidupan manusia bermain adalah hal yang menyenangkan. Manusia dari kecil sampai dewasa selalu terlibat dalam perkara permainan, tak heran permainan jadi elemen penting dalam laku hidup manusia. Di dalam hidup kanak-kanak permainan punya kedudukan yang tak remeh. Boleh dikatakan bahwa bermain mengisi kehidupan anak-anak, mulai dari ia bangun sampai tidur.

Johan Huizinga, seorang profesor, teoritisi budaya cumsejarahwan Belanda pada tahun 1938 menulis sebuah buku Homo Ludens; a Study of PlayElement in Culture. Dari buku itu kemudian populer istilah Homo Ludens untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”, makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Huizinga bahkan menyatakan bahwa “Play is older than culture”.

Terlepas dari kontroversi pernyataan itu, nyatanya dalam setiap komunitas baik primitif maupun modern selalu terdapat permainan sebagai bagian dari kebudayaan manusia, tiap zaman memiliki tipikal permainannya sendiri. Tentu saja, karena permainan adalah bagian dari kebudayaan, jenis permainan itu terkait erat dengan perkembangan budaya masyarakat setempat, termasuk perihal pendidikan.

Dalam pendidikan, permainan adalah elemen terpenting membentuk kepribadian seorang siswa. Permainan memiliki manfaat bagi kemajuan jasmani dan rohani. Bisa dikatakan bahwa dengan bermain tubuh akan menjadi kuat dan sehat, serta hilanglah segala kesedihan yang bersarang dalam jiwanya siswa. Seluruh pancaindra siswa juga akan terasah menjadi semakin terampil dan cekatan.

Pada tulisan ini saya akan mengelaborasi berbagai pemikiran para ahli pendidikan—khususnya pendidikan anak—untuk merumuskan sebuah formula untuk memecahkan problem pendidikan anak di Indonesia. Tulisan ini akan saya bagi ke dalam empat bagian.

Pertama, memaparkan perihal peraturan pendidikan anak di Indonesia. Kedua, saya akan membahas perihal tiga teori pendidikan anak yang dikemukakan oleh Dr. Maria Montessori, FriedrichFröbel, dan Ki Hadjar Dewantara.

Ketiga, memaparkan mengapa bermain merupakan hal yang penting bagi perkembangan anak. Terakhir atau yang keempat, merefleksikan masalah pendidikan anak di Indonesia dan mencari solusi terbaiknya.

PENDIDIKAN ANAK DI INDONESIA

Pemerintah Indonesia tak boleh lalai dalam mengurus pendidikan usia dini, sebab menurut riset Bank Dunia menunjukkan bahwa negara yang sukses di pendidikan dini akan memperoleh manfaat dalam jangka panjang. Bukti lainnya dalam konferensi “Learningfor All: Shared Principles for Equitable and Excellent Basic Education System” di Jakarta, ada sekitar 100 pakar pendidikan yang hadir untuk membahas problem pendidikan dasar—terutama kaitan pendidikan dini dengan skor PISA (Programmefor Internasional Student Assessment).

Dari skor PISA 2015, anak yang mengikuti pendidikan usia dini (PAUD) nilainya lebih tinggi 57 poin—di atas rata-rata internasional yang 42 poin. Sebuah bukti efek dari PAUD terhadap prestasi siswa. Sayangnya, ada 25 persen siswa di Indonesia tidak pernah ikut PAUD, jumlah kelima terbanyak di antara negara-negara lain yang mengikuti tes PISA.

Padahal pemerintah Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa pendidikan akan dimulai sejak usia dini, bukan lagi setelah berusia sekolah. Lebih lanjut disebutkan dalam undang-undang tersebut (Bab I, pasal 1, butir 14) bahwa pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Di Indonesia, sesuai pasal 28 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan anak usia dini telah ditempatkan sejajar dengan pendidikan lainnya. Bahkan pada puncak acara peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2003, Presiden Republik Indonesia telah mencanangkan pelaksanaan pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia demi kepentingan terbaik anak Indonesia.

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age)—masih bisa diperdebatkan—bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun (Direktorat PAUD, 2004). Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Masalahnya di sini adalah sudahkah Indonesia mengaplikasikan pendidikan yang merangsang terbentuknya kepribadian anak secara menyeluruh? Atau malah sistemnya yang terkesan ekslusif dan mahal mengacaukan sistem pendidikan yang sudah diatur oleh UU no 20 tahun 2003? Ada baiknya membahas ketiga metode dari para pemikir—FrederichFröbel, Maria Montessori, dan KiHadjar Dewantara—sebelum menyelesaikan silang sengkarut pendidikan anak di Indonesia.

TIGA SERANGKAI: PARA PENDIDIK ANAK

Ada tiga tokoh yang mempunyai peranan besar dalam memajukan pendidikan kanak-kanak, yaitu, FrederichFröbel, MariaMontessori, dan KiHadjar Dewantara. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam merumuskan pendidikan kanak-kanak. Oleh karena itu, saya berusaha memaparkan pemikiran mereka satu persatu.

Frederich Fröbel

Tokoh pertama, Frederich Fröbel, menganggap anak itu seperti blooming flowers (Gargiula dan Jennifer, 2010: 7). Layaknya biji tanaman yang ditanam, mulai tumbuh, mengeluarkan tunas dan tumbuh dari tanaman muda yang lemah menjadi tanaman yang bisa menghasilkan buah. Guru bagi Fröbel dianggap sebagai tukang kebun yang bertugas merawat benih supaya bunga tersebut dapat mekar (Morrison, 2012: 66). Lalu tugas pendidikan adalah menyiapkan tanah yang subur, sejuk, dan baik bagi tumbuh kembang benih guna mengawal proses tembuh mekarnya bunga dengan sempurna. Secara sederhana Fröbel ingin menyadarkan bahwa orang dewasa harus menciptakan ‘taman’ yang sesuai dengan potensi dan kodratnya anak. Dengan begitu, anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Fröbel memberikan empat prinsip dalam melaksanakan pendidikan. Pertama, perkembangan alamiah yang menegaskan bahwa proses perkembangan individu harus ditampakkan dalam pengajaran ihwal ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan agama. Kedua, pendidikan harus diselaraskan dengan alam di mana anak-anak itu berada. Ketiga, pendidikan harus mengembangkan secara utuh kepribadiaan manusia, mulai dari agama, ilmu alam, matematika yang bersifat universal, serta bahasa. Keempat, seni juga wajib diajarkan karena merupakan bagian inheren dari manusia serta bisa membangun harmoni bagi kehidupan.

Fröbel juga menekankan pentingnya berfantasi, sebab berfantasi merupakan sifat universal dari anak-anak (Dewantara, 2004: 252). Bolehlah diselidiki bahwa anak-anak yang pandai berfantasi, kelak akan pandai berpikir juga. Fantasi yang lemah dan tidak terdidik kelak akan tumbuh menjadi angan-angan yang lemah. Inilah hubungan antara fantasi dengan angan-angan yang dipentingkan oleh Fröbel. Dalam Fröbelschool ia merumuskan bahwa:

  1. Harus menyenangkan kanak-kanak (kegembiraan adalah pupuk bagi tumbuhnya jiwa; sebaliknya kesusahan itu menghambat kemajuan jiwa kanak-kanak).
  2. Harus memberi kesempatan pada anak untuk berfantasi; karena itu janganlah memberi pekerjaan yang memaksa anak hanya meniru belaka atau yang tidak hidup pada jiwanya.
  3. Segala pekerjaan—jangan terlalu mudah pula—anak-anak harus cakap atau dapat menyelesaikan; perlunya supaya anak tiap-tiap kali mengalami rasa ‘menang’; sebaliknya jika anak tidak bisa menyelesaikan kewajibannya itu tentu ia merasa ‘kalah’; dan rasa kemenangan itu amat memajukan kecerdasan jiwa; rasa kalah itu menghambat kemajuan.
  4. Berilah pekerjaan-pekerjaanyang mengandung kesenian: misalnya warna-warna dan bentuk-bentuk yang indah (barang tentu memakai ukuran rasanya anak); rasa keindahan itu menarik jiwa ke arahkeluhuran budi.
  5. Segala pekerjaan anak itu harus mengandung isi yang dapat mendidik ke arah ketertiban: menyulam, menggambar, berbaris, menyanyi; dalam itu pula harus diketahui bahwa ketertiban itu digunakan Fröbel untuk mendidik rasa kesosialan yang akan menjadi pokok sikap kemanusiaan serta kemasyarakatan kelak jika anak tumbuh dewasa (Dewantara, 2004: 252-253).

Kelebihan metode yang ditawarkan oleh Fröbel adalah menuntun manusia dalam kepandaian berpikir dan kesadaran diri paling dalam. Sesuai dengan tujuan pendidikan yang menurut Fröbel berusaha mengembangkan secara menyeluruh potensi individu dan membangun harmoni internal individu, layaknya membangun harmoni dengan alam, masyarakat, dan Tuhan. Namun, tujuan ini tidak hanya dibebankan pada anak karena anak harus mengusahakan dirinya sendiri melalui aktivitas ekspresif, serta mengeluarkan potensi yang masih tersembunyi dalam dirinya. Dengan melihat konsep pendidikannya yang mengagumkan tak heran Ki Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai “Orang terbesar yang pernah menenemukan Sang Anak” (Dewantara, 2004: 250).

