Ilustrasi foto: Pementasan Teater "Reinkarnasi Layonsari" Komunitas Mahima di Taman Budaya Denpasar, 2016

DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya.

Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenarionya. Termasuk sebuah pertemuan. Sepasang atau segerombolan manusia bertemu karena memang sudah direncanakan. Dan kita sebagai aktor, hanya perlu mengikuti skenario yang ada, mengikuti perintah sutradara.

Kita tidak akan pernah tahu kapan dan di mana kita dilahirkan, dengan rahim siapa kita dilahirkan, dan dengan siapa kita akan dipasangkan nantinya. Sutradara telah merencanakan segalanya. Kita hanya mengikuti.

Pertemuan. Ya, seseorang tak akan pernah menyangka bertemu dengan siapa, nanti, suatu saat nanti. Dan Tuhan mempertemukan seseorang untuk suatu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah untuk sesaat atau selamanya. Entah untuk menjadi bagian terpenting atau hanya bagian sekadarnya dari sebuah lakon kehidupan.

Namun sebagai manusia, tetaplah menjadi yang terbaik dan melakukan hal-hal kebaikan pada waktu itu. Karena sesungguhnya tidak akan pernah ada yang sia-sia jika Tuhan telah mempertemukan.

Sebagai seorang aktor kita hanya dapat mengikuti skenario sutradara. Termasuk pertemuan antara aku dan kedua orang tuaku, aku dan saudara-saudaraku, aku dan sahabat-sahabatku. Juga aku dan kamu.

Hidup dengan siapa suatu hari nanti juga sudah diatur oleh sutradara, dan kita tak akan pernah menyangka apa yang sutradara telah rencanakan untuk kita. Bisa jadi kita akan hidup satu atap dengan sahabat kita sendiri, tetangga kita, teman kecil kita, bahkan seseorang yang tak pernah diduga sekalipun.

Ya, itu semua sudah diatur oleh sang sutradara. Karena yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut sutradara. Namun yang terbaik menurut sutradara, sudah tentu terbaik untuk kita.

Setiap manusia pasti menginginkan pertemuan yang menyenangkan, pertemuan yang sempurna, dan pertemuan tanpa ada rasa terpaksa atau tak enak hati. Ya pertemuan dengan seseorang.

Dan setiap manusia pasti menginginkan pertemuan di waktu yang tepat, pertemuan yang membawa kesan baik bukan malah pertemuan yang membawa bencana atau masalah. Dan kita pasti mengharapkan pertemuan seperti itu akan terjadi di suatu hari nanti. Tapi bukankah segalanya sudah diatur oleh sutradara?

Bahkan daun jatuhpun sudah ada skenarionya. Lalu, apa yang harus kita perbuat? Tetap melakukan hal terbaik dan menjadikan diri kita sebagai sosok yang pantas untuk dipertemukan dengan seseorang yang Tuhan telah siapkan. Karena rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa yang kita harapkan.

Bicara mengenai kebetulan. Apakah bertemu dengan seseorang adalah sebuah kebetulan? Ya, kebetulan yang telah direncanakan oleh Tuhan. Cinta juga begitu. Kita tidak pernah tahu kapan datangnya cinta dan dengan siapa kita jatuh cinta.

Kita juga tidak tahu jodoh kita nantinya. Mungkin saja jodoh kita berawal dari kebetulan-kebetulan yang kita sendiri tidak pernah menyangka atau sadari.

Yang namanya pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ada awal pasti ada akhir. Semuanya tak ada yang abadi, ada yang datang, ada juga yang pergi. Dan kita memang tidak bisa menolak itu semua. Seiring dengan berjalannya waktu, segalanya datang silih berganti.

Ada yang datang untuk waktu singkat, namun sangat membekas di hati. Ada yang telah lama jalan bersama, namun tak pernah menyadari kehadirannya. Bahkan ada yang datang pergi begitu saja seolah-olah tak pernah ada. Dan semua orang yang hadir dalam hidup kita dapat diibaratkan sebagai puzzle yang memiliki fungsi untuk melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan.

Tapi perpisahan tak kan selamanya menjadi sebuah perpisahan, karena perpisahan adalah awal dari sebuah kehidupan baru yang harus kita jalani. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY