SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Jumat (23/10/2026). Di antara kebahagiaan para wisudawan, terselip harapan agar ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak berhenti sebagai bekal pribadi, tetapi juga menjadi modal untuk berkontribusi kepada masyarakat. Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., yang menekankan pentingnya integritas dan peningkatan kualitas keilmuan bagi para lulusan.
Syafi’i mengapresiasi perkembangan IAHN Mpu Kuturan yang telah bertransformasi dari sekolah tinggi menjadi institut. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi pijakan bagi kampus untuk terus bertumbuh, termasuk membuka peluang menuju universitas. Namun, perkembangan institusi perlu diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.
“Kita mendorong kepada segenap sivitas akademika untuk terus meningkatkan kemampuan keilmuan. Yang paling penting adalah menjaga integritas, baik pendidik maupun alumni, dan juga bisa memberikan kontribusi terhadap masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Syafi’i.

Ia juga menyampaikan harapan Presiden agar Indonesia ke depan didukung sumber daya manusia yang terdidik. Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memegang peranan penting dalam mempersiapkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil bagian dalam pembangunan. Bagi para lulusan, gelar akademik dengan demikian menjadi awal untuk menerapkan ilmu dan tanggung jawab di tengah masyarakat.
Harapan tersebut sejalan dengan upaya IAHN Mpu Kuturan dalam memantau perkembangan alumninya setelah menyelesaikan pendidikan. Rektor IAHN Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A., mengatakan kampus melakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui perkembangan lulusan, termasuk tingkat keterserapan mereka di dunia kerja.
Menurut Suwindia, sebagian besar lulusan telah bekerja. Meski demikian, pendidikan di IAHN Mpu Kuturan tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang menjadi pegawai negeri. Kampus juga membekali mahasiswa dengan kemampuan kewirausahaan agar mereka mampu menciptakan peluang kerja dan mengembangkan usaha secara mandiri.


Sejumlah mahasiswa, bahkan, telah merintis usaha mikro ketika masih menempuh pendidikan. Potensi kewirausahaan tersebut antara lain berkembang dalam bidang manajemen ekonomi, ilmu komunikasi, serta pariwisata budaya dan keagamaan. Pengalaman itu menunjukkan bahwa proses pendidikan juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan dan mengubahnya menjadi kegiatan produktif.
“Kami sebenarnya punya mekanisme akreditasi, namanya evaluasi. Setiap tahun kita evaluasi, dari situ kita tahu berapa lulusan kami yang terserap. Sesungguhnya sebagian besar sudah bekerja, tetapi ide, gagasan, dan pendirian program studi bukan berorientasi pegawai negeri. Karena mereka dibekali entrepreneur,” kata Suwindia.
Selain mendorong kemandirian ekonomi, IAHN Mpu Kuturan mengembangkan bidang keilmuan yang berhubungan dengan agama, adat, dan budaya. Menurut Suwindia, bidang-bidang tersebut menjadi kekhasan kampus sekaligus pembeda di antara perguruan tinggi yang ada di Buleleng. Pengembangan ilmu agama dan budaya diharapkan tetap berjalan melalui pendekatan akademik, sehingga pengetahuan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat dapat terus dikaji dan dikembangkan.
“Kami memiliki koor bisnis yang sedikit berbeda dengan perguruan tinggi yang ada di Buleleng. Karena agama budaya adalah bagian dari yang kami garap. Perbedaan itu yang membuat kami yakin akan tetap eksis. Dan tetap membangun agama adat dan budaya dari aspek ilmu pengetahuan,” ucapnya.

Manfaat pendidikan yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan sosial juga dirasakan I Gusti Ajeng Ayu Bintang Lestarizky, wisudawan Program Studi Hukum Agama Hindu, Fakultas Dharma Sastra. Selama menjalani perkuliahan, ia tidak hanya memperdalam pemahaman tentang hukum, tetapi juga mengembangkan kemampuan nonakademik melalui organisasi kemahasiswaan.
Bagi Bintang, pengalaman berorganisasi memberinya kesempatan untuk membangun kepercayaan diri, belajar mengatur waktu, dan meningkatkan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja. Sementara itu, pembelajaran di program studinya membantu ia memahami persoalan hukum secara lebih mendalam, tidak hanya berdasarkan sudut pandang masyarakat, tetapi juga melalui pengetahuan yang diperoleh selama kuliah.
Pengalaman tersebut turut membentuk pandangannya tentang tujuan pendidikan. Baginya, pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi akan lebih bermakna ketika dapat dibagikan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Pendidikan bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk berdampak kepada masyarakat nantinya,” ujar Bintang.

Keinginan itu ingin ia wujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan. Bintang berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya, termasuk melalui pasraman di Jembrana, daerah asalnya. Ia berharap ruang pendidikan keagamaan tersebut dapat menjadi tempat untuk berbagi ilmu sekaligus memperluas manfaat pendidikan yang selama ini ia jalani.
“Dari apa yang sudah saya dapatkan, saya ingin berbagi kepada teman-teman melalui pengabdian dan melalui pasraman yang mungkin nantinya yang ada khususnya di Jembrana tempat asal saya. Jadi di rumah juga sudah ada pasraman yang nantinya kita bisa berbagi bersama, bahwasanya pendidikan bukan hanya untuk diri saya sendiri tapi untuk berdampak kepada masyarakat nantinya,” kata Bintang.
Wisuda II IAHN Mpu Kuturan pun menjadi penanda berakhirnya satu tahap pendidikan sekaligus dimulainya tanggung jawab baru bagi 693 lulusan. Pesan tentang integritas yang disampaikan Wakil Menteri Agama, penguatan kewirausahaan yang dikembangkan kampus, hingga rencana pengabdian yang diungkapkan wisudawan memperlihatkan beragam jalan untuk menerapkan ilmu setelah meninggalkan ruang kuliah. Dengan bekal tersebut, para lulusan diharapkan mampu mengembangkan diri sekaligus mengambil peran dalam kehidupan masyarakat, termasuk melalui penguatan pengetahuan agama, adat, dan budaya.[T][Adv]
Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Jaswanto