Maria Montessori

Setelah membicarakan Fröbel, mari beralih kepada tokoh kedua, Maria Montessori. Maria Montessori adalah seorang dokter berkebangsaan Italia yang pada tahun 1990 berhenti dari dunia kedokteran dan masuk ke dalam bidang pendidikan. Ia dikenal sebagai sosok yang rasional dan prinsip-prinsip pendidikannya disandarkan kepada data empiris.Banyak orang memperbandingkan Fröbel dengan Montessori.Perbedaan mendasar mereka terletak pada cara memandang anak, Fröbel yang cenderung romantik dan kompleks dalam memandang anak, sedangkan Montessori lebih ilmiah dan rasional. Montessori menjadikan alat permainan untuk melatih pancaindra, maka Fröbel menjadikan alat permainan sebagai alat untuk berfantasi.

Jika Fröbel lebih layak dikatakan sebagai sahabat anak yang gemar berkumpul, bermain, dan bercerita, maka Montessori adalah sosok cendekia, pemikir, dan ilmuwan yang konsisten dalam bidang pendidikan anak yang tekun mempelajari lewat observasi dan eksperimen. Tak heran dalam penelitiannya Montessori menyimpulkan bahwa pendidikan itu harus sudah dimulai sejak bayi itu lahir. Pada tahun-tahun awal kehidupan anak itu adalah masa formatif di mana sangat berpengaruh terhadap pembentukan fisik maupun mental anak. Jadi, dari sejak lahir bayi harus diperkenalkan dengan suara, diajak bercanda, dan bercakap. Masa-masa kelahiran hingga usia enam tahun adalah masa emas yang tidak boleh disepelekan (Hainstock, 2008: 10).

Tujuan pendidikan bagi anak bagi Montessori adalah proses mengembangkan konsentrasi, keterampilan mengamati, kesadaran memahami tingkatan dan urutan, kesadaran dalam melakukan persepsi serta keterampilan praktis, konsep yang lebih matematis, keterampilan bahasa, seperti membaca dan menulis, kesenian dan kreativitas, memahami dunia dengan lingkungan, memahami ilmu sosial, dan mampu menyelesaikan hal-hal yang bersifat teknik. Pendidikan anak usia dini bagi Montessori sangat mencolok pada pola pengembangan intelektual, emosional, dan perkembangan fisik anak (Patmpnodewo, 2003: 94).

Teori unggulan dalam bidang pembelajaran dari Montessori meliputi proses penyerapan oleh pikiran atau ingatan yang meresap (the obsorben mind) (Hainstock, 2008: 17). Secara sederhana metode Montessori adalah mementingkan pengasahan pancaindra sampai ke ujung jari. Ia membuat alat-alat untuk mendukung metode pembelajarannya. Anak diberi kemerdekaan yang luas, namun permainan tidak dipentingkan (Dewantara, 2004: 242).

Pengasahan pancaindra menjadi penting bagi Montessori karena pada waktu anak berusia tiga sampai tujuh tahun—Montessori menyebutnya ‘pubertas yang pertama’—ialah waktu yang hidup kanak-kanak beralih sifatnya, dari sifat hewani menjadi sifat manusia. Pada waktu itu anak sangat tertarik pada segala yang merangsang pancaindranya. Pada saat itulah anak gemar mengulang-ulangi apa yang telah ia lakukan sebelumnya, misalnya mecoret-coret tembok, atau meniru suara-suara hewan.

Bagi Montessori anak-anak melatih di tahap tersebut melatih diri secara lahir dan batin. Dalam latihan itu berbagai insting jaring-menjaring menjadi perbuatan yang kelak berguna bagi kehidupannya kelak. Oleh karena itu, para guru tidak diperkenankan untuk mengajari apa yang seharusnya dilakukan anak. Peran guru di sini hanya sebagai penuntun yang bertugas melihat dan mengamati si anak. Segala perbuatan yang spontan diperbolehkan dan jangan dihalang-halangi—kecuali hal yang secara rasional membahayakan. Jelaslah sudah bahwa maksud pendidikan Montessori ialah mencerdaskan jiwa kanak-kanak menurut kodratnya masing-masing (Dewantara, 2004: 271).

Pada tahap ini saya menyimpulkan ada empat prinsip dasar metode pendidikan anak ala Montessori:

Pertama, anak wajib berkembang sebebas-bebasnya, sebab kebebasan adalah sebuah kondisi yang mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak, tidak hanya fisik, tetapi juga memberikan keleluasaan untuk proses perkembangan mental dan jiwa anak (Montessori, 1964: 56).

Kedua, kemandirian. Kebebasan yang memerdekakan tak akan tercapai jika tidak ada kemandirian. Itulah sebabnya mengapa spontanitas sangat dijunjung tinggi oleh Montessori karena berguna untuk mengasah kemandirian anak.

Ketiga, mengembangkan alat indra anak. Montessori menciptakan alat-alat yang berguna untuk mempertajam indra anak  dengan tujuan untuk mengajari anak untuk beradaptasi dengan alam sekitarnya.

Keempat, struktur dan keteraturan. Membentuk struktur lingkungan yang baik dan membangun keteraturan di lingkungan kelas akan membentuk persepsi dan pada akhirnya terinternalisasi dalam diri anak (McNochols, 1998: 51).

Ki Hadjar Dewantara

Setelah membahas Fröbel dan Montessorisaatnya kita membahas tokoh ketiga, yang sekaligus bapak pendidikan bangsa kita, Ki Hadjar Dewantara. Di beberapa kesempatan, Ki Hadjar Dewantara menegaskan betapa pentingnya pendidikan anak dilaksanakan oleh orang dewasa. Nampaknya, ia sangat terpengaruh oleh pemikiran Montessori dan Fröbel dalam menerapkan pendidikan anak.

Metode pengajaran (cara mengajar) taman kanak-kanak di bawah umur 7 tahun berbeda dengan kelas tinggi. Taman kanak-kanak semua pengajarnya adalah wanita, sebab anak kecil rasa batinnya masih tertuju pada ibunya. Praktis, ia masih sehati dengan wanita. Kelas yang tinggi kebanyakan anak sudah berlagak laki-laki maka harus dididik oleh guru laki-laki. Mendidik anak kecil belum memberi pengetahuan, tetapi baru berusaha menyempurnakan rasa pikiran. Tingkah laku lahir sangat berpengaruh pada kehidupan batin, maka perlu latihan panca indra. Latihan panca indra merupakan pekerjaan lahir untuk mendidik batin (pikiran, rasa, kemauan, nafsu dan lain-lain). (Dewantara, 2004: 241).

Terkait dengan adanya kemiripan antara Fröbel dan Montessori, posisi Taman Siswa di waktu itu mensintesakan pemikiran keduanya, ia berpendapat bahwa “pelajaran pancaindra dan permainan itu tidak terpisah.” (Dewantara, 2004: 242). Makanya, di Taman Siswa ada keyakinan bahwa segala tingkah laku dan keadaan hidupnya anak sudah diisi oleh Sang Maha Among. Metode pengajaran yang dipakai adalah metode kodrat iradat (Natur dan Evolusi).

Oleh karena itu, menurut Ismu Tri Parmi (2009: 117-123) dalam disertasinya menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan Taman Siswa dapat diklasifikasi sebagai berikut:

Pertama,dilihat dari segi anak. Anak berkedudukan sebagai kodrat alam. Ki Hadjar Dewantara mengakui bahwa anak sebagai kesatuan individu yang unik,dengan membawa karakteristiknya masing-masing yang diperoleh sejak dalam kandungan secara bawaan (kongenital)yang didapatkan dari Tuhan. Kodrat alam anak menjadi dasar kekuatan anak untuk mengembangkan dirinya menjadi dirinya sendiri.

Tiap anak berbeda. Akibat keunikannya itu, maka setiap anak didik memiliki karakteristik masing-masing yang unik. Akibat dari perbedaan itu setiap anak memerlukan pola layanan sendiri-sendiri. Anak dalam satu kelas dengan perlakuan suatu model layanan pendidikan, jelas tidak sesuai dengan prinsip ini. Model layanannya adalah dengan Tutwuri Handayani. Akibat dari perbedaan itu, maka dalam pendidikannya tidak dapat memperlakukan mereka sama, tetapi kepada mereka kita perlakukan dengan Tutwuri Handayani sesuai dengan kebutuhan anak masing-masing.

Kedua,dilihat dari sistem perlakuan. Sistem among. Orang dewasa momong anak-anak. Anak diperlakukan sebagai manusia yang berlatih untuk hidup, baik secara mandiri maupun dalam konteks sosial budaya disertai oleh orang dewasa. Guru adalah pamong. Dalam posisi itu, maka guru sebagai pamong menyertai anak-anak asuhannya. Pamong harus tahu keunikan anak, sehingga pamong dapat menyertai anak dengan tepat, dan bermanfaat bagi proses perkembangan anak. Sekolah dikatakan sebagai tempat belajar tentang kehidupan. Perguruan tempat bertemunya anak dengan dengan guru dan dengan orang tua anak. mereka bersama-sama di perguruan tidak hanya pada masa jam belajar, tetapi juga di luar jam belajar.

Ketiga,dilihat dari segi belajar-mengajar. Tutwuri Handayani. Bila dicermati, pemahaman “Tutwuri Handayani” dapat digantikan dengan kerja pendampingan. Pemahaman pendampingan pada dasarnya adalah mendudukkan hubungan antara siswa dan pamong dalam kedudukan yang sejajar, bukan berhadapan secara frontal. Kesejajaran pamong dengan siswa ini membuat siswa dengan pamong dapat saling mencermati tindakannya. Pendampingan ini pada dasarnya adalah salah satu bentuk implementasi dari Tutwuri Handayani. Menurut Ki Hadjar Dewantara (2004: 13), pendidikan tidak memakai syarat paksaan. Pendidikan dapat diwujudkan dalam penggulawentahan, yang mengandung muatan momong, among, dan ngemong.

Keempat,dilihat dari segi orientasi pendidikan. Dalam mendidik anak melalui proses belajar mengajar, dalam hal ini pelajaran sebagai alat pendidikan, bukan sebagai alat untuk membangun intelektualitas. Pada dasarnya intelektualitas mendukung terbentuknya manusia egoistis dari pada kebersamaan, lebih menjadikan manusia yang menghendaki simpati daripada empati, dan menjadikan manusia yang lebih mementingkan hak diri sendiri dari pada menegakkan hak orang lain.

Kelima, dilihat dari segi mekanisme pendidikan. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran adalah awal proses pendidikan. Agar pelajaran memiliki muatan sebagai alat pendidikan, maka pelajaran itu dikaji melalui proses yang mendidik. Melalui kajian ini siswa diharapkan memperoleh nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan bersama di masyarakat.

Keenam,dilihat dari segi Perolehan. Pendidikan dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara sejatinya menekankan pada kemerdekaan dan kemandirian. Selain menjadikan manusia yang merdeka, pendidikan harus bisa mendidik manusia mandiri, artinya mampu berdiri sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Ketujuh, dilihat dari segi arah pendidikan. Arah pendidikan ini bermuara pada terwujudnya manusia sosial budaya, dan menjadikan diri sendiri sesuai dengan kodrat alamnya, bukan manusia yang sekadar memiliki intelektualitas.

Kedelapan,dilihat dari segi pencapaian. Pencapaian yang dimaksud adalah ngerti, ngroso dan ngakoni. Dalam perspektif kekinian ketiga terma tersebut, sama dengan domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Kesembilan,dilihat dari segi pesan Ki Hadjar Dewantara anak harus dengan adab nasional. Ini mengandung maksud, bahwa kejayaan dan keutuhan suatu bangsa tidak akan terlepas dari proses pendidikan yang dilakukan oleh bangsa itu sendiri dalam menyiapkan generasi mudanya sehingga memiliki jiwa dan rasa Kebangsaan yang tinggi, memiliki karakter dan kepribadian bangsa sendiri, bukan meniru bangsa lain yang tidak sesuai dengan kultur bangsa Indonesia.

HOMO LUDENS: BERMAIN TAK MELULU SIA-SIA

Di majalah Wasita, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa “permainan anak itulah pendidikan.” Dalam hal ini Ki Hadjar pun masih terpengaruh oleh pemikiran Montessori dan Fröbel. Sehingga metode dan desain permainan yang digagasnya pun masih bersandar pada kedua tokoh tersebut. Menurut Ki Hadjar permainan kanak-kanak dapat dikelompokkan menjadi alat permainan anak perempuan, anak laki-laki dan permainan bersama yang dapat dipergunakan oleh kedua golongan. Bentuk dan sifat barang berbeda sesuai dengan sifat hidup golongan anak secara umum.

Jika, ditilik lebih lanjut, metode Montessori dengan “analisis dan eksperimennya” dan Fröbel dengan memandang anak secara global, serta Taman Siswa dengan pekerjaan lahir untuk batin. Ternyata ada keistimewaan dari metode permainan anak-anak Ki Hadjar yang dilakukan dengan nyanyian. Metode ini sesuai dengan sifat kebudayaan Indonesia di mana nyanyian mempunyai kedudukan yang penting.

Faedah permainan kanak-kanak bagi kemajuan jiwanya dengan timbulnya ketajaman pikiran, kehalusan rasa serta kekuatan kemauan. Dengan kata lain anak berlatih menguasai diri, menginsyafi kekuatan orang lain dan melakukan siasat atau sikap tepat serta bijaksana. Secara terperinci bermanfaat untuk mendidik perasaan diri, sosial, disiplin, tertib, setia, kesanggupan, waspada, siap menghadapi segala keadaan, tidak mudah putus asa, membiasakan berpikir riil, sehingga anak terus sanggup berjuang untuk mencapai tujuannya. (Dewantara, 2004: 248).

Hal ini pun sesuai dengan pendapat Fröbel, ia mengatakan bahwa “kodratnya kanak-kanak adalah bergerak dan bermain untuk berfantasi yang berarti mendidik angan-angannya, yakni mengajari anak untuk berpikir.” Untuk itu, dalam mengadakan permainan perlu diingat syarat-syaratnya, yaitu menyenangkan, memberi kesempatan anak berfantasi, harus dapat diselesaikan anak (anak merasa menang), mengandung kesenian (keindahan), mengandung isi tertib.

Dunia permainan di dalam kehidupan kanak-kanak mempunyai peranan penting. Selama anak tidak tidur, mereka bermain-main. Jika, mereka lelah dengan permainan yang satu, biasanya mereka berganti dengan permainan lainnya. Permainan yang baru dari manapun asalnya akan diterima oleh anak. Ada pula permainan yang muncul secara spontan dari si anak atau buatan orang dewasa. Praktis, permainan anak menjadi banyak. Ki Hadjar berpendapat, bahwa “sifat permainan untuk jaman yang berlaku tidak diharamkan atau tidak bertentangan dengan syarat-syarat kesusilaan pada zaman ini.” (Dewantara, 2004: 249).

Banyaknya permainan merupakan tiruan gerak-gerik orang tua, meniru ini sangat berguna karena sifatnya mendidik diri sendiri. Karena itulah Montessori menetapkan bahwa pelatihan merupakan latihan segala laku yang kelak diperlukan bagi hidup manusia. Caranya mengulang terus dengan tidak bosan. Anak-anak gemar bermain disebabkan sisa kekuatan dalam jiwa dan dalam masa pertumbuhan. Sehingga anak selalu dinamis. Semua permainan dilihat dari bentuk dan isinya dapat dikatakan bersifat latihan pancaindra. Nyatalah bahwa permainan anak besar sekali faedahnya terhadap tumbuh kembang anak baik jasmani dan rohani, dipandang dari biologis, psikologis dan pedagogis. (Dewantara, 2004: 246).

Ki Hadjar memandang bahwa permainan dalam kebudayaan keindonesiaan mempunyai sifat yang istimewa, berwujud 690 permainan dan nyanyian yang biasanya disebut dengan lagu dolanan, dalam terbitan “Java Instituut”. Ini hanyalah permainan anak-anak perempuan saja, belum tercatat dari daerah-daerah lain di Indonesia. Keperuntukan jenis permainan untuk anak laki-laki, perempuan dan permainan bersama sesuai dengan adat kebiasaan bangsa, yang memberi kesempatan kepada anak untuk memelihara keinginannya yang muncul sesuai dengan kodratnya. Dengan sendirinya dapat maju ke arah adab kemanusiaan, dari “natur” ke arah “kultur.” (Dewantara, 2004: 243). Hal ini dapat terlihat dengan jelas pada kutipan berikut:

“Bersatunya gerak dan nyanyian serta cerita terkandung dalam “konsentrasi pelajaran”. Hal ini menyebabkan permainan bangsa kita bersifat kesenian yang mengandung faktor pendidikan estetik yang dianggap perlu untuk mengembangkan jiwa anak. Permainan anak sebagai usaha pendidikan yang bersemboyan “dari Natur ke Kultur” dan “dari Kodrat ke Adab”, sangatlah berarti.”

Di zaman yang merdeka sekarang diharapkan setiap sekolah memasukkan permainan anak ke dalam daftar pelajaran anak yang berguna untuk perkembangan budi pekerti kanak-kanak, maupun untuk meluhurkan kebudayaan bangsa sendiri, yaitu sifat kepribadian bangsa yang merdeka.

Dengan demikian, Ki Hadjar seolah menegaskan bahwa bersatunya gerak dan nyanyian itu harus dikonstruksikan dalam bentuk permainan anak-anak. Di seluruh dunia segala permainan kanak-kanak mengandung sifat-sifat yang sama, walaupun bentuk dan isinya berbeda. Hal ini disebabkan oleh zaman dan alam. Permainan mengandung pendidikan baik jasmani maupun rohani, dan permainan berkembang sejalan dengan kodrat dan iradatnya kanak-kanak.

