http://indonesiatrip.id/?package=open-trip-waisak-borobudur

HARI Raya Waisak adalah hari paling besar dan paling bermakna yang dimiliki oleh umat Buddha di seluruh dunia, di semua negara,  di manapun, tak terkecuali di Indonesia. Nah, di Indonesia sendiri, Hari Raya Waisak ditetapkan sebagai hari libur nasional yang diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 tahun 1983. Tentu saja karena hari raya Waisak merupakan hari yang istimewa dan ditunggu-tunggu. Sebagian besar orang (yang bukan umat Buddha) barangkali pernah memiliki pertanyaan dalam benaknya, sebenarnya apa yang dirayakan saat Waisak?

Kata Waisak berasal dari kata Vesakha (Pali) yang diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasa jatuh pada bulan Mei kalender masehi. Hari Raya Waisak disebut juga dengan Hari Trisuci Waisak karena Waisak merupakan hari memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Sang Buddha, yaitu kelahiran Sang Buddha sebagai putra mahkota Kerajaan Kapilavatthu, di India Utara, dengan nama Siddharta Gautama, pencapaian pencerahan sempurna di Bodghaya, dan kemangkatan Beliau di Kusinara, India. Ketiga peristiwa itu sama-sama terjadi di bulan yang sama, yaitu bulan Vesakha, dan juga di hari yang sama yaitu hari purnama sidi pada tahun berturut-turut 623 SM, 588 SM, dan 543 SM.

Biasanya pada hari raya Waisak, umat Buddha merayakannya dengan pergi ke vihara dan melakukan puja bakti. Bagi saya sendiri, puja bakti itu sendiri dilakukan untuk mengingat kembali ajaran Sang Buddha dan juga sebagai sebuah perenungan. Merenungi dan menghayati tiga peristiwa suci, merenungi dan menghayati perjuangan hidup Sang Buddha membabarkan dhamma kepada semua mahklu.

Sang Buddha, yang lahir sebagai putera mahkota kerajaan Kavilavastu dengan nama Siddharta Gautama dan hidup dengan segala kemewahan tentu sangat berpotensi untuk menjadi seorang raja menggantikan ayahnya kelak.

Namun, Beliau meninggalkan semuanya. Meninggalkan kerajaannya, istananya, dan segala kemewahannya. Bukan karena terpaksa, apalagi dipaksa, bukan juga karena kepentingan pribadi, tapi karena dorongan dalam dirinya untuk mencari sesuatu yang hakiki, sesuatu yang merupakan hal yang sebenarnya dan sesungguhnya untuk dapat bebas dari segala bentuk penderitaan. Akhirnya, mencapai penerangan sempurna merupakan jawaban dari segala perjuangan yang telah Beliau lakukan.

Namun, beliau tidak berhenti sampai di situ saja. Beliau berkelana, masuk ke seluruh lapisan masyarakat untuk membabarkan dhamma tanpa memandang golongan, derajat, atau kasta. Beliau mengabdi kepada dhamma, mengajarkan dhamma berlandaskan cinta kasih agar manusia bisa mencapai kebahagiaan.

Dalam hal ini, Beliau bukan hanya menjadi pengajar dhamma, tapi juga sebagai teladan agung bagi siapapun. Beliau mengajarkan apa yang telak dilaksanakan, dan melaksanakan apa yang telah Beliau ajarkan. Lagi-lagi, pada akhirnya, Beliau melakukan itu semua untuk kebahagian dan kebaikan makhuk hidup karena kebahagian datang dari penghayatan dhamma, penghayatan kebaikan. Kebahagian bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dicapai.

Akhirnya, satu harapan besar yang ada saat hari raya waisak adalah bahwa setiap manusia diharapkan merenungi segala perbuatan yang telah dilakukan dan selalu hidup berlandaskan ajaran Sang Buddha dan cinta kasih, seperti apa yang telah dilakukan oleh Sang Buddha. salah satu ajaran yang dimaksud untuk mencapai kebahagian tersebut adalah dengan mengamalkan Pancasila Buddha; tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berucap bohong dan tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat melemahkan kesadaran.

Cinta kasih dapat diamalkan dalam bentuk membantu sesama. Dhamma berlandaskan cinta kasih adalah kebahagiaan. cinta kasih dan kebaikan tidak akan menimbulkan penderitaan, cinta kasih menjaga kedamaian hidup. “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, Semoga Semua Makhluk Berbahagia”. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY