“J’aime atau je n’aime pas?”
PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu, para peserta pelatihan yang terdiri atas mahasiswa tidak hanya belajar dan menghafal kosakata bahasa Prancis. Di hadapan mereka juga tersaji berbagai makanan dan produk yang harus dicicipi dengan mata tertutup (blind tasting). Tugas mereka adalah menebak rasa, kemudian menceritakan apa yang mereka rasakan dalam bahasa Prancis.
Suasana belajar pun terasa berbeda. Ada yang langsung mengatakan suka, ada yang menggeleng karena rasanya tidak sesuai selera. Setelah mengenali rasanya, mereka belajar mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya, mulai dari rasa, aroma, hingga tekstur. Dari pengalaman makan yang sederhana, mereka belajar mengatakan apa yang enak dan tidak enak menurut mereka; apa yang disukai dan tidak disukai, serta bagaimana menjelaskan sensasi yang mereka rasakan.


Pengalaman tersebut menjadi bagian dari French for Hospitality: Taste, Talk & Connect, kegiatan yang diselenggarakan Alliance Française Bali (AF Bali) bersama LSPR Bali sebagai bagian dari Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week 2026.
Bahasa yang Bisa Dicicipi
Di sini, belajar bahasa tidak lagi sekadar mengingat arti kata. Mereka harus menghubungkan kata dengan sesuatu yang sedang mereka rasakan. Ketika menyukai sesuatu, mereka belajar mengatakannya. Ketika rasanya tidak cocok, mereka juga belajar mengungkapkannya. Tekstur menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan. Apakah sesuatu terasa lembut, renyah, keras, atau memiliki sensasi lain ketika dimakan.
Pelafalan menjadi tantangan tersendiri. Beberapa kata harus diucapkan berulang kali sebelum terdengar mendekati pelafalan bahasa Prancis. Ada yang berhenti sejenak, tertawa, bahkan bercanda karena harus “batuk-batuk” sebelum berhasil mengucapkan kata tertentu. Kesulitan itu justru membuat kelas terasa lebih santai. Mereka tidak hanya belajar dari instruktur, tetapi juga belajar dengan mencoba, salah, lalu mencoba lagi.


Bagi Mika, salah satu mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut, pengalaman mencicipi makanan membuat bahasa Prancis terasa lebih dekat.
“Saya senang karena bisa mencicipi makanan dan ternyata saya baru tahu kalau makanan itu berasal dari Prancis. Dari situ saya jadi tertarik untuk belajar bahasa Prancis. Penyampaian instrukturnya juga jelas dan sangat detail,” ujar Mika.
Sesi tersebut dipandu oleh dua instruktur dari Alliance Française Bali, Rino dan Olivia, yang mengajak mahasiswa menggunakan bahasa Prancis untuk membicarakan makanan sekaligus memperkenalkan kosakata yang berkaitan dengan rasa dan pengalaman mencicipi.
Tidak Berhenti di Meja Makan
Setelah mencicipi dan belajar mengungkapkan rasa dalam bahasa Prancis, sesi kemudian ditutup dengan kuis Kahoot tentang Prancis. Pertanyaan-pertanyaan seputar bahasa dan budaya Prancis membuat suasana kelas semakin kompetitif sekaligus menyenangkan.
Bagi mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa belajar bahasa tidak harus selalu berlangsung melalui buku dan latihan tertulis. Makanan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kosakata baru, sementara pengalaman mencicipi memberi mereka alasan untuk langsung menggunakan bahasa yang dipelajari.


Head of LSPR Bali, Arsita Putri, menyambut baik kolaborasi yang terjalin dengan AF Bali dan berharap kerja sama dengan Alliance Française Bali dapat terus berlanjut.
“Kami sangat senang bisa berkolaborasi dengan Alliance Française Bali melalui kegiatan ini. Harapannya, kerja sama dan sinergi ini dapat terus berlanjut dengan menghadirkan lebih banyak kegiatan yang bisa memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi mahasiswa,” ujar Arsita Putri.
Melalui kegiatan seperti di LSPR Bali, pembelajaran bahasa kemudian bertemu dengan makanan, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Bahasa Prancis tidak hanya dipelajari untuk mengetahui bagaimana sebuah kata diterjemahkan, tetapi juga untuk menceritakan apa yang dirasakan.


Kegiatan di LSPR Bali juga memperkenalkan salah satu sisi dari kerja Alliance Française Bali (AF Bali). AF Bali merupakan asosiasi yang menjadi bagian dari jaringan Alliance Française di dunia dan berafiliasi dengan Kedutaan Besar Prancis, Institut Français d’Indonésie (IFI), serta Campus France. Jaringan Alliance Française mencakup sekitar 850 pusat di 136 negara.
Di Bali, AF Bali tidak hanya menawarkan kursus bahasa Prancis, tetapi juga menjadi pusat ujian sertifikasi bahasa Prancis yang diakui secara internasional serta menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan. Untuk sertifikasi resmi, peserta dapat mengikuti ujian seperti DELF dan DALF, yang diplomasinya berlaku seumur hidup.[T]
Sumber/Penulis: Rilis/Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto






