Makanya, ia berpendapat bahwa pendidikan taman kanak-kanak di Indonesia dibutuhkan: 1) bukan karena keinsafan, melainkan sebagai bentuk kesadaran, 2) menyiapkan anak untuk masuk SD, 3) bentuk dan isinya mencakup kepentingan mutlak, yang tercakup panca darma Taman Siswa meliputi kemerdekaan, kebudayaan, kodrat alam, kebangsaan dan kemanusiaan, 4) mempersiapkan guru, 5) Bhineka Tunggal Ika tetap di dipentingkan untuk menuju persatuan kebudayaan Indonesia secara evolusi sesuai dengan alam dan jaman.

Alasan tersebut di atas, mendasari terbentuknya Taman Indria, yaitu taman kanak-kanak nasional yang pertama di Indonesia. Ki Hadjar berpandangan bahwa “anak di usia di bawah umur 7 tahun dalam periode perkembangan panca inderanya cocok dididik di Taman Indria.” Hal ini terlihat dengan jelas pada kutipan di bawah ini:

“Di zaman yang sudah merdeka ini diharapkan membentuk taman kanak-kanak yang modern tapi nasionalis dan berderajat dalam pandangan internasional. Tetapi dengan pangkal tolak dari kebudayaan kita bukan dari meniru. Dasar Pendidikan Taman Kanak-Kanak Kecil dengan cara permainan, cerita, bekerja sambil bermain, pelihara bunga, sayuran dan lain-lain keseharian dengan alat yang disesuaikan dengan anak.”

Bentuk dan isi Taman Indria pun disesuaikan dengan perkembangan kejiwaan diri anak. Yakni, 1) melakukan kegiatan sehari-hari yang terukur dan bermanfaat bagi kemajuan jasmani dan rohaninya; 2), memelihara kenangan anak-anak dan bermain dengan teman-temannya; 3) memilihkan permainan yang sesuai dengan dunia kanak-kanak; 4) memelihara ketertarikan anak pada lingkungannya (alam dan masyarakat); dan 5) mengembangkan/menerapkan kebudayaan setempat pada anak.

MENCARI SOLUSI TERBAIK BAGI PENDIDIKAN KANAK-KANAK DI NEGERI KITA

Pendidikan anak usia dini tidak sekadar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan kepribadian. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan.

Artinya, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini. Permasalahan yang timbul di Indonesia adalah pendidikan kanak-kanak hanya berfokus pada lingkup yang kecil sebatas lingkungan sekolah saja. Anak-anak tidak pernah dilibatkan dalam usaha pengenalan terhadap lingkungan baik geografis, maupun lingkungan sosial.

Bisa kita ambil contoh anak-anak TK (Taman Kanak-kanak) hanya diajari baca, tulis, hitung, tidak diselingi dengan pengenalan pada kondisi sosial di masyarakatnya. Jika di daerah pertanian anak-anak seharusnya dapat diajak pergi ke sawah untuk bermain sambil menumbuhkan kecintaan pada lingkungannya. Anak dapat diajak membajak sawah atau cara menanam padi. Hal tersebut akan lebih menyenangkan dan akan membekas bagi psikologis anak daripada sekadar diajari membaca, “Pak Tani pergi ke sawah”.

Selain menyusupkan materi pelajaran yang dekat dengan masyarakat sekitar, metode belajar juga harus dibuat semenyenangkan mungkin lewat permainan. Bebaskan anak-anak yang masuk PAUD dan TK untuk bermain bersama teman sebayanya. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB pun mengatakan bahwa sekolah sebaiknya bertujuan untuk membahagiakan anak.

Dengan demikian,para pengajar harus aktif pula menggali permainan tradisional di tiap daerah guna membahagiakan dan meningkatkan jati diri anak. Bukankah sudah dijelaskan sebelumnya bahwa permainan anak mengandung banyak sisi positif baik secara bilogis, fisiologis, ataupun psikologis?

Menggali permainan tradisional tentu memiliki manfaat yang tak kalah vital. Dari pada kita mengajarkan anak permainan ‘luar’ yang belum tentu bermanfaat, lebih baik kita menggali permainan tradisonal kita sendiri yang lebih merangsang perkembangan anak dan dekat dengan masyarakat. Permainan egrang, gasing, dan kelereng tentu tak kalah bergunanya dari puzzle, lego, atau UNO. Permainan tradisional kita malah lebih murah meriah karena dapat dibuat sendiri daripada membeli permainan ‘luar’ yang lumayan mahal.

Jika dicermati, pada permainan tradisional cenderung melibatkan banyak orang sedangkan dalam permainan modern tidak. Bahkan pada permainan modern, satu orang manusia bisa menjalankan permainan, karena lawannya adalah mesin, komputer. Pola permainan tradisional yang melibatkan banyak teman sebaya merupakan sarana sosialisasi yang baik. Semisal bagaimana anak memahami karakter lingkungan sosialnya dari karakter masing-masing mitra bermain dalam permainan tradisional. Pola permainan tradisional mengandaikan interaksi dan interelasi antarmanusia, sedangkan pada permainan modern interaksi dan interelasi itu disubtitusi dengan mesin.

Saya juga menyarankan pengenalan alat musik tradisional kepada anak sedini mungkin, mengingat alat musik tradisional tak kalah indahnya dibandingkan alat musik modern. Jika anak-anak sudah ditumbuhkan rasa kecintaan terhadap kebudayaan bangsa sendiri, maka tak akan lagi ada rasa rendah diri lagi jika bergaul dengan masyarakat Intenasional. Anak-anak kita akan merasa setara memperkenalkan kebudayaan kita dihadapan masyarakat global.

Tari-tarian tradisonal bisa juga jadi materi pelajaran yang diajarkan pada anak, sebab tarian dapat mengantarkan anak mengenal sebuah harmoni dalam irama. Merasakan kesatuan jiwa dan raga dengan menari. Menari supaya jiwanya senang dan hilang segala kemurungan dalam dirinya. Hal tersebut akan mengurangi perspektif bahwa tarian tradisional itu ketinggalan zaman, dan memilih tari Balet yang ‘kebarat-baratan’.

Masalah lain dalam pendidikan anak di Indonesia tak hanya soal sistem pembelajaran anak saja, melainkan kesan ekslufif pada lembaga pendidikan anak perlu jadi pertimbangan. Di Indonesia pelaksanaan PAUD baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun berbagai program perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini usia (0-6 tahun) telah dilaksanakan di Indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukkan anak usia 0-6 tahun yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih rendah.

Data tahun 2001 menunjukkan bahwa dari sekitar 26,2 juta anak usia 0-6 tahun yang telah memperoleh layanan pendidikan dini melalui berbagai program baru sekitar 4,5 juta anak (17%). Kontribusi tertinggi melalui Bina Keluarga Balita (9,5%), Taman Kanak-kanak (6,1%), Raudhatul Atfal (1,5%). Sedangkan melalui penitipan anak dan kelompok bermain kontribusinya masing-masing sangat kecil yaitu sekitar 1% dan 0,24%. (Sumber: Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 20 April 2014).

Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan bagi anak usia dini saat ini antara lain disebabkan masih terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan dini jika dibanding dengan jumlah anak usia 0-6 tahun yang seharusnya memperoleh layanan tersebut.Agar tidak terkesan ekslusif,pemerintah juga perlu memberikan bantuan baik materil ataupun regulasi berupa Undang-Undang untuk lembaga pendidikan anak yang digalang oleh masyarakat. Dengan adanya dukungan dari pemerintah masyarakat akan merasa dihargai dan outputnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas tidak hanya segelintir kelompok saja.

Masalah ini sebaiknya disikapi secara serius oleh pemerintah dengan mendirikan lembaga pendidikan anak di daerah tertinggal. Pemerintah harus segera mensosialisasikan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan hal yang penting guna meningkatkan taraf kehidupan anak di masa mendatang.

Dengan demikian pemerintah haruslah membuat pendidikan anak dekat dengan kedaan masyarakat, sehingga akan timbul simpati bagi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sana. Pendidikan anak usia dini juga harus diberikan subsidi oleh pemerintah guna meringankan beban orang tua. Mengingat pendidikan adalah proses transformasi kebudayaan yang akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya, dan sudah menjadi kewajiban pemerintah menyediakan dukungan materilnya. (T)

Daftar Pustaka

  • Dewantara, Ki Hadjar. 2004. Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
  • Direktotrat Pendidikan Dini Usia, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolahdan Pemuda. 2004. Main Peran Jilid 3. Jakarta: Direktorat PendidikanAnak Usia Dini.
  • Garguila, Richard M dan Jennifer L.Kilgo. 2010. An Introduction Young Children With Spesial Needs. Canada: Pre-press PMG.
  • Hainstock, Elizabeth G. 2008. Kenapa Montessori. Jakarta: Mitra Media.
  • McNochols, John Chattin. 1998. The Montessori Controversy. New York: Delmar Publisher.
  • Montessori, Maria. 1964. The Montessori Method. New York: Schocken Books.
  • Morrison, George S. 2012. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Penj. Suci Romadhona dan Apri Widiastuti. Jakarta: Indeks.
  • Patmpnodewo, Soemiarti. 2003. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Tri Parmi, Ismu. “Refleksi Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Yang Berwawasan Nasional Menuju Integrasi Nasional Sebuah Pendekatan Historis Kultural’ Disertasi Program pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY