TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang terdiam sejenak, berusaha mengingat kembali apa yang telah dipelajari. Begitulah suasana lomba cerdas cermat di SD Prima Mandiri School, Gianyar, yang saya saksikan langsung dari meja juri.
Pemandangan itu menjadi bagian dari peringatan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda di Prima Mandiri School pada Rabu, 28 Oktober 2026. Sekolah swasta di Batubulan, Gianyar, yang menaungi jenjang PAUD, TK, dan SD ini menggelar berbagai perlombaan internal untuk mengasah kemampuan dan kreativitas siswa, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya bangsa.
Perlombaan dirancang berdasarkan jenjang kelas dengan beragam kegiatan. Siswa kelas I dan II mengikuti lomba mewarnai, menempel kolase, serta fashion show pakaian adat tradisional. Sementara itu, kelas III dan IV berkompetisi dalam lomba mendongeng, menggambar, serta membuat dan membaca puisi.

Adapun siswa kelas V dan VI mendapat tantangan melalui lomba gambar bercerita, menyalin aksara Bali, dan cerdas cermat.
Di antara berbagai perlombaan tersebut, cerdas cermat menghadirkan dinamika tersendiri. Para peserta dituntut berpikir cepat, mengandalkan pengetahuan yang dimiliki, sekaligus mengendalikan kegugupan.
Hansel, salah satu peserta, mengakui bahwa keberanian tampil tidak selalu mampu mengusir rasa gugup.
“Senang sekali bisa ikut cerdas cermat karena ada banyak hal yang bisa saya pelajari. Cuma, waktu lomba sempat grogi sampai pikiran tiba-tiba kosong,” ucapnya.

Bagi Hansel, cerdas cermat bukan sekadar soal benar atau salah menjawab pertanyaan. Ada pengalaman menghadapi tekanan, mengendalikan kegugupan, dan belajar percaya pada kemampuan sendiri.
Suasana berbeda terasa dalam lomba membuat dan membaca puisi. Sebagai salah seorang juri dalam perlombaan ini, saya melihat bagaimana para siswa berusaha merangkai kata sekaligus menyampaikan karya mereka di hadapan orang lain.
Liswahyuningsih, salah seorang juri, menilai kegiatan seperti ini memiliki arti penting bagi perkembangan anak, terutama dalam membangun kemampuan berbahasa dan kesadaran kebangsaan sejak dini.

“Anak-anak tidak hanya belajar berkompetisi, tetapi juga mengasah keberanian, memperluas pengetahuan bahasa, dan mengenal nilai-nilai patriotisme. Pengalaman seperti ini penting bagi pembentukan karakter mereka,” ujarnya.
Setelah seluruh perlombaan berakhir, perhatian siswa beralih pada pengumuman pemenang. Mereka mengikuti setiap hasil yang dibacakan dengan antusias. Para pemenang menerima penghargaan, sementara peserta lainnya tetap menunjukkan sikap sportif. Tak terlihat kegaduhan yang mengganggu jalannya kegiatan.
Di balik jawaban yang meleset, kegugupan di depan mikrofon, dan kegembiraan menerima piala, ada pengalaman berharga yang dibawa pulang anak-anak. Lebih dari sekadar meraih kemenangan, mereka belajar untuk berani mencoba, percaya pada kemampuan sendiri, dan menghargai sesama.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto





























