25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal Tahu Saja, Neno Warisman Pernah jadi Perempuan Bali Kolok

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 23, 2019
in Esai
Asal Tahu Saja, Neno Warisman Pernah jadi Perempuan Bali Kolok

Foto: tatkala

Ini asal tahu saja. Tak ada maksud apa-apa.

Neno Warisman, perempuan artis yang kini banyak dibincangkan karena puisi kontroversialnya, Munajat 212, pernah menjadi perempuan Bali yang kolok (bisu) dalam sebuah sinetron sangat bagus pada awal tahun 1990-an. Judul sinetronnya “Aksara Tanpa Kata”.

Ceritanya, ya, tentang Bali. Tentang Bali yang diserbu investasi, di mana banyak tanah dijual, terpaksa dijual, atau dipaksa dijual, kepada broker dan investor. Suting sinetron itu salah satunya dilakukan di Banjar Tubuh, Batubulan, Gianyar.

Putu Putri Suastini, istri Gubernur Koster saat ini, juga turut bermain dalam sinetron itu dan mendapatkan peran, kalau tidak salah, sebagai teman si perempuan kolok.

Saat itu, TVRI, sebagai stasiun televisi milik pemerintah, dianggap cukup berani menayangkan sinetron dengan tema sensitif semacam itu. Padahal itu di zaman Orde Baru, lho. Apalagi, para broker tanah dan investor yang berkeliaran pada masa-masa keemasan dunia pariwisata di Pulau Dewata saat itu, diduga punya hubungan erat dengan istana dan rezim pemerintahan saat itu.

Sebagai sebuah cerita, Aksara Tanpa Kata, pun tak kalah berani. Ceritanya menusuk langsung pada persoalan, tidak bertele-tele, dan klir. Diceritakan, seorang ibu (diperankan oleh Renny Jayusman) yang hidup di sebuah desa alami di Bali, bertahan untuk tidak menjual tanah warisan leluhurnya yang hendak disulap sebagai kawasan pembangunan akomodasi pariwisata, meski ia dirayu sekaligus mendapatkan berbagai tekanan.

“Tolong bilang pada bapak itu, tiang tak akan menjual tanah tiang walau sejengkal pun!” begitu penggalan kalimat  si ibu yang menggetarkan dalam sinetron itu        

Nah, Neno Warisman, dalam cerita itu berperan sebagai anak si ibu itu. Anak perempuan yang gagu, kolok, dan lugu. Neno saat itu main sangat cantik, natural,  dan tentu saja bagus. Aktingnya sebagai perempuan muda yang kolok benar-benar meyakinkan. Perempuan kolok itu punya suami, seorang lelaki pengangguran dan pemalas.

Si suami inilah yang kemudian menggerakkan konflik dalam cerita itu. Si lelaki, yang tak lain adalah menantu si ibu, punya keinginan besar untuk menjual tanah mertuanya. Lelaki itu ingin hidup enak dalam waktu cepat, kaya raya, dan setelah itu, apa lagi jika bukan berfoya-foya. Si ibu tetap kukuh mempertahankan tanahnya meski menantunya terus mendesak.

Sampai akhirnya si ibu tiba pada sebuah dilemma. Ia harus memilih antara kukuh untuk  mempertahankan tanahnya dan memilih untuk mempertahankan kebahagiaan anak perempuannya yang kolok itu. Sebab, ternyata suami anaknya — si lelaki pemalas itu — mengancam menceraikan si perempuan kolok jika si ibu tak mau menjual tanahnya. Si ibu tahu, anaknya sangat mencintai lelaki itu, dan si ibu juga mencintai anak perempuannya.

Sinetron itu ditutup dengan sangat miris dan menyedihkan. Si ibu akhirnya menyerah. Ia menjual tanahnya, dan semua uang diberikan kepada anaknya, si perempuan kolok. Si perempuan kolok kemudian mencari suaminya bermaksud untuk menyerahkan segepok uang hasil penjualan tanah itu. Tapi suaminya diketahui pergi ke bandara hendak berangkat keluar negeri.

Perempuan kolok itu mengejar suaminya hingga ke bandara dan menemukan sang suami menggandeng seorang perempuan bule dan sudah siap naik pesawat. Si perempuan kolok meminta suaminya kembali dan menunjukkan begitu banyak uang hasil penjualan tanah, namun sang suami menolak dan tetap pergi bersama perempuan bule itu.

Maaf, saya benar-benar tak ingat nama tokoh dalam sinetron itu. Yang saya ingat hanya dua pemerannya, yakni Renny Jayusman sebagai ibu dan Neno Warisman sebagai perempuan kolok. Saya ingat betul bagaimana ekspresi wajah Neno Warisman ketika bermain sebagai perempuan kolok yang lemah, terutama di bagian ending, ketika ia ditinggalkan suaminya yang kepincut perempuan bule di bandara. Saya ingat betul. Dan saya mengagumi Neno Warisman sampai bertahun-tahun kemudian.

Kehebatannya bermain dalam sinetron Aksara Tanpa Kata itu memang tak bisa dilupakan. Itu memang sinetron berkualitas dengan sutradara Irwinsyah, seorang sutradara yang punya kualitas melebihi rata-rata sutradara sinetron pada zaman sekarang ini. Irwinsyah banyak melahirkan sinetron penting pada zaman jayanya TVRI, sehingga sinetron saat itu jadi salah satu acara andalan dan ditunggu-tunggu pemirsa.  

Maka tidaklah mengejutkan Aksara Tanpa Kata menjadi jawara pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) tahun 1992. Irwinsyah saat itu ditetapkan sebagai sutaradara terbaik,  Renny Jayusman sebagai Aktris Pembantu Terbaik, dan Neno Warisman ditetapkan sebagai Aktris Utama Terbaik.

Saya menulis artikel ini bukan untuk maksud apa-apa. Asal tahu saja.

Asal tahu saja, bahwa Neno Warisman yang puisinya kini banyak dibincangkan, diberitakan, dan dipolemikkan, itu pernah bermain sinetron dan berperan sebagai perempuan muda Bali yang kolok.

Asal tahu saja, bahwa sinetron zaman kejayaan TVRI itu jauh lebih berkualitas dari kebanyakan sinetron-sinetronan pada zaman banyaknya stasiun TV saat ini.

Asal tahu saja, dulu, sekitar tahun 1990-an, cerita tentang Bali, di mana sekelompok warganya ramai-ramai melepaskan tanah warisan, pernah dibuatkan cerita yang bagus dalam sebuah sinetron yang bagus.

Asal tahu saja, dulu saya sangat mengagumi Neno Warisman, dan kini entahlah, saya sudah tak tahu lagi apa yang bisa dijadikan ukuran untuk mengagumi seseorang, terutama seorang artis di zaman perpolitikan yang kacau-balau ini. [T]   

Tags: baliceritaPilpressinetron
Share64TweetSendShareSend
Previous Post

Angga Wijaya# Sajak-sajak Jakarta

Next Post

Pemilu Pilih Siapa? Ruwet!

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Pemilu Pilih Siapa? Ruwet!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co