Kurnia Effendi #Lukisan: IB Pandit Parastu

SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika saya katakan tidak akan berubah. Cara itu tidak secara sengaja saya latih, atau merupakan jalan terakhir setelah gagal dengan cara yang lain. Sama sekali tidak. Itu adalah cara pertama yang kemudian menjadi – setelah tahu namanya: – proses kreatif.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika diwawancara redaktur majalah remaja, dan kepada saya dilontarkan pertanyaan: Bagaimana biasanya kamu menulis cerpen? – saya tidak perlu memikirkan jawaban. Saya mulai dari judul, demikian jawab saya spontan. Dan memang itulah yang terjadi. Sederhana, bukan? Bahkan mungkin banyak pula pengarang melakukan cara yang sama dengan saya. Atau dengan kata lain: tidak terlampau istimewa.

Dalam dompet saya suka tersimpan selipat kertas, yang saya tulisi beberapa judul, entah untuk cerpen atau cerber. Pada saat judul itu saya tuliskan, kadang-kadang belum terlintas kisah apa pun. Belum terpikir serangkai cerita, belum terbentang tuturan atau alur nasib seorang tokoh.

Sebuah frasa atau kelompok kata yang tiba-tiba melintas, memesona pikiran dan perasaan, segera saya ‘tangkap’, saya tulis atau saya ingat, selanjutnya menjadi ‘biji-biji’ yang tersimpan dalam ‘tanah gembur’ proses kreatif saya. Ada yang langsung tumbuh menjadi sosok cerita, banyak pula yang terus terlelap menunggu secercah cahaya gagasan yang kelak membangunkannya.

Mungkin ini menjadi semacam keberuntungan, bahwa saya menulis dari sisi yang – menurut saya – paling tepat. Mengapa? Karena judul adalah kata atau kalimat yang dibaca pertama kali oleh 99,99% pembaca. Untuk jenis bacaan apa pun.

Kadang-kadang, ketika seseorang mendapatkan sebuah majalah di ruang tunggu dokter, misalnya, secara highlight akan membuka lembar demi lembar untuk menemukan judul yang menarik minatnya sebelum membaca lebih jauh. Bahkan seandainya seseorang menulis sebuah novel, cerpen, atau artikel yang diawali dengan: Tanpa Judul; itu pun sebuah judul!

Apakah saya menyadari sejak awal bahwa judul itu penting? Ternyata tidak. Rasa penting itu muncul belakangan, setelah mencoba sedikit berteori. Sebuah karangan jenis prosa umumnya terdiri dari alinea yang berisi satu kalimat atau lebih. Alinea dikembangkan dari pokok pikiran. Sekumpulan pokok pikiran tentu ada induknya yang mengandung tema. Jadi tubuh karangan yang terdiri dari satu atau beberapa paragraf itu tentu memiliki pikiran utama.

Judul, boleh jadi adalah pikiran utama yang berkelebat di benak saya. Padahal bukan dimulai dengan memikirkan cerita. Mungkin ada ‘peri’ yang melontarkan judul itu dan menugasi saya untuk mengolahnya sebagai gagasan. Karena judul itu datangnya berkelebat, tentu saya menangkapnya dengan cara semacam refleks, impulsif, atau kebiasaan yang tidak diniatkan seperti ketika seseorang mencoba mendisiplinkan sesuatu. Tertangkaplah dia, begitu saja. Dan melekat.

Andaikata saya sangat percaya terhadap daya ingat, mungkin tidak perlu mencatat. Karena mencatat bukan perbuatan tabu, maka saya pun menyimpan beberapa judul yang melintas gegas itu dalam sesempit kertas. (Kini tertulis dalam file komputer atau tersimpan dalam flashdisk). Dan ternyata saya cukup senang dengan sesekali membaca koleksi judul-judul itu di kala senggang.

Misalnya, beberapa yang saya ingat: Segenggam Melati Kering, Aquarel buat Mama, Berjalan di Sekitar Ginza, Randu Rekah, Kincir Api, Menemani Ayah Merokok, Laras Panjang Senapan Cinta, Abu Jenazah Ayah, Tilas Cemeti di Punggung… Hampir semua yang saya ingat di atas, dimulai dari kelebat aksara khayali atau bunyi yang tertangkap hati.

Kadang-kadang ketika sedang bercakap-cakap dengan teman, lalu terangkai dari percakapan itu sebuah komposisi kata yang menarik, nah! Lalu seperti ada lampu menyala. Byar! Wah, ini asyik untuk judul! Dengan membaca koleksi judul itu, sering kali ada keberuntungan, yakni ketika terbayang sebuah kisah. Jadi judul itu menjadi sejenis password bagi saya untuk membuka pintu cerita yang tersimpan dalam rak-rak tak berwujud.

Melalui tuturan ini, hendak saya buka rahasia yang sesungguhnya tidak sulit ditiru. Seperti saya ungkap tadi, kadang-kadang saya tak punya cerita apa pun sebelumnya. Tetapi, justru sebuah judul sanggup menghamparkan kisah. Bahkan, secara agak tak terduga, ternyata judul itu pintar menghimpun cerita dengan ‘caranya’ sendiri .

Maka judul itu akhirnya – menurut saya – mendapat tugas sebagai penyimpan gagasan sebuah kisah, baik untuk karya prosa maupun puisi. Dengan mengingat sebuah judul, seolah-olah terurai jalan hidup seorang tokoh dengan pelbagai konflik di dalamnya. Saya kira, itulah yang umumnya terjadi pada riuh-rendah benak saya dalam proses menulis prosa atau karya sastra yang lain. (T)

Catatan: Tulisan ini adalah bagian 1 dari 5 tulisan

SHARE
Previous articleMenjadi Cantik Saja Tidak Cukup – Jadilah Remaja Perempuan Hebat
Next articleWayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud
Kurnia Effendi
Lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis sejak remaja, dan kini dikenal sebagai sastrawan yang sangat produktif. Ia menulis pertama kali tahun 1978, melalui majalah Gadis, Aktuil dan surat kabar Sinar Harapan. Ia salah satu cerpenis paling gemilang di eranya karena kerap memenangi LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang, yang kala itu menjadi barometer kehandalan seorang pengarang remaja. Kini karya-karyanya tak terbilang jumlahnya dan telah dipublikasikan oleh berbagai penerbit nasional. Bukunya antara lain Senapan Cinta, Bercinta di Bawah Bulan, Aura Negeri Cinta, dan Kincir Api.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY