2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
October 21, 2018
in Esai
Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Ilustrasi: Kantin mewah dalam adegan di K-Drama “The Heirs”

KETIKA ada seseorang bicara kantin, yang terlintas di benak adalah makanan, minuman, atau segala hal yang berhubungan dengan mulut dan perut. Ya, memang wajar dan kita tidak dapat pungkiri itu. Tapi sebenarnya ada hal lain yang terselubung di balik “kantin” dan tak banyak orang sadari.

Saya sebagai langganan kantin di kampus, tersadar ketika diskusi bersama dengan rekan-rekan tukang nongkrong. Diskusinya, ya di kantin. Di kantin itulah, suatu saat, terlontar kalimat bahwa kantin sebagai nyawa sebuah negara. Atau dapat saya katakana, kantin itu setara dengan lembaga atau ruang kuliah mahasiswa.  Karena tempat itulah yang sebenarnya menstimulus ide-ide baru lebih luas mengenai lingkup politik, filsafat, sastra, agama, dan sebagainya.

Inilah kebiasaan mahasiswa di kantin. Setelah usai makan-minum dilanjutkan sesi ngerumpi. Ya! Memang ngerumpi kedengarannya kurang bagus, tapi apa salahnya ngerumpi sebuah topik yang hangat dan baik, yang ringan atau yang serius, yang penting tidak mengganggu orang lain. Ngerumpi, jika dikelola dengan baik, bisa melatih pikiran kritis.

Di situlah sebenarnya anak muda mulai membicarakan apa yang terjadi saat ini, sehingga muncul pandangan-pandangan baru, di antara mereka mulai mengeluarkan ide baru, di antara mereka ada yang menyangkal argumen teman yang lain, dan di antara mereka kemudian mencari solusi bagaimana jalan keluar yang pas atas nuansa polemik yang telah terjadi apa lagi musim ini adalah musimnya politik menjelang pilpres 2019.

Ngerunpi di kantin bisa melewati ruang-ruang kelas dan jurusan. Politik yang biasanya hanya dibahas di jurusan PPKN atau jurusan Ilmu Hukum, di kantin topic itu bisa didiskusikan bersama mahasiswa jurusan yang lain. Jadi, pengetahuan mereka lebih komprehensif dan meneyeluruh tidak hanya berkutat pada satu jalur bidangnya masing-masing. Atau jurusan yang ada di fakultas ekonomi dan katanya hanya membahasa uang, uang, dan uang buktinya juga bisa berkutat dalam bidang sastra dan kain sebagainya.

Kegiatan seperti itu sebenarnya tidak kalah penting dari kegiatan resmi pembelajaran dalam kelas, maka saya katakan kantin sebagai nyawa negara.

Pendidikan dalam pandangan Paulo Freire merupakan pengembalian fungsi pendidikan sebagai alat pembebasan, maka dengan demikian dapat dikatakan yang menjadi substansi sebenarnya adalah bagaimaa pendidikan tersebut diterapkan, tidak terletak pada lembaga pendidikan, maka bebas tempat seperti apa untuk menjalankan proses pendidikan sebenarnya.

Pernah terlintas dalam pikiran sebuah pendidikan atau rangkaian mengajar tanpa RPP dan Silabus? Ya, itu adalah sebuah kantin; pendidikan tanpa RPP dan Silabus. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kantin bagian dari pendidikan. Tempat di mana diskusi liar terjadi. Untuk kemajauan sebuah negara RPP dan Silabus tidak menjadi tolak ukur pembelajar berkembang.

Dua hal tersebut hanya formalitas menambah beban guru atau mahasiswa yang sedang PPL Real. Pada akhirnya ya hasilnya tidak jauh berbeda dengan pendidikan tanpa RPP dan Silabus atau bahkan proses dan hasil belajarnya bagus dan lebih jeli belajar dan disksi di dalam kantin daripada di kelas atau kampus.

Kita sekali-kali melihat sepion dalam artian menoleh ke belakang melihat sejarah. Untuk menjadikan negara Indonesia merdeka dan bebas dari cengkraman Belanda itu membutuhkan kaum muda yang cerdas. Jika dulu Tjokroaminoto dan murid-muridnya seperti Soekarno, Semaun, dan Kartosierjo pendidikannya tanpa fasilitas yang komplit seperti era saat ini, bahkan Tjokroaminoto cara mengajarkan ilmu pada muridnya dengan sederhana, tapi hasilnya jelas menjadikan karakter anak muda berwibawa.

Dulu mungkin tidak ada nama kantin, tapi mungkin pula namanya tongkrongan atau lebih tepatnya adalah kedai. Di situ mereka banyak bertukar pikiran memunculkan inovasi baru menegenai negara. Nah, benar juga di situ dapat dikatakan kantin dan kedai nyawa negara.

Kantin pula tempat anak muda bangasa mengutarakan kebebasan dalam berpendapat, beropini, dan mengeluh kesah. Kita sekarang berbicara demokrasi dalam skala kecil. (Diane Ravitch, 1991: 5) mengatakan demokrasi merupakan sistem di mana warga negara bebas mengambil keputusan dan pengetahuan mengenai sosok guru demokrasi merupakan salah satu faktor penting bagi pemahaman makna demokrasi seutuhnya.

Sepengalaman saya duduk di bangku SD sampai sekarang kuliah, untuk berpendapat masih saja tidak ada kebebasan. Di sana pengajar sebagai raja, hakim, atau sebagai wasit menentukan jalannya pertandingan sepak bola. Seolah-olah pendapat merekalah yang paling benar daripada ujaran orang lain. Di sana demokrasi dalam kelas tidak berjalan sesuai dengan arti demokrasi yang sebenarnya.

Lain halnya dengan kantin, sebagai tempat anak muda bebas mengutarakan pendapatnya dalam segala hal. Misalnya menaggapi isu terbaru saat ini terkait maraknya agama dan politik. Jika berbicara dan mengutarakan argumennya dalam kelas pasti tidak ada kebebasan tapi jika di kantin bebas berpendapat, teman yang satu memandang ke arah A dan teman yang lain bisa jadi B.  Jika di dalam ruang kelas yang benar adalah pendapat pendidik atau pengajar. Jadi hal sekecil itu terkadang memengaruhi pemikiran cemerlang anak muda khusunya mahasiswa. Untungnya ada kantin, dan saya rasa kantin sebagai salah satu nyawa negara.

Selain itu, kantin yang disebut salah satu nyawa negara juga unik dan luar biasa. Karena jika dalam lembaga pendidikan kelas/kampus dan guru/dosen hanya mengajarkan satu tema persemester dengan bertahap dalam satu minggu satu bab, kalah dengan anak muda yang sering nongkrong di kantin. Mungkin dalam sekali ngobrol bisa membahas beberapa buku yang ada, beberapa topik tentang sejarah dibahas dalam rentan waktu beberapa jam. Lebih asiknya lagi diskusi lebih santai dengan hidangan pisang goreng dan seteguk kopi hangat, tertawa terbahak-bahak tapi mendapatkan hasil yang tidak kalah dengan lembaga formal.

Jangan mengira kantin hanya untuk mengisi perut dan melepas dahaga saja, tapi di sisi yang lain tak kalah pentingnya adalah kantin sebagai kegiatan belajar santai, diskusi sembari tertawa, tempat di mana sebuah kebebasan berpendapat terjadi. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika tidak ada kantin sebagai ajang adu ideologi. Maka dari itu, kantin sebagai salah satu nyawa kampus dan negara. Jadi, jangan dianggap remeh. (T)

Tags: kampuskantinnegaraPendidikan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Ayam, Taji dan Radio

Next Post

Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali #Kolom Made Metera

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali  #Kolom Made Metera

Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali #Kolom Made Metera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co