Foto-foto: Hardianta

ANGIN perbukitan di sekeliling rumah di Dusun Sangburni, Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, itu berhembus pelan. Hari itu, Minggu, 12 Maret 2017. Di sebuah beranda, dengan kecepatan seperti angin yang menerpa ujung rambutnya, Luh Meli Puspa Dewi (14) menyusun pakaian kering yang baru saja dipindah dari jemuran.

Tangannya sungguh cekatan. Tak butuh waktu lama, pakaian itu sudah tersusun rapi. Ia angkat lalu ditaruh dengan sangat hati-hati di sebuah ruang berukuran 1 x 1,5 meter. Besoknya Senin, pakaian itu tentu akan dikenakan untuk bersekolah. Gadis belia itu, dan dua adiknya, tak boleh absen ke sekolah dengan alasan apa pun, apalagi hanya gara-gara pakaian.

Bagi Luh Meli, begitu gadis itu dipanggil, merapikan pakaian hanyalah satu kegiatan dari begitu banyak kesibukannya di hari Minggu. Semua kegiatan dilakukan dengan tulus tanpa keluh, agar kehidupan dia dan dua adiknya terus berlanjut.

Lihat betapa gesit ia: begitu urusan pakaian usai, langkahnya diayun bersama adik bungsunya ke rumah lain – sebuah rumah yang tak jauh dari rumahnya sendiri.

Di rumah yang dituju, sejumlah anak sudah lebih dulu duduk berjajar. Luh Meli duduk di antara anak anak itu. Ia langsung mengambil kantong plastik kecil. Tanpa banyak tanya, ia masukkan potongan-potongan kerupuk ke dalam plastik berlogo Kerupuk Arvina.

Mengantongi krupuk adalah kegiatan lain pada hari Minggu atau hari libur lain, dan hari-hari sepulang sekolah. Dari upah mengantongi kerupuk itulah Luh Meli menopang hidup bersama dua adiknya yang masing kecil, Kadek Sastra Gunawan (11) dan Komang Tulus Radiasa (7). Selebihnya ia bergantung pada bantuan orang-orang baik di sekitarnya.

Luh Meli bersama dua adiknya diterpa nasib yang tak bisa mereka tolak. Akhir tahun lalu, Gede Cakra, ayah mereka, meninggal akibat komplikasi diabetes. Sang ibu, Luh Sari, lebih dulu berpulang lantaran sakit sesak nafas. Jadilah mereka yatim-piatu.

Orang tuanya hanya meninggalkan sebuah rumah di atas tanah seluas 100 meter persegi untuk mereka tinggali. Untuk  hidup, Luh Meli harus bekerja agar ia dan adik-adiknya tetap bisa makan dan bersekolah. Untungnya, tiga bocah itu dikelilingi orang-orang baik.

Pemilik usaha kerupuk rumahan itu adalah pamannya sendiri, Gede Sumerada (38). Sebagai paman, ia bisa saja memberi Luh Meli dan adik-adiknya sangu tanpa syarat. Tapi Luh Meli memang sejak kecil dididik prihatin sekaligus bekerja keras oleh orangtuanya agar tak gampang menghiba dan terus belajar betapa sulitnya mencari uang.

“Dia (Luh Meli) bantu membungkus kerupuk di waktu luang. Yang penting sekolahnya tidak terganggu,” kata Sumerada.

Pada jam sekolah, Luh Meli membantu bungkus kerupuk sepulang sekolah. Upah membungkus kerupuk diperoleh Rp 15 ribu, hanya tiga jam. Oleh Sumerada, ia selalu diingatkan agar mengutamakan tugas-tugas sekolah terlebih dahulu.

Selain Sumerada, ada dua keluarga lain yang dengan tulus mengasuh anak-anak itu. Luh Meli dan adik bungsunya, Komang Tulus Radiasa, diasuh pasangan suami istri Nyoman Rempon (54) dan Luh Rediti (51), yang masih keluarga dekat mereka. Sementara adiknya yang satu lagi, Kadek Sastra tinggal bersama Ketut Suarta (46) yang juga masih keluarga dekat orang tuanya.

Namun Luh Meli tampaknya tak mau menggantungkan hidup sepenuhnya pada mereka. Untuk itulah ia tetap bekerja, meski penghasilannya tak banyak. Yang penting, sekolahnya tak putus, dan cita-citanya bisa tercapai.

Luh Meli adalah siswa kelas VIII di SMPN 4 Kubutambahan. Untuk ke sekolah ia harus berjalan kaki sepanjang sekitar 1,5 kilometer. Untuk membeli alat-alat sekolah, ia menggunakan uang dari upah membungkus kerupuk. Sementara bekal dan kebutuhan lain ia dapatkan dari Luh Rediti, bibi yang mengasuhnya.

Namun persoalan yang kerap membuatnya bingung adalah ketika ada tugas sekolah yang mengharuskannya mencari di situs internet. Dan itu perlu uang yang agak lebih banyak. “Bingung, jika ada tugas sekolah. Uang tidak punya dan harus cari tugasnya di internet. Biasanya menghabiskan Rp 10 ribu dan juga bisa lebih,” katanya.

Dengan berbagai kesulitan yang dihadapi, ia tak pernah berpikir untuk berhenti sekolah. Dengan cara apa pun, ia bertekad melanjutkan sekolah hingga SMA sampai kuliah. Ia ingin menjadi guru dan bertekad agar adik-adiknya juga bisa terus bersekolah agar cita-cita mereka juga tercapai.

“Saya ingin melanjutkan sekolah sampai kuliah, sampai bisa jadi guru agar bisa membantu adik-adik,” katanya. Ada tekad kuat tampak dari binar matanya.

Semoga usahamu dimudahkan dan cita-citamu tercapai, Luh. (T/donasi data: Hardianta)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY